
Elmo sampai di rumah sakit tempat di mana Ivan Goh menjadi dokter tetap dan menjadi kepala di IGD.
Elmo Elruno yang sudah hapal dengan ruangannya Ivan Goh segera menuju ke sana dan membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan ia terlonjak kaget saat ia melihat Ivan Goh tengah berciuman dengan seorang perawat. Secara spontan Elmo menutup kedua matanya Bagas dan berdeham.
Ivan mendorong tubuh perawat itu dan menyuruh perawat itu keluar dari dalam ruangannya. Bagas menepis kasar telapak tangannya Elmo yang masih menghalangi pandangannya, lalu ia menoleh ke Elmo dengan kesal, "Kenapa kau tutup mataku?"
"Ada adegan tujuh belas plus"
"Gila kau! aku udah dua puluh lima ngapain juga kau tutup mataku tadi" Bagas merengut dan duduk di sampingnya Elmo dengan kesal.
Elmo terkekeh dan berkata, "Maaf! refleks aja tadi, hehehehehe"
"Kalian ke sini hanya mau ngelawak?" suara Ivan Goh menggema di ruangan itu dan bernada sarkastik.
Elmo memutar kepalanya dan menatap Ivan Goh tajam, "Kenapa kau menyuruh anak buah kamu untuk menyerang rumahku dan hendak menculik Lili kemarin?"
"Lili sedari awal adalah milikku, tunanganku, kau yang telah lancang mengambilnya. Aku hanya ingin mengambil kembali wanitaku, milikku" Ivan pun menatap tajam ke Elmo Elruno.
Bagas mencibir, "kau tukang halu ternyata. Sedari awal dokter Lili itu kekasihnya Elmo. Kau yang terlalu halu, dasar nggak punya malu"
"Bener Bro! playboy cap kadal kayak dia, nggak pantes untuk Lili" sahut Elmo dengan senyum tipisnya.
"Keluar!" Ivan Goh Bangkit dan langsung menjerit kesal, "keluar kalian semua!"
Elmo dan Bagas tak bergerak dari tempat mereka duduk dan terkekeh geli secara kompak.
"Kalian gila ya? Kenapa belum berdiri dari tempat kalian duduk dan pergi dari ruanganku? Aku banyak kerjaan dan pasienku sudah menunggu di luar sana" Pekik Ivan Goh di nada tertinggi dari suatu kemarahan.
"Kau yang gila! banyak kerjaan katamu? banyak pasien? cih! bisa-bisanya kau bilang seperti itu padahal kau sempat meluangkan waktumu untuk merayu dan mencium seorang perawat, masak kau nggak ada waktu untuk meladeni kami?" Elmo kembali mengulas senyum tipis di wajah tampannya.
"Wah! tega benar kau tutup mataku tadi Bro, aku melewatkan pemandangan manis nan romantis kan jadinya, mana perawat tadi seksi banget, hiks, hiks, hiks" Bagas menoleh ke Elmo dan memasang wajah mewek.
"Pergi atau kupanggilkan satpam untuk mengusir kalian!" Jeritan kekesalan kembali lolos dari mulutnya Ivan Goh.
"Aku akan pergi kalau kau katakan di mana kau sembunyikan Papa kamu, dokter Tommy Goh"
"Cih! apa aku segila itu memberitahukan ke kalian di mana Papaku sekarang ini? keluar kalian!" Ivan masih berdiri di depannya Elmo dan Bagas dengan meradang.
Elmo dan Bagas bangkit dengan santainya lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangannya Ivan begitu saja.
"Kau yakin dia akan terprovokasi dengan keusilan kita tadi?"
Elmo tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya.
"Lalu kita ke mana nih?"
"Kerja dong. Nanti sore barulah kita kembali ke sini untuk mengawasi Ivan Goh dan mulai mengikuti pergerakannya Ivan Goh"
__ADS_1
"Siap Bro!" Bagas segera menekan pedal gas mobil menuju ke perusahaannya Elmo Elruno.
Ray datang tergopoh-gopoh dan duduk di sebelahnya Moses ketika Melati tengah diperiksa oleh seorang dokter perempuan. Lalu Ray berbisik di telinganya Moses dan Moses langsung melotot dan menoleh ke Ray, "Kau yakin?"
"Yakin seratus persen, Tuan" Ray berucap sambil.menganggukkan kepalanya.
Maha menatap Ray dan Moses lalu bertanya, "Ada apa?"
"Ray berbisiklah ke dia!" Moses memberi perintah dengan polosnya.
Ray segera menggelengkan kepalanya, "Nggak mau, Tuan. Anda saja yang berbisik ke dia"
Moses mendelik ke Ray, "Kau gila ya? tak sudi aku berbisik ke dia. Bisa pingsan aku mencium aroma rambutnya, dia kan nggak pernah keramas"
"Cih! enak aja nggak pernah keramas. Kamu tuh yang ganjen, cowok kok wangi, cih!" Maha mencibir ke Moses dan Ray terkekeh geli secara spontan. Moses mendelik ke Ray lalu memukul bahunya Ray dengan keras, "berani kau ngetawain aku?"
"Maaf Tuan. Bibir saya bergerak dengan sendirinya, hehehehe" Ray berucap sambil mengelus bahunya.
Dokter yang memeriksa Melati menemui Moses dan percakapan ketiga laki-laki yang unik itu langsung terputus. Moses bangkit dan celingukkan, "where is she? my wife?"
Maha segera mengambil perannya sebagai penerjemah dan mengobrol dengan dokter yang menangani Melati. Setelah selesai, dokter itu menyerahkan resep ke Maha lalu tersenyum dan meninggalkan ruangannya karena, Melati pasien terakhirnya.
"Lho kok malah pergi?" pandangannya Moses mengikuti arah perginya dokter perempuan itu lalu segera memutar kepalanya untuk menatap Maha, "apa katanya tadi? Melati dibawa ke mana?"
"Katakan dulu apa yang Ray bisikkan tadi!" Maha menatap Moses tanpa ekspresi.
"Oke, kita susul dia setelah ini"
"Susul kepalamu! Melati di mana sekarang ini?" Moses melotot ke Maha.
"Ikut aku! Melati dibawa ke ruang Rontgen dan......"
Moses langsung melesat berlari meninggalkan Ray dan Maha begitu saja. Moses tahu letak di mana ruang Rontgen, dia melewatinya tadi. Terbiasa mengawasi apa yang ada di sekitarnya secara detail dia bisa menemukan segala sesuatunya dengan cepat dan tepat.
Moses hendak menerobos masuk ke ruang Rontgen dan langsung ditahan oleh petugas medis di sana, mereka berbicara memakai bahasa mandarin dan Moses tidak paham satupun kata yang petugas medis itu katakan.
Maha yang berlari menyusul Moses terengah-engah dan langsung berbicara dengan petugas medis itu dan Moses langsung menatap Maha penuh tanya, "Apa katanya? Melati gimana?"
"Melati baik-baik saja. Sebentar lagi keluar"
"Yang melakukan Rontgen cewek apa cowok?"
"Cewek" sahut Maha tanpa ekspresi.
"Fiuuhhhh! ya udah kalau cewek" Moses lalu duduk di kursi yang berjejer rapi di ruang tunggu. Maha dan Ray pun duduk di dekatnya Moses, menunggu Melati keluar.
Melati keluar dari ruang Rontgen dengan senyum merekah dan berjalan dengan pelan ke Moses. Moses segera bangkit dan memapah Melati. "Kenapa turun dari kursi roda?"
__ADS_1
"Kata dokter, aku nggak apa-apa. Hasil Rontgen hanya untuk memperkuat dugaan dokter saja kalau aku nggak apa-apa"
"Kita tunggu hasil Rontgen di sini atau mau ke kantin dulu? Hasilnya satu jam lagi baru keluar" sahut Maha.
"Kau lapar?" tanya Moses ke Melati.
"Aku lapar" Sahut Maha dengan cepat mendahului Melati.
Melati menoleh Ke Maha dengan senyum ramahnya lalu menatap suaminya, "kita ke kantin aja dulu, ini juga udah waktunya untuk makan siang"
Selang beberapa menit kemudian, mereka duduk saling berhadapan di meja kantin rumah sakit swasta terbaik di Tiongkok.
Moses kemudian berkata ke Melati, "Sayang, karena kamu baik-baik saja, setelah hasil Rontgen keluar, kamu pulang sama Ray, ya?!"
"Kamu mau ke mana?" tanya Melati.
"Aku dan Maha akan pergi ke Jepang. Ada urusan bisnis dengan Maha di sana. Paling lama satu Minggu aku udah pulang ke sini"
"Aku nggak perlu ikut? biasanya ke mana-mana kamu pasti mengajak aku"
"Kamu kan masih belum pulih benar lagian aku dan Maha selalu berada di lapangan entar pas ngurus bisnis di Jepang. Kamu bosan nanti sendirian di rumah tiap hari"
"Iya deh aku nggak ikut. Di sini juga ada anak-anak. Udah lama aku nggak sama mereka"
Moses mengusap rambutnya Melati dengan senyum mesranya lalu ia menoleh ke Ray, "Jaga Melati-ku dengan baik Ray! Jangan ada luka lagi, ngerti?"
"Siap Tuan" Sahut Ray.
Beberapa menit kemudian Melati dan Moses berpisah. Melati langsung pulang ke rumah Elmo dengan Ray. Moses dan Maha segera terbang ke Jepang untuk memburu dokter Tommy Goh. Mereka mengajak Evan dan Alexa.
Elmo mencari Bagas ke sana kemari dan tidak menemukan batang hidungnya Bagas. Ia segera bertanya ke sekretarisnya, "Bagas mana?"
"Saya kurang tahu, Pak. Tadi terakhir kali saya melihat pak Bagas di kantin pas jam makan siang. Setelah itu.......saya tidak melihatnya lagi"
Elmo menghela napas panjang, "kebiasaan nggak jelas kok ya kamu pelihara to Bagas, Bagas, hmm, suka ngilang tanpa berita" ucap Elmo sambil melangkah dan mengetikkan pesan text ke Bagas kalau ia meluncur duluan ke rumah sakit tempat dinasnya Ivan Goh.
Tanpa sepengetahuannya Elmo, Bagas kembali diculik oleh anak buahnya Ivan Goh. Dan dengan santainya Elmo mengikuti mobilnya Ivan Goh begitu Ivan Goh keluar dari rumah sakit.
Beberapa menit kemudian Elmo sampai di depan rumah mewah, "Apa ini rumahnya Ivan? atau jangan-jangan dokter Tommy Goh berada di sini?" Elmo lalu melangkah turun dari dalam mobilnya dan mengendap-ngendap hendak melompati pagar samping rumah itu tapi tiba-tiba, ada seroang satpam menghampirinya dan menyuruh dia masuk lewat gerbang depan.
Elmo meringis dan berjalan ke gerbang depan sambil bergumam, "keren juga sistem keamanan di rumah ini"
Elmo diantar seorang laki-laki berseragam rapi, menuju ke sebuah ruangan lalu orang itu berkata, "Silakan masuk! tuan Ivan Goh sudah menunggu Anda di dalam"
Elmo membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu dan segera mengerutkan alisnya ketika ia mencium bau aneh dan menatap wajah Ivan Goh yang mengenakan masker berstandar internasional. Belum sempat Elmo melempar tanya, ia roboh tergeletak di atas lantai tak sadarkan diri.
Ivan segera menyuruh anak buahnya untuk menyeret Elmo ke ruang bawah tanah. Tempat biasanya Ivan Goh menyiksa setiap orang yang berani melawannya. Tanpa siapa pun tahu, Ivan Goh ternyata seorang psikopat.
__ADS_1
Elmo masuk ke dalam perangkap Ivan Goh................