My Cute Nanny

My Cute Nanny
Lawan Aku!


__ADS_3

Lili segera mencekal kedua pergelangan tangannya Ivan Goh saat laki-laki itu berada di jarak tiga puluh centimeter dari-nya dan ia dengan sigap menarik kedua tangan Ivan Goh dan mendaratkan lututnya di perut Ivan Goh dengan sangat keras dan tepat di saat Ivan terhuyung ke belakang Lili melepaskan kedua tangannya Ivan lalu ia memberikan serangan kedua berupa tendangan di buah kebanggaannya Ivan Goh. Ivan langsung memegang buah kebanggannya yang juga merupakan pusaka yang sangat berharga baginya itu dan langsung jatuh bersimpuh di atas lantai. Ia mengangkat wajahnya di depannya Lili sambil meringis kesakitan.


Lili segera berlari ke pintu dan ia mengumpat kesal saat ia menemukan pintu itu terkunci dari luar dan ia tidak bisa membuka pintu itu. Lalu ia memutar badan dan bersandar ke pintu sambil terus menatap Ivan.


Ivan terkekeh geli dan sambil terus memegang pusaka berharganya yang masih berdenyut nyeri akibat tendangan mautnya Lili, ia berkata sembari menahan sakit sehingga suara yang keluar dari mulutnya menjadi seperti suara orang yang tengah berbisik, "Pintu itu dikunci dari luar. Sekeras apapun kau mencoba......ahhhh!" Ia meringis kesakitan ketika ia merasakan buah berharganya kembali berdenyut dan perutnya terasa semakin mulas melilit. Ia kemudian kembali berkata, "keluar dari kamar ini? Heh, jangan mimpi! Tidak akan pernah bisa. Jadi menyerahlah!"


Lili menegang di saat Ivan mencoba untuk bangkit, berdiri tegak dengan masih mendekap pusaka berharga miliknya dengan kedua tangannya, dan laki-laki itu mencoba melangkah pelan mendekati Lili.


"Berhenti jangan mendekat! Aku akan bertindak lebih kejam lagi padamu kalau kau berani mendekat! Berhenti!" Jeritan keputusasaan lolos dari mulutnya Lili.


Namun Ivan mengabaikan jeritannya Lili. Dia terus melangkah mendekati Lili dengan seringai mengerikan yang membuat Lili merinding ketakutan.


Apalagi yang harus aku lakukan? Batin Lili di tengah ketakutannya.


Lili lalu berteriak, "Tolong aku secepatnya! tolong aku! siapapun di luar sana, tolong aku!" Lili menggedor-nggedor pintu itu.


Ivan menghentikan langkahnya dan tertawa mengejek, "Jeritanmu itu tiada guna saat ini. Mending sekarang kau naik ke ranjang bersamaku dan Jeritanmu di atas ranjang nanti akan sangat berguna bagimu karena, jeritan itu akan memberikan kenikmatan dan kepuasaan bagimu, hahahaha"


"Jangan Mimpi! Bunuh saja aku! Aku tidak sudi menurutimu!"


Ivan kembali melangkah pelan. Laki-laki tampan putra tunggalnya dokter Goh itu sudah mulai bisa berdiri tegak, pusaka berharganya sudah tidak berdenyut nyeri, dan di saat ia berada dekat dengan Lili, ia segera memanggul tubuhnya Lili.


Lili menjerit, "Lepaskan dan turunkan aku!" sambil terus memukul punggungnya Ivan Karena, Ivan tidak juga menurunkannya dan mantan tunangannya Lili itu melangkah terus menuju ke ranjang. Lili segera menggigit telinga Ivan sekeras-kerasnya. Ivan menjerit kesakitan dan tanpa ia sadari ia membanting tubuhnya Lili dengan asal. Kepala Lili terbentur pinggiran ranjang yang terbuat dari kayu jati dan Lili langsung terjatuh pingsan. Pelipisnya Lili mengeluarkan sedikit darah.


Ivan memegang telinganya yang tergores gigi tajamnya Lili lalu ia segera bersimpuh dan merengkuh Lili ke dalam pelukannya. Dia segera memeriksa denyut nadinya Lili dan bernapas lega karena, Lili masih hidup. Ivan segera membopong Lili dan menaikannya ke atas ranjang. Ivan memeriksa pelipisnya Lili yang berdarah dan ia mengelap darah di pelipis itu dengan bibirnya.


Ray segera menerobos masuk ke dalam rumahnya Ivan di saat ia telah berhasil merobohkan kesepuluh lawannya.


Raja segera berteriak, "Om Ray! Nggak nambah lagi nih?! masih banyak kudapan kita hari ini, nih!"


Ray mengerem langkahnya dan menoleh ke belakang sambil berteriak, "Aku cuma dibolehkan sama istriku, melawan sepuluh orang aja, nggak boleh lebih!" Ray segera berlari masuk ke dalam rumahnya Ivan dan Raja hanya bisa terkekeh geli, kembali fokus ke lawannya dan menggeleng-nggelengkan kepalanya.


Ray langsung mendobrak salah satu pintu kamar yang ada di dalam rumahnya Ivan Goh karena sinyal pelacak menangkap keberadaannya Lili di dalam kamar itu.


Ray bersitatap dengan Ivan yang menoleh ke Ray dengan kedua tangannya tengah memegang kancing blusnya Lili. Kancing blus itu sudah terbuka hampir setengahnya.


Ray menggeram kesal dan langsung berlari ke Ivan dan mendaratkan tendangan maut yang diajarkan oleh Moses Elruno, tepat di wajah tampannya Ivan. Ivan langsung terjatuh di lantai dengan posisi terlentang dan tidak sadarkan diri.


Ray langsung membungkus tubuhnya Lili dengan selimut dan di saat ia hendak membopong Lili, suara Elmo menggema di kamar itu, "Om Ray? kok di sini? Dan apa yang terjadi pada Lili?" Elmo segera berlari mendekati istrinya.

__ADS_1


"Penjelasannya nanti saja. Kau bawa istri kamu dulu ke mobil! dan kau, Bagas, bantu aku membawa si brengsek ini sebelum polisi datang!" perintah Ray.


Elmo segera membopong istri tercintanya yang belum sadarkan diri dan Bagas membantu Ray menggotong tubuhnya Ivan keluar dari rumah itu lewat jalan samping. Anak buahnya Pramono yang berada di sana segera membuka jalan bagi Elmo yang tengah membopong Lili, Ray, Bagas, dan wanita yang diselamatkan oleh Elmo.


Begitu sampai di mobilnya Elmo, Ray yang tidak ikut masuk ke dalam segera berkata, "Kalian pulanglah dulu! Aku akan menunggu polisi untuk memberikan keterangan.


Bagas yang berada di belakang kemudi menatap Ray, "Tapi om, kenapa si brengsek itu ditaruh di bagasi dan kita bawa pulang? Kenapa nggak diserahkan ke polisi?"


"Karena kakak perempuannya Elmo ingin menghajarnya" kata Ray tanpa ekspresi.


"Hah?!" Bagas langsung menarik rahangnya ke bawah.


Ray menepuk pintu mobil dan berkata, "Cepat pergi!"


Bagas segera menekan pedal gasnya dalam-dalam.


Elmo mencium pelipisnya Lili yang tergores lalu mengelus wajah manis istrinya, "Sayang, kenapa kau bodoh sekali masuk ke rumah itu untuk menyelamatkan aku?"


"Tentu saja dokter Lili akan menyelamatkanmu. Ia kan istrimu, dasar bodoh!" sahut Bagas.


"Tapi, aku sudah bilang padanya, apapun yang terjadi jangan menjadi bodoh. Aku ingin ia abaikan semuanya kalau ia menemukanku berada di dalam bahaya, aku justru ingin dia berlari menjauh karena, aku tidak ingin dia terluka dan aku bisa mengurus diriku sendiri" Elmo berkata sambil menciumi tangannya Lili.


"Ngomong-ngomong, Kakak perempuanmu sangar juga ya, ia ingin menghajar Ivan Goh. Apa Kakak tertua kamu itu, sama cantiknya dengan Mama kamu dan adik kamu?" sahut Bagas.


"Kakak Perempuanku cantik dan berwajah lembut tapi jangan terkecoh dengan kelembutan wajahnya karena, semua wanita di keluargaku sangar kecuali, istri kecilku ini. Istriku ini begitu lembut, manis, dan rapuh. Aku sedih selalu membuatnya berada di zona merah" Elmo mendekap erat tubuh istri tercintanya.


"Itu karena, kamu memilih anaknya Maha Adijaya untuk menjadi istrimu jadi Zona Merah selalu mengelilingi kalian berdua. Oh iya, siapa namamu? dan kenapa kau bisa berada di rumahnya Ivan Goh?" Bagas melirik ke wanita yang duduk di samping jok kemudinya.


"Saya Diana. Saya, dipesan oleh dokter Ivan Goh untuk melayaninya semalam dan dipaksa Ivan Goh untuk memerkosa Tuan Elmo Elruno. Maafkan saya atas ketidaksopanan saya tadi dan terima kasih Anda berdua sudah menyelamatkan saya"


"Sama-sama, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk saling tolong menolong. Hmm! Gila tuh si Ivan Goh. Dia ternyata seorang psikopat" sahut Bagas.


Elmo mengusap pipinya Lili dan mendaratkan kecupan di sana, "Untung Lili tidak terluka parah"


Sesampainya di rumah, Bagas dibantu Bram menggotong Ivan Goh dan membawa Ivan Goh ke dalam. Bagas dan Bram merebahkan Ivan Goh di atas lantai tepat di hadapannya Chery dan Melati. Bryna dan Barnes langsung diajak Elmo masuk ke kamarnya Elmo.


Elmo terpaksa menahan kerinduannya pada kakak perempuan tercintanya karena, ia ingin segera merebahkan Lili di atas ranjang dan Elmo tidak ingin si kembar menyaksikan Mama mereka yang terkenal lembut menjadi garang dan kejam di saat Chery menghajar Ivan Goh nanti.


"Bisa tolong Om, ambilkan baju ganti untuk Tante Lili?"

__ADS_1


"Bisa!" sahut Bryna.


Barnes duduk di sofa sambil terus memainkan game di ponselnya.


Bryna lalu duduk di atas ranjang dan membantu Elmo mengganti bajunya Lili.


"Emm, kamu bisa menjaga Tante Lili sebentar?"


"Tentu saja bisa! Aku kan udah gede" Sahut Bryna.


Elmo tersenyum dan mengusap rambutnya Bryna lalu ia berkata, "Om akan keluar sebentar dan jika belum dipanggil, kalian berdua jangan pernah keluar dari dalam kamar ini, oke?"


"Oke!" sahut Barnes dan Bryna secara bersamaan.


Elmo keluar dari kamarnya, menutup kembali pintu kamar itu dan berjalan menuju ke ruang tamu.


Bagas dan Diana terus menatap Chery dan Melati. Mereka berdua mengagumi kecantikan alami yang terpancar memesona di wajahnya Chery dan Melati. Mereka menemukan ada kemiripan di wajah ayu-nya Melati dan Chery Elruno. Bahkan Bagas dan Diana tidak akan pernah menyangka kalau Chery dan Melati bukanlah Ibu dan anak kandung.


Elmo duduk di sebelah kakak perempuannya dan langsung memeluk erat kakaknya, "Aku sangar merindukanmu, Kak"


Chery tersenyum dan memeluk erat Elmo, "Kakak juga sangat merindukanmu, kau makin tampan ya" Chery melepas pelukannya dan mencium pipinya Elmo.


"Syukurlah kau dan Bagas selamat" Sahut Chery dan Melati secara bersamaan.


"Nak Diana, duduklah! Sekarang kau telah aman dan mulai sekarang, Tante akan mengurusmu" Melati tersenyum tulus ke Diana dan Diana pun duduk di sofa single lalu berkata, "Terima kasih, Nyonya"


"Kita tunggu dia sadar atau........." Bagas membuka suaranya.


"Bangunkan dia, Pak Bram!" Chery menoleh ke Bram.


"Baik Nona Chery" Bram lalu berjongkok dan menampar keras pipinya Ivan Goh beberapa kali sampai Ivan Goh membuka kedua matanya dan secara spontan duduk di atas lantai. Dia tersentak kaget melihat Elmo, dua orang wanita cantik, duduk di atas sofa dan menatapnya dengan tidak ramah.


"Jadi kau yang bernama Ivan Goh? Bangun dan ikuti aku ke teras belakang!" Chery bangkit dan menatap Bram. Bram segera memaksa Ivan untuk bangkit dan menyeret paksa Ivan Goh untuk mengikuti Chery menuju ke teras belakang rumahnya Elmo Elruno.


Semua pun langsung bangkit dan mengikuti langkahnya Chery.


Ivan tampak kebingungan dan bertanya pelan, "Kita mau ngapain di sini?"


"Lawan aku! karena, pantang bagi seorang Elruno menghajar seseorang tanpa perlawanan"

__ADS_1


"A.....apa?!" Rahang Ivan Goh segera tertarik ke bawah.


__ADS_2