
Mereka akhirnya sampai di depan rumah orang tuanya Awan Herlambang.
Melati tanpa sadar menggenggam ujung jaketnya Moses. Moses memakai baju santai ala anak muda. Konglomerat muda itu tidak mau kalah saing dengan Awan Herlambang. Dia merasa harus tampil ala anak muda jaman sekarang.
Pakai t-shirt, jeans, dan jaket. Kelihatan sangat muda,gagah dan tampan.
Moses melirik tangannya Melati yang tengah mencengkeram ujung jaketnya dan bertanya "ada apa, Mel?"
"Ternyata papanya Awan benar benar kaya, bagaimana bisa seorang kepala cabang dari anak perusahaannya tuan, bisa punya rumah semewah itu?" Melati nampak takut dan bingung.
Itu karena Dipo Herlambang mengabdi pada dua tuan, Mel. Batin Ray sembari turun dari mobil.
"Kamu masuk ke rumahku aja nggak takut, kan? padahal rumahku tiga kali lebih besar dan megah daripada rumahnya Dipo Herlambang. Kenapa kamu malah takut untuk masuk ke rumah itu?" Moses semakin keheranan.
"Saya nggak tahu, tuan. Tapi saya merasa sangat takut sekarang ini" jawab Melati masih mencengkeram ujung jaketnya Moses.
Ray, sudah menyiapkan strollernya Chery.
"Ayok, masuk saja! jangan takut ada aku!" kata Moses.
Melati akhirnya melepaskan tangannya dari ujung jaketnya Moses.
Moses lalu turun dari mobil sambil menggendong Chery dan menaruh Chery ke dalam stroller.
Melati akhirnya memberanikan diri untuk turun dari mobil.
Ray, mendorong strollernya Chery.
Moses berdiri di sampingnya Melati lalu berkata "ini kue strawberry-nya, kamu kasih ke mamanya Awan. Ayok, masuk!"
Mereka pun melangkah untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
Begitu mendengar bel pintu rumahnya berbunyi, Awan langsung berlari menyambut kedatangannya Melati. Mama dan papanya mengikuti langkahnya Awan dengan melangkah santai.
Awan membuka pintu rumahnya dan langsung tertegun menatap Melati.
Awan berkata "kamu cantik sekali, Mel" dan hendak memeluk Melati.
Tetapi Moses dengan cepat mendorong tubuhnya Awan untuk menjauh dari tubuhnya Melati "jangan main peluk peluk di depanku!"
Awan menatap Moses dengan kesal lalu dia meraih tangannya Melati dan menarik Melati untuk berdiri di sampingnya.
Moses menatap tangannya Awan yang tengah menggenggam tangannya Melati dengan sangat kesal. Tapi apa daya, Awan berhak melakukannya karena, dia kekasihnya Melati.
Shit! Moses mengumpat kesal di dalam hatinya.
Dipo Herlambang (papanya Awan Herlambang)
Akhirnya Dipo Herlambang, papanya Awan, cowok berusia empat puluh tahun yang masih terlihat sangat tampan, keluar untuk menyambut tamunya.
"Mari, silakan masuk semuanya!" kata Dipo Herlambang dengan sangat ramahnya sambil memeluk bahu istrinya.
"Maaf, tante. Ini kue strawberry kesukaannya tante" kata Melati sambil tersenyum dan menyodorkan kotak kue strawberry itu.
"Aaah terima kasih, nak" kata Mamanya Awan sambil tersenyum dan meraih kotak kue tersebut dari tangannya Melati.
Semua akhirnya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Awan mengajak Melati untuk duduk di sampingnya. Menjauh dari tempat duduknya Moses.
Moses kembali mendengus kesal.
"Aaahh, maafkan kami kalau anda kurang berkenan dengan penyambutan kami, tuan Moses Elruno" kata Dipo Herlambang sambil melempar senyum ke arah bosnya.
"Hmm" Moses berkata singkat dan mulai bersedekap dan menyilangkan kakinya.
"Aah, bayi siapa itu?" tanya mamanya Awan.
__ADS_1
"Ini anak saya, tante" kata Moses dengan nada datar.
"Hahaha, anda jangan bercanda, tuan. Anda kan belum menikah, bagaimana bisa tiba tiba ada anak?" sahut Dipo Herlambang.
"Iya, ini anakku. Putri cantik ini anak kandungku" jawab Moses dengan santainya.
Tuan, semoga ini tidak menjadi bumerang bagi anda dan Chery. Batin Ray mulai nampak khawatir.
Dipo Herlambang langsung membisu. Dia tidak berani untuk bertanya lebih jauh.
"Ehem, perhatian semuanya! kok Awan sama Melati dicuekin ya?" kata Awan.
Papa dan mamanya Awan langsung menoleh ke putra tunggal mereka yang sangat ganteng itu.
"Ma, pa, ini Melati. Dia..........."
"Aah, kita tunggu tamu kita selanjutnya, baru kita mulai makan malamnya ya, tuan" Dipo langsung memotong perkataannya Awan dan mengacuhkan Melati.
Mamanya Awan mengelus elus tangannya Awan. Mencoba menenangkan Awan yang sudah mulai nampak kesal dengan sikap papanya.
"Tuan, maaf apa boleh saya menimang putri anda?" tanya mamanya Awan dengan sangat hati hati.
Moses menatap mamanya Awan dan menjawab "maaf, saya tidak bisa membiarkan anda menimangnya karena, saya belum mengenal anda secara dekat"
"Aaahh, baiklah tuan. Saya paham" sahut mamanya Awan sambil tersenyum ke arah Moses.
"Lalu, bagaimana bisa anda datang bersama dia?" tanya Dipo sambil menatap ke arah Melati.
"Dia punya nama, Po" sahut Moses.
"Aah, iya, emm, siapa tadi namanya?" kata Dipo sembari mengalihkan pandangannya ke putra tunggalnya.
Awan hanya menatap kesal kepada papanya.
"Namanya Melati, pa. Cantik ya, mirip mama waktu muda dulu, kan?" kara Mamanya Awan dengan sangat lembut.
"Aah iya Melati, ada hubungan apa anda dengan Melati? kenapa anda bisa datang ke pondok saya dengan Melati?" tanya Dipo Herlambang dengan nada heran.
"Melati sangat penting bagiku, jadi jangan pernah berpikir untuk mengacuhkannya apalagi merendahkannya" jawab Moses, ambigu.
Awan langsung cemburu dan kesal mendengar kata katanya Moses. Awan langsung menatap tajam ke arah Moses yang sedang duduk di depannya.
Moses membalas tatapannya Awan dengan tatapan tajam pula.
"Maaf saya naik ke atas dulu, ada telepon penting" kata Dipo Herlambang.
Moses menganggukkan kepalanya dan Dipo langsung melangkah lebar setengah berlari menuju ke lantai atas rumahnya.
"Selamat sore semuanya" kata katanya Cleo menggema di ruang tamunya Dipo Herlambang.
Awan langsung melemparkan tatapan protes ke mamanya saat melihat Cleo melangkah masuk ke dalam rumahnya. Mamanya hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
Semua berdiri menyambut kedatangannya Cleo dan kedua orang tuanya.
Moses tetap duduk dan memasang wajah tidak pedulinya.
"Aaah, maafkan saya, tuan Moses, ternyata anda tengah bertamu di rumahnya Dipo" kata Papanya Cleo yang langsung melangkah mendekati Moses dan menyalami Moses.
"Hmm" Moses menyambut uluran tangan dari papanya Cleo tanpa berdiri dari tempat ia duduk.
Papanya Cleo langsung duduk di sampingnya Moses dan membuat Moses secara spontan menggeser posisi duduknya.
"Anda ingat saya kan tuan? saya Bramantya Nugraha dan itu istri saya May, itu putri saya Cleo" kata Bram dengan penuh semangat sambil menunjuk ke arah anak dan istrinya yang sudah duduk di depannya Moses.
"Hmm" Moses menjawab singkat sambil tersenyum simpul.
Aahh sial. Siapa dia ya. Aku tidak ingat sama sekali. Kata Moses di dalam hatinya.
Melati nampak turun dari lantai atas setelah membersihkan Chery dari pupnya. Melati tadi melihat Chery nampak gelisah lalu memeriksa pampersnya Chery dan langsung menanyakan di mana kamar yang bisa dipakai untuk mengganti pampersnya Chery.
Mamanya Awan langsung berdiri dan mengantarkan Melati ke kamarnya.
__ADS_1
Mamanya Awan menemani Melati saat mengganti pampersnya Chery. Mamanya Awan terus menatap Melati dalam kebisuan.
Mamanya Awan diam diam mengagumi Melati. Cantik, menyayangi anak anak, dan lembut sekali dia. Kata mamanya Awan di dalam hati.
Melati memasukkan Pampers kotornya Chery ke dalam kantong plastik, mengikatnya dengan erat, lalu bertanya "Maaf, tante, pampers ini harus dibuang di mana?"
"Aaah, sini Mel, biar tante yang membuangnya" kata Mamanya Awan, meraih kantong plastik tersebut lalu melangkah keluar dari kamar mendahului Melati, sebelum Melati sempat mengucapkan terima kasih.
Melati tersenyum lalu menggendong Chery yang telah bersih dan wangi.
Saat Melati melangkah keluar dari kamar tersebut. Melati mendengar kata katanya papanya Awan.
Kamar papanya Awan bersebelahan dengan ruang kerjanya. Tanpa Dipo sadari, dia kurang rapat menutup pintu ruang kerjanya, sehingga melati bisa mendengar kata katanya saat ini.
"Moses ternyata sudah mempunyai anak, kalau anda ingin merebut proyek itu, kita ancam dia lewat anaknya, dia sepertinya sangat menyayangi anaknya"
Melati langsung mendekap erat Chery dan buru buru melangkah pergi dan turun ke lantai bawah.
Melati masih menimang nimang Chery dan menciuminya dengan penuh kasih sayang. Tetapi hatinya saat ini merasa sangat takut setelah mendengar kata kata dari papanya Awan tadi.
Dipo akhirnya turun dari lantai atas dan langsung mempersilakan semuanya, untuk melangkah ke ruang makan. Mulai menikmati jamuan makan malam yang sudah dipersiapkan oleh istri tercintanya.
"Tuan, kenalkan ini Cleo calon istrinya Awan Herlambang, anak saya" kata Dipo Herlambang dengan santainya.
Melati yang masih berdiri di sampingnya Moses sambil menimang Chery langsung mematung sambil menatap cewek yang duduk di depannya.
Moses menghela napas panjang. Secara spontan dia menoleh ke Melati. Melati masih nampak mematung.
"Pa, jangan asal bicara! Awan tidak pernah menyetujui adanya perjodohan ini, Awan hanya mencintai Melati" Awan berkata sambil berdiri dan melangkah mendekati Melati lalu berdiri di sampingnya Melati.
Cleo merasa kesal dan cemburu lalu dengan lantangnya dia berkata "dia sudah punya anak, kamu sudah punya anak dengan wanita brengsek, tidak tahu malu itu, Wan?"
Braaakkkk
Moses langsung menggebrak meja makan tersebut.
"Jaga bicara kamu! sekali lagi kamu menghina Melati maka aku akan membuat kamu menyesalinya!" Moses mulai menggertakkan giginya sambil menatap Cleo dengan penuh amarah.
"Melati gadis baik baik, kamu yang breng..........."
"Cukup!" Dipo Herlambang memotong kata katanya Awan.
"Kita pulang, Mel!" kata Moses sembari berdiri.
"Tidak! sebentar Mel, aku jelaskan semuanya, jangan pulang dulu!" kata Awan sambil meraih tangannya Melati dan menggenggamnya.
"Tuan, maafkan anak saya!" kata Bram kepada Moses.
"Tuan, jangan pulang dulu! saya mohon maafkan dulu Cleo. Dia masih anak anak, dia belum memahami situasinya dan menurut saya wajar wajar saja kalau seorang wanita melihat calon suaminya mendekati wanita lain di depan matanya dan menjadi cemburu" kata Dipo mulai mengeluarkan kata kata manisnya.
Moses masih berdiri dan masih penuh emosi.
Dia menatap tajam ke dalam matanya Dipo Herlambang dan berkata "wajar katamu? seseorang merendahkan orang lain tanpa mengenalinya terlebih dahulu dan itu wajar, katamu? itu namanya kurang ajar, Po."
"Kita pulang!" Moses mulai melangkah pergi dan Melati langsung melangkah mengikuti tuannya dan melepaskan tangannya Awan.
Awan menatap semuanya dengan kesal dan berlari menyusul Melati.
"Mel, berhenti dulu, aku jelaskan dulu!" kata Awan sambil meraih tangannya Melati.
Melati sebenarnya percaya pada Awan. Percaya akan cintanya Awan. Tapi Melati merasa ketakutan saat ini dan ingin segera pergi dari rumahnya Awan.
Melati menepis tangannya Awan dan tetap melangkah masuk ke dalam mobil.
Awan mengetuk ngetuk kaca mobilnya Moses. Putra tunggalnya Dipo Herlambang terus memanggil namanya Melati.
Melati hanya memandang Awan dengan tatapan ambigu.
"Jalan saja, kak!" pinta Melati sama Ray.
Ray pun langsung melajukan mobilnya.
__ADS_1
Awan hanya bisa berteriak histeris sambil menjambak rambutnya saat menatap kepergiannya Melati.
Siapa sebenarnya Dipo Herlambang itu. Kata Melati di dalam hatinya.