My Cute Nanny

My Cute Nanny
Pengakuan Awan


__ADS_3

Moses Elruno telah sampai di perusahaannya yang baru dan langsung mengecek semua persiapan untuk pembukaannya besok dengan didampingi Ray.


"Ray, kamu kenapa salah beli tahu? kenapa bukan tahu tofu?" Moses mulai protes sembari membaca kembali text pidato yang telah dia buat beberapa hari yang lalu.


"Maaf tuan, saya kan nggak ngerti, anda bilang tahu ya saya beli aja tahu yang seperti tahu, heeee" ucap Ray dengan polosnya.


"Kenapa nggak suruh Delia untuk membelikannya? Delia pasti lebih paham, tahu yang nggak hanya seperti tahu" Moses menatap Ray dan mendengus.kesal, dia masih belum bisa menerima pembelaannya Ray.


"Delia repot menenangkan Cinta, Cinta rewel nangis terus waktu itu, tuan. Maaf" ucap Ray.


Mendengar kata maaf keluar dari bibirnya Ray, Moses akhirnya luluh dan berucap, "ya sudahlah, nggak apa apa! besok lain kali kalau aku minta tahu, belikan yang tofu, jangan salah lagi, ingat itu!"


"Siap, tuan!" ucap Ray.


"Apa Cinta putri kamu, sakit?" tanya Moses kemudian.


"Nggak tuan, cuma rewel karena akan tumbuh gigi, jadi serba salah. Makan apapun juga nggak enak" ucap Ray.


"Kenapa aku nggak tahu pas anak anakku akan tumbuh gigi dan menjadi rewel, aaahhh, Rumi, eh Melati pasti kewalahan saat hal itu terjadi. Aaah, Ray, kenapa kamu nggak bilang soal tumbuh gigi ke aku saat itu" Moses kembali menyalahkan Ray.


"Iya mana saya tahu tuan, saya kan belum menikah dan belum punya anak saat itu" ucap Ray.


"Melati istriku itu memang sungguh luar biasa, dia nggak pernah ngeluh soal anak anak ke aku, eh anak kamu kan udah berumur sepuluh tahun, masih rewel juga ya, pas mau tumbuh gigi?" tanya Moses sembari bangkit dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.


"Iya tuan, Cinta memang manja karena Delia memang sangat memanjakannya, dan nggak tahan sakit mirip sama Delia" ucap Ray sembari terus mengiringi langkahnya Moses menuju ke podium untuk meninjau kesiapan semua alat dan kesiapan dirinya untuk memberikan pidato pembukaan nantinya.


"Mirip Celyn dong, Celyn tuh memang tomboy dan perkasa, secara fisik persis sama dengan aku tetapi dia tidak tahan sakit mirip banget dengan Melati" Moses berucap sembari tersenyum saat dia membayangkan wajah cantik kedua bidadarinya itu.


Melati telah sampai ke hotel tempat Awan menginap. Melati kemudian masuk dan duduk di lobi lalu menelepon Awan.


"Halo, Wan, aku dah sampai di lobi" ucap Melati.


Awan tersenyum lebar, "bisakah kamu naik ke kamar 203, Mel? aku tunggu di sini"


"Nggak bisa Wan, nggak etis jika aku masuk ke kamar kamu walaupun ada istri kamu di sana, aku tunggu di lobi aja, kamu dan istri kamu yang turun ke sini, ya!" ucap Melati dengan tegas.


Kamu masih sama seperti dulu, Mel. Kalau sudah mempunyai prinsip, susah untuk dibelokkan. Batin Awan.


"Oke aku akan turun menemui kamu" kata Awan.


Melati lalu mematikan ponselnya. Cewek cantik istri tercintanya Moses Elruno itu duduk sembari menuliskan beberapa hal yang penting di sebuah buku yang dia ambil dari dalam tasnya, sembari menunggu Awan.


Benerapa menit kemudian nampak Awan tersenyum lebar menatap Melati dan berjalan mendekati Melati.

__ADS_1


Melati mengerutkan dahi, "lho, mana istri kamu?"


"Istriku ada di kamar, anak kami rewel jadi dia nggak bisa ikutan turun menemuimu" kata Awan sembari duduk di sampingnya Melati.


"Lalu? apa kita re-schedule aja pertemuan ini?" tanya Melati.


"Jangan Mel! kamu sudah ada di sini, sayang kan kalau kamu balik lagi dan akan sulit bagi kita untuk bisa ketemuan lagi seperti ini" kata Awan.


"Baiklah! katakan apa persoalan kalian? aku akan coba bantu kalian mencari solusinya" ucap Melati sembari menyiapkan alat perekam dan peralatan tulisnya.


"Kita jangan bicara di lobi, banyak orang lalu lalang nih, aku nggak bisa fokus dan takutnya ada yang mendengarkan pembicaraan kita nanti" ucap Awan.


Melati kembali memasukkan semua peralatannya ke dalam tasnya, "lalu kita ke mana?"


"Kita ke teras belakang yuk! agak sepi di sana" Awan kemudian bangkit dan melangkah memdahului Melati.


Melati pun akhirnya bangkit dan mengikuti langkahnya Awan.


Melati melihat Awan telah duduk di sebuah bangku yang berada di teras belakang hotel tersebut dan hanya ada sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.


Melati menghela napas panjang dan dengan sangat terpaksa dia duduk di sebelahnya Awan.


Awan menggeser duduknya mendekati Melati ketika melihat mantan terindahnya itu duduknya menjauh darinya.


Melati menoleh ke Awan, "Wan, jangan dekat dekat lagi! stop! segitu cukup! kalau nggak aku akan berdiri aja!"


Melati mendengus kesal sembari mengeluarkan kembali semua peralatannya dari dalam tasnya, "oke! mulailah! katakan apa yang menjadi permasalahanmu dan apa yang menjadi permasalahan istri kamu!" Melati menaruh alat rekam di tengah tengah mereka.


Awan menengadah ke atas dan mulai menghela napas, "janji dulu Mel, jangan pergi dan tinggalkan aku sebelum aku mengutarakan semua keluh kesahku!"


"Oke!" Melati berucap penuh keseriusan.


"Apapun itu?!" Awan menoleh ke Melati.


"Iya Wan, iya, aku janji!" ucap Melati.


Awan kembali menghela napas panjang lalu berucap, "aku masih belum bisa melangkah dari masa lalu ku, Mel"


"Oke, teruskan!" ucap Melati.


"Aku masih berjalan di rasa yang sama. Rasa yang indah di masa lalu ku, Mel. Kerinduan, cinta, rasa sayang, semuanya, masih sama seperti dulu" ucap Awan dengan suara berat menahan kepiluan hatinya, mencintai tanpa bisa memiliki.


Melati menatap Awan, "untuk siapa rasa itu?"

__ADS_1


"Kesombongan diriku telah membuatku kehilangan dia, Mel" ucap Awan.


"Dia tetaplah yang terindah diantara semua yang indah, dia tetaplah yang tercantik dari yang paling cantik" Awan mulai terisak dan menutup wajah tampannya dengan kedua tangannya.


"Apa kamu selingkuh?" Melati menatap Awan.


Awan meraup wajahnya untuk menghapus air matanya dan menghela napas dengan sangat berat "aku tidak selingkuh secara nyata, Mel. Tetapi aku selingkuh di dalam benak dan hatiku. Aku ingin terbebas dari rasa ini, dari beban ini. Aku merasa telah bersikap tidak adil sama istriku karena, aku tidak pernah mencintainya. Aku menikahinya tetapi aku tidak pernah memberikan cinta dan hatiku untuk dia"


"Astaga, Wan! tega sekali kamu, istri kamu wanita yang lembut dan baik kenapa kamu setega itu?"


"Andai aku bisa mengendalikan semua rasa ini Mel, andai aku bisa!" Awan tiba tiba berteriak lantang karena, fustasi ke arah Melati. Melati terlonjak kaget, teriakannya Awan, membuat Melati mundur ke belakang, hampir terjengkang ke belakang dan hampir terjatuh. Awan langsung menarik tangannya Melati dan secara otomatis Melati masuk ke dalam dekapannya Awan.


Sedetik kemudian, Awan kehilangan akal, dia langsung mencium bibirnya Melati, menghisap, memperdalam dan tidak rela untuk melepaskannya.


Melati meronta tetapi Awan semakin erat mendekapnya. Melati mendorong Awan dengan sekuat tenaga tetapi belum juga berhasil melepaskan diri dari dekapan dan ciumannya Awan.


Istri Moses Elruno itu pun kemudian melakukan usaha terakhirnya, dia menggigit bibirnya Awan dengan sekuat tenaga sampai bibirnya Awan berdarah.


Gigitannya Melati itu membuat Awan kembali tersadar dari naluri liarnya. Awan kemudian melepaskan Melati dari ciuman dan dekapannya, "maafkan aku, Mel! maafkan aku" Awan menatap Melati sembari mengusap bibirnya yang berdarah akibat dari gigitannya Melati.


Plaaaakkk!!


Melati menampar Awan dengan sangat keras lalu bangkit berdiri menjauh dari Awan.


"Apa dia yang kamu maksud tadi adalah aku, Wan?" Melati menatap nanar ke Awan.


Awan menunduk dan berucap lirih, "iya itu kamu, Mel"


Melati kemudian memekik kesal, "kamu gila, Wan!"


"Iya, aku gila karena, kamu" Awan mendongakkan wajah tampannya untuk menatap lekat wajah cantik mantan terindahnya itu.


Melati menggeleng nggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan semua yang Awan sampaikan kepadanya.


"Nggak Wan, ini nggak benar! sadarlah kamu! ingat semua kebaikan suamiku, ingat semua yang telah suamiku berikan ke kamu, suamiku bahkan sudah memercayai kamu seratus persen, dia menganggap kamu sebagai rekannya secara tulus dan ini balasan kamu?" Melati menatap tajam ke Awan.


"Aku tahu, aku sadari semua itu!" Awan kembali berteriak frustasi.


Melati masih menatap tajam ke Awan.


"Untuk itulah aku meminta tolong sama kamu, Mel, tolong lepaskan aku dari rasa ini karena, aku tidak bisa melakukannya sendiri" ucap Awan memelas.


Melati menghela napas panjang dan berucap "apa yang bisa aku lakukan jika itu menyangkut diriku juga, Wan"

__ADS_1


"Tolong aku Mel! please!" Awan kembali memohon.


Melati kembali menghela napas panjang dan mematung menatap Awan.


__ADS_2