My Cute Nanny

My Cute Nanny
Sedia payung sebelum hujan


__ADS_3

Hari beranjak malam. Setelah pulang dari makan malam sekeluarga di sebuah restoran mewah untuk merayakan kepulangannya Moses, Semua balik ke hotel kecuali Moses. Suaminya Melati itu memutuskan untuk menginap lagi di rumahnya Melati.


Chery langsung digendong oleh mamanya Melati masuk ke dalam kamar. Melati menyiapkan semua peralatannya Chery lalu masuk ke dalam kamar di mana sang suami tercinta telah menunggunya.


Moses tidur terlentang dengan kedua tangan menopang kepalanya.


Hari ini turun hujan jadi hawanya sejuk, Moses memakai kaos santainya dan bercelana boxer.


Moses menepuk dada bidangnya menyuruh Melati untuk rebahan di sana. Melati tersenyum dan langsung merebahkan kepalanya di atas dada bidang suami tercintanya.


"Sayang, kapan kamu akan mulai lesnya?" tanya Melati lirih sambil mengelus elus pelan dada suaminya.


"Les bela diri? ya, besok kalau kita sudah balik ke rumah" jawab Moses sambil mengelus elus punggungnya Melati.


"Bukan itu"


"Les apa dong? nyetir mobil? kamu kan sudah bisa nyetir" Moses menjawab dengan tanpa rasa bersalah.


Melati mendengus kesal lalu berbalik badan memunggungi suaminya.


"Sayang kenapa sih kok terus ngambek?" Moses berbaring miring dan memegang bahu istrinya sambil mencium rambutnya Melati.


"Rambut kamu wangi, aku suka" kata Moses sambil menjumput rambutnya Melati dan menciuminya.


Melati diam saja dan mendengus kesal.


"Kamu kenapa sih?" Moses bertanya dengan sangat sabar.


Melati berbalik badan dan menatap Moses "kamu nggak peka"


"Nggak peka soal apa sih?" Moses mengernyitkan dahinya.


Melati mengerucutkan bibirnya lalu bergumam lirih "aku sudah pakai nih, pakaian dalam yang kamu belikan kemarin. Warna merah darah"


Pendengarannya Moses kalau soal pakaian dalam sangatlah tajam, dia menaikkan satu alisnya sembari menyeringai penuh arti "oooo, les yang itu, yang kamu maksud?"


Melati menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu menganggukkan kepalanya.


Moses menarik kedua tangannya Melati dan bertanya "kamu benar benar siap melakukannya sekarang?"


Melati merona dan kembali menganggukkan kepalanya.


"Oke, aku akan memulai lesnya tapi, kamu tahan suara kamu ya, takut kalau mama nanti mendengarnya" kata Moses sembari mengusap pelan bibirnya Melati.


"Suara apa?" Melati masih bingung.


"Hahaha, apapun yang kamu rasakan nanti jangan mengeluarkan suara oke?" Moses menatap gemas Melati.


Walaupun Melati masih belum paham apa yang dimaksud dengan menahan suara, dia mengatakan "oke"


"Kalau aku menginginkannya lagi, aku mohon kamu jangan menolaknya" Moses membelai mesra rambutnya Melati dan mencium keningnya Melati.


Melati menjawab "iya" dengan sedikit mendesah di pendengarannya Moses dan langsung membuat Moses menjadi hilang kendali. Bos tampan itu mencium bibirnya Melati dengan panas dan liar.


Melati terlonjak kaget dan berusaha mengimbangi ciuman suaminya dengan kaku dan terasa ragu ragu. Usahanya Melati tersebut membuat Moses menyeringai gemas "jangan ragu ragu sayang, ikuti saja naluri kamu! bebaskan dirimu!" bisik Moses di tengah tengah pagutannya.


Melati mengikuti kata katanya Moses. Istri cantiknya Moses Elruno itu langsung merasa kelimpungan dan melemas. Dia memejamkan mata dan secara alami tangannya menangkup wajah suaminya untuk memperdalam ciuman mereka.


Merekahlah bibirnya Melati bak bunga mawar, dengan iriingan desahan yang sangat merdu, Moses semakin menggila dan memperdalam ciuman panasnya, mulai menjelajahi mulut manisnya Melati. Mereka berdua bergulat dengan sangat mesra dan penuh cinta.

__ADS_1


Derasnya air hujan menghantam jendela kamarnya Melati, alunan suara rintik hujan mengiringi perpaduan cinta kedua insan itu. Dan warna langit sehitam jelaga senada dengan warna mata dari kedua pasangan pengantin baru itu, yang menghitam bak jelaga karena gairah.


Tok tok tok


Moses langsung melepas ciumannya dengan terengah engah. Melati masih memejamkan matanya dan deru napasnya menjadi tidak beraruran. Mereka berdua masih mencoba untuk meredakan gairah mereka masing masing saat ini.


Moses lalu mengecup singkat kening istrinya dan bangun untuk membukakan pintu.


Ceklek


"Maaf mengganggu" kata mamanya Melati sembari menimang nimang Chery yang nampak sendu dan mendung wajahnya.


"Oooeeekkk oooeeekkk oooeeekkk" Chery tiba tiba menangis lagi dengan sangat kencang.


Moses langsung merengkuh Chery ke dalam pelukannya dan ajaib, Chery langsung menghentikan tangisannya dan tersenyum simpul menatap wajah tampan papanya.


"Chery gelisah dari tadi, mama kasih susu nggak mau minum, malah nangis. Sepertinya dia kangen sama papanya" kata mamanya Melati.


"Iya ma, dia kangen sama papanya nih, uluh uluh anak papa yang cantik" Moses mencium gemas pipi gembulnya Chery.


"Mama tinggal ya, kalau nanti Chery sudah bobok, biar Melati pindahkan Chery ke kamarnya mama lagi, ini dot susunya!"


"Baik, ma" jawab Moses sembari meraih botol susunya Chery.


Moses menutup pintu kamarnya dan merebahkan Chery dengan hati hati di atas ranjang "Mel, Chery sepertinya bisa merasakan kalau papanya ingin memiliki mamanya secara utuh, dia sepertinya nggak rela, dia cemburu nih, hahahaha" Moses berkata sambil mengelus elus pipi gembulnya Chery yang menggemaskan.


Melati ikutan tergelak geli. Lalu menciumi wajahnya Chery.


"Papanya juga pengen dicium nih" kata Moses sembari memberikan dot susu ke Chery.


Melati tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke Moses lalu mengecup singkat bibir suaminya.


"I Love You too" jawab Melati.


Alhasil Melati dan Moses begadang karena Chery mengajak papa dan mamanya untuk begadang.


"Kamu memang pintar menyiksa papa kamu ya Chery, gagal lagi lesnya, Mel. Aku juga belum jadi lihat kamu, dalam balutan pakaian dalam" Moses mengerucutkan bibirnya.


Melati tertawa terbahak bahak menatap wajah kecewanya Moses dan wajah polosnya Chery yang masih cerah ceria seakan enggan melepas pandangannya dari papa tampannya. Chery nampak sangat merindukan papanya.


Pagi hari pun tiba tetapi Matahari masih berselimutkan awan, belum menampakkan senyum cerahnya.


"Sepertinya akan turun hujan hari ini" Kata Melati sembari mengepak barang barang mereka ke dalam koper. Mereka berencana pulang ke kota J hari ini.


Joko sudah memasukkan semua peralatannya Chery ke dalam mobil.


Moses masih malas untuk melepas pelukannya "Mel, aku malas lepas dari kamu nih"


Melati menepuk pelan tangan Moses yang masih melingkar manis di atas pinggang rampingnya sembari terkekeh geli.


"Kopernya sudah siap nih, tolong kasih ke Joko gih! biar dimasukkan ke dalam mobil" ucap Melati.


Moses mencium bibirnya Melati alih alih berdiri dan menarik koper kopernya. Moses semakin memperdalam ciumannya dan enggan untuk melepasnya.


"Sayang" Melati menarik diri karena, takut Joko dan Ray kelamaan nunggu. Mamanya Melati juga masih menggendong Chery di ruang tamu.


Moses menghela napas panjang dan dengan ogah ogahan dan cemberut mulai berdiri lalu melangkah gontai sembari menarik kedua koper mereka, keluar dari kamar tersebut menuju ke ruang tamu.


Melati mengikuti langkah suaminya dan menyunggingkan senyum penuh cinta.

__ADS_1


Joko langsung meraih koper koper yang disodorkan oleh tuan besarnya dan langsung membawanya ke mobil dan dimasukkan ke dalam bagasi.


"Ma, ikut kami yuk! daripada mama sendirian di rumah ini" ucap Moses.


Mamanya Melati tersenyum dan menggelengkan kepalanya "mama masih belum pensiun, mama terbiasa bekerja dan mama menyukai pekerjaannya mama, jadi mama nggak bisa ikut kalian sekarang ini"


Moses menghela napas panjang "kalau begitu, mama pindah rumah ya, Moses punya perumahan di sini, mama tinggal menempati salah satu unitnya!?"


Mamanya Melati kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya "mama nyaman tinggal di sini karena, ini rumah peninggalan dari papanya Melati. Mama merasa tenang tinggal di sini seolah papanya Melati menemani hari harinya mama"


"Tapi ma, Moses merasa khawatir sama mama kalau mama sendirian di sini. atau begini aja ya, Moses carikan asisten rumah tangga untuk menemani mama, jadi kalau nanti mama kerepotan ada yang bantu dan kalau mama sakit ada yang ngerawat"


"Iya ma. Kak Moses benar" kata Melati.


Mamanya Melati menatap anak dan menantunya dengan senyum cantiknya. Nyonya Teja Kusuma tidak enak hati juga terus menerus menolak niat baiknya Moses. Dia juga tidak ingin Melati mengkhawatirkannya. Akhirnya mamanya Melati pun menganggukkan kepalanya.


"Aaah, makasih mama bersedia menyetujuinya, jadi tenang nih hatinya Moses. Ray, bawa dia masuk!" kata Moses.


"Sayang, sudah ada asisten rumah tangganya?" tanya Melati nampak kaget.


"Sudah dong. Aku selalu sedia payung sebelum hujan"


Mamanya Melati tersenyum dan menggeleng nggelengkan kepalanya.


Seorang wanita berusia tiga puluh tahun,, bertubuh tambun dan berambut cepak, krebo melangkah masuk ke dalam rumahnya Melati.


"Perkenalkan dirimu!" kata Ray.


"Nami Kula Gini" (nama saya Gini) kata wanita tersebut.


"Gini apa gitu?" tanya Ray bingung.


"Nggih niku nami Kula, Gini" (iya nama saya itu, Gini)


"Maaf bisakah anda berbahasa Indonesia?" kata Ray.


"Nggih, sendika dhawuh (iya siap sedia). Nama saya Gini"


"Nama panjang kamu?" tanya Moses.


"Gini aja, tuan"


"Oooo, gini aja apa gitu aja?" tanya Moses dengan polosnya.


Melati langsung menepuk bahu suaminya.


Wanita yang bernama Gini itu langsung tertawa terbahak bahak.


"Eh, ketawa dia" kata Moses terlonjak kaget.


"Habisnya Anda lucu, tuan" Gini berucap sembari tersenyum geli.


Melati dan mamanya mengulum bibir menahan geli.


"Gini ya?" tanya Ray kemudian.


"Nggih" (iya)


"Mulai hari ini anda bekerja di sini ya, ikuti semua perintahnya nyonya Teja Kusuma"

__ADS_1


"Nggih" jawab Gini.


__ADS_2