
Moses langsung memasuki pekarangan rumah mewah milik James Elruno. Empat buah mobil dinas kepolisian masih parkir di depan pintu gerbang rumah itu, para petugas kepolisian masih menunggu instruksi dari Moses untuk masuk dan menangkap Brenda.
Moses turun dari mobil mewahnya dan menyuruh untuk tetap di dalam mobil.
"Tapi tuan?"
"Ray!"
"Baik tuan" Ray akhirnya menuruti perintah tuan besarnya.
Moses melangkah pelan menaiki anak tangga yang menuju ke ruang tamu rumah tersebut. Moses masih sangat hapal seluk beluk semua ruangan di dalam rumah itu. Rumah peninggalan dari kakek tercintanya
Moses menghentikan langkahnya sejenak untuk berdiri di teras rumah itu. Memori dia melayang layang dengan bebasnya ke masa lalu yang begitu indah. Moses kecil selalu bermain mobil mobilan seorang diri di teras itu sembari menunggu kepulangan kakeknya dari kantor, kala itu. Kakek selalu melambaikan tangan ke arahnya begitu turun dari mobil hitam klasik kebanggaan kakeknya. Senyum dan badan khas dari kakeknya masih tertanam jelas di dalam ingatannya. Moses menghela napas panjang untuk menahan rasa haru kemudian melanjutkan langkahnya untuk memasuki rumah itu yang kebetulan pintunya terbuka lebar.
Moses mengerem langkahnya ketika melihat Brenda tengah duduk di atas sofa dan berbicara dengan seseorang di ponselnya.
Konglomerat muda keturunan Elruno itu kemudian melangkah mendekati Brenda dan langsung duduk di depannya Brenda persis.
Brenda terlonjak kaget dan langsung memutuskan sambungan ponselnya "ka....kamu? bocah tengik, apa yang kamu lakukan di sini? berani benar kamu masuk kemari?" Brenda berbicara dengan nada tinggi. Kemudian wanita cantik itu memalingkan mukanya dari Moses.
Moses melepas jasnya lalu menyeringai dan menatap tajam Brenda.
Memang berparas cantik dan masih menjaga keseksian tubuhnya dengan sangat baik. Tetapi temperamennya sangatlah buruk. Bagaimana bisa omku jatuh cinta dengan wanita semacam ini? hanya cantik fisiknya saja, cih! ucap Moses di dalam hatinya.
"Aku sudah mengetahui semuanya Brenda" kata Moses Elruno. Dia merasa tidak penting lagi memanggil tante kepada seorang wanita yang kejam dan keji seperti Brenda.
"Memang dari dulu kamu tuh tidak punya sopan santun, dasar bocah gila. Aku tante kamu tapi kamu dengan seenaknya memanggil namaku begitu saja, cuiihhh!!" Brenda kembali meninggikan suara cemprengnya.
"Karena kamu tidak pantas menjadi tanteku karena kamu sudah merenggut kakek, mama, papa dan bapak Teja Kusuma dariku" Moses mengeluarkan suara bass-nya. Dalam, berat dan sarat emosi.
"Cuiiihh!!! ngigau ya kamu di siang bolong begini? hah!? mana buktinya? jangan hanya ngomong doang, jangan asal memfitnah! aku bisa menuntut kamu"
Moses hanya menghela napas panjang dan masih mencoba untuk bersabar, dia membutuhkan pengakuan dari Brenda saat ini dan dia sudah mengaktifkan alat perekam itu, sejak dia melangkah masuk ke dalam rumah itu, untuk merekam semua percakapan mereka. Hanya menunggu Brenda mengakuinya sendiri, sedikit provokasi maka....bingo! Moses akan berhasil mendapatkan semua kejahatannya Brenda meluncur dari mulut Brenda sendiri.
"Kalau kau begitu menginginkan harta kenapa tidak kau minta saja secara langsung sama kakek?"
"Aku sudah memintanya secara langsung tapi kakek kamu selalu berkata kalau aku ini tamak dan tidak layak mendapatkan harta warisannya, dia berkata kalau akan membuat James suamiku menyadari siapa sebenarnya aku ini, makanya aku cekam saja leher kakek kamu saat itu. Ta....ta.. tapi....dia meninggal karena serangan jantung bukan karena cengkeramanku" Brenda terus mengoceh dengan tanpa sadar dia sudah mengakui semuanya kalau dia yang mengakibatkan kakeknya Moses meninggal dunia.
Moses kembali menyeringai dan melotot tajam ke arah Brenda, membuat Brenda semakin emosi dibuatnya.
"Berhenti menatapku seperti itu! dasar bocah gila! kamu sama saja seperti mama kamu! aku membenci kalian semua! karena keberadaan kalian, aku dipandang sebelah mata sama kakek kamu, aku tidak mendapatkan kasih sayang dari kakek kamu" Brenda berteriak frustasi dan mulai terisak.
__ADS_1
"Itu karena kakek bisa mencium kebusukan hatimu"
"Mama kamu yang busuk! mama kamu menikah dengan pria biasa dan menolak perjodohan tetapi akhirnya kakek kamu bersedia merestui mama dan papa kamu, itu karena mama kamu seorang penyihir yang pandai mengambil hati siapapun, aku benci sekali dengan keberuntungan yang dimiliki mama kamu, banyak yang menyayangi mama kamu, tapi tidak ada yang menyayangiku, hanya om kamu yang mau menerima dan menyayangiku apa adanya"
"Benarkah hanya om James yang bersedia menyayangimu dengan apa adanya? bagaimana dengan Dipo Herlambang?" Moses kembali menyeringai tajam penuh arti ke arah Brenda.
Brenda langsung terlonjak kaget dan menatap Moses dengan penuh kebencian "mati saja kau menyusul mama dan papa kamu! aku akan membunuhmu seperti aku dulu membunuh mama dan papa kamu. Ya, aku yang menyabotase pesawat itu, hahahaha! aku puas sangat puas. Dengan meninggalnya mereka aku bisa mendapatkan pulau pribadi dan tiga puluh saham lagi dari perusahaannya kakek kamu untuk suamiku, aku berhasil memanipulasi sebagian isi dari surat wasiatnya kakek kamu" Brenda kembali mengoceh karena tersulut emosi kemudian menerjang meja untuk mulai mencekam lehernya Moses.
Moses dengan sigap menangkap kedua tangan tantenya dengan satu tangan. Kemudian dia mengambil ponselnya dan berucap "masuk sekarang, dan tangkaplah dia!"
Brenda menatap Moses dengan tatapan heran. "Apa maksud dari ucapanmu tadi?"
Moses memegang kedua tangannya Brenda dengan sangat erat "tunggu dan lihatlah!"
"Lepaskan aku, lepaskan!" Brenda berteriak lantang.
Tap Tap Tap Tap Tap
Suara sepatu boot kepolisian yang sudah memasuki ruang tamu rumah mewah itu, berderu indah di telinganya Moses.
Kedua petugas kepolisan langsung memborgol kedua tangannya Brenda.
Moses mendekati sang kapten polisi dan menyerahkan hasil rekaman percakapannya dengan Brenda tadi lalu melangkah pergi meninggalkan Brenda.
"Brengsek kau! aku akan membalasmu!" teriak Brenda yang tengah berjalan diseret paksa oleh petugas kepolisian.
Brenda langsung berteriak frustasi.
Moses mengernyit saat ponselnya berbunyi, panggilan dari Pramono..
"Halo, ada apa?"
"Kita sekarang di rumah sakitnya Dokter Erlangga, kita........."
Moses langsung memutuskan sambungan teleponnya "Ray, ke rumah sakitnya om Erlangga sekarang!"
Ray langsung meluncurkan si blacky dengan kecepatan penuh.
"Tuan, siapa yang terluka?" Ray nampak panik karena, ada Rini juga di dalam mall tersebut.
"Entahlah, makanya lajukan dengan cepat si Blacky!"
"Sudah tuan, ini sudah batas maksimal" Ray menjadi semakin panik. Semoga semuanya baik baik saja. Doa Ray di dalam hatinya.
Moses langsung berlari memasuki ruang UGD dari rumah sakit tersebut. Dia menyibak salah satu tirai dari beberapa bilik rawat jalan yang ada di dalam ruang UGD itu.
__ADS_1
Nampaklah Alfa ditunggui Rini. Alfa tengah diperban telapak tangannya oleh seorang petugas paramedis. Ray melihat Rini "kamu baik baik saja, kan?"
"Iya kak, aku baik baik saja kok" jawab Rini.
"Hai, helo? terima kasih sudah tanyakan keadaanku ya, aku juga baik baik saja nih" sahut Alfa dengan kesal karena tidak ada satu orang pun yang menanyakan keadaannya saat ini.
"Di mana Melati dan Chery?" Moses menatap Alfa.
Alfa mendengus kesal dan hendak menjawabnya, tetapi kemudian Pramono datang, mendekati bosnya dan berkata "nyonya dan nona muda ada di bilik nomer delapan, tuan. Tapi nyonya dan nona muda......."
Moses langsung melangkah lebar menuju ke bilik nomer delapan tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Pramono terlebih dahulu
Moses langsung menyibak tirainya dan menemukan Awan tengah berucap "aku masih mencintaimu, Mel"
Moses kemudian mematung ketika dia melihat tangan istri tercintanya berada di dalam genggaman tangannya Awan. Moses semakin kelu melihat istrinya dan Awan saling bersitatap sepersekian detik.
"Mel?" Moses akhirnya berhasil mengeluarkan satu kata dari bibirnya.
Melati langsung menoleh ke arah Moses dan menepis kasar tangannya Awan.
Melati langsung menghambur masuk ke dalam pelukan suaminya. Gadis cantik itu tidak menghiraukan tatapan heran dari Awan.
Moses langsung melotot ke arah Awan dan kembali menutup tirai biliknya Awan dengan sangat kasar.
"Syukurlah kamu sudah datang, sayang" Kata Melati dan Moses mengelus elus punggungnya Melati.
Moses mencoba menahan rasa cemburunya, melepas pelukannya lalu melihat keadaan istri dan putri cantiknya, sembari menangkup wajah ayu istrinya tercintanya itu "kalian tidak apa apa, kan?"
Melati menggelengkan kepalanya "tadi kak Alfa dan Awan melindungi Chery dan Melati dari tusukan pisau steak yang diluncurkan sama papanya Awan. Kak Alfa mencoba menahan pisau steaknya dengan tangannya, kemudian Awan pasang badan untuk melindungiku dan Chery. Awan terkena tusukkan di bahu kanannya, untungnya tidak begitu dalam lukanya"
Moses kembali terbakar cemburu di saat Melati mengucapkan kata simpati untuk Awan.
"Tuan?" Pramono mendekati tuannya.
"Kamu kenapa ceroboh?!" Moses meluapkan kekesalan dan kecemburuannya kepada Pramono.
"Saya berusaha mencegah Dipo, tapi kalah cepat dengan tuan Alfa dan bocah itu tuan, karena mereka berdua yang berada di dekatnya nyonya saat itu. Maafkan saya, tuan"
"Sayang, pak Pramono jangan dimarahi! dia tadi langsung menendang papanya Awan sehingga polisi dengan gampang bisa menangkap dan memborgol papanya Awan.
Moses mengeraskan bibirnya menahan rasa cemburunya lagi. Melati kini membela pria lain, di hadapannya. Bibirnya mulai berkedut kemudian dia mengusap kasar wajahnya "kamu urus semuanya!" kata Moses kepada Pramono. "Dan kita pulang!" Kata Moses sembari menarik pelan tangannya Melati.
Melati menepis pelan tangannya Moses "mana bisa pulang, kak Alfa bagaimana kondisinya? aku belum melihatnya dan aku juga belum pamit sama Rini"
Moses mulai menggeram kesal dan langsung membopong tubuhnya Melati kemudian bos kaya super tampan itu memasukkan Melati yang masih menggendong Chery, ke dalam mobil sportnya dengan paksa.
__ADS_1
Melati hanya bisa diam. Melati bisa merasakan kalau suaminya tengah kesal. Tetapi gadis cantik itu hanya bisa diam karena, tidak mengerti apa yang membuat suaminya kesal sekarang ini dan belum berani untuk bertanya.
Moses terus melajukan si Blacky menuju ke istananya dalam kebisuan dan tidak menoleh ke Melati sedikitpun.