
Waktu terus bergulir dan jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Melati menunggu pintu kamarnya diketuk sama Moses. Seperti biasanya kalau di jam sebelas tepat, tuan muda yang kini telah menjadi suaminya itu akan muncul dan meminta Melati untuk menemaninya ngobrol.
Tetapi Melati menunggu dalam kesia-siaan, Moses tidak datang.
Apa dia marah karena aku mengacuhkannya tadi. Melati menjadi gelisah dan menjadi kesulitan untuk memejamkan matanya.
Sementara itu Moses di dalam kamarnya masih sibuk mempelajari isi flashdisk pemberiannya Awan. Sehingga dia lupa waktu dan lupa akan kebutuhan dia setiap harinya, untuk curhat dan mengobrol dengan Melati.
Moses nampak mengerutkan alisnya berulangkali saat menatap layar laptopnya. Ada foto dirinya saat masih berumur sepuluh tahun dan fotonya Melati kecil.
"Kamu cantik dan menggemaskan sekali waktu kecil ya, Mel. Pipi gembul kamu ini mirip banget sama pipinya Chery, hahahaha" Moses menatap fotonya Melati kecil dengan tatapan gemas.
Tetapi sekarang ini kamu kurus kerempeng. Sedari kecil kamu sudah kehilangan papa kamu dan harus bekerja demi membantu ibu kamu. Maafkan aku. Moses mendesah sedih sembari menyandarkan diri di sofa.
Moses melepas kacamatanya dan memijit pelan kedua pelipisnya.
"Kamu ternyata jahat sekali, Po. Aku tidak menyangka ada pisau yang selalu siap kau tancapkan di dadaku, di balik sikap sopan dan senyum ramah kamu selama ini. Dasar penjilat!" Moses menggeram kesal saat mengingat kembali pesan pesan yang masuk ke dalam email-nya Dipo Herlambang.
"Aku masih penasaran siapa bos kamu? tidak mungkin kalau kamu mampu membiayai semua aksi kejahatan kamu selama ini secara sendirian. Untuk menyewa preman, untuk menyewa penculik, dan untuk menyewa orang yang mengawasiku, butuh biaya yang sangat besar, siapa orang yang mendanai kamu selama ini?" gumam Moses sambil terus memijit mijit pelipisnya.
Moses mendengarkan jam raksasanya kembali berdenting sebanyak dua belas kali membuat dia teringat akan kebiasaan dia curhat sama Melati tapi kini sudah jam dua belas malam.
"Istriku pasti sudah tidur" Moses berucap sembari berdiri menuju ke ranjang kesayangannya dan tidak begitu lama dia pun jatuh ke alam mimpi.
Keesokan harinya...............
Moses mengetuk pintu kamarnya Melati.
Ceklek
Senyum langsung merekah di wajah tampannya Moses sewaktu melihat wajah istri cantiknya di pagi hari. Polos dan alami tapi malah nampak semakin menggemaskan.
Moses langsung mendorong pintu kamarnya Melati dan berjalan masuk.
Melati tampak melangkah pelan mengikuti Moses sembari menundukkan wajahnya. Melati malu, dia belum mandi. Kenapa juga dia harus datang ke kamarku pagi pagi begini. Batin Melati.
Moses menengok Chery di dalam boxnya. Chery masih nampak menikmati mimpinya. Papa tampannya Chery mengusap pelan pipi gembulnya Chery. Lalu menoleh ke Melati.
"Kenapa kamu terus menundukkan kepala kamu seperti itu, Mel?"
"Emm, aku malu, aku belum mandi dan membasuh muka, kak" jawab Melati masih menundukkan wajahnya dan memainkan jari jari tangannya.
__ADS_1
Moses mengulum senyum, geli melihat Melati seperti itu.
Moses melangkah pelan mendekati Melati dan berkata "Mandilah, aku akan jaga Chery!"
Melati melonjak kaget dan refleks memundurkan langkahnya.
"Hahahaha, kamu kenapa menggemaskan sekali sih, Mel. Aku nggak akan ngapa ngapain kamu"
Melati langsung merona dan berbalik badan dengan cepat lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Hahahahaha" tawa Moses langsung menggema di dalam kamarnya Melati.
Beberapa menit kemudian, Moses mendengar ada suara pelan dari arah kamar mandi memanggil namanya.
Moses langsung menegang. Takut kalau Melati terjatuh lagi di kamar mandi, membuat bos besar itu langsung melangkah lebar menuju ke kamar mandi dan langsung bertanya "Mel, kenapa, kamu nggak apa apa, kan?"
"A...a...aku tidak apa apa kak. Tapi aku lupa membawa baju ganti. Kakak bisa nggak keluar dulu dari kamarku?" jawab Melati dari dalam kamar mandi.
"Nggak mau, keluarlah! nggak usah malu, aku sekarang ini suami kamu!" teriak Moses dari arah luar kamar mandi.
"Nggak mau! kakak keluar dulu dari kamar Melati! Melati baru akan keluar dari kamar mandi, kalau kakak sudah keluar dari kamarnya Melati!" Melati tidak mau mengalah.
"Aku ambilkan saja baju kamu, tunggu sebentar!" Moses melangkah menuju ke lemari pakaiannya Melati.
Moses membuka lemari pakaiannya Melati. Mengambil sebuah dress, bra lalu celana dalamnya Melati.
Konglomerat muda itu mulai mengerutkan keningnya menatap bra dan celana dalamnya Melati. Modelnya kuno sekali sih, warnanya pun kalem begini, sama sekali jauh dari bayanganku. Batin Moses.
"Kak?!" teriak Melati dari dalam kamar mandi.
"Aah, iya, aku ke sana, tunggu!" Moses lalu menutup lemari pakaiannya Melati sembari mendekap dress, bra dan celana dalamnya Melati.
"Buka pintunya, Mel! aku dah bawa nih baju dan dalamannya kamu" ucap Moses dengan polosnya.
Melati membuka pintu kamar mandinya dan langsung mengeluarkan tangannya. Hanya tangan Melati yang nongol, menengadah meminta bajunya.
Moses tersenyum geli lalu menaruh dress dan dalamannya Melati di atas tangan yang tengah menengadah itu. Melati langsung menarik masuk tangan dan bajunya ke dalam dan menutup kembali pintu kamar mandinya
"Aah, sial! dia pasti melihat bra dan celana dalam ini, kan? arrrghh bagaimana bisa aku keluar sekarang dan menghadapinya. Aku sangat malu" Melati bergumam lirih.
Moses sudah duduk kembali di tepi ranjangnya Melati.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali Melati di dalam kamar mandi, jangan jangan ketiduran dia?"
Moses berteriak "Mel, kamu baik baik saja kan? kenapa kok belum keluar juga? nanti kamu kedinginan kalau terlalu lama di kamar mandi, cepat keluar!"
Ceklek
Pintu kamar mandi pun terbuka. Melati nampak ragu untuk melangkah menuju ke meja, tempat semua peralatan dan susunya Chery. Melati hendak membuatkan susu untuk Chery karena, sebentar lagi Chery akan bangun.
"Kamu kenapa jadi aneh seperti itu, Mel?"
Melati menggelengkan kepalanya tapi belum berani menatap Moses. Dia melangkah lebar dan langsung memunggungi suaminya. Setelah sampai di meja susunya Chery, mama barunya Chery itu langsung membuatkan susu untuk Chery dan diam membisu.
Moses menghela napas panjang melihat tingkah laku istrinya.
"Kamu marah sama aku karena kelakuanku kemarin, Mel?"
Melati menggelengkan kepalanya dan masih memunggungi suaminya.
"Kamu marah karena aku tidak datang menemui kamu jam sebelas malam kemarin?"
Melati kembali menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa, kamu mengacuhkan aku seperti ini?"
Aku malu, kak. Aku malu. Ya, Tuhan. Bagaimana bisa, kakak dengan santainya mengambil dan melihat dalamanku. Batin Melati.
Moses berdiri dan langsung mendekap tubuh Melati dari belakang. Melati terlonjak kaget dan langsung diam terpaku, menunduk melihat lengan kekarnya Moses yang kini melingkar di pinggang rampingnya.
Moses menaruh dagunya di puncak kepalanya Melati.
"Aku akan membuat kamu mencintaiku secara bertahap. Aku akan menunjukkan betapa besarnya cintaku untuk kamu. Aku mencintai kamu sejak kamu masih kecil. Tanpa aku sadari, aku selalu merindukan senyum dan tawa kamu. Untuk itulah aku bertekad mulai dari sekarang akan selalu melukis tawa dan senyum di lembaran kehidupanmu ke depannya. Karena senyum dan tawa kamu adalah kekuatanku, Mel" Moses lalu mendesah panjang dan memutar tubuhnya Melati dengan pelan dan kini mereka pun saling berhadapan.
Moses memegang pelan dagunya Melati dan mengangkatnya sehingga Melati pun kini menatap Moses.
Moses mengagumi kecantikan istrinya itu sehingga tanpa sadar jemari jempolnya menyentuh alisnya Melati, dan lengan yang satunya masih melingkar di pinggang ramping istrinya. Menarik tubuhnya Melati dengan pelan, masuk ke dalam dekapannya. Suaminya Melati lalu mengusap lembut hidungnya Melati, terus turun menuju ke bibirnya Melati "aku akan tunggu undangan dari kamu untuk mengecupnya, mencicipi manisnya dan menyesap kenikmatannya, Mel" sembari terus mengusap pelan bibirnya Melati.
Melati terpaku. Seluruh raganya seolah kaku tidak bisa bergerak, di saat netranya menatap pahatan sang pencipta yang sangat sempurna di wajah suaminya, begitu indah dan tampan, indranya yang lain mencium wangi khasnya Moses yang elegan dan maskulin dengan campuran mint, sungguh memabukkan "oh, Tuhan" Melati berbisik lirih.
Moses mengulum senyum mendengarnya. Lalu melepaskan Melati kemudian berkata "setelah memandikan Chery bawa Chery ke ruang gym! karena, Ray belum datang. Aku tunggu kamu di ruang gym!"
Moses pun melangkah keluar dari kamarnya Melati.
__ADS_1
Melati langsung menyandarkan dirinya di meja dan mengelus elus dadanya. Debaran jantungnya secara refleks membuat Melati melemas.
Lama lama bisa pingsan aku. Batin Melati.