
Raja mulai memejamkan mata mencoba membayangkan masa masa indah dia saat berdua dengan Chery. Raja membayangkan perjumpaan awal dia dengan Chery di saat Chery masih berumur lima belas bulan, Chery terlihat sangat indah, suci, dan cantik di mata seorang Raja.
Lalu Raja membuka mata dan menuliskan beberapa kata di atas buku tulisnya. Moses melirik gerak geriknya Raja lalu tersenyum geli, dia teringat akan dirinya sendiri ketika dia menulis sebuah puisi untuk Melati di hari ulang tahunnya Melati. Rasa rindu tiba tiba hadir di hatinya, rasa rindu akan Melati-nya. Moses kemudian melangkah untuk berpindah tempat duduk dan mulai melakukan VC ke Melati setelah dia merubah ponselnya ke dalam mode pesawat.
"Sayang, kenapa kamu tampak cantik banget memakai baju itu? kamu mau ke mana?" tanya Moses ketika melihat Melati memakai dress yang dia belikan beberapa hari yang lalu dan belum pernah Melati pakai. Dress berwarna Salem dengan panjang di bawah lutut dengan kerah berbentuk V, membuat Melati nampak begitu feminin dan cantik.
"Mau pergi dengan Chery ke rumahnya Raja, mengambilkan beberapa baju untuk Raja dan beberapa perlengkapan lainnya, dan sayang, Gideon pun ingin ikut, dia sudah dibelikan tiket sama papanya dan habis dari rumahnya Raja, aku akan menemui mamanya Gideon, mbak Lila, untuk meminta ijin" kata Melati.
"Oooo, emm, Rumi, apa kamu nggak rindu aku?" tanya Moses.
"Kan udah ketemu nih" Melati terkekeh geli menggoda Moses.
"Memang sudah terbukti kan, aku yang lebih besar mencintai kamu, Rumi. Aku rindukan kamu saat ini tapi kamu enggak" Moses mulai protes.
"Aku yang lebih besar mencintai kamu" Melati mulai protes.
"Mana? buktinya kamu nggak rindu sama aku" Moses memonyongkan bibirnya dan mulai meredupkan sorot matanya.
"Hahahahaha, kamu lucu kalau pasang muka kayak gitu, sayang" kata Melati sambil tergelak geli.
"Malah diketawain hiks hiks hiks" Moses mulai mewek di depannya Melati.
"Iya, iya aku rindu berat sama kamu, aku tadi cuma menggoda kamu, sayang, gitu aja mewek, hadeeehh bayi gedenya aku nih ya, memang yang paling menggemaskan" kata Melati sambil terkekeh geli.
Moses langsung ceria kembali dan berkata "makasih ya, udah rindu sama aku, mmuuaaahh, aku sangat mencintai kamu Rumi, dua juta kali lebih besar dari kamu"
"Wkwkwkwkwk, iya iya, aku kalah deh kali ini, wkwkwkwkwk" Melati langsung tertawa terbahak bahak.
"Rumi, ganti baju gih! jangan pergi tanpa aku pakai dress itu!" kata Moses dengan mimik wajah nggak rela.
"Lho memangnya kenapa? aku malas ganti lagi sayang, lagian sebentar lagi pasti Chery ke sini ngajak berangkat" Melati mulai mengerucutkan bibirnya.
Moses menggelengkan kepalanya dan berkata "ganti gih! please! kamu kelihatan cantik banget pakai dress itu, aku nggak rela kalau ada cowok lain yang mengagumi kecantikan kamu" kata Moses.
"Huffftt oke sayangku, aku ganti dulu ya, sekalian pamit, nih Chery dah sampai di sini, aku langsung berangkat setelah ganti baju nanti, mmmuah, aku sayang kamu"
"Chery juga sayang papa" Chery melongokkan wajahnya ke layar ponselnya Melati. Melati menyerahkan ponselnya ke Chery lalu dia masuk ke ruang baju untuk berganti baju.
"Iya papa juga sayang kalian semua! jaga mama kamu ya! kalau ada cowok yang liatin mama kamu langsung aja kamu teriak, jangan lihat mama! hanya papa aku yang boleh liatin mama! hmm, setuju?!" kata Moses dengan polosnya.
"Iiihhh papa apaan sih? kayak anak kecil aja, hahahaha" Chery tertawa melihat mimik jenaka papanya.
"Kamu tuh sama kayak mama kamu, nggak bilang setuju, malah ketawain papa" kata Moses sambil mengerucutkan bibirnya ke Chery.
"Sayang, udah ya, aku tutup telponnya, kita mau berangkat" kata Melati.
"Ati ati ya, kalian, jaga mama, Chery!" kata Moses.
"Iya Chery akan jaga mama dengan jiwa dan raganya Chery, emm, pa, salam buat kak Raja ya" kata Chery.
"Iya, nanti papa bilang ke Raja, kakak Raja kamu lagi tidur" kata Moses.
Chery menutup ponsel mamanya dan mereka pun berangkat menuju ke rumahnya Raja.
Moses melihat Raja dari tempat dia duduk. Moses mengulum senyum menahan geli, Raja masih memejamkan mata lalu beberapa detik kemudian membuka mata dan langsung menulis di atas buku tulisnya.
"Seserius itu dia nulis puisi untuk Chery ya, heeee. Hmm, aku terus ngapain nih? Raja sibuk bikin puisi, Ray tidur, Melati pergi" Moses kebingungan sendiri karena, nggak ada yang dia kerjakan. Akhirnya dia pun mencoba untuk memejamkan matanya.
__ADS_1
Raja masih memejamkan mata membayangkan ketika dia merasakan rindu berada jauh dengan Chery, ketika dia masih berada di Amerika, lalu dia membuka mata lagi dan menulis beberapa kata lagi di atas buku tulisnya.
Raja kemudian tersenyum ketika dia membayangkan saat saat dia menembak Chery, merasakan kembali begitu dalamnya rasa cinta dia untuk Chery sambil terus menuliskan beberapa rangkaian kata nan indah yang terlahir dari sanubarinya, yang tercipta dari rasa cinta nan sucinya untuk Chery.
Setelah selesai dia pun memandang bukunya, bergumam lirih dalam suka cita lalu dia mencoba membaca kembali puisi yang sudah berhasil dia buat, cukup puaslah dia dengan puisi hasil karyanya sendiri. Ketika dia hendak bangkit dan menunjukkan puisinya ke om Moses, dia lihat om Moses sudah pulas tertidur
Raja menghela napas panjang lalu memasukkan buku tulis dan pulpennya ke dalam tas selempangnya kembali.
Dia menoleh ke kiri dan melihat om Ray juga tertidur pulas.
Raja kemudian berdiri dan merentangkan kedua tangannya ke atas kepala lalu melangkah ke belakang mencoba untuk mengambil beberapa camilan.
Seorang pramugari langsung menghampiri Raja "ada yang bisa saya bantu?"
Raja menggelengkan kepalanya dan tanpa senyum, berucap "tidak terima kasih, saya bisa ambil sendiri"
Raja membuat kopi sendiri dan mengambil dua potong kue. Ketika Raja hendak melangkah kembali ke tempat duduknya, pramugari yang sedari tadi menatap kagum ke Raja mencoba untuk berkenalan dengan Raja.
"Maaf apa boleh kita berkenalan?"
Tanpa menatap ke arah pramugari itu, Raja langsung berucap "maaf, saya sedang tidak ingin berkenalan saat ini"
Raja kemudian melanjutkan langkahnya kembali ke tempat duduknya sambil membawa secangkir kopi dan piring kecil yang berisi dua potong kue, tanpa mempedulikan si pramugari yang sangat ingin bisa berkenalan dengan Raja.
Pramugari itu berkata ke temannya "kenapa ya seorang cowok yang sangat tampan dan keren itu selalu dingin sama seorang cewek, tapi aku tambah suka, aku akan terus menggodanya sepanjang perjalanan ini"
Temannya hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepalanya "ya, selamat berjuang untuk mendapatkannya, kalau gitu, heee"
"Heee, kalau kamu belum bertunangan pasti kamu akan jadi sainganku, kamu juga mengagumi ketampanannya, kan?" kata si pramugari yang kepincut Sam ketampanannya Raja.
pramugari yang naksir berat sama Raja itu, lalu dia melangkah pergi meninggalkan temannya yang masih terus memandang ke arah Raja.
Dewi kemudian nekat melangkah ke tempat duduknya Raja. Dia mencoba menggunakan trik lama, membawa teko kopi dan menawarkan kopi itu ke Raja "maaf, apa anda ingin menambah kopinya?"
Raja mengirim pesan text ke Chery sambil menggelengkan kepalanya, tanpa menatap Dewi, nama pramugari yang menawarkan kopi kepadanya.
Shit! dingin sekali nih cowok! Batin Dewi kesal.
Dewi kemudian dengan sengaja menumpahkan sedikit kopi yang memang dia bikin tidak panas, di atas kemejanya Raja. Dewi ingin menarik perhatiannya Raja supaya Raja mulai memandang wajah cantik dan tubuh indahnya.
Raja terlonjak kaget dan secara otomatis mendongakkan wajah ke arah Dewi. Dewi merekah senang di dalam hatinya karena, akhirnya Raja menatap wajah cantiknya.
Dewi langsung membungkuk mencoba membersihkan kemejanya Raja dengan memakai lap yang dia bawa. Secara otomatis dia berada dekat sekali dengan wajahnya Raja dan dia bisa merasakan dada atletisnya Raja melalui usapan tangannya yang masih mencoba membersihkan noda kopi di atas kemejanya Raja. Dewi menghirup wangi tubuhnya Raja yang beraroma kayu manis, menguar alami masuk ke dalam indera penciumannya Dewi dan untuk sesaat membuat Dewi hilang akal.
Dewi kemudian mendongakkan wajahnya dan menatap lekat bibirnya Raja. Jarak wajah mereka hanya satu centimeter dan Dewi dengan gerakan pelan, semakin mendekatkan bibirnya ke bibirnya Raja diiringi degup jantungnya yang semakin kencang tidak terkendali.
Raja langsung mendorong Dewi. Raja hendak berteriak kesal tapi dia takut membangunkan om Moses dan om Ray.
Raja kemudian berbisik kesal "apa yang hendak kau lakukan, hah!?"
"Sa...saya mencoba untuk membersihkan noda kopi di kemeja anda, tuan" kata Dewi dan dia membungkukkan badannya lagi untuk mencoba mengusap kembali noda kopi di kemejanya Raja, tapi Raja dengan sigap bangkit berdiri dan berkata "tinggalkan aku, oke!? aku akan bersihkan sendiri"
Dewi mengumpat kesal di dalam hati. Lalu cewek cantik yang sangat indah untuk dipandang mata itupun dengan sangat terpaksa menganggukkan kepala ke Raja, berucap "maaf" lalu pergi meninggalkan Raja.
Dia menumpahkan kekesalan ke temannya karena, aksi dia gagal lagi.
"Lupakan dia! dia jelas jelas tidak tertarik sama kamu" kata temannya Dewi.
__ADS_1
Dewi menyeringai dan berucap "aku masih penasaran, pokoknya aku akan terus mencoba meraih perhatiannya, lihat saja nanti!"
Raja melangkah ke toilet dan mencoba membersihkan kemejanya. Setelah dirasa sudah cukup bersih, Raja melangkah keluar dari dalam toilet dan terlonjak kaget ketika Dewi mengulurkan satu kotak tisu ke Raja "pakai tisu ini untuk mengeringkannya, tuan. Anggap saja sebagai permintaan maaf saya" kata Dewi sambil menyunggingkan senyum cantik nan menggodanya.
Raja meraih tisunya, mengambil beberapa helai lalu mengembalikan kembali tisu tersebut ke Dewi tanpa menatap Dewi, cowok tampan itu pun kemudian melangkah pergi meninggalkan Dewi.
Dewi menggeram kesal. "Kenapa susah sekali sih untuk bisa membuka obrolan dengan kamu?" gumam Dewi kesal.
Dewi nekat mendekati Raja sambil membawakan bantal dan selimut untuk Raja, dia masih ingin mengenal Raja dan mendapatkan kesempatan untuk bisa mengobrol dengan Raja.
Raja masih berbalas pesan text dengan Chery. Dewi berucap "tuan, saya bawakan bantal dan selimut nih"
Raja masih mengetikkan sesuatu di ponselnya tanpa memandang Dewi, dia berucap "taruh saja di situ dan terima kasih"
Dewi masih berdiri di depannya Raja setelah menaruh bantal dan selimut atas kursi di sebelahnya Raja.
"Tuan, maaf"
"Ya?" kata Raja tanpa menatap Dewi.
"Saya cuma ingin tahu namanya tuan, apa tidak boleh?"
"Raja" jawab Raja singkat sambil terus berbalas pesan text dengan Chery.
Namanya keren sekeren orangnya. Batin Dewi senang. Akhirnya dia tahu nama cowok yang dia taksir
"Tuan akan tinggal di mana nanti pas udah nyampai Jepang?" tanya Dewi
Raja hanya mengangkat kedua pundaknya dan masih belum memandang ke arah Dewi.
"Tuan, apa saya boleh duduk dan mengobrol dengan tuan? karena, suasananya sepi dan nggak ada kerjaan, saya mengantuk kalau begini terus, apa boleh?" tanya Dewi.
Raja menggelengkan kepalanya dan masih terus mengetikkan pesan text untuk kekasih hatinya, Raja terus tersenyum sambil mengetik dan menatap layar ponselnya.
Dewi terpesona melihat senyumnya Raja.
Tampan sekali dia kalau tersenyum kayak gitu. Batin Dewi.
Tetapi Dewi nekat duduk di kursi yang berada di sebelahnya Ray. Dia dan Raja hanya dipisahkan jarak satu meter, cukup nyaman untuk sekadar mengobrol. Dewi menoleh ke sebelahnya, dan bertanya ke Raja mencoba membuat Raja untuk menoleh ke arahnya "tuan, laki laki ini siapa?"
Dan berhasil, Raja menoleh ke arahnya walau sekilas, Raja lalu berucap "beliau om Ray, dan yang ada di depan adalah......"
"Saya tahu kalau yang duduk di depan, beliau yang empunya private jet ini, kan? beliau tuan Moses Elruno" jawab Dewi.
Raja berkata "iya" lalu kembali menatap layar ponselnya dan kembali sibuk mengetik.
Dewi mendengus kesal dan berusaha untuk bersabar dan kembali berucap "tuan, umur tuan berapa?"
Chery pamit sama Raja karena, sudah sampai di rumahnya Gideon. Maka Raja pun memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya dan mulai menoleh ke Dewi "dua puluh lima tahun"
Dewi senang bukan kepalang akhirnya dia berhasil membuat Raja menoleh ke dia agak lama dia langsung membalas ucapannya Raja dengan cepat "saya, dua puluh dua tahun, tuan" sambil melempar senyum tercantiknya ke Raja.
"Saya tidak tanya dan nggak mau tahu" Raja kemudian bersedekap dan memejamkan matanya.
Dewi kembali mengumpat kesal. Secara tidak sengaja Dewi melihat berkas yang dipangku Ray, ada tulisan alamat di situ, dia lalu mengambil gambar alamat itu.
Itu pasti alamat tempat tinggal mereka nanti, kalau nggak alamat perusahaannya mereka. Aku akan berkunjung, Raja. Tunggu ya. Batin Dewi.
__ADS_1