
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah halte bus.
"Sayang, kamu tunggu di dalam mobil aja ya, aku cuma sebentar kok, panas soalnya"
"Nggak, aku akan temani kamu"
Mereka akhirnya keluar dari mobil dan menyeberang menuju ke halte bus dengan bergandengan tangan.
Mereka kemudian duduk dan Melati menengok ke kanan dan ke kiri.
"Kamu cari siapa?"
"Cari Tata, pengamen cilik berumur sebelas tahun. Dia anak yatim sama seperti aku. Tapi dia sudah putus sekolah. Kasihan dia. Aku selalu kasih dia uang sepuluh ribu kalau pas nunggu bus kayak gini. Biasanya hari senin dan Jumat aku naik bus karena Awan kuliahnya malam jadi nggak bisa anter aku pulang, aaah, maaf aku sebut nama Awan"
"Nggak papa, teruskan cerita kamu!"
"Kadang kalau aku dapat bonus lemburan dari butik aku juga kasih separonya untuk Tata, aku suruh Tata untuk menyisihkannya, agar Tata bisa sekolah lagi. Nah, hari ini aku rencananya mau ajak Tata untuk mendaftar ke sekolahnya lagi, pakai uang gajiku sebagai pengasuhnya Chery. Aku mau kasih semua uang gajiku ini untuk menyekolahkan Tata"
Moses langsung tersentuh hatinya melihat kebaikan dan ketulusannya Melati "aku juga mau bantu Tata, boleh kan, bu bos?"
"Aaahh benarkah? tentu saja boleh! Tata pasti senang sekali mendengarnya, tapi di mana dia sekarang, ya? aku sudah lama tidak bertemu dengannya" Melati mengedarkan pandangannya ke semua penjuru di sekitar halte bus itu.
Tiba tiba Melati berdiri dan berlari dengan sangat cepat. Melati langsung memukul seorang preman cowok yang sedang menarik Tata, dengan tasnya.
Moses menoleh kaget dan langsung berdiri dan berlari untuk menyusul istrinya.
Preman tersebut hendak memukul Melati tetapi Melati dengan sigap menghindari pukulan dari preman itu, dan langsung mempraktekan salah satu gerakan beladiri yang diajarkan Moses selama ini, dan berhasil menjatuhkan tubuh preman tersebut di atas tanah dengan sukses.
Moses mengerem laju larinya dan menatap takjub istri imutnya "wow, tidak sia sia ternyata, aku mengajarkan ilmu beladiri ke Melati, good job girl" Moses bergumam sendiri penuh rasa bangga.
Preman itu hendak berdiri tapi Melati langsung mendaratkan bogem mentahnya dengan sangat keras dan membuat preman tersebut pingsan tak berdaya.
Moses tersenyum lebar dan melangkah mendekati istrinya "kamu tidak apa apa? mana tangan kamu yang kamu pakai untuk meninjunya, aku mau lihat, memar nggak?" Moses kemudian meraih tangannya Melati lalu mencium tangan istrinya itu.
"Aku nggak apa apa" Melati kemudian mendekati Tata yang meringkuk ketakutan.
"Sayang, tata? kamu nggak apa apa? ini mbak Melati, sayang, sudah aman nggak usah takut"
Tata langsung mendongakkan kepalanya dan menghambur masuk ke dalam pelukannya Melati. Tata kemudian menangis sejadi jadinya di dalam pelukannya Melati.
Moses menelepon polisi kenalannya untuk datang ke halte bus tersebut. Moses pengen si preman yang sudah menindas Tata dijebloskan ke dalam penjara.
"Ta, emm, ini minum dulu, kebetulan tadi mbak Melati bawa bekal minum" Melati mengeluarkan botol air mineral kecil ke Tata.
Tata melepaskan pelukannya dan meminum air mineralnya.
"Kita duduk di bawah pohon itu, yuk! sayang kamu nggak ikut?" Melati menoleh ke suaminya.
"Aku jaga ni preman sampai polisi datang, aku akan jaga kalian dari sini"
Melati tersenyum dan kembali melangkah menuju ke sebuah pohon beringin besar sembari merangkul Tata.
"Kamu cerita sama mbak, kenapa kamu menangis?"
Tata nampak ragu untuk menceritakannya.
"Ceritakan sayang, nggak apa apa, jangan takut! mbak akan melindungi kamu dari apapun di dunia ini. Lihat kan, mbak berhasil mengalahkan preman itu"
Tata tersenyum menatap Melati kemudian berkata dengan terbata bata "di....di...dia...adalah ayah tirinya Tata. Setiap malam berusaha untuk.........."
"Untuk apa?"
"Untuk mengajak Tata tidur bareng, kalau Tata menolak, dia akan memukul Tata, itu karena ibunya Tata sedang sakit keras jadi dia ingin tidur sama Tata" Air matanya Tata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Ya Tuhan" Melati langsung merinding membayangkannya "apa dia sudah......."
"Dia meraba raba tubuh Tata, tapi Tata berhasil melarikan diri dan tidak berani lagi untuk pulang ke rumah. Tata sudah satu Minggu ini tidak pulang ke rumah"
"Syukurlah sayang, kamu belum diapa - apain sama si brengsek itu" Melati langsung memeluk Tata.
__ADS_1
"Sayang!" Melati menoleh dan memanggil suaminya.
"Ya, ada apa?" Moses membalas teriakannya Melati.
"Kalau dia siuman tendang aja lagi biar pingsan lagi!"
"Hahahaha, siap! sayangku" Moses langsung menggemakan tawanya. Moses nggak menyangka seorang Melati yang lemah lembut ternyata bisa ganas juga.
Tidak begitu lama polisi pun tiba.
"Selamat siang tuan Moses Elruno? bagaimana bisa anda turun tahta dan berada di jalanan seperti ini, tuan?" kata Gilang sang kapten polisi yang tadi ditelepon sama Moses.
"Jangan banyak tanya bawa saja dia!"
"Baik tuan" Gilang langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawa si preman yang masih pingsan.
"Apa kejahatannya tuan?"
Melati melangkah mendekati suaminya dan sang kapten polisi sembari merangkul Tata.
"Dia melecehkan anak ini, buat dia membusuk di penjara" kata Melati penuh geram.
"Baik nona" sahut Gilang.
"Nyonya" sahut Moses.
"Maksudnya?" Gilang menatap Moses penuh tanda tanya.
"Dia istriku, panggil nyonya!"
"Aaah, maaf tuan saya tidak tahu kalau nona ini............." Gilang menatap Melati dan nampak terpesona. Istri tuan Moses masih muda dan cantik sekali. Batinnya.
"Jangan lama lama menatap istriku!"
"Aaah....... emm, iya tuan, emm nyonya, kami permisi" Gilang langsung meninggalkan TKP dan balik ke kantor polisi.
"Sekarang bagaimana?" Moses bertanya ke Melati.
"Baiklah, ayok gadis kecil tunjukan di mana rumahmu! Om akan antarkan kamu"
Mereka bertiga akhirnya menyeberang jalan dan masuk ke dalam mobilnya Moses untuk menuju ke rumahnya Tata.
Moses menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian mereka turun berjalan kaki memasuki gang kecil yang sangat kumuh.
"Sayang, kamu nggak apa apa kan masuk ke gang sempit dan kotor seperti ini?"
"Nggak usah khawatirkan aku, jalan aja terus, aku nggak masalah kok asal bersama dengan kamu, aku nggak keberatan"
Melati tersenyum menatap suaminya.
Mereka akhirnya sampai di rumahnya Tata. Melati dan Tata masuk ke dalam sebuah rumah yang sangat kecil hanya ada satu ruangan saja. Satu ruangan itu dipakai untuk tidur, makan dan melakukan semua aktivitas lainnya, bahkan tidak ada kamar di dalam rumahnya Tata.
Jadi ayah tirinya Tata melakukan pelecehan sama Tata di depan ibunya Tata dong. Kenapa ibunya Tata diam saja? Melati mulai merasa aneh dan mengkhawatirkan Tata.
"Ibu kamu mana? katanya sakit? kok malah keluyuran sih?" Melati mulai merasa kesal.
"Saya juga nggak tahu mbak" jawab Tata.
Moses berdiri di depan rumahnya Tata.
Tidak begitu lama muncul seorang wanita yang masih muda umurnya kira kira sama dengan Moses. Melihat cowok ganteng dalam setelan baju yang bersih dan tampak kaya raya berdiri di depan rumahnya, dia langsung tersenyum lebar penuh makna.
Wanita itu langsung mendekati Moses dan Moses yang sudah terbiasa dengan gelagat aneh dari seorang cewek, langsung melangkah mundur dan secara spontan berkata "stop, jangan mendekat!"
Cewek itu mengerem langkahnya."Aaah, tuan jangan jual mahal sama saya! saya primadona lho di sini, saya akan kasih murah untuk servis saya, tuan"
"Sayang, keluarlah aku takut nih! ada kuntilanak di sini" Moses langsung berteriak memanggil Melati.
"Kuntilanak? mana tuan kuntilanaknya?" cewek itu menengok ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Melati dan Tata langsung melangkah keluar dan menatap cewek itu.
"Ibu? ibu sudah sehat?"
"Hei! bocah tidak tahu diri, ngapain kamu pulang?"
"Jaga bicara ibu, dia anak ibu, kan? tega sekali ibu memperlakukan Tata seperti ini?" Melati mulai meradang karena emosi
"Cih! anak tidak tahu diuntung dia bukan anakku!"
Tiba tiba seorang wanita yang sudah mulai renta memukul kepala cewek itu "jaga bicara kamu, jangan berkata seperti itu ke cucuku!"
"Aduh, ibu kenapa memukul kepalaku" cewek itu berteriak penuh kemarahan.
"Sini sayang, peluk nenek"
"Nenek!" Tata langsung berteriak senang dan menghambur masuk ke dalam pelukan wanita tua itu.
"Anda siapanya Tata?" Melati bertanya dengan penuh sopan.
"Saya neneknya, saya akan bawa Tata pulang ke rumah saya"
"Kalau begitu saya akan antarkan anda dan Tata untuk pulang ke rumah anda"
"Baiklah nona. Mari kita tinggalkan saja wanita jahat, kejam dan tidak tahu malu ini!"
Mereka pun pergi meninggalkan ibunya Tata yang hanya diam saja, acuh tak acuh dan tidak peduli sama sekali dengan Tata. Dan yang melangkah pergi terlebih dahulu dengan setengah berlari adalah Moses. Moses bergidik ngeri sedari tadi Karena, ibunya Tata terus menatap dan menggoda Moses.
Mereka akhirnya sampai di rumah neneknya Tata. Rumah itu lebih besar dan bersih. Tempatnya di pinggir jalan dan lingkungannya lebih sehat.
Mereka masuk dan duduk di dalam rumah tersebut.
Moses menunggu di mobil dan menelepon Ray.
"Ray, di rumah baik baik saja kan?"
"Iya, tuan"
"Bentar lagi aku ke kantor, masalahnya ternyata jauh dari bayanganku"
"Anda dan Melati tidak apa apa kan, tuan?" Ray langsung panik.
"Aku dan Melati baik baik saja, aku tutup dulu teleponnya nanti aku ceritakan!" Moses langsung menutup sambungan teleponnya saat Melati sudah melangkah masuk ke dalam mobil.
"Sudah selesai?"
"Sudah. Tata akan tinggal dengan neneknya mulai dari sekarang. Dia ternyata dibawa lari sama ibunya sejak Tata berumur tujuh tahun Jadi Tata berpisah dengan neneknya selama tiqa tahun, dan neneknya mencari Tata selama ini, baru hari ini beliau berhasil menemukan Tata"
"Baguslah. Aku akan suruh karyawanku untuk mentransfer sejumlah uang setiap bulannya untuk biaya hidup dan pendidikannya Tata dan neneknya"
"Terima kasih, sayang. Aku tadi juga sudah serahkan semua uang gajiku ke mereka. Neneknya Tata cuma berjualan sayur di rumahnya, kasihan mereka. Mulai besok Tata akan didaftarkan sekolah sama neneknya, aku sangat bahagia sayang, Tata akhirnya bisa bersekolah lagi"
"Aku bahagia kalau kamu bahagia" Moses melajukan mobilnya sembari mengusap lembut kepalanya Melati.
"Sayang, kamu tadi hebat banget. Bisa membanting preman tengik tadi"
"Terima kasih ya sudah ajarkan Melati banyak hal" Melati membuka seat beltnya dan mencium pipinya Moses. Kemudian memasang seat beltnya lagi.
Moses tersenyum lebar penuh cinta menoleh ke Melati.
"Kita ke kantor dulu, menemui tamu, setelah itu aku akan ajak kamu ke suatu tempat?"
"Gimana Chery?"
"Chery aman, barusan aku tanya Ray"
"Baiklah, karena kamu sudah begitu baik menemani Melati, maka sekarang gilirannya Melati untuk mengikuti suaminya"
"Hahahaha, aku sangat mencintaimu, sayang"
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu" ucap Melati.
Tanpa mereka sadari, Arkan Wijaya, dosen pembimbingnya Melati sedari tadi mengikuti mereka dan selalu menyunggingkan senyum penuh arti.