
Keesokan harinya, Lili berangkat bekerja dijemput oleh Bintang Ivan Goh berubah seiring dengan berjalannya waktu karena, karirnya melesat pesat. Dia dipromosikan menjadi direktur medis. Ivan menjadi sangat sibuk dan mulai jauh dengan Lili.
Setibanya di rumah sakit, Lili meminta Bintang untuk pulang dan menjemput Lili jam sembilan malam karena, Lili dipindah tugaskan di UGD dan menjadi sering pulang malam.
Ivan berlari menemui Lili ketika dia melihat sosoknya Lili berjalan masuk menuju ke ruang UGD. Ivan mencekal lengannya Lili dan berkata, "aku sangat merindukanmu, sayang. Maaf aku sekarang jarang sekali bisa mengantar jemput kamu dan kita juga jarang untuk bisa makan siang ataupun makan malam bersama lagi"
Lili memandang Ivan dan anehnya dia tidak merasa sedih.
"Sayang, apa kita bisa sarapan bersama sebentar aja. Aku cuma punya waktu setengah jam dan aku ingin menghabiskannya denganmu" ucap Ivan.
Lili menghela napas dan akhirnya menyetujui permintaan ya Ivan. Lili menemani Ivan sarapan di kantin rumah sakit.
Ivan memegang tangannya Lili lalu menggengam dan sesekali menciumnya, "apa kau juga merindukan aku?"
Lili hanya melempar senyum karena, dia tidak mampu untuk berkata tidak. Secara jujur Lili merasakan kalau dia tidak pernah sedetik pun merindukan Ivan.
"Aku kemarin menyempatkan ke toko perhiasan dan membelikanmu kalung dengan liontin berbentuk matahari karena, bagiku kau adalah matahariku, penyemangat hidupku. Kamu lepas kalung berliontin capung kamu itu ya, dan aku pakaikan kalungku ini" pinta Ivan.
Lili langsung menggelengkan kepalanya dan secara spontan memegang kalung yang masih melingkar manis di leher cantiknya. Lili segera berucap, "aku nggak akan melepas kalung ini selamanya"
Ivan menatap Lili dengan heran, "kenapa? bukankah seharusnya kamu lebih mementingkan pemberian dari calon suami kamu tapi kenapa kamu justru lebih mementingkan kalung itu? memangnya kamu dapatkan kalung itu dari siapa?"
"Dari papa" ucap Lili asal agar Ivan tidak memaksanya untuk melepas kalung berliontin capung yang selalu dia pakai itu.
"Oh, kalau begitu, aku minta kamu bawa kalungku ini dan kamu simpan. Kamu bisa memakainya di hari pernikahan kita nanti" pinta Ivan.
"Maaf! aku kembalikan kalung kamu karena, selamanya aku nggak akan melepaskan kalungku ini" ucap Lili sambil terus memegang kalung berliontin capung yang dia pakai.
"Bahkan di hari pernikahan kita nanti, kamu nggak akan memakai kalung pemberianku ini?" Ivan menautkan kedua alisnya dengan sorot mata penuh kekecewaan.
"Iya" keseriusan terdengar di nada bicaranya Lili.
Ivan melotot dan karena rasa lelah yang begitu besar dibalut rasa kekecewaan dia menggebrak meja dan memekik, "tega kamu Lili Adijaya! kamu setega itu sama aku?"
Lili menoleh ke kanan dan ke kiri lalu berucap, "ssstttt! malu dilihat kolega kita"
"Aku nggak peduli. Biar mereka semua tahu kalau kamu wanita yang kejam" Ivan kemudian mengambil kotak perhiasan yang berisi kalung yang dia beli untuk Lili lalu melangkah meninggalkan Lili dengan sangat kesal.
Lili diam mematung. Dia seharusnya berlari, mengejar Ivan Goh, meminta maaf, dan bersikap manis untuk mengambil hatinya Ivan kembali namun, itu semua tidak bisa dia lakukan untuk suatu alasan yang dia sendiri tidak bisa memahaminya.
Ivan menuju ke ruangannya dan dikejutkan akan kehadirannya Fang Yin. Fang Yin segera memeluk Ivan dan berkata, "kita sudah melewati malam yang begitu indah kemarin, aku merindukanmu"
Ivan mendorong Fang Yin dengan lembut dan berkata, "maafkan aku! aku kemarin terlalu banyak minum karena, terbawa suasana. Maaf kalau aku telah mengambil keuntungan darimu. Aku akan memberimu uang untuk menggugurkan kandungan jika kamu hamil karena, kita tidak pakai pengaman dan......"
Plak!
Fang Yin menampar Ivan Goh dengan sangat keras, "tega kau berkata begitu? kita melakukannya atas dasar suka sama suka dan kamu......."
"Aku tidak sadar. Aku di bawah pengaruh alkohol dan aku sudah memiliki tunangan" pekik Ivan.
"Putuskan tunanganku jika aku hamil atau, aku akan beberkan ke semuanya kalau kamu yang menghamiliku" pekik Fang Yin. Fang Yin adalah seorang kepala perawat yang berumur satu tahun lebih tua dari Ivan Goh dan sudah mencintai Ivan dari sejak hari pertama Ivan menjadi karyawan magang di rumah sakit swasta tersebut.
__ADS_1
"Kau! berani kau mengancamku?" Ivan melotot ke Fang Yin.
"Tentu saja aku berani dan ini bukan hanya sekadar ancaman. Jika aku benar-benar hamil kamu harus menikahiku dan memutuskan tunanganmu!" Fang Yin memekik kesal kemudian keluar dari dalam ruangannya IVan dengan wajah merah padam karena, amarah.
Ivan mengusap kasar wajahnya lalu menghenyakkan tubuhnya dengan kasar di atas kursi kerjanya.
Ivan menaruh kotak perhiasan yang berisi kalung berliontin matahari di atas meja dan bergumam, "aku beli kalung ini untuk menebus rasa bersalahku ke Lili namun, Lili tidak mau menerimanya, huuuffttt, apa Lili sudah........"
Ivan mengacak-acak rambut lurus, hitam, dan lebatnya lalu bergumam kembali, "nggak! Lili nggak mungkin tahu. Kejadiannya baru semalam dan Lili lembur kemarin malam"
Elmo masuk ke rumah sakit untuk memantau pemasangan alat medis produknya di bagian instalasi dan di dalam langkahnya menuju ke ruang instalasi Elmo menghentikan langkah maskulinnya saat melihat Lili duduk sendirian di kantin dan nampak melamun.
Elmo tersenyum lebar dan bergumam, "mood boosterku, pemanis hidupku telah nampak di depan mataku pagi-pagi begini. Apa daya aku tak mampu jika tak menghampirinya"
Elmo berbelok ke kanan dan berjalan lurus menuju ke mejanya Lili. Dia duduk di depannya Lili dan menatap makanan yang masih utuh di depannya. "Pagi, mood boosterku" sapa Elmo dengan senyum lebarnya.
Lili tersentak dan menatap Elmo, "pagi" Lili membalas sapaannya Elmo dengan lesu dan tanpa senyum.
"Ada apa? ini kok makanan masih utuh dan punya kamu juga nggak kamu makan?"
Lili tersenyum lalu bangkit, "semua karena, capung. Makanlah! aku harus segera ke UGD. Aku dipindahtugaskan ke UGD dari kemarin. Maaf aku tinggal" Lili segera berputar badan dan berlari kecil meninggalkan Elmo yang melongo kayak sapi ompong.
"Hufffttt! baru semenit melihatnya, eh udah menghilang lagi. Nggak apa-apa nanti siang aku akan ajak dia makan siang, heeeee atau.........makan siang dan juga makan malam.....AW! Elmo Elruno, kau memang keren, hehehehe" ucap Elmo kepada dirinya sendiri kemudian, dia bangkit untuk mulai bekerja menuju ke ruang instalasi.
Anak buahnya Elmo bekerja sama dengan anak buah kepala instalasi rumah sakit swasta tersebut dengan sangat baik dan pemasangan alat medis produknya berjalan dengan lancar, aman, dan sukses.
"Aman pak Elmo Elruno. Kami tinggal memantau alat medis anda selama satu bulan ini jika tidak ada masalah maka, anda tidak perlu lagi ke sini untuk memantaunya" kata kepala bagian instalasi tersebut.
"Baru kali ini saya mendengar kalau ada orang yang senang wira-wiri ke rumah sakit, hehehehe, anda lucu sekali pak Elmo Elruno, hehehehe" sahut kepala bagian instalasi.
Elmo tersenyum lebar dan berkata di dalam hatinya, itu karena, di sini ada pujaan hatiku, hihihihi.
"Kita makan siang bareng? saya akan traktir kalian semua sebagai pengganti rasa lelah kalian, bagaimana?" tanya Elmo.
"Boleh" sahut pak kepala bagian instalasi tersebut.
"Baiklah! anda bisa ajak semua anak buah anda ke kantin, saya akan susul kalian karena, saya masih harus menemui dokter Lili Adijaya sebentar"
"Baiklah. Sebelumnya terima kasih banyak, pak Elmo"
"Sama-sama" sahut Elmo sambil menepuk pundaknya pak kepala bagian instalasi tersebut lalu dia berjalan meninggalkan semua tim instalasi untuk menemui Lili dan dia akan mengajak Lili makan siang bersama.
Elmo menghentikan langkahnya saat melihat Lili ditarik tangannya oleh Ivan Goh dan dibawa masuk ke dalam ruangannya Ivan Goh.
"Aku ikuti atau aku biarkan saja mereka? bagaimana pun dokter tampan itu, masih tunangannya Lili tapi, Lili tampak terpaksa mengikuti dokter tampan itu?" Elmo berpikir sejenak dan akhirnya mengambil keputusan untuk mengikuti Lili dan Ivan Goh.
Ivan menyandarkan tubuhnya Lili di tembok lalu dia menempelkan tubuhnya di tubuhnya Lili agar Lili tidak bisa kabur. kedua tangannya Lili dia cekal dan dia naikkan di atas kepalanya Lili.
"Kau....kau mau apa Ivan?" Lili memekik panik.
"Aku tunanganmu, aku berhak atas dirimu dan aku menginginkanmu saat ini" Ivan langsung memajukan wajahnya untuk mencium bibirnya Lili namun, dengan cepat Lili memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Ivan kemudian menempelkan wajahnya ke lehernya Lili dan bergumam, "bahkan sampai detik ini, kamu masih menolak ciumanku. Kau anggap apa aku ini, hah?!" Ivan kemudian menggigit dan menghisap lehernya Lili kemudian melepasnya dan berucap, "tapi, detik ini juga aku akan memilikimu sepenuhnya, sayangku"
Lili langsung panik, dia tidak bisa bergerak sama sekali. Lili kemudian berteriak, "tidak! lepaskan aku!"
Ivan mulai membuka dua kancing blusnya Lili dan menyusupkan wajahnya di sana dan..........
Braakkkk!
Pintu ruangannya didobrak Elmo dan Elmo langsung menutup pintu itu lagi dengan cepat kemudian melesat menarik Ivan menjauh dari tubuhnya Lili.
"Kenapa kau ganggu waktu kami?" tanya Ivan geram.
Lili mematung dan secara naluri tanpa dia sadari dia berlari ke Elmo.
Ivan menggeram kesal.
"Walaupun dokter Lili tunanganmu tapi, seorang gentleman tidak akan memaksa seorang wanita dan melecehkannya" Elmo hendak mendaratkan tinjunya di wajah Ivan namun ditahan oleh Lili, "ingat ini rumah sakit jangan bikin keributan!"
"Siapa yang memaksa? kita lakukan suka sama suka, benar kan, sayang?"
Lili mengancingkan kembali dua kancing blusnya yang terbuka lalu berputar badan meninggalkan Ivan begitu saja dan Elmo langsung menyusulnya.
Ivan menggebrak meja dan semakin frustasi. Dia ingin menghamili Lili. Dia pikir dengan cara begitu, dia bisa segera menikah dengan Lili dan bisa terlepas dari gangguan Fang Yin namun, rencananya gagal dan dia menjadi semakin frustasi saat menyadari kelakuannya telah menyakiti Lili. Dia menyesalinya dan akhirnya dia terduduk di atas lantai menopang wajahnya dengan kedua tangan dan menangis terisak karena, penyesalan dia telah menyakiti Lili.
Elmo mengajak Lili ke kantin. Lili duduk di saat Elmo menemui tim instalasi lalu membayar semua makanan yang sudah dipesan oleh tim instalasi. Kemudian Elmo memesan makanan dan minuman hangat untuk dia dan Lili.
Elmo duduk di depannya Lili dan melihat ada tanda merah di lehernya Lili. Elmo meradang menahan kecemburuan lalu bertanya dengan nada geram, "apa tunangan brengsek kamu memang seperti itu orangnya?"
Lili hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Elmo.
Lili menganggukkan kepalanya lalu tersenyum ke Elmo.
"Apa kalian pernah........"
"Belum pernah, bahkan berciuman pun kami tidak pernah" ucap Lili dengan cepat ke arah Elmo.
Elmo tersenyum lebar dan bernapas lega karena, pujaan hatinya masih polos dan suci.
"Kok malah senyum kayak gitu?" Lili menatap Elmo dengan heran.
"Aku bahagia karena, kamu masih menungguku walaupun kamu sudah bertunangan dengan cowok lain" Elmo terus tersenyum ke Lili.
"Kamu gila ya? siapa yang menunggumu? aku aja belum ingat siapa kamu" Lili melotot ke Elmo dan Elmo terus tersenyum lebar ke Lili lalu berucap, "aku ingin mengajakmu ke suatu tempat saat ini juga tapi, nggak bisa kan karena, sebentar lagi kamu harus bertugas lagi"
"Iya dan sejak masuk ke tim UGD aku pulang malam terus" ucap Lili.
"Aku akan menjemputmu nanti. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat. Tempat itu akan mengingatkanmu akan kita, kisah kita di masa lalu"
"Baiklah jemput aku jam sembilan" ucap Lili.
__ADS_1