
Seperti hari-hari biasanya, Moses bangun jam lima pagi untuk joging di sekitar pantai dan melakukan beberapa gerakan beladiri yang dia kuasai untuk tetap melemaskan otot-ototnya.
Lili asyik melakukan panggilan video call dengan suaminya dari jam empat pagi dan belum beranjak keluar dari dalam kamarnya.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu" Elmo mengerucutkan bibirnya di depan layar ponselnya.
"Aku juga Kangen banget sama.kami sayang. Berapa lama lagi kita bisa bersama?" Lili menitikkan air mata kerinduannya.
"Sayang, jangan nangis dong. Aku jadi pengen terbang ke sana sekarang juga nih" Elmo mengusap layar ponselnya dengan sorot mata syahdu penuh cinta berbalut kerinduan yang teramat dalam.
Lili menghembuskan napas kesedihannya karena, belum bisa berkumpul dengan suami tercintanya, "iya, maafkan aku! Aku nggak akan nangis lagi"
Elmo lalu melirik jam tangannya dan berkata, "maaf aku putus dulu sambungan Video Call kita ini ya, aku ada janji bertemu klien pagi ini. Nanti aku telpon kamu lagi pas makan siang dan pas mau bobok malam. I Love you"
Lili tersenyum, menganggukkan kepala dan berkata, "I Love You too" lalu klik, layar ponsel kedua insan penuh cinta itu pun menggelap tanda putusnya sambungan komunikasi jarak jauh mereka.
Melati sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk semuanya dengan dibantu Bintang dan Celyn karena, Chery masih sibuk mengurusi si kembar dan Raja, suaminya Chery yang masih ingin terus dimanja oleh Chery.
"Kak"
"Hmm" Sahut Raja sambil berkacak pinggang di dalam kamar.mandi dan terus menatap istri dan si kembar kesayangannya.
"Aku lagi mandiin si kembar nih. Ambil baju sendiri bisa kan? ngapain masih berdiri di situ dan masih pakai jubah mandi sih?"
"Nggak mau. Aku senang nungguin kamu mandiin si kembar. Aku juga terbiasa dipilihkan dan dipakaikan baju sama aku. Aku nggak mau milih dan nggak mau makai baju sendiri, titik nggak pakai koma" Raja berkata dengan masih berkacak pinggang dan memberikan senyum jenaka ke si kembar.
Chery mendesah panjang melepas kejengkelannya dan berucap, "kalau begini aku berasa punya tiga anak nih"
"Iya, Daddy yang paling besar, hahahaha" pekik Bryna sambil menunjuk Daddy-nya.
"Hmm, Papi emang nggak tahu malu, udah gede masih minta dipakaiin baju sama mami, iihhh, nggak malu ya?" sahut Barnes
Raja tertawa jenaka lalu dengan polosnya ia melepas jubah mandinya begitu saja dan masuk ke dalam bath-up dan menggelitik si kembar sampai air di dalam bath-up tumpah ke segala sisi. Chery berdiri dan berkata tegas, "aku keluar. Nyerah deh! Ampun! mandiin si kembar! aku akan bantu mama memasak" Chery langsung berputar badan dan keluar dari dalam kamar mandi meninggal si kembar dan Raja begitu saja.
Raja dan si kembar memandang arah perginya Chery lalu mereka bertiga beradu pandang, "nah gara-gara siapa nih, mami marah?" Raja melempar tanya ke si kembar.
"Papi" ucap Barnes dan "Daddy" sahut Bryna.
Raja menggelegarkan tawa merdunya di udara.lalu mengajak si kembar bermain air.
Chery menuju ke dapur dan langsung memakai celemek, "aku kebagian apa nih? incip-incip ya?"
Celyn menoleh, "enak aja. Tuh cuci sayurannya"
Lili yang sudah bergabung di dapur dan tengah menggoreng telur mata sapi, menoleh ke Chery dan bertanya, "si kembar mana Kak?"
"Masih mandi sama papanya. Bakal lama kalau mereka bertiga berkumpul di bath-up makanya aku tinggal aja"
"Persis kayak papa kamu dulu. Papa kamu lebih milih datang kerja terlambat daripada melewatkan bermain air dengan putra putrinya" sahut Melati sambil terkekeh geli.
__ADS_1
"Saya bersyukur bisa mengenal Elmo dan bisa berada di tengah keluarga yang baik, penuh kasih, dan hangat seperti ini" sahut Bintang.
"Kak Bintang harus terus di sini ya kalau nggak ikut ke Indonesia kalau kasus yang ditangani kak Elmo udah selesai, oke?" Celyn berkata sambil merangkul Bintang.
"Iya benar itu. Tetaplah berada di tengah kami selama-lamanya" sahut Melati.
"Hehehehe, lihat nanti deh" sahut Bintang sambil terus menggerakkan spatula di atas penggorengan besar yang penuh dengan nasi goreng seafood.
Moses kembali masuk dan terbelalak kaget saat ia melihat Maha Adijaya masih meringkuk manis di atas sofa besar, panjang, super mewahnya itu. Moses lalu menendang pantatnya Maha dan berkata, "hei! bangun!"
Maha masih mengorok dan belum bergerak sama sekali.
"Benar-benar ya orang ini huuffttt! udah nggak tahu sopan santun, tuli pula" Moses menggeram kesal.
Ray muncul dan segera memekik, "Tuan, Maha kan itu? kok dia ada di sini?"
"Nah itu aku juga nggak tahu. Aku kira dia pergi semalam nggak tahunya tidur di sini. Bangunkan dia!" perintah Moses sambil berkacak pinggang.
Ray menunjuk dirinya sendiri sambil mengeluarkan kata, "saya, Tuan?"
Moses menganggukkan kepalanya dan masih berkacak pinggang.
"Kenapa saya? kalau saya kena bogem mentah trs wajah saya bonyok, saya akan tidur di luar rumah tuan, hiks hiks hiks. Delia tidak suka melihat saya pulang berwajah bonyok"
Moses menggerakkan kepalanya ke arah Maha sebagai kode kalau Ray masih harus menuruti perintahnya dan Moses nggak peduli dengan peraturannya Delia atas Roy.
"Jangan saya Tuan! please!? kenapa nggak Tuan sendiri yang membangunkannya?" Ray mengatupkan kedua tangannya di depan Moses.
"Justru itu akan memperparah keadaan Tuan. Delia akan makin marah dan saya bisa tamat, hiks,hiks,hiks"
"Bangunkan! kalau Delia marah biar aku yang hadapi" sahut Moses dengan muka kesal
Ray akhirnya mengalah dan melangkah pelan mendekati Maha. 'Saved By The Bell' Sebelum Ray menyentuh Maha, Maha berputar badan dan dengan masih rebahan di atas sofa mewahnya Moses, Maha membuka kedua matanya. Mata Maha menatap Ray, "mau apa kamu?"
Ray segera mundur tiga langkah dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bangun!" Pekik Moses kesal.
Maha menoleh ke Moses sambil mengulet dengan santainya dan bertanya, "aku di mana ini?"
"Di kandang singa" sahut Moses. "Cepat bangun! kamu ngileran nggak? waduuhhh, bisa bau tuh sofaku"
Maha segera bangun dan duduk di tepi sofa dengan wajah kaget bercampur malu ia berucap, "kenapa aku bisa tidur di sini?"
"Kamu pasti sengaja kan? pengen dapat tidur dan makan gratis di sini, cih! nggak tahu malu" ucap Moses.
Maha segera berdiri dan memegang kerah kaosnya Moses, "aku Maha nggak pernah mengemis belas kasihannya orang. Aku akan ganti sofa kamu dengan yang jauh lebih bagus dan lebih mahal dan aku akan bayar sarapannya kalau aku diundang Melati sarapan"
Moses menepis tangan Maha dengan kasar dan berteriak kencang, "jangan sebut nama istriku dengan mulutmu!"
__ADS_1
Melati segera berlari ke ruang depan diikuti Lili. Melati segera menarik lengannya Moses dan Lili menarik lengannya Maha.
"Sayang, sabar! mana janji kamu semalam ke aku? kamu akan menghormati pak Maha, kan? ingat dia besan kita"
"Dia tidur di sini tanpa ijin dan dia menyebut nama kamu tadi"
Melati segera mengatupkan kedua tangannya di depannya Maha, "maaf Pak kalau kami kurang sopan. Seharusnya semalam kami menawarkan ke anda untuk menginap di sini dan menyiapkan kamar untuk anda. Maaf anda kami biarkan tidur di sofa"
"Maafkan Lili Pa. Lili marah sama Papa kemarin. Harusnya Lili lebih memerhatikan Papa. Maafkan Lili Pa Moses dan Ma" sahut Lili.
Moses menggeram kesal lalu ia melangkah lebar meninggalkan semuanya. Moses langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya.
"Li, tolong urus papa kamu ya?! Mama mau lihat suami Mama dulu. Maaf pak Maha saya tinggal dan silakan anggap rumah anda sendiri. Sarapan juga sudah siap jika anda berkenan untuk sarapan di sini"
Maha tidak mampu berkata-kata di depan Melati sang pujaan hatinya. Maha hanya bisa terus menatap Melati, tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Melati masuk ke dalam kamar mandi. Moses memang tidak pernah mengunci pintu kamar mandi setiap kali dia mandi jadi Melati bisa langsung masuk ke dalam dengan mudah.
Moses berdiri di bawa shower membelakangi Melati. Melati segera mendekat dan menggosok punggung suaminya dan bertanya, "kenapa marah? marah sama aku?"
Moses segera berputar badan dan mencium bibirnya Melati dengan penuh kecemburuan. Melati hanya bisa pasrah mengikuti permainan suaminya yang kemudian berakhir dengan penyatuan raga di dalam bath-up.
Selang satu jam kemudian Moses dan Melati bergabung di meja makan dengan wajah ceria. Sudah tidak ada lagi awan mendung yang menggantung di wajah tampannya Moses.
Maha nyeletuk, "mandi apa pingsan? kok lama banget?"
"Terserah aku dong, ini rumahku" sahut Moses kesal.
Melati segera mengusap punggung suaminya dan berbisik, "ssstt! udah ya, nggak baik ribut di depan makanan"
"Aku heran kok bisa tahan sih, kamu bersanding dengan laki-laki kaku kayak gitu, Mel?" ucap Maha dengan santainya.
"Karena saya sangat mencintainya" sahut Melati.
Maha menatap Melati dengan sedih. Cintanya bertepuk sebelah tangan dan nggak akan pernah bersambut, ia paham betul itu tapi tetap saja ada rasa kecewa, sedih, dan cemburu di sast Melati berkata mencintai Moses Elruno dan ia tentu saja seperti itu karena Moses Elruno adalah suaminya Melati.
Maha mengalihkan pandangannya ke Moses dan asal bertanya, "dan kamu?"
Moses langsung merangkul bahunya Melati dan menghunus tatapan tajamnya ke Maha, "tentu saja aku sejuta kali lebih mencintai Melati karena Melati itu my cute nanny, istriku, dan my everything sampai selama-lamanya jadi jangan pernah berharap dan bermimpi untuk mendapatkannya" desis Moses penuh rasa posesif.
Melati kembali mengusap punggung suaminya dan Maha tertawa lepas lalu tersenyum ambigu ke Moses.
"Apa maksud senyum kamu itu?" desis Moses penuh kecurigaan.
"Nggak ada" sahut Maha dengan santainya dan kembali melanjutkan makannya.
Ray menoleh ke tuan besarnya, "Tuan, emm, Tuan Maha ingin mengobrol berdua saja dengan anda setelah sarapan"
Maha dan Moses laku beradu pandang.
__ADS_1
Moses lalu berkata, "oke, aku tunggu di ruang kerjaku"
"Terima kasih" sahut Maha dengan wajah datarnya.