My Cute Nanny

My Cute Nanny
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Maha terus melangkah lebar menuju ke pintu keluar dan Moses segera melesat lalu menarik pundaknya Maha, "stop! kamu tuli ya? aku bilang stop kok malah lempeng aja jalannya"


Alfa lalu menyusul Moses dan berdiri di depannya Maha, "anda mau apa menemui Melati? mau modus ya?"


Maha mematikan cerutu di atas telapak tangannya sendiri lalu memasukkan puntung cerutu itu ke dalam saku jasnya dan berkata, "bisakah kalian memakai bahasa Indonesia dengan baik dan benar? aku tidak mengerti kata lempeng dan modus"


"Dasar gila! itu nggak penting. Jangan temui Melati dan jangan bicara empat mata dengan istriku! Alfa mau kok kasih tahu ke Lili soal rencana penyerahan diri kamu tadi. Iya kan, Fa?" Moses memandang Alfa dengan penuh harap.


Alfa mendelik dan menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat ke arah Moses karena, Alfa paling tidak tega jika ia harus melihat seorang wanita menangis di depannya, apalagi itu Lili.


"Shit! mau mati kau!?" Moses memekik kesal ke Alfa dan Alfa langsung meringis sambil mengangkat kedua pundaknya ke arah Moses.


Maha menoleh ke Moses, "kau tidak percaya pada Melati? ternyata cinta kamu tuh dangkal dan picik"


"Ssshhh!" Moses mendesis dan dengan segera mengepalkan tinjunya. Tanpa berpikir panjang ia melayangkan tinju itu ke udara untuk ia hujamkan ke wajah gantengnya Maha Adijaya. Ray segera melesat dan menahan tinjunya Moses sambil berucap, "saya disuruh Melati untuk mencegah pertikaian karena, Melati nggak ingin anda terluka kembali Tuan, maafkan saya, saya terpaksa menahan tinju anda"


Moses menyipitkan kedua matanya, menggeram kesal, dan mengeraskan rahang ke arah Maha Adijaya dengan napas menderu menahan kekesalan.


"Melati akan sedih jika tahu kamu tidak memercayainya"


Moses menepis tangannya Ray dan berteriak ke Maha, "Jangan sok tahu kamu! aku percaya pada Melati istriku tapi aku tidak percaya padamu, dasar brengsek!" jerit Moses kesal sambil kembali mengepalkan kedua tinjunya.


Maha tersenyum tipis dan kembali melangkah ke depan sambil menyingkirkan tubuh Alfa yang masih berdiri tegak di depannya. Alfa segera menarik pundaknya Maha untuk menahan langkahnya Maha dan Maha segera menepisnya sambil terus melangkah maju.


Moses berteriak, "stop!" bertepatan dengan munculnya Melati dan Lili di depan keempat laki-laki keren dan gagah itu.


Melati menatap keempat-empatnya dan merasa lega karena, tidak ada satu pun yang lebam wajahnya.


Maha segera melempar senyum terbaiknya ke Melati, "boleh saya berbicara empat mata saja dengan anda? ini mengenai Elmo dan Lili"


Moses menggelengkan kepalanya ke Melati sebagai kode kalau ia tidak mengijinkan dan tidak menyukai kalau Melati berbicara empat mata saja dnegan Maha Adijaya. Namun Melati mengabaikannya dan berkata ke Maha, "boleh"


"What?!" Moses mendelik ke Melati.

__ADS_1


Melati mempersilakan Maha masuk kembali ke dalam ruang kerja suaminya dan ia menepuk pundaknya Moses sebelum ia melangkah menyusul Maha, "kamu nggak percaya padaku?"


Moses mendengus kesal dan diam membisu sambil terus memandangi wajah ayu istri tercintanya itu.


"Di dalam ada CCTV dan aku bukan orang yang bodoh jadi, percayalah padaku! aku akan baik-baik saja" Melati berjinjit untuk mencium kedua pipi suaminya lalu ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja suaminya lalu segera menutup dan mengunci pintunya.


Moses berjalan menyusul dan keningnya langsung terbentur pintu itu dan dia mengumpat kesal saat ia tidak bisa membuka pintu itu. Dia menendang pintu itu lalu berkata dalam napas memburu, "what? dikunci? apa-apaan sih Melati? kenapa pintunya dikunci?" Moses mulai uring-uringan dan kembali mengepalkan kedua tinjunya.


Alfa menepuk pundaknya Moses, "anggap saja Melati tengah menemui pasiennya. Maha pasti butuh berkonsultasi dengan Melati sebagai psikiater-nya saat ini"


Moses menepis tangan Alfa dari atas pundaknya tanpa menoleh ke Alfa. Moses terus menatap ke arah pintu dengan napas menderu.


Alfa menghela napas panjang lalu mengajak Ray untuk menunggu di ruang keluarga dan meninggalkan Moses begitu saja. Moses kemudian berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang kerjanya dengan wajah tidak tenang dan penuh kekesalan.


Lili berdiri tidak jauh dari Moses. Lili hendak mengatakan satu atau dua patah kata untuk memenangkan papa mertuanya tapi, dia takut papa mertuanya itu akan marah kepadanya. Akhirnya Lili memutuskan untuk diam membisu namun, ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri.


Maha terus melukis senyuman terbaiknya di wajah gantengnya. Wajah yang terbiasa dingin, keras, dan jarang tersenyum itu kini bisa melonggarkan semua otot ketegangannya berkat wajah ayunya Melati.


Melati membalas senyumannya Maha lalu ia duduk di sofa menghadap ke Maha, "silakan sampaikan semua keluh kesah anda, Pak Maha"


Melati tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan anggun dan sopan.


"Kalau begitu, aku juga boleh ber-aku dan ber-kamu?" tanya Maha kemudian dengan wajah sumringah.


"Kalau itu lebih bisa membuat anda merasa rileks, silakan saja Pak" ucap Melati dengan senyum sopannya.


"Kalau begitu, kamu juga harus berbahasa informal denganku. Jangan pakai anda dan jangan sebut Pak ke aku"


Melati menautkan kedua alisnya, "apa boleh seperti itu? kita ini besan, anda papa mertuanya Elmo"


"Boleh saja. Aku menginginkan kita menjadi lebih akrab sebagai keluarga, toh aku dan Moses juga pakai bahasa informal"


Melati tersenyum geli lalu bertanya, "lalu bagaimana saya harus memanggil anda?"

__ADS_1


"Kok masih ada anda dan saya nih? emm, coba panggil aku Kak! atau Om, sama seperti Alfa"


Melati tersenyum lalu ia mencubit dagunya sendiri dan memandang Maha dengan keraguan, "emm, maafkan saya! tapi saya rasa tidak sopan jika saya memanggil anda Kak atau Om. Pertama saya sudah menikah dan kedua anda adalah papa mertuanya putra saya. Tetapi, Anda boleh memanggil saya Melati dan berbahasa informal pada saya karena saya jauh lebih muda daripada anda. Tetapi karena anda adalah papa mertuanya Elmo maka saya akan tetap memanggil anda, Pak" ketegasan terdengar di nada bicaranya Melati.


Maha segera menggelegarkan tawanya laku berucap, "kamu bukan hanya cantik, baik hati, tapi juga memiliki attitude yang sempurna. Moses Elruno beruntung memilikimu" ucap Maha dengan sorot mata penuh kekaguman ia terus memandang wajah ayu-nya Melati.


"Saya yang beruntung memiliki suami saya karena tanpa suami saya, saya tidak akan menjadi ibu dari ketiga anak saya yang begitu saya sayangi dan menyayangi saya" ucap Melati.


"Baiklah cukup membahas soal Moses. Emm, aku mengajakmu berbicara empat mata denganmu karena, aku ingin menyerahkan diri ke pihak kepolisian berserta dengan bukti-buktinya aku punya tentang kejahatannya Goh demi Elmo dan Lili"


Melati menautkan alisnya dan berkata, " apakah anda sudah membicarakan soal ini ke Lili?"


Maha tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "aku tidak tega untuk itu aku ingin meminta tolong ke kamu. Sampaikan ke Lili besok saat aku sudah pergi dari sini"


"Anda sudah yakin dengan keputusan anda? kenapa anda tidak menunggu Elmo? saya yakin kalau putra saya akan berhasil menyelesaikan semua misinya. Saya rasa anda tidak perlu melakukan hal itu"


"Tentu saja perlu. Aku ingin menebus dosa-dosaku dengan cara menyerahkan diri ke kepolisian. Aku ingin hidup damai dan lepas dari kehidupanku yang penuh bahaya dan bergelimang dosa. Aku ingin di saat aku memiliki cucu nanti, cucu-ku akan memandang bangga ke diriku. Aku juga ingin segera membebaskan Lili dari kerinduan terhadap suami yang baru dinikahinya. Kasihan habis menikah ia harus berpisah dengan suaminya sampai hari ini" keseriusan terdengar di nada suaranya Maha.


Melati tersenyum dan berkata, "saya ucapkan banyak terima kasih ke anda karena, anda masih memiliki hati nurani. Anda rela berkorban demi kebahagiaannya Elmo dan Lili"


"Emm, sebelum aku pergi dari sini dan masuk ke hotel Rodeo, aku ingin mengakui suatu hal ke kamu walaupun aku tahu sudah terlambat dan aku tahu kamu nggak mungkin membalasnya tapi aku perlu mengutarakan rasa yang selalu menyiksa batinku ini"


"Silakan ungkapkan segalanya, Pak" Melati tersenyum ke Maha dengan sangat tulus.


"Pertama, aku ucapkan terima kasih sudah mau mengasuh, merawat, menyekolahkan, dan menganggap Lili sebagai putri kandungmu sendiri"


"Saya langsung bisa menyayangi Lili karena, Lili berhati bersih dan penuh cinta kasih" sahut Melati.


"Dia tumbuh mirip denganmu, membuatku sungguh-sungguh bersyukur. Terima kasih atas didikanmu, Lili tumbuh menjadi wanita yang berbudi luhur, baik hati, dan tangguh seperti kamu"


"Jangan memuji saya setinggi itu! saya hanya mengikuti naluri saya sebagai seorang ibu bagi semua anak di dunia ini. Saya mencintai semua anak-anak itulah kenapa saya juga menyayangi Lili dan saya mendidiknya sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang saya punya jika Lili Isa tumbuh menjadi gadis yang baik, itu karena dia berhati murni dan itu semua lebih karena anugerah dari Tuhan" sahut Melati.


Maha semakin memandang Melati dengan penuh kekaguman dan ia segera berkata, "itulah kenapa aku begitu mencintaimu"

__ADS_1


"Hah?!" Melati segera menarik rahangnya ke bawah karena kaget mendengar pernyataan cinta dari besannya sendiri.


__ADS_2