
Laki laki jutawan, suami kontraknya Claudia melangkah gontai memasuki kamar rawat inapnya Claudia. Claudia sudah melewati masa kritisnya, tetapi masih tertidur cantik di dalam komanya dengan berbagai alat medis yang tertempel di atas tubuh dan wajah mungilnya. Aroma disinfektan khas rumah sakit menguar tajam di dalam kamar itu. Laki laki asli Itali itu duduk di samping bed-nya Claudia dan menggenggam erat tangan istri kontraknya yang sangat cantik itu.
"Andai kita tidak bertemu dan aku tidak terpikat akan kecantikan dan tingkah liar kamu maka, kamu nggak akan berakhir seperti ini sayang. Aku kini sungguh sungguh mencintaimu" laki laki itu menangis terisak.
Tiba tiba ponselnya berbunyi. Dari pihak kepolisian yang mengabarkan bahwa istri sahnya kini berada di dalam penjara, untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Polisi mengharuskan dia untuk datang dan memberikan tuntutan juga pernyataan.
Semakin frustasilah dia. Di satu sisi wanita yang kini di penjara adalah istri sahnya, ibu dari anak anaknya dan di satu sisi wanita yang terbaring koma akibat ulah keji dari istri sahnya itu, adalah wanita yang sangat dia cintai.
Apakah aku tega menuntut istriku yang telah melahirkan anak anakku dan yang telah aku khianati. Tapi jika aku tidak menuntutnya dan menjebloskan dia ke penjara maka, dia akan membahayakan bagi Claudia. Dia pasti akan nekat membunuh Claudia di kesempatan berikutnya. Batin laki laki itu.
"Sayang, aku tinggal sebentar ya. Manajer kamu akan menjaga kamu" ucap laki laki asli Itali itu, kemudian mengecup keningnya Claudia.
Di Indonesia.............
Melati telah tiba di rumah dengan selamat tidak kurang suatu apapun. Mamanya dan om Erlangga nampak kaget "lho kok sudah pulang? katanya besok baru pulang" ucap mamanya Melati sembari memeluk Melati dan mencium kedua pipi gembulnya Chery.
"Moses mana?" tanya om Erlangga.
"Papanya anak anak masih ada urusan di sana om dan belum tahu kapan pulangnya" kesedihan terdengar di nada suara wanita cantik istrinya Moses Elruno.
"Oooooo begitu ya, dia bekerja sama dengan siapa kali ini?" tanya om Erlangga karena semenjak Moses menikah dan bahagia, om Erlangga sudah melepas pengawasannya untuk Moses Elruno dan dunia bisnisnya Moses.
"Dengan Kaage om" kata Melati sembari duduk berbarengan dengan mamanya menghadap ke arah Dokter Erlangga.
"Kaage? hmm, aku akan mengeceknya nanti. Kamu beristirahatlah dulu, Chery juga mulai mengantuk tuh!" ucap Dokter Erlangga.
"Iya, Chery lucu kalau mengantuk kayak gini, hahahaha. Kalau begitu, Melati pamit ke kamar dulu om, ma"
"Iya" jawab Dokter Erlangga dan mamanya Melati secara bersamaan.
Dokter Erlangga berdiri dan mengecup keningnya Heni kekasih hatinya dan berkata "aku ke ruang kerjanya Moses dulu ya, mau memeriksa sesuatu"
"Iya, aku juga mau ke dapur memasak ikan asam manis kesukaanmu" Mamanya Melati kemudian berdiri dan mendapat kecupan manis di bibirnya.
"Kamu, makin genit ya"
"Hahahaha, habisnya kamu semakin menggemaskan sih" ucap Dokter Erlangga dengan polosnya, kemudian melangkah pergi meninggalkan Heni.
Heni langsung menuju ke dapur dan memasak ikan asam manis kesukaannya Dokter Erlangga.
Chef pribadinya Moses membantu Heni dalam meracik bumbu bumbunya sembari memasak untuk nyonya besarnya yang telah pulang dari Jepang.
Angel menghabiskan hari harinya di rumahnya Arkan yang sekaligus merupakan rumah penampungan bagi para remaja yang membutuhkan perhatian dan penanganan khusus.
Selama beberapa hari ini, Arkan terus mengawasi Angel. Awalnya dia berniat untuk membalaskan sakit hatinya akibat dari ulah mamanya Angel. Akibat dari perbuatan kejam dari mamanya Angel, dia kehilangan papa, putra tunggalnya dan bercerai dengan istrinya. Tetapi ketika berdiskusi dengan Angel, melakukan sesi wawancara dengan Angel, dosen paling tampan di kampusnya Melati itu pun menjadi tidak tega.
Angel tidak layak untuk aku jadikan pelampiasan dendamku untuk mamanya. Batin Arkan sembari mengamati Angel yang tengah duduk di teras belakang, membaca komik kesukaannya Angel.
Angel sangat senang berada di rumahnya Arkan. Walaupun dia belum bisa bergaul dan membuka diri dengan remaja yang lainnya tapi, dia merasa nyaman berada di dekatnya Arkan. Karena di rumah dia juga sendirian. Papa dan kakak laki lakinya sibuk bekerja, mereka bisa bertemu hanya di saat jam makan malam setelah itu masuk ke kamar mereka masing masing.
__ADS_1
Gadis yang pendiam dan introvert ternyata. Angel termasuk kuat dan tangguh juga menghadapi badai yang begitu besar, yang menimpa hidupnya. Jika itu anak lain belum tentu akan sekuat dan setegar dia. Batin Arkan.
Arkan kemudian melangkah mendekati Angel dan duduk di sampingnya Angel.
"Kamu tidak capek sedari tadi membaca komik? kamu tidak ingin bergabung dengan mereka?" Arkan melempar pandangannya ke anak didiknya yang lain yang tengah berlatih musik. Ada yang bermain piano, gitar, drum, jimbe dan ada pula yang bernyanyi.
Jantungnya Angel langsung bertalu talu dengan sangat kencangnya ketika menoleh ke kiri dan mendapati pak Arkan telah duduk di sampingnya, dekat sekali berada di sampingnya karena, memang bangku yang mereka duduki itu sangatlah kecil dan sempit.
Angel mencoba meredakan irama jantungnya yang mulai liar dengan menutup komiknya dan berucap "saya, tidak bisa bernyanyi dan tidak bisa bermain alat musik"
"Bagaimana kalau aku mengajari kamu? aku bisa bermain piano dan gitar" kata Arkan.
Angel merona malu ketika membayangkan pak Arkan mengajarinya bermain gitar. Dia akan dipeluk dari belakang dan jari jarinya akan disentuh.......makin merahlah wajahnya Angel.
Pak Arkan secara spontan menyentuh dahinya Angel dengan tangannya ketika melihat wajahnya Angel memerah bak udang rebus "kamu sakit? aaahh, tapi nggak demam, kok? kenapa wajahmu memerah?"
Angel langsung memalingkan wajahnya, menepis pelan tangannya Arkan dari dahinya, lalu berucap "sa....saya baik baik saja"
"Bagaimana? apakah kamu mau aku ajari bermain alat musik? apakah di rumah kamu ada alat musik?" tanya Arkan.
Angel masih mengalihkan pandangannya ke rumput hijau yang tengah bergoyang tertiup angin dan cukup ampuh membantu Angel meredakan irama liar dari jantungnya.
"Angel Elruno?" Arkan tersenyum melihat Angel malah melamun dan tidak menjawab pertanyannya.
"Aaah, iya pak. Di rumah saya ada berbagai macam gitar, koleksinya kak Alfa. Kak Alfa sangat pandai bermain gitar" Angel akhirnya merespon pertanyaannya Arkan.
"Oke kalau begitu aku akan mengajari kamu bermain gitar, ayok!" Arkan berdiri dan dengan santainya menggenggam tangannya Angel dan dia tarik pelan agar Angel mengikuti langkahnya.
Arkan melepaskan tangannya Angel dan mengambil gitar yang berada di dalam ruang kerjanya.
Memberikan contoh ke Angel kunci kunci dasarnya. Angel memperhatikan dengan seksama. Kemudian Arkan menyerahkan gitarnya ke Angel. "Sekarang kamu coba praktekkan, apa yang barusan aku ajari tadi!"
Angel kemudian memangku gitar itu dan Arkan berucap " coba kunci C"
Angel langsung menekan formasi kunci C di senar gitar itu dengan jari jari tangan kirinya dan memetik gitar itu dengan tangan kanannya.
Arkan kemudian berdiri dan duduk di samping kirinya Angel dan menekan jari jarinya Angel dengan lembut. Angel bagaikan tersengat aliran listrik berjuta juta voltase.
Angel menundukkan wajahnya karena wajahnya kembali merona.
"Kuncinya sudah benar posisinya tapi kamu kurang menekannya, tekan seperti ini" jari jarinya Arkan menyentuh jari jarinya Angel. "Nah, sekarang coba kamu petik gitarnya!"
Angel dan Arkan bersitatap dan saling melempar senyum senang ketika petikkan gitarnya Angel sudah pas dan enak untuk didengarkan.
"Bagus!" Arkan melepaskan jari jarinya dan berkata "sekarang coba kunci A minor, karena letak C ke A minor itu yang paling mudah"
Angel melakukannya dengan sangat benar. Membuat Arkan memandangnya dengan rasa kagum. Arkan berucap "kamu bukan saja cantik tetapi juga cerdas ternyata" Arkan berucap tulus tanpa didasari rasa apapun kepada Angel. Dosen super tampan itu hanya ingin membesarkan hati Angel agar Angel tidak menjadi anak yang minder, tapi Angel menerima ucapan itu dengan girang hati dan penuh harapan.
Tin Tin
__ADS_1
Bunyi klakson Yellow Bee membuyarkan fantasi indahnya Angel. Kakak laki lakinya yang super tampan itu telah menjemputnya.
Alfa datang menjemput Angel dengan papanya Rini. Setelah mereka menyelesaikan makan siang mereka, Alfa mengajak papanya Rini untuk menjemput adik perempuannya karena, Alfa mulai dikejar waktu. Jam empat sore dia harus balik lagi ke rumah sakit, untuk kembali berpraktek.
"Adik kamu menjalani terapi psikologi, di sini?" tanya papanya Rini sembari turun dari mobil dan mengikuti langkahnya Alfa.
Alfa tersenyum dan berkata "benar om"
"Oooo, tapi kenapa? apa dia bermasalah?" tanya papanya Rini sembari duduk di bangku yang berada di teras depan rumahnya Arkan.
"Dia cuma perlu teman. Adik saya anaknya sangat pendiam dan suka menyendiri. Di sini dia bisa belajar berinteraksi dengan teman teman sebayanya" kata Alfa.
"Oooo, begitu"
Beberapa menit kemudian Angel dan Arkan muncul.
Alfa dan Sammy langsung berdiri dan menyalami Arkan secara bergantian.
"Kenalkan ini papanya Rini dan om, ini dosen pembimbingnya Rini"
"Benarkah? setampan dan semuda ini menjadi dosen? kenapa nggak foto model aja?" Sammy berucap dengan polosnya.
"Hahahaha, passion saya menjadi seorang pendidik pak" ucap Arkan sembari tersenyum.
Angel meraih tangan papanya Rini dan mencium punggung tangan papanya Rini tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Ini adik saya, om"
Papanya Rini tersenyum manis ke arah Angel. "kamu manis dan tampak cerdas"
Angel hanya tersenyum menatap Sammy, kemudian menganggukkan kepala dan langsung melangkah masuk ke dalam Yellow Bee.
Arah pandang papanya Rini mengikuti langkahnya Angel, lalu dia menoleh ke Alfa. "benar benar pendiam ya adik kamu, beda banget sama kamu"
Alfa tersenyum dan berucap "maafkan kalau adik saya kurang sopan, om"
"Sopan kok, adik kamu cukup sopan cuma terlalu pendiam"
Arkan, kemudian berucap "awal pertemuan kami di sesi wawancara dan diskusi, Angel tidak mau bekerja sama. Tetapi semakin ke sini perkembangannya semakin bagus. Angel sudah mau menjawab pertanyaan saya dan tadi Angel bersedia untuk saya ajari bermain gitar. Pagi tadi, dia juga mulai mau, menyapa teman temannya"
"Baguslah, terima kasih banyak pak Arkan" kata Alfa.
"Sama sama" ucap Arkan sambil tersenyum.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya" sahut papanya Alfa.
"Emm, ngomong ngomong soal Rini, anak saya. Kira kira kapan dia ujian skripsi dan lulus?" tanya Sammy ke Arkan. Lalu papanya Rini itu mengajak Arkan menjauh sedikit dari Alfa dan berbisik lirih "aku ingin cepat menikahkan Rini dengan Alfa. Karena sepanjang hari ini aku bersama Alfa, aku mendapati kalau Alfa itu mempunyai banyak teman cewek dan cukup hebat dalam segala hal, aku takut kalau Alfa direbut sama cewek lain, maka cepatlah kau bikin Rini lulus, ya!"
"Hahahaha, baik pak, saya akan bantu Rini dengan sekuat tenaga dan pikiran saya sehingga Rini bisa cepat maju ke sidang skripsi dan lulus dengan nilai yang fantastis"
__ADS_1
"Naaahh, bagus! aku suka semangat kamu anak muda! aku pamit dulu" Sammy menepuk nepuk pelan pundaknya Arkan dan melangkah pergi meninggalkan Arkan yang masih mengulum senyum menahan geli.
Sedangkan Alfa menatap keduanya dengan sorot mata penuh tanda tanya.