
"Aku lelah Mel" Awan menangkup wajah tampannya, dengan kedua tangannya.
Melati menatap Awan, "Wan, kamu sakit"
Awan mendongakkan wajah tampannya, "aku memang sakit dan hampir gila karena, kamu" Awan hendak beranjak dari duduknya, Melati langsung menunjukkan jari telunjuknya ke Awan, "duduk! jangan dekati aku lagi!"
Awan kembali duduk dan meraup kasar wajah tampannya.
"Aku minta tolong, bisakah kau panggilkan istri kamu untuk ke sini?" ucap Melati.
Awan menggelengkan kepalanya, "aku membohongimu, istri dan anakku sudah balik ke Jerman"
Melati melotot tajam ke Awan penuh emosi, "kamu brengsek, Wan!"
"Iya, caci maki aja aku, tampar aku, pukul aku! kalau itu bisa menyembuhkan kegilaanku akan kamu, aku rela" Awan memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napas dengan sangat berat, mewakili stress-nya.
"Kamu kena penyakit limerence atau bisa disebut passionate love Wan, itu adalah keadaan ketika seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendapatkan kembali mantannya tetapi tidak bisa memenuhinya sehingga timbullah rasa sengsara. Jika aku bukan seorang psikolog, aku sudah berlari meninggalkanmu dari tadi. Baiklah! demi pertemanan kita, aku akan menyembuhkanmu, Wan" ucap Melati.
Awan membuka matanya kembali, "bagaimana caranya? aku sudah mencoba selama sepuluh tahun ini bahkan aku memutuskan untuk menikah tapi aku belum berhasil melepaskan kamu dari benakku ini" Awan memukul mukul kepalanya.
Melati masih tetap berdiri, "jangan hanya mengingat kenangan yang baik yang pernah ada diantara kita, Wan! kamu ingat kan, kita dulu sering bertengkar, kita sebenarnya nggak pernah cocok tapi kita paksakan karena, kita telah terbiasa dan kamu menyesal karena, kita putus secara tidak baik, kamu selingkuh dan kamu menyesalinya, kan?"
"Iya kamu benar, aku sangat menyesalinya. Aku menyesal karena kebodohanku, aku kehilangan kamu, Mel" ucap Awan, "duduklah Mel! kamu capek nanti, jika berdiri terus seperti itu!" Awan menepuk bangku di sebelahnya, "duduklah! aku nggak akan menyentuhmu lagi, aku janji"
"Lupakan soal duduk! aku akan duduk nanti kalau aku capek. Hentikan penyesalanmu itu, Wan! Sekarang coba kamu bayangkan saat pertama kali kamu bertemu dengan istri kamu, saat kamu naksir istri kamu dan kemudian kalian................."
"Aku naksir istriku karena, dia baik dan lembut mirip sama kamu" ucap Awan dengan polosnya.
"Wan! hentikan pikiranmu soal aku! sekarang pikirkan kebaikan istri kamu, sebutkan dengan penuh perasaan kebaikan istri kamu"
__ADS_1
Awan kembali menghela napas dengan sangat berat, "istriku lembut, baik hati, tidak banyak menuntut dan tidak pernah mengeluh. Dia selalu mengalah itulah yang membuat aku dan istriku hampir tidak pernah bertengkar. Dia juga sangat menyayangi mamaku, mamaku pun begitu menyayanginya" kata Awan.
"Sekarang ingatlah kembali, apa yang kamu rasakan ketika istri kamu hamil, lalu melahirkan anak kamu?"
"Dia sangat imut dan menggemaskan ketika hamil, ngidamnya pun nggak menyusahkan. Saat dia hendak melahirkan, aku panik, khawatir, aku takut kehilangan dia jika di dalam proses persalinannya tiba tiba terjadi satu masalah yang tidak terduga, tapi puji Tuhan semuanya lancar dan aku sangat bahagia saat itu, aku menciumi wajah cantiknya saat itu karena lega dia selamat, bayiku juga selamat"
"Lalu di saat kalian membesarkan anak kalian secara bersam sama, apa yang kamu rasakan?" tanya Melati.
"Bahagia tiada terkira, Mel" Awan mulai bisa tersenyum lebar. "Anakku sangat lucu dan nggak rewelan, istriku juga nggak ngeluh setiap kali bangun di malam hari, kurang tidur dan kurang istirahat untuk menyusui anakku, anakku diberikannya ASi eksklusif selama satu tahun, aku selalu menatapnya kagum di saat dia menyusui anakku"
"Itu cinta Wan. Kamu mencintai istrimu. Tanpa kamu sadari kamu telah jatuh cinta dengan istri kamu" kata Melati.
Awan menatap Melati, "menurutmu begitu?"
"Iya! itu cinta dan perasaan kamu ke aku itu hanya ilusi dan hanya sebuah obsesi dari rasa bersalah kamu di masa lalu. Dengar Wan! aku jujur sama kamu, aku nggak pernah tahu apa itu cinta selama aku berpacaran dengan kamu, dulu. Aku mulai bisa merasakan dan mengenal cinta ketika aku menikah dengan suamiku. Aku tidak pernah mencintaimu dan kamu pun juga nggak pernah mencintaiku, iya kan? kamu mencintai Miracle yang mirip denganku secara fisik" ucap Melati.
Awan membisu dan terus menatap Melati.
Awan menggelengkan kepalanya.
"Istri kamu itu wanita yang sungguh luar biasa hebat. Kamu sendiri nggak mau kan hidup dengan seorang wanita yang di hati dan benaknya ada laki laki lain? sedangkan istri kamu, dia rela dan sabar mendampingi kamu selama ini, padahal di benak dan hati kamu masih ada wanita lain, kan? jika itu aku, aku sudah pergi dari sisi kamu sejak awal pernikahan, kamu rela jika suatu saat nanti istri kamu menjadi lelah dengan sikap kamu lalu dia dan anak kamu, pergi dari kehidupan kamu, kamu rela?" ucap Melati dengan masih berdiri dan mulai bersedekap.
Awan kembali menggelengkan kepalanya, nggak Mel! aku nggak mau kehilangan istri dan anakku"
"Pikirkan itu, Wan! dan bersyukurlah dengan apa yang sudah kamu miliki, jangan mengingini apa yang nggak mungkin kamu miliki!" ucap Melati.
Awan mulai tersadar, "kamu benar, Mel. Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu selama sepuluh tahun belakangan ini"
"Sekarang buang kenangan masa lalu kita dari benak dan pikiran kamu! nggak ada gunanya juga kan? toh aku juga sudah memaafkan semua kesalahanmu di masa lalu, dan maaf, aku tidak pernah mencintaimu, Wan. Aku yakin kamu pun juga begitu, kamu tidak pernah mencintaiku" ucap Melati.
__ADS_1
"Kamu benar Mel! terima kasih sudah membuka mata, pikiran dan hatiku. Mulai detik ini aku akan membuangmu dari jiwa dan ragaku, aku juga akan mulai membuka hati untuk istriku, kurasa kau benar Mel, aku memang mencintai istriku" ucap Awan.
Melati bisa bernapas lega dan mulai tersenyum lebar, "kamu pernah mengatakan cinta ke istri kamu?"
Awan menggelengkan kepalanya.
Melati mulai meraih tasnya yang teronggok manis di sebelahnya Awan lalu memasukkan kembali peralatan tulisnya ke dalam tas tersebut, "sekarang telponlah istri kamu, katakan cinta ke istri kamu" Melati tersenyum ke Awan, "aku permisi, suami tercintaku sudah menungguku untuk makan siang bareng. Aku tinggalkan alat rekamnya untuk kamu, kamu bisa putar ulang semuanya, agar kamu selalu sadar dan tidak menjadi bodoh lagi!" Melati kemudian melangkah pergi setelah Awan bangkit dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
Melati sampai di perusahaan baru Elruno. Dia celingukkan mencari keberadaan suaminya. Moses seolah bisa merasakan keberadaannya Melati. Cowok tampan itu pun kemudian menoleh ke belakang dan bersitatap dengan kedua bola mata cantik milik istrinya itu sembari mengulas senyum di wajah tampannya.
Melati langsung berlari ke suaminya. Melihat istrinya berlari dengan sangat kencang ke arahnya, Moses langsung memutar badannya menghadap ke Melati dan bersiap untuk menangkap istrinya itu. Istri tercintanya Moses pun tersenyum lebar dan langsung melompat masuk ke dalam pelukan suaminya.
Moses kaget dengan tingkahnya Melati, dia menautkan alisnya dan dengan sigap dia berhasil menangkap tubuh ramping istri tercintanya itu, "hahahaha, Rumi ada apa ini? kenapa kamu berlari kencang sekali dan tiba tiba memelukku seperti ini, kangen ya?" Moses berucap sembari mempererat dekapannya di tubuhnya Melati dengan penuh cinta.
Melati membenamkan wajahnya di atas dada bidang suaminya, dia hirup dalam dalam wangi khas suami tercintanya itu lalu bergumam lirih "iya sayang, aku sangat merindukanmu"
Ray melipir pergi secara diam diam karena, tidak mau mengganggu Moses dan Melati.
Moses langsung mengangkat tubuhnya Melati dan berputar badan sembari menggemakan tawanya penuh cinta. Melati pun tertawa bahagia dan terus berucap "aku mencintaimu sayang.
Moses menurunkan tubuhnya Melati dengan hati hati tetapi belum melepaskan dekapannya, Moses mengusap lembut bibirnya Melati dengan ibu jarinya, lalu mencium bibir itu tanpa mengacuhkan sekitarnya.
Sementara itu, Raja dan Chery pergi ke sebuah mall bersama dengan Celyn, Elmo, dan Gideon. Celyn merengek ingin berburu barang diskon lagi.
Raja mengajak Chery dan Elmo, melipir ke tempat yang sepi dan longgar ketika melihat kekasihnya itu nampak pucat ketika melihat kerumunan orang berjubel di sebuah toko baju yang berada di dalam mall tersebut.
Raja, Chery, dan Elmo akhirnya menunggu Celyn dan Gideon selesai berburu barang diskon di dalam sebuah kafe.
Tiba tiba pak Febrio, dosen pembimbingnya Chery, menyapa mereka dan duduk di meja mereka.
__ADS_1
Raja menatap tajam ke pak dosen dan mendengus kesal ketika dosen tersebut berkata "selamat siang cantik" ke Chery.
Sedangkan Elmo melotot tajam ke pelayan cewek yang tengah menaruh pesanan mereka di meja.