My Cute Nanny

My Cute Nanny
Puisi yang indah


__ADS_3

Melati menghela napas mencoba untuk menahan rintik sendunya supaya tidak terhempas sia sia di alam nyata. Lalu berkatalah wanita cantik itu "Melati baru saja putus sama Awan, kak"


"Kenapa?" tanya Moses dengan polosnya.


"Dia bertemu dengan kekasih lamanya dan dia masih sangat mencintai kekasihnya itu" jawab Melati.


Moses menaik turunkan tangan Chery yang tengah menggenggam erat jari telunjuknya, sambil tersenyum menatap Chery. Kemudian berkata untuk Melati "apa yang kamu rasakan saat ini?"


"Campur aduk, kak. Tapi Melati merasa lega juga. Akhirnya kebenaran terungkap. Hubungan kami selama tiga tahun di dalam rasa yang penuh kepalsuan menjadi jelas sekarang. Melati juga pasti akan merasa semakin sedih kalau Awan masih jalan bareng sama Melati tapi hati dan pikirannya untuk kekasih lamanya" kata Melati sambil mencoba untuk tersenyum.


"Apa yang kamu inginkan saat ini?" Moses mendongakkan wajahnya dan mulai menatap Melati.


"Hah?" Melati nampak kebingungan.


"Kalau kita merasa sedih, kecewa dan marah. Campur aduk seperti yang kamu bilang tadi, kita butuh pelampiasan, kan? apa yang kamu inginkan, makanan,barang, atau kamu ingin jalan jalan?" tanya Moses sambil tersenyum kembali menoleh ke wajah putri cantiknya yang masih terus menatapnya sambil tersenyum ala bayi.


"Saya ingin bernyanyi. Saya tiba tiba kangen sama almarhum papa saya. Kalau saya kangen sama beliau, saya akan menyanyikan lagu yang berisi kerinduan seorang anak untuk papanya, kesukaannya Melati" jawab Melati.


"Kenapa masih pakai kata saya sih, Mel?" Moses mulai protes saat mendengar kata saya masih muncul dari bibir tipisnya Melati.


Melati hanya tersenyum dan diam menatap tuan besarnya.


"Tolong taruh Chery ke dalam strollernya!" perintah Moses sambil mencium Chery lalu bangun dan berdiri.


Melati menuruti perintah Moses dengan heran.


"Ayok, aku akan ajak kamu ke suatu tempat!" Moses melangkah sembari mendorong strollernya Chery. Melati melangkah di sampingnya Moses.


Mereka sampai di sebuah pondok yang tampak menyendiri di pojok sebelah selatan rumah utamanya Moses.



Sederhana tapi nampak indah dan asri. Melati melangkah masuk sambil menutup hidungnya dengan kedua telapak tangannya. Karena, di depan pintu masuk pondok tersebut ada bunganya.


Moses terkekeh lalu berkata "nanti akan aku suruh tukang kebunku untuk memindahkan bunga bunga ini"


Ceklek


Moses membuka pintu pondok tersebut. Melati langsung membelalakkan matanya. Hanya ada sebuah piano di dalam pondok tersebut.



Moses terus melangkah masuk sembari mendorong strollernya Chery dan terus mengajak Chery bercanda dengan cara memberikan tawa lebarnya ke arah Chery.


Moses lalu menaruh strollernya Chery di samping bangku yang ada di depan piano tersebut lalu duduk di atas bangku tersebut.


Melati masih membeku di depan pintu masuk.


"Masuk dan duduk di sini, Mel!" perintah Moses sambil menepuk nepuk bangkunya.


Melati melangkah mendekati Moses dan duduk di samping tuan besarnya.


"Anda bisa bermain piano?" tanya Melati

__ADS_1


"Tentu saja bisa, almarhum mama aku adalah guru piano di sebuah sekolah musik ternama di kota ini, mama juga yang mengajari aku bermain piano sejak aku masih berumur empat tahun" kata Moses penuh rasa bangga akan sosok mama tercintanya.


Melati menoleh ke arah Moses dan tersenyum hangat. Dia tidak mengira seorang Moses Elruno yang nampak garang dan dingin di luar ternyata berhati lembut dan bisa memainkan piano.


"Di dalam pondok ini, mama sering meluangkan waktunya untuk berdua saja denganku, mengajari aku bermain piano. Sudah lama sekali, aku tidak masuk ke dalam pondok ini. Karena, kenangan indah mama aku, terlalu menyakitkan untuk aku kenang kembali. Aku menjadi sangat merindukannya jika aku masuk ke dalam pondok ini" kata Moses kemudian.


"Kenapa Melati malah diajak ke sini, kak?" tanya Melati penuh simpati.


"Aku ingin mengenalkan kamu dengan mama aku, lewat piano ini dan kamu bilang kamu pengen bernyanyi kan, saat ini? ayok bernyanyilah! aku akan mengiringi kamu!" kata Moses.


Melati mulai membuka suara ketika Moses sudah menyelesaikan intro dari lagu permintaannya Melati tersebut.............


*Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja, indahnya saat itu buatku melambung


Di sisimu terngiang hangat napas serta harum tubuhmu,


Kau tuturkan segala mimpi mimpi serta harapanmu.


Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya*...............



Mereka terus berduet dengan sangat indahnya tanpa tersadar, air mata menggenang di pelupuk mata mereka berdua.


Melati akhirnya menyelesaikan nyanyiannya dengan sempurna dan mengusap air mata yang mulai menetes di atas pipinya.


"Aku tidak pernah menangis di depan orang lain karena, pesan terakhir dari almarhum papa aku, cowok itu harus menangis di tempat tersembunyi, nggak boleh terlihat cengeng di depan orang lain. Tetapi aku sudah menangis di depan kamu sebanyak dua kali" Moses terkekeh geli sembari mengusap air matanya.


Melati tersenyum menatap Moses "terima kasih, Melati merasa tersanjung sudah menjadi orang yang kakak pilih untuk berbagi suka dan duka"


"Itu kumpulan puisiku. Moses kecil yang kala itu masih denial akan kematian dari kedua orang tuanya karena, shock yang dia alami. Sering berlari ke sini dan menulis puisi. Melepas kerinduan untuk mama dan papanya" kata Moses.


Melati tersenyum menatap buku kecil tersebut lalu menoleh ke arah Moses dan berkata "boleh aku membukanya, kak?"


Moses tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Moses lalu menoleh ke arah Chery, ternyata Chery terbuai dengan permainan piano papanya dan suara merdu pengasuh cantiknya, Chery tertidur pulas. Moses pun tersenyum menatap Chery.


Melati membuka buku tersebut dan mulai membaca puisinya Moses :


Ku kan slalu rindukan hadirmu


Masih nyata di angan, senyum....mu


Terukir tajam di relung jiwa, sayangmu


Wajah malaikatmu itulah surgaku


Biarlah aku menangis


Dalam diam aku mengemis


Mengemis cinta yang kan ku sesap habis


Tapi kau telah menghilang buatku mendesis

__ADS_1


Terngiang pesan terakhirmu aku harus kuat


Hadapi segala apa yang nyata


Walaupun kasih dan cintamu tiada


Seolah dayaku pun menjadi sirna


Tapi aku harus tetap kuat....................


Melati menyelesaikan kalimat terakhir dari puisinya Moses tersebut lalu menoleh bangga ke arah Moses.


"Kakak ternyata berbakat menulis puisi" Melati tersenyum dengan sangat cantik.


"Chery sudah tidur ya, kak?" tanya Melati


"Hmm, putri cantikku terbius suara indahmu dan dengan pasrahnya jatuh ke alam mimpi, hahahaha" jawab Moses.


"Anda ternyata mempunyai hati yang sangat lembut" ucap Melati.


"Kamu sudah memanggilku kakak, kenapa masih ada kata anda, di sini?" Moses mulai protes.


Melati diam saja karena, bingung mau menjawab apa. Mana mungkin dia ber-kamu dan ber-aku dengan seorang tuan besar semacam Moses.


Moses menatap Melati sambil mengangkat satu alisnya "hmm, kenapa diam?"


"Saya, tidak berani berkata tidak formal sama anda, kak. Rasanya kok tidak pantas kalau seorang Melati berkata tidak formal sama anda" kata Melati.


Moses lalu mengecup keningnya Melati. Melati terlonjak kaget dan refleks mendorong tubuhnya Moses.


"Aku mencium kening kamu sebagai tanda kalau kamu itu adik aku. Jadi aku ijinkan kamu berkata tidak formal sama aku. Kita kakak adik sekarang" kata Moses sambil tersenyum melihat Melati yang nampak merona dan langsung menundukkan wajahnya.


"Baik, kak! A...a...aku akan mulai berkata layaknya seorang adik sama kamu" jawab Melati masih menundukkan wajahnya.


Moses mengulum senyum di bibirnya. Dia menggemaskan sekali saat ini. Ingin rasanya aku memeluk erat tubuh langsingnya itu. Batin Moses sembari mulai merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Melati.


Tiba tiba.........


Melati mendongakkan wajahnya dan Moses langsung menaruh kedua tangannya di atas kepalanya.


"Kak, kita coba bikin lagu untuk puisinya kakak yang tadi Melati baca!" kata Melati penuh semangat.


"Hah?" Moses masih nampak linglung karena, usahanya untuk memeluk Melati, telah gagal total.


"Kakak coba cari nadanya di sela sela aku menyenandungkan puisi ini, ya?!" kata Melati.


Moses tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia mulai menekan kembali hitam putih tuts pianonya.


Mereka kembali berduet dan tanpa mereka sadari, kolaborasi mereka berdua telah menghasilkan satu lagu yang sangat indah.


"Kamu bukan saja memiliki suara emas tapi kamu juga jago bikin lagu ternyata" kata Moses sembari menepuk nepuk pelan puncak kepalanya Melati.


"Kakak juga hebat" jawab Melati.

__ADS_1


Mereka pun saling menatap dalam senyum yang mengandung kekaguman.


__ADS_2