My Cute Nanny

My Cute Nanny
Yes I Do!


__ADS_3

Gideon dan Celyn sampai di sebuah pemancingan yang juga merupakan sebuah restoran luas dan mewah. Celyn terpana dan memekik kegirangan ketika mereka duduk di dalam sebuah gubuk atau gazebo yang terbuat dari bambu yang menghadap langsung ke danau buatan yang berisi begitu banyak ikan.


"Kau mau pesan apa?" tanya Gideon.


"Udang bakar madu, kakap goreng tepung, cumi asam manis dan sandwich tuna. Minumnya jus mangga"


Gideon tersenyum lalu menuliskan semua pesanannya Celyn dan menambahkan dua bakul kecil nasi putih. Gideon memesan es jeruk nipis less sugar untuk minumannya.


"Aku suka berada di sini. Makasih ya udah bawa aku ke sini. Segar banget udaranya dan indah banget pemandangannya"


Gideon lalu menarik Celyn ke dalam pelukannya, mereka menikmati pemandangan di sekitar gazebo. Gideon memainkan jari jemarinya Celyn dan bertanya, "Kalau sama orang yang menemani kamu menikmati pemandangan ini, suka nggak?"


"Tentu saja suka" Celyn terkekeh geli dan kembali berkata, "Dan tidak hanya suka, aku mencintai orang itu"


"Siapa orang itu?" Gideon tersenyum lalu mencium belahan rambutnya Celyn.


Celyn mengangkat wajahnya dan mencium pipinya Gideon, "yang aku cium ini yang aku cintai"


Gideon tertawa senang lalu berkata dengan lirih, "Sayangnya, orang yang kamu cintai ini, harus menahan rasa"


"Rasa apa?" tanya Celyn.


"Rasa ingin menikahimu" sahut Gideon.


"Kau serius ingin menikahiku?" tanya Celyn kemudian.


"Tentu saja. Satu juta persen seriusnya. Papa dan Mama juga sudah mendesakku untuk segera menikahimu.


"Lalu, apa kau bisa benar-benar berjanji tidak akan membuatku hamil terlebih dahulu sebelum aku lulus kuliah?"


"Janji! Aku benar-benar berjanji, kalau perlu ditulis di atas kertas bermeterai janjiku itu, aku juga bersedia" sahut Gideon dengan nada serius.


Celyn tersenyum manis, lalu kembali melempar tanya, "Kalau aku bersedia menikah denganmu setelah masalah di sini selesai, kau akan kasih aku apa?"


"Aku akan kasih apapun yang kau minta" Sahut Gideon dengan serius sambil mengelus bahunya Celyn.


Celyn bangun dari dalam pelukannya Gideon lalu ia menghadap ke Gideon, menangkup kedua pipinya Gideon dan bertanya, "Jawab dulu, kapan kau mulai mencintaiku?"


"Apa itu penting? Kita kan sudah bersama saat ini dan sudah saling mencintai?" Gideon menatap heran ke Celyn.


"Jawab aja apa susahnya sih?" Celyn mulai merengut.


Gideon kemudian tersenyum dan berkata, "Baiklah, aku jawab, emm, aku mencintaimu sejak kamu nembak aku. Aku terkesima melihat keberanianmu nembak aku saat itu dan wajah kamu saat nembak aku, terlihat sangat bercahaya, sangat cantik, dan menggemaskan, makanya aku langsung menganggukkan kepalaku, kan?"


"Apa iya seperti itu kejadiannya, aku kok lupa ya?" Celyn merona malu dan di saat Gideon hendak menarik Celyn untuk ia cium bibirnya Celyn, makanan yang mereka pesan datang. Gideon tersenyum geli dengan sendirinya karena, niat dia ingin mencium kekasihnya terganggu dengan datangnya makanan pesanan mereka. Celyn pun tersenyum geli dan segera melepas kedua pipinya Gideon. Pandangannya Celyn langsung teralihkan ke semua makanan kesukaannya.

__ADS_1



Setelah semua pesanan mereka tersaji di meja persegi panjang yang terbuat dari kayu tanpa taplak meja itu, Gideon segera.menarik piring udang dan mengupaskan udang itu untuk Celyn.


Celyn menoleh ke Gideon dan berkata, "Terima kasih. Pacarku memang yang paliiinngggg baiikkkk sedunia"


Gideon menyuapkan udang yang telah terkupas kulitnya ke Celyn sambil bertanya, "Jadi kamu mau dong menikahi pacar yang paling baik sedunia ini?" Gideon senyum-senyum di depannya Celyn.


"Ada satu pertanyaan lagi"


"Baiklah! kasih aja sejuta pertanyaan nggak papa. Asal kamu akhirnya mau menikah denganku" Gideon menyentil pelan ujung hidungnya Celyn.


Celyn mencebikkan bibirnya, "Jangan pede dulu. Aku akan bersedia menikah denganmu tergantung dari jawaban kamu atas pertanyaanku. Kalau aku puas, aku akan bersedia nikah denganmu"


"Iya baik, baik" Sahut Gideon dengan senyum penuh dengan kesabaran.


"Kenapa kamu yang sangat menyukai Kimia, Matematika, Fisika, dan menghabiskan waktu di lab yang membosankan itu, bisa bertahan dengan cewek tomboy, santai, urakan, semau gue, kayak aku ini?"


Gideon kembali menyuapkan udang ke Celyn dan berkata, " Karena aku mencintaimu. Mencintai seseorang itu tidak pernah memakai logika. Dan kenapa kamu mencintai aku yang membosankan ini?" Gideon balik bertanya ke Celyn.


"Kok jadi balik bertanya? Kamu nggak boleh mengajukan pertanyaan!" Celyn merona malu dan menundukkan wajahnya.


"Lyn, aku juga perlu tahu kenapa kamu mencintai aku yang kamu bilang membosankan ini?"


Gideon dibuat gemas dengan sikapnya Celyn lalu dengan nekat ia menundukkan wajahnya, ia cari bibirnya Celyn lalu ia cium bibir itu dengan gemas, ia hisap, ia kunci, dan ia cium dengan penuh cinta.


Celyn mendorong wajahnya Gideon dengan napas terengah-engah, "Ini tempat umum, kenapa kau nekat menciumku? dan bibirku belepotan udang dan cumi. Emangnya nggak amis?"


Gideon tersenyum, "Salah sendiri kamu sangat menggemaskan"


"Aku nggak nyangka ya, kamu yang kaku dan pendiam, bisa mencium dengan baik. Kau pernah mencium gadis mana sebelumnya?"


Gideon terkekeh geli, "Gadis di dalam mobil tadi, sebelum kita ke sini"


Celyn langsung menepuk bahunya Gideon.


"Dan gimana? Apa aku udah lulus tes dan kau mau menikah denganku setelah masalah di sini selesai?"


Celyn menganggukkan kepalanya, "Yes I Do, Mister Matematika!" dan Gideon langsung memekik senang, ia hendak memeluk Celyn dan Celyn langsung memekik, "Jangan peluk! tangan kamu kotor"


Gideon tertawa riang lalu ia menundukkan wajah dan mencium pipinya Celyn, "Aku mencintaimu"


Moses membopong Choky dan langsung ia bawa ke teras samping dan ia kunci pintu menuju ke teras belakang rapat-rapat setelah ia memberikan makanan anjing dan susu untu Choky karena, semua takut sama Choky. Moses sempat menyuruh Evan mampir ke pet shop di dalam perjalanan mereka pulang ke kediamannya Moses Elruno.


Alexa menggandeng Alice Goh. Wanita itu dimasukkan ke dalam kamar tamu. Lalu dikuncinya rapat-rapat pintu itu. Alexa berjaga di pintu depan dan Evan berjaga di pintu belakang karena, semua kamar di rumahnya Moses memiliki dua pintu. Satu pintu masuk dan satu lagi pintu keluar menuju ke pantai yang hanya berjarak beberapa meter saja dari teras belakang rumahnya Moses.

__ADS_1


Alice Goh mengusap pergelangan tangannya setelah Alexa mengijinkan Alice Goh tiduran di atas ranjang tanpa borgol di tangannya.


Alfa yang memasak makan malam untuk semuanya. Maha dan Moses mengawasi Alfa memasak dari bar mini yang berhadapan dengan dapur bersih. Alfa hanya memasak dimsum dan ikan kukus. Gampang dan cepat dan bisa dilakukan di dapur bersih tanpa memakai peralatan memasak yang berat yang berada di dapur kotor.


"Kalian bersaudara kan, dia pandai memasak kenapa kau tidak bisa memasak?" tanya Maha ke Moses.


"Karena, dia menyerahkan bisnis peninggalan Papanya untuk aku kelola, ya mana ada waktu bagiku untuk belajar memasak. Lagian aku udah punya my cute nanny, istriku, yang sangat pandai memasak"


"Cih! pamer aja terus" Maha mendengus kesal dan Alfa terkekeh geli sambil melepas celemeknya, ia melangkah menuju ke bar mini dan duduk berhadapan dengan Moses dan Maha. Mereka menikmati segelas anggur merah kualitas terbaik di dunia, untuk mengusir rasa dingin dan melepas penat mereka di jam tiga sore.


"Kalau ada Melati, kau tidak akan diijinkan minum lebih dari dua gelas" Alfa mendelik ke Moses ketika ia melihat Moses menuangkan anggur untuk kedua kalinya di gelasnya Moses.


"Ini baru mau dua kali. Jangan cerewet kau!" Moses balas mendelik ke Alfa.


"Kalau dia mabuk, tinggal kita lempar ke pantai" sahut Maha dengan santainya sambil menenggak habis anggurnya.


"Dan aku akan menarik kamu sampai kita jatuh ke pantai bersamaan, kita akan jadi putra duyung, hahahaha" Moses langsung menggemakan tawanya.


Maha pun ikutan tertawa terbahak-bahak.


Alfa hanya bisa tersenyum geli dan menggeleng-nggelengkan kepalanya. "Nanti malam aku pulang dan besok semua masalah harus kelar kalau nggak, aku nggak bisa lagi ikut. Cutiku sudah habis"


"Lho, kamu belum mengajukan pensiun ya?" tanya Moses sambil memainkan gelas anggurnya yang masih tampak penuh karena, ia hanya menyesapnya sesekali.


"Sudah aku ajukan. Masih menunggu proses" Alfa pun sudah mulai mengajukan pensiun dini dan hanya akan membuka praktek di rumahnya, di sore hari.


Alfa ingin pensiun bersama dengan Moses dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga kecilnya.


Bisnis yang ditinggalkan oleh papanya, Alfa serahkan ke Moses selama ini, dia meminta tolong Moses untuk mengelolanya dan Alfa hanya menerima matangnya, menerima transferan laba dari Moses. Dan setelah Moses pensiun nanti, Moses akan hibahkan ke ketiga anaknya karena, putrinya Alfa tidak tertarik pada bisnis dan memilih mengikuti jejak papanya, menjadi seorang dokter.


Alfa dan Moses tinggal menikmati transferan ke rekening mereka nanti untuk menikmati indahnya masa pensiun mereka berdua.


Alexa membuka kamar dan memborgol kembali tangannya Alice Goh, lalu ia membawa Alice Goh ke ruang makan di mana Moses, Maha, Alfa, dan Evan telah duduk memutari meja berbentuk bundar, super besar yang terbuat dari porselen putih dari dinasti Yi yang sangat mahal itu.


Alice Goh terus menatap wajah tampan pujaan hatinya dan berkata dengan senyum tulus, "Terima kasih sudah memberi makan Choky dan mengundang aku makan malam bersama kalian"


Moses hanya menatap sekilas Alice Goh dan menyahut dengan nada dingin acuh tak acuh, "Bukan aku yang mengundang kamu makan malam. Maha yang mengundangmu"


Moses lalu mengambil ponsel dari dalam saku kemejanya dan berkata, "Jangan hiraukan aku semuanya! mulai saja makan malam kalian! Aku akan nimbrung kalau aku sudah terhubung dengan istri tercintaku" Moses masih terus mencoba menghubungi Melati.


Semua hanya bisa menghela napas panjang secara serempak melihat sikapnya Moses Elruno. Dan Alice Goh justru semakin mengagumi Moses Elruno dan semakin memujanya.


Tanpa sepengetahuannya Moses Elruno, Melati dengan didampingi, Pramono, Raja, dan Ray, menemui Tommy Goh. Tommy Goh telah terbang ke Tiongkok begitu ia mendengar kabar, putra tunggalnya masuk penjara.


Tommy Goh dan Melati janjian bertemu di sebuah restoran di pinggir kota yang sepi pengunjung dan mereka berbicara empat mata saja di dalam sebuah private room namun, Raja, Pramono, dan Ray terus berjaga di depan pintu masuk private room itu dan tidak gentar sedikit pun berdiri berhadapan dengan kelima anak buahnya Tommy Goh yang dilengkapi dengan pistol.

__ADS_1


__ADS_2