
Moses telah menyelesaikan ceritanya dan menoleh ke istrinya penuh selidik. Moses takut kalau Melati tiba tiba cemburu dan ngambek lagi.
"Sayang? kamu............"
Melati mencium bibirnya Moses sebelum Moses menyelesaikan ucapannya. Kemudian melepas ciumannya dan berkata "terima kasih sudah menjaga kepercayaanku"
Moses tersenyum lega tapi kemudian bertanya "kamu percaya begitu saja semua ceritaku tadi? kamu tidak merencanakan untuk ngambek dan lari dariku, kan?"
Melati menangkup wajah tampan suaminya dengan kedua tangannya.dan terkekeh geli "kamu lupa kalau istrimu ini seorang psikolog, bisa membaca gerak gerik yang mencurigakan. Kalau seseorang tengah berbohong, aku bisa membacanya. Tadi aku lihat sorot mata kamu waktu bercerita, penuh kejujuran dan polos. Itulah kenapa aku percaya seratus persen akan kebenaran dari cerita kamu"
"Terima kasih sayang, istriku memang paling cantik dan paling pintar di dunia ini" Moses memajukan wajahnya dan mengecup bibirnya Melati.
"Kamu pengen kemana? mau melihat salju, jalan jalan di taman sama aku?" tanya Moses.
Melati tersenyum dan tampak ragu untuk meminta sesuatu karena dia malu.
Moses menatap mimik lucu dari wajahnya Melati "ada apa? kamu mau kemana, katakan saja. Aku ajak kamu berkencan malam ini, kita berdua aja. Belum pernah kan kita berkencan selama kita menikah"
"Aku pengen ke wahana permainan. Sedari kecil aku belum pernah ke wahana permainan, aku pengen naik bianglala atau roller coaster, dan bump bump car, heeee. Aku nunggu sampai anak anak besar dan pergi sama anak anak nanti, tapi karena kamu tanya sekarang, aku katakan saja sekarang keinginanku, heeeee"
"Hahaha, oke aku akan bawa kamu ke salah satu wahana permainan terbaik dan terlengkap di Osaka" Moses langsung meluncurkan mobilnya menuju ke wahana permainan yang dia maksud.
Mel, aku sebenarnya takut naik roller coaster. Aku takut ketinggian. Tapi kalau bersama kamu mungkin aku bisa menjadi berani dan bisa sembuh dari phobiaku. Batin Moses sembari mengusap lembut rambutnya Melati.
Mereka akhirnya sampai di wahana permainan yang terbaik di kota Osaka-Jepang. Moses langsung menemui manajer dari wahana itu dan hendak menyuruh manajer dari wahana tersebut untuk menutup wahana bagi khalalayak umum karena, dia hendak memborong semua wahana untuk dia sendiri selama dua jam. Dia ingin berduaan saja dengan istri tercintanya tanpa ada gangguan. Tetapi Melati langsung protes "sayang, kalau kamu booking tempat ini secara pribadi jadinya nggak seru, aku pengen menikmati wahana ini apa adanya, dengan segala hirup pikuk pengunjungnya, aku menyukainya, sayang"
Moses mengelus lembut rambutnya Melati "tapi aku nggak rela kalau nanti banyak mata menatap kamu, mengagumi kecantikanmu, cih!"
"Hey, stop staring at my wife?" Moses melotot ke manajer wahana permainan itu yang kedapatan tengah memandangi wajah cantiknya Melati penuh kekaguman
"I am sorry sir. I don't mean to" kata si manajer sembari membungkukkan badannya dan mulai mengalihkan pandangannya dari wajah cantiknya Melati.
"Tuh kan, lihat! belum masuk ke dalam saja, sudah ada bocah tengil ini yang terus menatap kamu, cih!" kekesalan terdengar di nada bicaranya.
"Tapi kalau kamu booking semuanya, jadi nggak seru, nanti. Nggak jadi aja kalau seperti itu, kita pulang aja!" Melati mulai cemberut dan bersedekap.
"Hufftt, oke, baiklah cantik" Moses akhirnya menuruti permintaan istrinya. Mereka membeli tiket terusan untuk mereka berdua.
Manajer wahana itu hanya bisa mengulum senyum menahan geli. Walaupun dia tidak memahami bahasa Indonesia tetapi dia bisa memahami sikap posesifnya Moses kepada istri cantiknya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam wahana permainan itu. Melati langsung melingkarkan kedua tangannya di lengannya Moses dan memekik kegirangan "sayang, kita naik yang mana dulu?"
__ADS_1
Moses tersenyum bahagia ketika melihat wajah cerah ceria terlukis di wajah cantik istrinya itu.
"Terserah kamu, aku ikut aja" kata Moses.
"Roller coaster dulu ya? yang ekstrem dulu baru yang ringan ringan, oke?" Melati langsung menarik tangannya Moses sembari berlari menuju ke wahana Roller Coaster.
Moses bergidik ngeri ketika dia harus melangkah menaiki anak tangga untuk menuju ke kereta roller coasternya yang berada di atas terlihat sangat tinggi dilihat dari posisi berdirinya Moses saat ini.
Moses tiba tiba melepaskan tangannya dari genggaman tangannya Melati dan kini mencengkeram erat sisi tangga itu dengan kedua tangannya. Keringat dingin mulai bergulir di kedua pelipisnya. Melati menoleh memandang Moses.
"Sayang, kamu kenapa? kamu sakit? kok tiba tiba pucat seperti ini?" Melati mulai panik dan menangkup wajah tampannya Moses.
Beberapa pengunjung memandang Moses dan Melati dan sudah melewati mereka menaiki anak tangga itu. Sedangkan Moses tiba tiba berjongkok dan masih mencengkeram erat sisi tangga yang terbuat dari besi itu.
Melati ikutan berjongkok "apa kamu takut?" Melati mulai mengulum bibir menahan tawa. Melihat sosok sekeren dan segagah Moses Elruno tiba tiba jongkok dan nampak pucat di wahana roller coaster.
"Aku....aku....hufft...aku takut ketinggian, sayang" ucap Moses sembari menarik napas berkali kali mencoba untuk mengusir rasa takutnya.
"Kalau kamu takut, kamu turun aja ya? kamu duduk di kursi itu, biar aku naik sendiri" Melati mengusap keringat yang mulai mengucur di keningnya Moses dengan telapak tangannya.
"Nggak, kamu nggak boleh naik sendiri! bisa jadi mangsa cowok cowok nggak jelas nanti, mereka bisa dengan bebasnya menatap dan menggoda kamu, cih!" dan dengan ajaib Moses tiba tiba berdiri, bisa melangkah tegap menaiki anak tangga itu sambil menggenggam tangannya Melati, sejenak lupa akan rasa takutnya sama sekali. Melati terkekeh geli melihat tingkah konyol suaminya.
Ketika sampai di depan kereta Roller Coasternya, Moses kembali didera rasa takut.
"Berani dong! harus dilawan rasa takut ini! kan ada kamu di sampingku" Moses berucap sembari duduk di sampingnya Melati. Melati memasang sabuk pengamannya. Moses berkali kali memastikan kalau sabuk pengaman yang dipakai Melati benar benar sudah aman, kemudian dia memasang sendiri sabuk pengamannya. Lalu dia memberikan tanda oke kepada petugas yang berjaga di wahana itu.
Kereta roller coasternya mulai bergerak pelan turun, kemudian menjadi cepat dan secara tiba tiba bergerak naik, lalu secara mendadak turun drastis dengan kecepatan sangat tinggi. Moses mulai berteriak kencang, memejamkan mata dan menyenderkan kepalanya di pundaknya Melati sambil menggenggam erat tangannya Melati.
Melati langsung merasa kasihan ketika menoleh ke suaminya yang benar benar merasa ketakutan dan panik saat ini, tapi tidak bisa berhenti karena, mereka sudah telanjur naik dan masih membutuhkan waktu sepuluh menit lagi untuk menyelesaikan permainan itu, karena medan tempuhnya ternyata cukup panjang.
Melati terus mengusap kepala suaminya yang bersandar di atas bahunya dengan penuh kasih sayang. Dia mengusapnya dengan tangan kiri karena, tangan kanannya terus digenggam suaminya. Moses terus memejamkan mata dan terus berteriak dengan sangat kencang.
Saat mereka akhirnya sampai di garis finish dan petugas jaga telah menghentikan kereta Roller Coasternya. Moses langsung merangkul istrinya karena, kakinya terasa lemas untuk berjalan.
Melati memapah suaminya dengan pelan kemudian Moses meminta berhenti dan cowok gagah super keren itu, muntah muntah di pinggir jalan. Melati mengusap usap pelan punggung suaminya. "sayang maaf ya, aku sudah buat kamu seperti ini, harusnya kamu tidak usah naik tadi. Kamu tunggu sebentar di sini ya, aku akan beli air minum"
Moses hendak mencegah Melati agar Melati tidak pergi sendiri, tapi gagal. Dia mengumpat kesal ke dirinya sendiri karena, terlalu lemah dan masih terus muntah saat ini, jadi gagal menahan kepergiannya Melati untuk membeli air minum sendirian.
Melati berhenti di sebuah kedai minuman. Dia membeli air mineral dan langsung kaget saat memutar badan dan mendapati Chiko berada di hadapannya saat ini.
"Kamu?" Melati mulai melangkah mundur satu langkah untuk menjaga jarak dengan Chiko.
__ADS_1
"Nyonya? sepertinya kita memang berjodoh ya, kita selalu bertemu dengan tanpa sengaja seperti ini" kata Chiko.
"Ka...kamu tidak mengikuti kami, kan?" Melati mulai mencurigai sikapnya Chiko.
"Ooooo, tidak nyonya. Saya juga baru sampai di sini. Saya merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaan jadi saya ingin refreshing sejenak di sini, dan saya senang secara tidak sengaja, saya bisa bertemu dengan nyonya di sini" Chiko melemparkan senyum gantengnya ke Melati.
Melati bisa merasakan dan melihat sikap mencurigakan dari Chiko. Dia kemudian berkata "maaf, suamiku menungguku" lalu Melari berlari menjauhi Chiko. Entah kenapa dia mulai bergidik ngeri saat dia berdekatan dengan Chiko kali ini.
Aku harus berhati hati dengan dia. Dia berniat tidak baik sepertinya. Melati berkata di dalam hati sembari terus berlari menuju ke Moses.
Moses yang telah duduk di atas sebuah bangku taman melihat istrinya berlari kencang menuju ke arahnya mulai merasa khawatir kemudian dia berdiri, menghampiri Melati sembari berteriak "jangan berlari sayang, nanti kamu jatuh!"
Bruk
Melati menjatuhkan diri ke dalam pelukan suaminya sembari terengah engah. Moses menangkap tubuhnya Melati kemudian memeluknya dengan erat.
"Ini minumlah dulu!" Melati kemudian berdiri tegak dan menyodorkan botol air mineral yang telah dia buka ke bibir suaminya.
Suaminya meminum pelan pelan botol yang tengah di pegang istrinya. "Terima kasih, sayang" ucap Moses setelah dirasa cukup meminum air mineral itu.
Melati kemudian meminum sisanya dan membuang botol yang telah kosong ke dalam tong sampah.
Moses kemudian merangkul bahu istrinya dan mengecup pelipisnya Melati sembari meneruskan langkah mereka "kamu tadi kenapa berlari kencang sekali? siapa yang mengejarmu?"
Melati nampak ragu untuk bercerita, tapi dia sudah berjanji akan selalu berkata jujur apapun yang terjadi, kepada suaminya maka dia berkata "tadi aku bertemu Chiko"
Moses langsung mengeraskan bibirnya dan mengedarkan pandangannya mencari sosoknya Chiko "mana dia? kamu nggak diapa apain kan sama dia?"
"Nggak, sayang. Dia cuma menyapa aku. Tapi aku merasa nggak nyaman dan curiga sama sikap dia makanya aku cepat cepat pergi dan berlari meninggalkan dia"
Moses menyentil pelan pucuk hidungnya Melati dan berkata "istriku memang pintar. Kita kemana lagi nih?"
"Aku nurut aja sama kamu kali ini, apa yang membuat kamu nggak merasa mual dan takut, heee?"
"Bagaimana kalau kita duduk aja di bangku taman dan mengobrol..........."
"Sayang!" Melati tiba tiba memekik kegirangan dan memotong ucapannya Moses. "Ada komidi putar dan berbentuk unicorn, bagus banget aku suka, aku ingin naik itu, sayang. Ayok!" Melati kembali menarik tangannya Moses tanpa permisi. Moses hanya bisa menarik napas dalam dalam dan tertawa geli.
"Sayang, kamu nggak bakalan pusing dan mual naik ini, kan?" tanya Melati.
Moses tersenyum penuh cinta memandang wajah ceria yang terus memancar dari paras ayunya Melati, kemudian berkata "Nggak, aku akan baik baik saja kali ini" Moses berucap sembari mengangkat tubuh langsing istrinya untuk naik ke salah satu kuda unicorn yang terbuat dari kayu yang berada di komidi putar itu dan Moses kemudian naik ke kuda unicorn yang berada di sebelahnya Melati.
__ADS_1
Moses terus menggenggam tangannya Melati selama bermain di wahana Komidi putar itu. Mereka tertawa senang dan saling memandang dengan penuh cinta.
Tanpa mereka sadari ada sorot mata penuh kecemburuan terus mengawasi mereka dari kejauhan.