
Rombongannya Moses Elruno telah sampai di depan rumah. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Rio Putra bahwa di rumah itu, di alamat itu, dan di daerah itu, dokter Tommy Goh buronan Internasional, berada.
Rumah itu berada di lingkungan yang sepi, damai, sejuk, dan rumah itu masih merupakan rumah tradisional Jepang. Tidak begitu besar namun, tidak kecil pula. Cukup indah dan asri sehingga membuat Moses nyeletuk, "Aku mau nanya-nanya berapa harga rumah di sini? Aku mau beli untuk masa pensiunku dengan Melati" Moses hendak turun dari dalam mobil dan lengannya segera ditarik Alfa.
Alfa mendelik ke Moses, "Kita ke sini nggak mau cari rumah ya kakak sepupuku yang tampan, kita ke sini mau cari dokter Tommy Goh"
"Oh, iya ya, hehehehe, aku lupa. Maklum faktor U" Moses meringis sambil menarik lengannya yang masih dicekal Alfa.
"Lagian ngapain kamu beli rumah lagi? Rumah kamu sangat besar dan nyaman kan? dekat pantai pula, cocok untuk menghabiskan masa pensiun kamu dengan Melati" Alfa mendengus kesal sambil melipat tangan.
"Tapi, lingkungan di sini cukup asri, aku suka. Rumahnya pun bagus-bagus, aku suka" Moses kembali menatap ke jendela mobil dan memutar kepala untuk melihat-lihat rumah di sekitar mereka, dari dalam mobilnya.
"Cukup bahas rumahnya! kalian mengingatkanku kalau aku kere sekarang ini, cih!" Maha mendengus kesal.
"Tapi, kenapa rumah ini nggak ada penjaganya? Dan gerbangnya terbuka lebar? seperti rumah masyarakat biasa?" celetukannya Evan membuat semuanya kembali fokus ke permasalahan dokter Tommy Goh.
Alexa segera melompat turun dari dalam mobil dan bertandang ke salah satu rumah untuk mencari informasi mengenai rumah di blok F nomer 43, itu. Beberapa menit kemudian, Alexa naik kembali ke dalam mobil dan berkata, "Menurut tetangga, penghuni rumah itu seorang wanita berumur lima puluhan tahun lebih tapi sangat cantik. Dia tinggal seorang diri selama ini dan memang wanita itu pendatang baru di sini. Waktu kepindahannya ke sini sama persis dengan waktu dokter Tommy Goh kabur dari penjara dan menghilang"
"Lalu di mana Tommy Goh?" sahut Maha Adijaya.
Moses menoleh ke Maha, "Kau bodoh ya? tentu saja wanita itu Tommy Goh"
"Hah?!" Semua menatap Moses dan menarik rahang bawah mereka.
"Pakai logika kalian. Waktu kepindahan wanita itu sama persis dengan waktu menghilangnya Tommy Goh jadi.........." Moses mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk sembari menatap semuanya.
"Masuk akal! kalau Tommy Goh bukanlah seorang perempuan selama ini berarti Tommy Goh operasi plastik. Yang pasti, wanita itu, Tommy Goh. Aku sependapat dengan Moses" sahut Alfa.
"Mana mungkin wanita? Dia jelas-jelas laki-laki selama ini" Maha tertegun dan bergumam dengan guratan tanda tanya di wajah gantengnya.
Moses menoleh ke Maha, "Kau sudah pernah melihat sampai ke dalam?"
Maha langsung menepuk bahunya Moses dengan keras, "Gila kau! aku laki-laki normal, ngapain aku buka sampai ke dalam? Tapi aku cukup yakin kalau Tommy Goh itu laki-laki selama ini. Dadanya rata"
__ADS_1
"Kalau dada rata bisa saja dibebat Om, aku juga pernah melakukannya saat aku menyamar" Sahut Alexa.
"Lalu sekarang bagaimana? apa yang harus kita lakukan?" sahut Evan.
Moses menepuk pundaknya Maha, "Dia yang masuk ke dalam. Bukankah kau bilang akan memprovokasi kemunculannya Tommy Goh karena, kau yang paling tahu bagaimana Tommy Goh itu"
Maha menepis kasar tangannya Moses lalu berkata dengan muka merengut, "Siapa yang bilang begitu?"
"Kamu yang bilang dan semua mendengarnya, iya kan?" Moses melempar pandangannya ke semuanya sambil terkekeh geli.
Alfa, Alexa, dan Evan berkata, "Iya" secara kompak sambil terkekeh geli.
"Ta....tapi ini....belum pasti wanita apa laki-laki. Dan......aku alergi sama makhluk yang nggak jelas kayak gitu. Aku nggak mau masuk, titik! Kamu aja Mo, kamu kan ahli menaklukkan wanita lagian di awal diskusi kita, kamu kan yang ingin menarik Tommy Goh untuk keluar dari sarangnya" Maha meringis ke Moses.
Moses lalu menoleh ke Alfa, "Kalau soal wanita, Alfa jagonya. Kamu masuk ke dalam ya Bro?! provokasi dia dan dapatkan bukti pengakuannya lalu tarik ia keluar! kita bekuk sama-sama setelah ia keluar" Moses menepuk pundaknya Alfa.
Alfa menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat, "No! Big no! aku alergi sama wanita jadi-jadian, hiihhhh!" Alfa bergidik ngeri.
Evan lalu menyahut sambil menepuk bahunya Alexa, "Kau saja yang masuk, kau kan wanita!"
"Aku takut diperkosa. Biasanya wanita jadi-jadian tuh sangat menyukai pria macam aku ini" sahut Evan dengan santainya.
"Kenapa malah debat sih? kita cap cip cup aja, hompimpa" Moses memekik kesal.
Maha langsung berkata, "Aku nggak ngerti hompimpa atau cap cip cup. Emm, kita lakukan batu, gunting, kertas aja"
"Oke!" Sahut semuanya.
Mereka lalu melempar batu, gunting, kertas, sebanyak tiga kali dan Moses yang kalah. Moses Elruno mau tidak mau harus masuk ke dalam rumah itu dan menemui dokter Tommy Goh yang belum bisa dipastikan gender-nya itu
Moses turun dari dalam mobil dengan pelan, dengan wajah mewek dan diiringi gelak tawanya Alfa, Alexa, Maha, dan Evan.
"Chiaayooo!" sahut Maha.
__ADS_1
"Chiaayooo gundulmu!" Moses mendelik ke Maha dan semuanya kembali tergelak geli.
Di kediamannya Elmo Elruno, Ivan Goh terkekeh geli menatap Chery, "Kau wanita, pantang bagiku melawan seorang wanita"
"Cih! bisa-bisanya kau berkata seperti itu? kau ngigau ya di siang bolong? Kau lupa yang telah kau lakukan pada Mamaku, pada Lili, dan Diana?" Chery menunjuk ke Diana.
"Aku tidak sengaja melakukannya" sahut Ivan dengan wajah acuh tak acuh.
"Jangan banyak bicara dan lawan aku!" Chery langsung melesat maju dan melayangkan kepalan tinjunya ke Ivan. Ivan yang telah mengikuti kursus bela diri kilat selama seminggu, berhasil menghindari tinjunya Chery namun, ia tidak bisa menghindari gerakan andalannya Chery, tendangan kilat di saat ia mengelabui musuhnya dengan tinju yang terarah ke muka. Ivan segera terdorong ke belakang.
Sambil memegang perutnya, Ivan menunduk dan mendesis kesakitan. Namun, dengan cepat ia berdiri tegak sambil menahan rasa sakit di perutnya, "Kau hebat juga, ya" Ivan meringis ke Chery.
"Dan kau hanya seorang pecundang, Cih!" Chery menatap tajam ke Ivan penuh rasa benci.
Ivan meradang mendengar Chery menyebut dirinya seorang pecundang. Ivan lalu melesat. Dia menyerang Chery terlebih dahulu dengan jurus tak beraturan. Chery dengan lincah menghindar dan berhasil mencekal kedua tangannya Ivan, lalu ia menampar wajahnya Ivan berulangkali dan mendorong tubuhnya Ivan ke belakang.
Ivan merasakan perih dan panas di kedua pipinya lalu ia menggeram kesal dan kembali melesat maju menyerang Chery dengan emosi dan ngawur. Chery dengan lincah menghindari serangannya Ivan yang bertubi-tubi tapi, ngawur dan Chery berhasil menyarangkan beberapa tinju ke wajah, dada, dan perutnya Ivan dan di saat Ivan mengarahkan tinju ke Chery, Chery menangkap kembali tangannya Ivan dan mematahkan tangan itu.
Ivan langsung berteriak "Aaarrrghhh!" dan duduk bersimpuh di atas rumput teras belakangnya Elmo Elruno. Ivan terus berteriak kesakitan sambil memegang tangan kanannya.
"Tangan itu pantas dipatahkan karena, tangan itu telah menyakiti Mamaku, Lili, Diana, dan banyak wanita di luar sana, rasakanlah akibat dari perbuatanmu itu!" pekik Chery penuh amarah.
"A....aku seorang dokter, kalau tanganku patah, aku tidak bisa lagi mengobati orang" pekik Ivan tak kalah emosinya.
"Cih! dokter macam kamu lebih baik hilang dari muka bumi ini" Chery lalu menoleh ke Elmo, "Kau ingin memberinya pelajaran?"
"Dia sudah cukup tersiksa. Pantang bagi seorang Elruno menghajar orang yang sudah tidak berdaya" sahut Elmo.
"Kalau begitu, Pak Bram! bawa dia ke kantor polisi!" Chery kembali bersikap santai dan tersenyum puas. Dia telah berhasil menghajar Ivan Goh.
Ivan diseret Bram keluar dari dalam rumahnya Elmo Elruno dan Ivan masih terus menjerit kesakitan sambil sesekali memberikan umpatan untuk Chery Elruno.
Bram membawa Ivan Goh ke komandan kepolisian yang bersih dari korupsi dan bersih dari pengaruhnya keluarga Goh. Komandan polisi itu, kenalannya Ray yang juga merupakan atasannya Evan dan Alexa.
__ADS_1
Ivan dijebloskan ke penjara dan tidak ada harapan bagi Ivan untuk bisa lolos dari jerat hukum dan sangat sulit bagi Ivan Goh untuk bisa melarikan diri dari cengkeramannya Komandan polisi yang bernama, James Bao itu.