
Kartu identitas yang mirip KTP di Indonesia telah kembali ke tangannya Elmo Elruno dengan selamat. Kemudian perawat itu berkata, "anda tunggu sebentar ya!? sampai nomer antrean anda dipanggil. Maaf agak sedikit lama nanti karena, antreannya terlanjur panjang dan anda datangnya sudah agak siang"
Elmo tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu berkata, "kalau harus menunggu sampai besok pun, saya tidak keberatan kok"
"Kalau harus menunggu sampai besok, saya bersedia menemani anda mengantre di sini, heeee" ucap perawat tesebut dengan tanpa malu.
"Ahhhh, hahahahaha" Elmo melepas tawa tanpa makna-nya ke udara. Perawat tersebut kemudian tersenyum manis ke Elmo dan bergegas masuk ke dalam klinik umum. Sedangkan Elmo, kembali duduk di atas bangku yang berjejer rapi di depan pintu ruang klinik umum itu.
Elmo membunuh lamanya waktu menunggu dengan cara bekerja. Dia memantau perkembangan saham dan membalas beberapa email lewat ponsel pintar nan mewahnya. Harga lonsel yang Elmo genggam sebanding dengan harga sebuah sepeda motor keluaran terbaru.
Setelah menunggu selama dua jam lebih akhirnya nomer dia 201 dipanggil. Elmo segera bangkit dan dengan penuh semangat melangkah masuk ke dalam ruang klinik umum itu kemudian merebahkan diri di atas bed yang berada di dalam salah satu bilik yang tersedia di sana.
Seorang perawat terkesima dan mematung melihat pahatan sempurna Sang Maha Pencipta di wajahnya Elmo. Elmo yang sudah merebahkan diri kemudian menoleh ke perawat tersebut dan bertanya, "ada apa sus? apa cara tidur saya salah atau......"
Perawat itu tersentak dan kembali ke dunia nyata sambil berkata, "aaah, tidak pak. Saya yang salah karena, melamun, maaf" Perawat tersebut kemudian memeriksa tekanan darah dan suhu badannya Elmo. Perawat itu menautkan alis karena, baik tekanan darah maupun suhu badannya Elmo dalam keadaan normal.
"Apa keluhan anda pak? karena tekanan darah dan suhu badan bapak normal semua" tanya perawat itu.
"Umm, aaaahh, itu, dada.....iya dada saya sesak, berdebar-debar dan setiap malam saya kesulitan untuk tidur lalu........saat ini saya merasa melayang-layang, berkeringat dan.....emm, itu saja, heeee" ucap Elmo dengan santainya.
Perawat itu telah selesai mencatat semua keluhannya Elmo lalu bertanya, "anda ingin diperiksa sama dokter siapa? ada dokter Ivan Goh, dokter July, dokter Zhou, dan dokter Jelita Adijaya?"
"Dokter Jelita Adijaya" sahut Elmo dengan cepat.
"Baiklah pak. Tunggu sebentar!"
Elmo tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Selang sepuluh menit tirai di biliknya Elmo tersibak dan masuklah dengan anggun dan sangat manis, gadis pujaan hatinya Elmo Elruno. Dokter Jelita Adijaya.
"Kau!?" Lili menautkan alisnya ke Elmo, "bukankah kau cowok yang tadi........."
"Maafkan saya dok! jika tadi saya terkesan tidak sopan karena, saat itu sampai saat ini jantung saya berdebar-debar, saya berkeringat, dada saya terasa sesak, dan saya merasa melayang"
Gejala sakit apa itu? kenapa gejalanya sangat aneh? Batin Lili heran namun, dia tetap memeriksa Elmo.
Lili menempelkan stetoskop-nya di atas dadanya Elmo dan benar, degup jantung pasiennya sangatlah kencang dan keningnya nampak berkeringat.
__ADS_1
Elmo terus mengangkat wajah tampannya dan menatap wajah manisnya Lili yang begitu dia rindukan selama lima tahun belakangan ini.
Lili bisa merasakan kalau pasiennya terus menatap wajahnya dan berkata sambil mengangkat stetoskopnya, "kenapa anda menatap saya terus?"
Elmo terus menatap kedua manik hitamnya Lili dan merasa kebingungan. Lili benar-benar tidak mengenalinya, "apa kamu pernah jatuh atau kecelakaan?" tanya Elmo dan tanpa sadar dia mencekal pergelangan tangannya Lili.
Lili menepis tangannya Elmo dan langsung mengeraskan wajahnya, "anda jangan kurang ajar ya? anda yang jadi pasien di sini? kenapa justru anda yang kasih pertanyaan ke saya?"
"Tolong jawab! anda dokter kan? anda berhak menjawab jika pasien anda bertanya"
Lili mendengus kesal, "saya tidak pernah jatuh dan tidak pernah kecelakaan, puas? sekarang saya akan tuliskan resep untuk anda" Lili kemudian berbalik badan dan hendak meninggalkan Elmo.
Elmo segera bangkit dan berucap, "tunggu!"
Lili menoleh ke Elmo, "ada apa, pak?"
"Kenapa kau lupa sama aku? kau sama sekali tidak mengingatku?" tanya Elmo.
"Anda sepertinya perlu ke dokter jiwa.Anda berhalusinasi, dada berdebar kencang, dan berkeringat dingin jadi saya akan tulis surat rujukan ke dokter jiwa untuk anda" lalu Lili bergegas menyibak tirai dan melangkahenuju ke kursi kerjanya
Elmo turun dari atas bed itu, memakai sepatunya dan mengikuti langkahnya Lili, lalu duduk di depannya Lili menunggu Lili selesai menuliskan. resep dan surat rujukan ke dokter kejiwaan untuknya.
Elmo terus menatap Lili dengan penuh tanda tanya.
Kenapa kamu lupa sama aku? apa yang telah terjadi selama ini? kenapa kamu bisa lupa sama aku? apa kamu bahagia selama tinggal di sini? Ya ampun Lili! kenapa kamu semakin manis dan semakin menggemaskan. Elmo terus menatap Lili denhan setumpuk kata dan tanya di benaknya.
Ivan tidak bisa menahan diri untuk diam saja karena, pasien di depannya tunangannya Ivan itu, mulai menatap tunangannya Ivan dengan senyum ambigu.
Ivan merangkul bahunya Lili dan berucap, "biar aku saja yang menuliskan surat rujukannya sayang, kamu pindah ke kursiku"
Elmo menautkan kedua alisnya ke Ivan dan mengalihkan pandangannya ke Lili dengan tatapan tidak rela saat Lili kemudian bangkit dan berpindah tempat duduk.
"Jaga mata anda! jangan menatap tunangan saya terus!" ucap Ivan ke Elmo.
Elmo tersentak kaget lalu menatap tajam ke Ivan, "tunangan? anda dan Li, emm, maksud saya dokter Lili, sudah bertunangan?"
"Iya. Setelah satu tahun masa magang kami selesai di sini maka kami akan segera menikah" ucap.Ivan dengan santainya.
__ADS_1
Elmo langsung mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas meja lalu mencoba menarik napas dalam-dalam sambil menghembuskannya pelan, dia berkata di dalam hatinya, cih! hanya tunangan dan belum menikah. Aku akan buat Lili mengingat kemabli siapa aku dan merebutnya dari kamu.
"Ini resep anda dan ini surat rujukan ke dokter kejiwaan dan jangan balik lagi ke sini!" ucap dokter Ivan Goh dengan serius.
Elmo bangkit dan hanya melempar senyum penuh arti ke dokter Ivan Goh tanpa mengatakan sepatah kata pun dan dia pun pergi dari klinik umum tersebut.
Ivan kembali ke.kursinya di saat Lili bangkit, "dia ada niat sama kamu jadi kamu harus berhati-hati jika bertemu lagi dengannya!" ucap Ivan sembari menepuk pelan bahunya Lili.
Lili tersenyum, menganggukkan kepalanya dan kembali ke kursinya.
Benak Lili dipenuhi tanya, kenapa dia tadi memanggilku Loly dan memandangku dengan senyum ramah seolah dia kenal dekat denganku. Lalu, kenapa dia tanya apa aku pernah jatuh, apa aku pernah kecelakaan? dan suaranya, kenapa suaranya membuatku merasa damai dan tenteram bahkan tak bisa aku pungkiri, aku ingin terus mendengar suaranya.
Lili kemudian mendesah panjang dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Elmo mampir sebentar ke kantin rumah sakit tersebut. Dia merasakan lapar yang luar biasa karena, emosi dan kecemburuan tengah menyerbunya dengan garang.
Elmo sungguh tidak menyangka kalau Lili alias Loly-nya tidak mengenalinya sama sekali bahkan seolah tidak pernah berjumpa dengannya dan Lili alias Loly-nya telah bertunangan.
Elmo duduk sambil menggigit roti dan menyesap kopi yang dia pesan, "aku akan mencari tahu selama aku masih beredar di sini. Aku akan beredar di sini selama satu bulan ke depan. Aku akan bisa terus melihatnya, berjumpa dengannya jika aku beruntung, dan aku akan mulai membuat dia mengingat siapa aku, mengingat cinta dia ke aku, mengingat ketulusanku ke dia, dan membuatnya mengingat kembali semuanya, dengan segala cara" gumam Elmo sambil mengunyah rotinya.
Tanpa dia duga, keberuntungan telah datang. Loly duduk di sebuah meja, tidak jauh berada di depan meja-nya Elmo. Loly makan siang dengan koleganya dan bukan dengan tunangannya. Elmo tersenyum senang. Dia terus menatap Loly.
Elmo tersenyum geli sembari bangkit, saat dia melihat Loly alias Lili berusaha menjinakkan ikal-ikal yang membandel dengan sisir kecil yang Lili ambil dari dalam saku blusnya. Lili beberapa kali mendengus kesal dan hampir membuang sisir kecil itu namun, ditahan oleh Elmo.
Elmo segera melepaskan tangan Lili saat Lili mengangkat wajah dan melotot ke arahnya.
Elmo mengangkat kedua tangannya di depan Lili, "maaf! saya tidak bermaksud kurang ajar tapi, jangan buang sisirnya! anda ke kamar mandi saja, basahi rambut anda dengan sedikit air atau dengan minyak rambut, minyak rambut kesukaan anda dengan wangi mawar, anda selalu membawanya, kan? anda basahi dulu dengan air atau minyak itu baru anda sisir rambut anda"
Koleganya Lili memandang penuh tanya ke Elmo, "bagaimana anda bisa tahu soal penanganan rambut keriting dan anda bisa tahu kalau wangi minyak rambut kesukaannya dokter Jelita adalah wangi mawar? anda seorang penata rambut, ya?"
Elmo tersenyum, "saya tahu karena, kekasih saya memiliki rambut yang sama seperti rambutnya dokter Jelita. Emm, saya minta maaf sekali lagi dan saya permisi" Elmo kemudian melangkahkan kaki dengan gagahnya meninggalkan mejanya Lili dengan senyum puas karena, Lili tanpa sadar mengulas senyum untuknya.
Elmo terus melangkah pergi dengan senyum merekah dan bergumam, "cukup untuk hari ini. Aku akan datang lagi untukmu, besok sayangku Jelita Adijaya alias Loly-ku"
Lili terus menatap arah perginya Elmo dengan terus mengulas senyum tanpa dia sadari.
Koleganya kemudian berkata, "dok! kok senyum-senyum terus kayak gitu? ada apa?"
__ADS_1
Lili langsung menghapus senyumnya dan berkata, "aku nggak senyum kok, cuma melemaskan mulutku karena, sedari tadi kaku, heeee"
"Oh" sahut koleganya Lili.