My Cute Nanny

My Cute Nanny
Claudia bunuh diri?


__ADS_3

Arkan kembali menelepon Angel "halo?"


"Iya mas, apa yang ketinggalan?" sahut Angel.


"Hati mas, yang ketinggalan. Tolong nitip hati mas ya, rawat dengan penuh cinta"


Angel tersenyum senang "iya mas pasti" Angel pun langsung menutup sambungan teleponnya karena, merona penuh kebahagiaan dan cinta.


Keesokan harinya...........


Melati menelepon pihak sekolahan untuk meminta ijin agar anak anaknya di hari itu tidak masuk sekolah dulu karena, ada keperluan keluarga yang mendesak. Pihak sekolahan pun langsung mengabulkan permintaannya Melati.


Dering ponselnya Melati kembali berbunyi dan Melati langsung mengangkatnya "halo?"


"Ini aku, Mel" sahut Awan.


"Kenapa nelpon aku? ada apa?" tanya Melati. Nyonya Moses Elruno itu langsung mengenali suaranya Awan.


"Ternyata nomor ponsel kamu belum ganti ya, makasih kamu masih simpan nomor ini karena, aku kan yang memilihkannya untuk kamu waktu itu?"


"Wan, jangan macam macam!" kata Melati.


"Aku hanya bercanda, hahaha. Kamu masih saja galak ya. Emm, aku cuma ingin memberitahu kamu kalau nanti aku akan ke rumah kamu. Aku ingin bertemu kamu dan tuan Moses" kata Awan.


"Kenapa kamu tidak nelpon suamiku langsung?" tanya Melati.


"Karena aku ingin mendengar suara kamu" sahut Awan dengan santainya.


"Wan!" Melati mulai meninggikan nada bicaranya.


"Bercanda lagi, heee, aku lupa nomor ponselnya tuan Moses maka aku nelpon kamu" kata Awan.


"Sudah ya" Melati mendengus kesal dan langsung memutus sambungan ponselnya dengan Awan.


Selang beberapa menit ada telepon masuk di ponselnya Melati lagi, bertepatan dengan langkahnya Moses memasuki kamarnya Melati.


Dari pihak kepolisian memberitahukan kalau hasil dari tesnya Claudia menunjukkan bahwa Claudia mengalami gangguan kejiwaan. Dan Claudia akan dikirim ke rumah sakit jiwa. Claudia membutuhkan Melati sebagai psikolognya.


Tim psikiater dan dokter jiwa dari pihak kepolisian akan menemani Melati di saat nanti Melati menemui Claudia.


Melati mengiyakan kalau dia akan hadir jam sepuluh di rumah sakit jiwa yang disebutkan oleh pihak kepolisian.


"Siapa?" tanya Moses sembari duduk di atas sofa. Bos super kaya dan tampan itu telah rapi di dalam balutan setelan jasnya.


"Dari pihak kepolisian, mereka membawa Claudia ke rumah sakit jiwa hari ini. Aku dibutuhkan mereka untuk menemui Claudia karena, aku psikolognya Claudia" kata Melati.


"Jam berapa?" tanya Moses.


"Jam sepuluh"


"Oke, aku akan kirim pesan text ke Ray untuk memundurkan semua jadwalku hari ini. Aku akan menemanimu" kata Moses.


"Iya, kebetulan anak anak juga tidak sekolah hari ini. Aku sudah ijinkan mereka semua dan pihak sekolahan mengijinkannya. Dan tadi Awan juga menelpon aku, katanya dia mau ke sini"


"Hmm. Emm, anak anak kan di bawah nih, masih sarapan. Apa kita masih ada waktu untuk melakukan olah raga pagi, sayang?" Moses mengedipkan matanya.


"Tapi jangan lama dan nggak pakai tambahan ronde kedua dan ketiga" Kata Melati.

__ADS_1


"Siap delapan enam bu bos!" Moses langsung bersemangat mengunci pintu kamarnya dan nelakukan olah raga cinta dengan Melati secepat kilat.


Mereka kemudian membersihkan diri secara bersamaan dan kembali memakai baju mereka lalu keluar kamar dan turun ke lantai bawah.


Anak anak mereka telah melakukan aktivitas mereka masing masing setelah menyelesaikan sarapan mereka.


Celyn dan Elmo bermain bola di teras belakang rumah dan Chery membaca di ruang keluarga ditemani kakek Erlangga dan nenek Heni.


Moses dan Melati sarapan berdua. Moses terus mengulas senyum di bibirnya setelah berhasil mendapatkan jatahnya "nanti malam ronde kedua dan ketiganya ya, jangan bobok duluan!"


Melati hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka, Ijah pun nongol dan berkata "tuan, ada tamu, pak Akan dan pak Awan. Mereka menunggu di ruang tamu"


"Aaah, iya baik. Makasih Mak" kata Moses.


Moses menatap Melati penuh tanda tanya "kenapa mereka kemari pagi pagi begini?"


"Entahlah sayang, kita temui aja yuk! keburu siang, kita kan masih harus ke rumah sakit jiwa untuk menemui mantan kamu, Claudia, heeee"


"Cih! mantan, apaan mantan?" Moses mendengus kesal dan Melati pun tertawa lepas melihat ekspresi kesal dari suaminya.


"Kamu tuh iya, usil mirip banget sama Elmo" kata Moses.


Melati kembali tertawa lepas.


Mereka sampai di ruang tamu dan duduk menghadap Awan dan Arkan.


"Selamat pagi, tuan Moses" sapa Awan dan Arkan secara bersamaan.


"Pagi" sahut Moses.


"Pagi" jawab Melati sambil melempar senyum ke keduanya.


Angel mengulum senyum menahan geli melihat tingkah canggungnya kakak Awannya dan mas Arkan kekasihnya.


"Ada perlu apa?" tanya Moses sembari merangkul erat pinggang rampingnya Melati.


"Emm, saya dulu atau pak Arkan dulu, nih?" Awan menoleh ke Arkan.


"Anda dulu aja, heeee" kata Arkan.


Angel semakin geli dan mulai terkekeh pelan melihat tingkahnya Arkan.


"Emm, baiklah. Begini tuan Moses, kemarin papa saya berkata kalau papa ingin bertemu dengan tuan Moses dan Melati. Emm, Papa ingin berterima kasih dan meminta maaf secara langsung, mumpung Papa masih bisa berbicara dengan baik sekarang ini, saya takut kalau kondisi beliau memburuk dan tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu dengan anda dan Melati"


"Okelah, lusa aku dan Melati akan menjenguk papa kamu" kata Moses.


"Terima kasih banyak, tuan untuk kesediaan anda meluangkan waktu anda untuk menjenguk papa saya. Terima kasih banyak" Awan tersenyum senang.


"Hmm. Lalu apa keperluannya pak Arkan?" tanya Moses sembari mengalihkan pandangannya ke Arkan.


Arkan mulai tersenyum canggung "Aaah, i...itu, anu"


Moses dan Melati bersitatap dan menautkan kedua alis mereka.


Angel akhirnya membuka suara "kak, emm, Angel sama pak Arkan menjalin hubungan sekarang ini, dan kemarin pak Arkan sudah melamar Angel, apa kak Moses dan kak Melati bersedia merestui kami?"

__ADS_1


Awan terus mencuri curi pandang ke Melati. Melati tampak begitu cantik di hari itu. Mengenakan blus coklat susu dan rok panjang berbahan jins. Tampak lebih muda tetapi tetap terlihat sangat anggun dan elegan.


Cantik sekali kamu Mel. Batin Awan.


"Apa anda benar benar mencintai Angel?" tanya Moses.


Arkan menjawab tegas dan lantang "iya dengan sepenuh hati"


"Dan kamu Angel?" tanya Moses.


"Iya kak" jawab Angel.


"Ya sudah kalau begitu. Bukankah di dalam sebuah hubungan itu saling cinta adalah faktor yang paling penting" kata Moses sembari bangkit dan membantu Melati untuk berdiri.


"Hah? begitu saja?" Arkan berucap sembari bangkit.


"Saya merestui anda dan jangan kecewakan saya! bahagiakan Angel!" kata Moses kemudian.


"Siap, tuan dan terima kasih banyak untuk restunya" kata Arkan.


"Baiklah, maaf kami ada urusan yang sangat mendesak dan harus berangkat sekarang juga, kami tinggal dulu ya" kata Moses sembari menyalami Arkan dan Awan.


Beberapa jam kemudian Melati dan Moses telah sampai di rumah sakit jiwa. Petugas polisi langsung menemui mereka dan mengantarkan mereka ke ruangan dokter jiwa yang bertanggung jawab atas Cludian. Dokter jiwa itu langsung berkata "maaf tuan Moses menunggu di luar saja ya. Karena alasan pribadi, kehadiran tuan Moses hanya akan memicu emosi si pasien"


"Tetapi istri saya? apakah aman jika istri saya menemui pasien anda?" tanya Moses "saya nggak mau istri saya kenapa kenapa"


"Tenang tuan, saya berani menjamin kalau nyonya Melati akan aman. Saya, seorang psikiater dan dua orang petugas kepolisian akan menemani nyonya Melati masuk" kata dokter jiwa tersebut.


Moses memegang tangannya Melati "hati hati ya" lalu Moses mencium keningnya Melati.


Melati tersenyum dan berkata "iya, kamu jangan khawatir! aku akan baik baik saja, sayang" melati mengusap mesra pipinya Moses.


Melati beserta dokter jiwa, seorang psikiater dan dua petugas kepolisian mulai melangkah masuk ke dalam ruang rawat inapnya Claudia.


Claudia tersenyum senang melihat Melati "aaahhh, anda datang. Teima kasih" kata Claudia dan hendak memeluk Melati tetapi dihalangi oleh kedua petugas kepolisian.


Melati dan Claudia akhirnya duduk berhadapan dan dipisahkan meja yang cukup panjang. Jarak yang dirasa aman untuk menjaga Melati dari serangan Claudia jika nanti di tengah tengah sesi wawancara Claudia mulai tantrum dan mengamuk.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih sama anda nona Claudia" kata Melati.


"Untuk apa?" tanya Claudia.


"Karena anda sudah melahirkan seorang putri yang sangat cantik, baik dan pintar. Saya sangat bersyukur memiliki Chery di dalam hidup saya. Anda seorang ibu yang hebat ingatlah itu, nona" kata Melati.


"Saya juga bersyukur memiliki anak secantik dan sepintar Chery. Terima kasih anda telah membesarkan, mengasuh dan mendidik Chery dengan penuh cinta dan kasih sayang" kata Claudia.


Claudia kemudian terisak menangis dan berkata "tapi Chery membenci saya, dia tidak mau menerima saya sebagai mamanya"


"Bukan, bukan seperti itu nona. Chery masih sangat kecil. Chery masih belum memahami situasinya. Anda harus bersabar. Saya berjanji jika Chery telah cukup umur dan siap untuk memahami ini semua, saya akan menceritakan tentang anda dan mengajak Chery untuk mengenal anda. Bagaimanapun anda adalah ibu kandungnya Chery dan ikatan ibu kandung dan anak kandungnya tidak bisa dipisahkan" kata Melati.


Claudia mulai terisak dengan lebih keras dan menangis sesenggukkan. Claudia berkata lirih "saya tidak pantas menjadi seorang ibu. Saya sudah membuangnya dulu"


"Tidak nona. Anda jangan mengingat ingat masal lalu! Tataplah masa depan demi Chery, anak anda!" kata .Melati "semangat untuk sembuh dan jika waktunya tiba anda akan bertemu kembali dengan Chery, semangat untuk sembuh, nona! saya mohon!" kata Melati.


"Sudah terlambat, saya nitip Chery. Sayangi anak saya seperti yang sudah anda lakukan selama ini. Dan jangan pernah ceritakan soal saya ke Chery. Biarkan Chery melupakan saya" kata Claudia.


"Apa maksud anda nona Claudia? dokter tolong periksa dia! apa dia memakan atau menelan sesuatu atau obat?" cepat periksa!" Melati mulai meninggikan suaranya.

__ADS_1


Dokter jiwa tersebut langsung berlari mendekati Claudia tetapi terlambat. Claudia mulai kejang kejang dan mulutnya mulai berbusa, beberapa detik kemudian dokter jiwa itu menggelengkan kepalanya dan tertunduk sedih "dia sudah meninggal, maaf nyonya, kita kecolongan"


"Tidaaakkkk!" Melati berteriak histeris dan kemudian jatuh pingsan.


__ADS_2