My Cute Nanny

My Cute Nanny
Tommy Goh Meragu


__ADS_3

Celyn mendelik menatap struk pembayaran, "Satu kakap aja kalau dirupiahkan, harganya tiga ratus ribu rupiah? Whaaattt?!" Dan kenapa di menu tadi tidak tertera harganya? wah! bener-bener ngawur nih" Celyn bangkit dan Gideon langsung menarik lengannya Celyn, "Kau mau ke mana?" Gideon menautkan alisnya ke Celyn.


"Mau protes ke manajernya dong. Kalau perlu ke pemiliknya sekalian" Celyn berucap dengan wajah memerah karena kesal. Ia merasa dia dan Gideon telah dipermainkan oleh restoran yang juga merupakan tempat pemancingan itu.


"Ini memang harga umum di Tiongkok. Ikan kakap di Tiongkok emang mahal harganya karena, jarang dijumpai di sini. Nggak usah protes ya, malu" Gideon langsung merangkul bahunya Celyn.


Celyn menggoyangkan bahunya dan tangan Gideon langsung terlepas dari bahu itu, "Bukan masalah uangnya tapi, kau lihat kan tadi, di menu tidak ada daftar harganya. Ini pemerasan namanya dan......"


"Ssssttt!" Gideon menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya Celyn, "Kita juga nggak tanya harga makanan yang kita pesan tadi kan? jadi, kita secara nggak langsung, kita udah pasrah, mau dikasih harga berapa pun untuk makanan yang kita pesan tadi. Lagian aku nggak masalah kok, kan aku yang bayar"


Celyn menepis jari telunjuknya Gideon dan akhirnya mengalah karena, semua yang dikatakan oleh Gideon benar adanya walaupun,


ia masih merasa kesal.


Gideon tersenyum geli melihat muka kesalnya Celyn dan saat mereka masuk kembali ke dalam mobil, setelah Gideon memasangkan sabuk pengamannya Celyn, dia sempatkan untuk mengecup bibirnya Celyn dan ia kungkung tubuh kekasihnya itu dengan ucapan, "Mau cemberut terus kayak gini?"


Celyn semakin melancipkan bibirnya dan Gideon terkekeh geli lalu kembali berucap, "Mau tanggung konsekuensinya, kalau cemberut terus kayak gini?"


"Apa konsekuensinya? Seorang Elruno nggak pernah takut menghadapi konsekuensi apapun"


Celyn mencebikkan bibirnya ke Gideon.


"Benarkah?" Gideon mulai memasang wajah serius, menurunkan tatapannya ke bibir ranumnya Celyn, dan mengusap bibirnya Celyn dengan ibu jarinya.


Celyn langsung mendorong tubuhnya Gideon, "Iya baiklah! aku senyum" Celyn lalu memamerkan deretan gigi putih rapinya di depan Gideon dan Gideon langsung menggemakan tawanya sambil memasang sabuk pengamannya sendiri setelah itu ia mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil dengan terus terkekeh geli.


Celyn masih melihat ke arah Gideon dan berkata, "Pacarku ini, paling tampan kalau tertawa dan tersenyum seperti itu tapi sayangnya, dia sangat jarang tersenyum dan tertawa. Pacarku hobinya memasang wajah kaku, datar, dan dingin"


Gideon tersenyum lebar dan melirik sekilas ke Celyn sambil terus fokus mengemudikan mobil ia kemudian berucap, "Karena, senyuman dan tawaku hanya untukmu. Aku hanya akan memasang wajah tampanku di depan kamu"


Celyn tersenyum lebar lalu berkata sambil mengalihkan pandangannya ke depan, "Dan aku harus bilang Wow! dong"


Gideon kembali menggemakan tawanya dan Celyn pun ikutan tertawa lebar dan berkata, "Terima kasih ya, kamu selalu bisa meredam emosiku kapan pun dan di mana pun. Dan sepertinya, anak kita nanti akan lebih dekat sama kamu daripada sama aku karena, aku ini pasti akan menjadi Ibu singa yang super duper galaknya"

__ADS_1


"Katanya masih belum pengen hamil setelah nikah? lha ini belum nikah aja, kamu udah ngebahas anak" Gideon tersenyum lebar dan melirik Celyn.


"Uhuk!" Celyn tersedak salivanya sendiri lalu berucap, "Aku bilangnya kan nanti"


Gideon mengelus mesra rambutnya Celyn dan berkata, "Iya, iya, baiklah, nan-ti. Dan kamu akan jadi Mama yang hebat nan-ti" Gideon sengaja memberi jeda di kata nanti dan dengan senyum lebar ia kembali berucap, "Karena, kamu tegas dan selalu membela ketidakadilan, itu bagus untuk mendidik anak-anak kita nan-ti" Gideon kembali menjeda kata nanti.


Celyn langsung menoleh ke Gideon, "Kenapa kau bilang anak-anak? memangnya kau ingin punya berapa anak nanti?"


Gideon tertawa ringan dan melirik Celyn, "Selusin kalau boleh"


Celyn langsung menepuk keras bahunya Gideon, "Enak aja selusin. Aku yang hamil, nggak mau aku punya anak selusin"


Gideon meraih tangannya Celyn dan ia tempelkan tangan itu di atas bibirnya kemudian berkata, "Aku ngikut maunya Bu Bos aja deh kalau gitu. Mau anak berapa aja, aku ngikut. Toh interval bikinnya kan sama aja nan-ti" Gideon kembali menjeda kata nanti dengan senyum jahilnya.


Celyn menarik tangannya dari genggaman tangannya Gideon dan ia lalu pakai tangan itu untuk menepuk bahunya Gideon. Mereka kemudian menggemakan tawa mereka secara bersamaan ke udara.


Selesai makan, Chery, Lili, dan si kembar bermain di teras belakang sambil bersendau gurau untuk melepas kerinduan. Sedangkan Elmo masuk ke ruang kerjanya dan ia terlonjak kaget saat melihat di layar ponselnya ada sebelas panggilan tak terjawab dari nomer ponsel papanya.


Elmo langsung memencet nomer ponsel papanya dan bertanya begitu wajah papanya tampak di layar ponselnya, "Halo Pa, ada apa?"


Elmo meringis, sambil menggaruk kepalanya dengan tangan kirinya. Untuk sejenak ia menyesal menelepon Papanya karena, yang ada ia hanya kena damprat kekesalan papanya. Elmo langsung berkata, "Maaf Pa! Tadi Elmo di luar kamar bermain bersama si kembar dan ponsel Elmo di dalam kamar.


Moses Elruno memang selalu panik dan gusar setiap kali Melati terlambat mengangkat teleponnya dan di hari itu, Melati bukan saja terlambat mengangkat teleponnya tapi, Melati tidak mengangkat sama sekali kelima belas panggilan Video Call-nya.


"Mama kamu mana? Apa Mama kamu sakit lagi? pingsan lagi? Mama kamu ngga papa kan?" Moses langsung bangkit dan berjalan menjauhi meja makan.


"Mama baik-baik saja. Mama pergi bersama dengan Om Ray, Pak Pramono, dan Kak Raja. Kata Kak Chery, Mama belanja kebutuhan bulanan dan hendak mencari krim ke klinik kecantikan untuk menghilangkan memar di wajahnya. Kemungkinan Mama masih di periksa dan biasanya tas harus ditaruh di dalam loker kalau masuk ke ruang perawatan di klinik kecantikan. Mungkin karena itu, Mama nggak jawab teleponnya Papa" jawab Elmo.


"Mama kamu nggak pernah ke klinik kecantikan. Dia hanya pakai bedak bayi aja udah sangat cantik. Kalau perawatan di klinik kecantikan apa jadinya nanti?" Moses tampak mengerutkan keningnya.


"Yang pasti tambah cantik dan tambah awet muda lah Pa" sahut Elmo.


"Benarkah seperti itu?" Ia langsung membayangkan Melati-nya menjadi semakin cantik dan awet muda lalu meringis senanglah dia kemudian ia bertanya, "Kok perginya sama Raja nggak sama Chery atau Celyn?" nada kecemburuan mulai terdengar di sana.

__ADS_1


"Si kembar nggak mau ditinggal Mamanya dan nggak mau ikut pergi tadi, si kembar rewel kecapekkan mungkin. Celyn pergi keluar sama Gideon, dan kenapa Kak Raja akhirnya yang pergi menemani Mama karena, terkadang Om Ray dapat telpon dadakan dari Tante Delia dan disuruh pulang barang sebentar lalu, Pak Pramono kadang dapat tugas dadakan dari Papa kan bahaya kalau Mama tiba-tiba ditinggal sendirian di situasi seperti ini"


"Hmm! Benar juga. Lalu kamu? kenapa kamu dan Lili nggak pergi menemani Mama?"


Elmo nyengir, dia nggak mungkin mengatakan kalau di saat Mamanya pergi, dia dan Lili tengah bercinta dengan panasnya.


"Kok nyengir?"


"Tadi Elmo ada urusan penting sama Lili dan nggak tahu kalau Mama pergi" Elmo mengganti


cengirannya dengan senyum manis.


"Okelah! Papa nggak akan mengganggu Mama kamu lagi. Biarkan dia melakukan perawatan wajah seharian penuh biar tambah cantik dan awet muda. Tapi, nanti saat Mama kamu pulang, kamu kasih tahu Papa langsung ya?! jangan pakai lama! harus langsung!"


"Iya Papaku sayang" Elmo menghela napas panjang.


Klik. Moses memutuskan begitu saja sambungan Video Call-nya dengan Elmo.


"Fiuuuuhhhh!" Elmo langsung bernapas lega. "Papa nggak berubah sama sekali. Masih aja rewel kalau Mama nggak menjawab telponnya. Apa aku juga akan seperti tiu nanti, jika Lili tidak menjawab telponku? hehehehe, aku kira akan sama saja. Aku kan juga seorang Elruno, hehehehehe" Elmo berucap dan terkekeh dengan sendirinya.


Melati menatap Tommy Goh. Pertemuan empat mata itu dari jam tiga sore belum selesai juga sampai jam bergulir ke angka lima.


"Anda ternyata wanita yang sangat cerdas dan sangat pandai memengaruhi orang. Anda pantas mendapat gelar psikiater terhebat tahun ini" Tommy Goh menyesap cangkir kopinya. Dia terpaksa menahan keinginannya untuk menghisap cerutu kesayangannya karena, Melati memilih ruangan yang bebas asap rokok. Melati mengatakan di awal perjumpaannya dengan Tommy Goh kalau ia alergi asap rokok.


"Anda juga seorang dokter kejiwaan yang cerdas. Saya sangat menyukai semua pemikiran Anda tadi dan saya langsung mengagumi Anda"


Tommy Goh tergelak senang dan berkata, "Kesan pertama saya melihat Anda, saya langsung merasa nyaman. Untuk itulah saya tidak ragu melepas masker yang selalu menutupi wajah saya. Saya tidak pernah menampakkan wajah saya di tempat umum dan di depan orang asing yang belum pernah saya temui"


"Saya tersanjung dan terima kasih atas pujiannya" Melati tersenyum ramah ke Tommy Goh.


"Lalu bagaimana, Anda mau mengabulkan permintaan saya tadi?"


"Anda harus mengiyakan permintaan saya terlebih dahulu karena, bagaimana pun juga, pihak saya yang banyak dirugikan. Anda telah mengacaukan hidup putra dan menantu saya dan putra Anda bahkan berani mengirim orang ke rumah putra saya untuk membawa menantu saya pergi, mengakibatkan banyak kerusakan dan luka di pihak kami. Bahkan putra Anda sampai nekat menculik putra saya, menggunakan putra saya untuk memancing menantu saya datang menemui putra Anda, dan Putra Anda hendak melecehkan menantu saya. Dan jangan lupa! Anda juga sudah menghilangkan memori masa lalunya menantu saya" Melati menatap tajam ke Tommy Goh tanpa gentar.

__ADS_1


"Anda alot juga ternyata. Saya kira saya akan lebih gampang bernegosiasi dengan Anda daripada dengan suami Anda"


"Saya meminta Anda menyerahkan diri sebagai ganti pembebasan putra Anda tiga tahun kemudian. Saya hanya akan menuntut tiga tahun penjara untuk putra Anda karena, bagaimana pun juga tindakan putra Anda perlu mendapatkan hukuman agar putra Anda memperoleh efek jera di kemudian hari. Hanya itu yang saya inginkan. Kalau Anda menolak maka, janganlah menyesal jika Anda dan Putra Anda akan membusuk selamanya-lamanya di penjara!" Melati tersenyum ke Tommy Goh dan Tommy Goh masih tampak meragu.


__ADS_2