
Panggilan Video Call dari Awan, masuk ke dalam ponselnya Melati.
Melati langsung mengangkat telepon dari Awan karena, takut kalau terlalu lama mendengar nada dering ponselnya, Chery akan terbangun.
Moses masih memejamkan matanya, pura pura tidur.
"Mel, aku minta maaf soal papa aku kemarin ya, papa aku memang tidak sopan sama kamu dan aku sebagai anaknya, merasa malu sama kamu" Awan langsung menghujani Melati dengan kata kata, begitu sambungan Video Callnya diangkat oleh Melati.
"Iya, aku udah maafin kok" ucap Melati sambil tersenyum.
"Soal perjodohanku kemarin aku mohon jangan membebani pikiran kamu ya?! aku tidak pernah menyetujuinya dan aku akan terus menentangnya karena, aku hanya mencintai kamu" kata Awan.
"Iya, aku tahu itu" kata Melati masih penuh senyum.
Kok iya iya terus sih, Mel. Hadeeehhh caci maki atau marah marah kek, secara si Awan sama si Dipo itu pantas untuk kamu caci maki. Batin Moses kesal karena, secara diam diam dia ikut menyimak percakapan antara Melati dan Awan.
"Mel, untuk Minggu depan sepertinya kita belum bisa ketemuan. Aku sibuk banget. Janji kamu untuk kasih aku first kiss diundur sampai tiga bulan ke depan ya" kata Awan dengan santainya.
Oooo iya, aku janji sama Awan kalau aku gajian nanti, aku akan kencan sama Awan dan berikan dia first kiss, hampir saja aku melupakannya. Kata Melati di dalam hatinya sembari menatap wajahnya Awan yang nampak di layar ponselnya.
"Mel?" Awan keheranan saat melihat Melati malah melamun.
"Aaa, iya, emm, kenapa memangnya harus nunggu sampai tiga Bulan ke depan?" tanya Melati.
"Aku ada misi dan sangat penting. Aku belum bisa mengatakannya sama kamu karena, ini rahasia" jawab Awan.
Cih! first kiss apaan first kiss. Nggak akan aku biarkan kamu mendapatkan first kiss dari Melati. Kata Moses di dalam hatinya. Tuan muda nan tampan itu menjadi semakin kesal ketika menyimak obrolannya Melati dan Awan.
"Kaya mission impossible aja nih, rahasia dan penting" kata Melati.
"Ini demi masa depan kita, Mel. Setelah misi aku selesai, aku akan menemui kamu untuk menikahi kamu, Mel" kata Awan di seberang sana dengan penuh semangat.
Aaahh sial! aku yang menjanjikan hal itu sama Awan.Tetapi kenapa, aku sedikit menyesalinya sekarang. Apa aku mampu melihat Melati menikah dengan orang lain. Batin Moses sedih.
"Wan, aku masih belum mau menikah kalau aku belum lulus kuliah dan bekerja" kata Melati.
"Kenapa harus nunggu lulus kuliah dulu sih, lagian besok kalau kamu sudah menikah sama aku, aku nggak akan ijinkan kamu untuk bekerja. Kamu di rumah saja mengurus anak anak dan rumah. Biar aku yang mencari nafkah, jadi ngapain nunggu lulus kuliah dulu" kata Awan dengan santainya.
"Wan, aku ingin meraih cita citaku dan aku ingin membuat mama aku bangga, aku juga ingin membuat papa aku bangga di Surga sana. Pokoknya aku nggak mau menikah sebelum lulus kuliah dan bekerja" Kata Melati dengan sangat tegas.
"Oke, kita nikah dulu lalu kita bisa lanjutkan lagi kuliah kita" kata Awan.
"Nggak, pokoknya harus lulus dulu, bekerja baru menikah, titik nggak pakai koma!" Melati tetap teguh pada pendiriannya.
Awan mulai terlihat kesal di layar ponselnya Melati.
"Aku juga nggak mau jadi ibu rumah tangga. Aku mau seperti ibu aku, bekerja mencari nafkah dari tangannya sendiri, membantu suaminya" kata Melati.
"Aku nggak mau istri aku nantinya menjadi wanita karier. Jarang di rumah kayak mama aku, anaknya di rumah sendirian kurang diperhatikan" kata Awan.
__ADS_1
"Aku akan tahu batasan batasanku sebagai seorang wanita. Aku akan tetap peduli sama anak aku dan tetap menjaga rumah dan kebutuhan suami dengan baik kalau aku berkerja nanti. Aku nggak akan.........."
Tut tut tut.....................
Awan menutup sambungan Video Callnya tanpa permisi.
Melati hanya bisa menghela napas panjang kemudian meletakan ponselnya di atas bantal. Melati masih duduk sambil terus memeluk nepuk dadanya Chery dengan lembut dan pelan.
Kurang ajar bener tuh si Awan. Berani beraninya dia memutus sambungan teleponnya begitu saja. Kasar bener tuh anak, Cih! Apa aku salah kalau menyerahkan Melati ke Awan. Batin Moses.
Melati menyentuh keningnya Chery.
"Ya ampun sayangku, kamu kok panas lagi?!" Melati langsung bangkit berdiri untuk mengambil botol sirop penurun panas. Melati membaca kertas kecil yang tadi ditempelkan sama Dokter Erlangga. Melati membaca petunjuk pemakaian obat penurun panas tersebut.
Kemudian cewek cantik pengasuhnya Chery itu, menyiapkan air putih hangat sembari membawa botol sirop dan secepat kilat sudah duduk kembali di atas ranjang di sampingnya Chery.
Moses ternyata sudah duduk menghadap putri kecilnya.
"Tuan, maaf kalau membangunkan anda" kata Melati.
"Hmm, sini obat sama gelasnya, biar aku yang pegang, kamu gendong Chery!" kata Moses.
Melati menyerahkan obat sirop dan dan gelas yang berisi air putih hangat ke Moses.
Pengasuhnya Chery itu langsung merengkuh Chery ke dalam pelukannya.
Setelah sirop penurun panasnya habis diminum sama Chery. Moses lalu mendekatkan gelas yang dia pegang ke arah Melati. Melati menyendok air putih hangat di dalam gelas yang sedang dipegang oleh tuannya itu, menyuapkan air putih hangat tersebut sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya Chery, dengan sangat lembut dan telaten.
Setelah selesai memberikan obat dan minum kepada Chery, Melati masih memeluk Chery selama beberapa menit sambil menepuk nepuk pelan punggungnya Chery.
Setelah Chery bersendawa, Melati kembali merebahkan Chery di atas ranjangnya.
Melati berdiri lagi untuk menyiapkan kompresan. Melati membawa baskom yang berisi air hangat dan tiga buah waslap dan doa taruh di atas meja di sebelah ranjangnya.
"Dekatkan sini saja Mel!" perintah Moses agar Melati menaruh baskom tersebut di atas meja yang berada di dekatnya.
Melati pun menuruti perintah tuannya.
"Kamu istirahat saja, tidurlah! biar aku yang menjaga dan mengompres Chery" kata Moses sembari memulai aksinya untuk mengompres putri kecil yang sangat dicintainya itu.
"Saya nggak akan bisa tidur sebelum Chery stabil panasnya" Melati berucap sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidurlah Mel! aku nggak mau kalau kamu juga sakit" kata Moses tulus.
"Saya kuat kok tuan. Saya sudah terbiasa ditempa fisik saya jadi walaupun saya ini kurus dan kerempeng seperti ini, tapi saya kuat, saya nggak pernah sakit sedari kecil. Paling batuk pilek, itu pun dua hari sudah sembuh" ucap Melati.
Moses menatap Melati dengan penuh simpati. Kasihan juga ya dia, selama ini harus bekerja keras. Batin Moses sedih.
"Bagaimana dengan penyakit maag kamu? nggak boleh kecapekan kan?" Moses mulai protes.
__ADS_1
"Saya sudah minum obat dari Dokter Erlangga tadi, jadi aman" jawab Melati masih saja keras kepala.
Keras kepala juga ya dia. Moses berkata di dalam hatinya sembari mengganti kompresan di dahinya Chery.
Melati lalu menaruh alat pengukur suhu di ketiaknya Chery.
"Mel, aku tanya sekali lagi sama kamu. Apa kamu mencintai Awan?" tanya Moses.
"Hufftt, saya tidak tahu tuan. Saya menyayangi Awan tetapi saya nggak tahu apakah itu cinta. Mungkin karena saya terlalu sibuk bekerja dan belajar jadi kurang memahami apa itu cinta" jawab Melati.
"Kalau kamu sudah menemukan arti cinta dan sudah menemukan siapa orangnya, aku mohon sama kamu, biarkan aku yang pertama kali tahu" Kata Moses.
"Itu berarti saya belum mencintai Awan selama ini, tuan?" tanya Melati.
"Hahahaha, sekarang aku yang jadi psikolognya nih?" tanya Moses sambil tersenyum geli.
"Ya, karena saya memang belum paham apa itu cinta" jawab Melati sambil menunduk malu.
"Memangnya dosen pembimbing kamu belum pernah membahas tentang cinta? apa tidak ada pembahasan soal cinta di dalam jurusan yang kamu ambil?" tanya Moses.
"Kata dosen pembimbing saya tuh, cinta nggak bisa dipelajari tetapi dirasakan, nah itu yang masih membingungkan bagi saya, saya belum tahu bagaimana merasakan cinta" jawab Melati.
"Ooooo" kata Moses singkat sembari mengambil alat pengukur suhu badan dari ketiaknya Chery.
"Syukurlah tiga puluh tujuh" kata Moses.
"Tetapi harus tetap dipantau,tuan" ucap Melati.
Moses tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah Melati.
"Kalau menurut tuan nih, yang sangat berpengalaman dalam hubungan percintaan, hahaha, maaf kalau menyinggung anda, tuan, emm, cinta itu rasanya seperti apa?" tanya Melati.
"Hahaha, kamu lucu juga ya, seorang playboy tuh nggak pernah mengenal cinta. Bosan lalu buang, tanpa kesan tanpa rasa. Itulah kelakuan brengsek seorang playboy" jawab Moses sembari mengambil waslap dari dahinya Chery dan dia masukkan ke dalam baskom.
"Kalau menurut tuan terlepas dari playboy, cinta itu seperti apa?" tanya Melati.
Moses menghela napas panjang, menatap Melati dan menjawab "aku rasa cinta itu ada di saat kita ingin terus menatapnya, peduli sama dia, ingin terus melindunginya, menyayanginya tanpa syarat, merindukannya setiap detik, rela berkorban apa saja untuk kebahagiannya, dan memandang senyumannya saja bisa membuat kita menjadi berani dalam menghadapi apapun"
Ini yang aku rasakan sama kamu beberapa hari ini, Mel. Batin Moses sambil terus menatap wanita cantik pujaan hatinya itu.
Melati mengalihkan pandangannya ke Chery. Melati merasa tidak kuat jika terus menatap Moses. Entah kenapa jantungnya kembali berdetak tidak beraturan.
"Kalau tuan belum pernah merasakan cinta, kenapa tuan bisa menjelaskan kalau cinta itu seperti itu" Melati mulai protes.
"Aaaa, itu, aku membacanya dari sebuah buku antologi cinta. Kamu merasakan hal itu sama Awan?" Moses bertanya balik untuk menyembunyikan perasaan dia yang sebenarnya kepada Melati.
"Saya nggak tahu, tuan. Mungkin saya akan renungkan dulu. Saya merasa curiga sama diri saya sendiri, jangan jangan saya memang tidak pernah mencintai Awan" jawab Melati.
Moses kembali berbaring miring sembari memeluk Chery. Kalau Melati tidak mencintai Awan, aku salah dong kalau aku menyerahkan Melati sama Awan. Aaah, sial! aku pikir Melati juga sangat mencintai Awan, ternyata Melati masih bingung dengan perasaannya. Apa yang harus aku lakukan ke depannya. Di dalam relung hatinya, Moses mulai merasa bingung dan ragu.
__ADS_1