
Awan langsung masuk ke dalam rumahnya dan naik ke lantai atas, menuju ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.
"Po, jangan paksa anak kamu untuk menjalani perjodohan ini!" kata Bram yang langsung merasa kasihan melihat Awan yang terlihat begitu mencintai Melati tadi.
"Pa!" Cleo mulai protes.
"Diam kamu! kamu besok harus ikut papa menghadap tuan Moses dan meminta maaf!" kata Bram sembari menatap putri tunggalnya dengan kesal.
"Bram, sabar! Cleo tidak bersalah kok, urusan Awan biar aku yang tangani" sahut Dipo.
"Maaf, aku juga tidak menyetujui perjodohan ini. Aku permisi!" kata mamanya Awan dan langsung berdiri meninggalkan suami dan tamu tamunya.
Bram menatap kepergian Arintya, mamanya Awan, wanita cinta pertamanya.
"Sayang, kita pulang saja yuk!" kata May istrinya Bram.
"Baiklah! kita permisi pulang, Po" kata Bram sambil berdiri dan melangkah pergi meninggalkan rumahnya Dipo Herlambang.
Dipo melangkah lebar untuk naik ke lantai atas menuju ke kamarnya Awan.
Dipo membuka kamarnya Awan dan langsung berkata "papa tekankan sekali lagi, kamu harus nurut sama papa. Kamu harus menikahi Cleo!"
Awan hanya diam dan tidak merespon perkataan dari papanya.
"Awan, lihat papa! kamu sekarang menjadi anak yang tidak sopan gara gara cewek tadi hah?!" kata Dipo dengan nada suara yang mulai meninggi.
Arintya, mamanya Awan langsung keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya Awan.
"Pa, keluarlah dulu, biarkan Awan tenang dulu!" kata Arintya.
"Ini salah kamu, lihat hasil didikanmu, dia jadi anak manja!" kata Dipo menahan geram.
Awan yang sedari tadi rebahan dan menutup wajahnya dengan tangannya, langsung bangun dan duduk saat mendengar papanya mulai menyalahkan mamanya.
Awan mulai melotot ke arah papanya.
"Mau apa kamu? berani kamu melotot sama papa, hah!? jangan menguji kesabarannya papa!" Dipo melotot tajam ke arah Awan.
"Pa, keluarlah dulu, biarkan Awan tenang, aku mohon!" kata Arintya sambil memeluk tubuh suaminya.
Dipo akhirnya melangkah mundur dan keluar dari kamarnya Awan. Mamanya Awan langsung menutup pintu kamarnya Awan.
Sebenarnya ada masalah apa ini. Kenapa papa begitu ngotot meminta aku untuk menikah dengan Cleo. Awan merenung menatap langit langit kamarnya.
Sementara itu, Moses menoleh ke arah Melati dan berkata "biar Chery, aku yang gendong"
Melati terperanjat mendengar kata katanya Moses. Melati sedari tadi masih memikirkan apa arti kata kata yang diucapkan papanya Awan tadi.
Moses menghela napas dan bertanya "kenapa kamu kaget, ada apa, apa yang kamu pikirkan saat ini?"
Melati merebahkan Chery ke dalam dekapannya Moses dengan sangat hati hati sambil tersenyum dia berkata "Melati ragu tuan, apa yang harus Melati lakukan?"
"Soal perjodohannya Awan dengan cewek aneh tadi?" tanya Moses.
"Hahaha, dia cantik tuan tidak ada yang aneh" kata Melati.
"Hah! kamu itu ya, cewek sejahat itu masih saja kamu bela" kata Moses kesal.
"Dia memang cantik, tuan.Tapi yang mengganggu benak Melati saat ini bukan soal perjodohannya mereka" kata Melati sambil tersenyum.
"Sebentar, Mel! Ray, kita makan malam dulu, mampir ke restonya Dimas!" kata Moses.
"Baik, tuan" kata Ray.
"Aaah, lebih baik kita langsung pulang saja, tuan" pinta Melati dengan nada sedikit gemetar.
"Kenapa?" tanya Moses.
"Kita belum makan dan aku sangat lapar saat ini" kata Moses.
"Kita pulang saja tuan. Saya mohon!" kata Melati.
"Oke, kalau gitu hubungi Sri, Ray! Minta dia siapkan makan malam dan harus sudah siap saat kita sampai di rumah nanti!" kata Moses.
__ADS_1
"Baik, tuan" Ray langsung memencet layar televisi yang terpasang di dashboard mobilnya Moses dan menghubungi Sri.
Sri langsung mengiyakan perintahnya Ray.
"Apa yang mengganggu benakmu, kenapa kamu sepertinya sangat ketakutan saat ini?" tanya Moses sembari menautkan kedua alisnya.
"Saya beritahukan nanti ya, tuan. Kalau kita sudah sampai di rumah saja" kata Melati.
Ray, ikutan merasa heran dan cemas melihat Melati yang nampak pucat, lewat Rear-Mirror Vision mobilnya Moses.
Moses menatap wajahnya Chery yang ternyata sedari tadi menatap dia tanpa dia sadari.
*Aaah, Chery maafkan papa ya, kamu ternyata menatap papa ya dari tadi, uluh uluh cantiknya ya kamu nih kalau lagi bengong, hahahaha" kata Moses sambil tersenyum gemas menatap wajah lucunya Chery.
"Chery, senyum dong, jangan takut ya, papa akan selalu melindungi kamu dengan segenap jiwa dan raga, oke?" kata Moses sambil memasang wajah lucunya di depan Chery.
Chery langsung tertawa lepas ala bayi dan Melati pun ikutan tertawa lepas menatap wajah lucunya Moses.
Bisa juga ya tuan besar yang super tegas memasang wajah selucu itu. Kata Melati di dalam hati.
Moses merasa senang bukan main, bisa membuat dua cewek cantik yang berada di dekatnya saat ini, tertawa begitu lepas dengan sangat manisnya.
Ray ikutan tersenyum senang. Semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpa anda, dan Chery, tuan. Doa Ray di dalam hatinya.
Akhirnya mereka sampai di rumah. Chery masih belum memejamkan matanya karena, di sepanjang perjalanan diajak bercanda terus sama papa tampannya.
Moses menaruh Chery ke dalam Strollernya yang sudah dipersiapkan sama Ray. Lalu bos besar itu pun turun dari mobil.
"Kamu temani aku makan malam dulu bareng Ray, Mel!" perintah Moses.
Moses dan Ray langsung menuju ke ruang makan pribadinya Moses Elruno.
Melati mendorong strollernya Chery dan mengikuti langkah tuannya.
Mereka duduk dan mulai makan.
"Mel, biar Chery dibawa sama Sri ke kamar!" kata Moses sambil melempar pandangannya ke arah Sri yang masih nampak berdiri di ruang makan pribadi tuan besarnya itu.
"Baik, tuan" jawab Sri dan mulai melangkah mendekati strollernya Chery.
Sri, Moses dan Ray langsung terperanjat dan menatap heran ke arah Melati.
"Sri, tinggalkan kami!" kata Moses.
Sri menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruang makan pribadi tuannya.
"Mel, ada apa?" tanya Moses dengan hati hati.
"Maafkan saya, tuan. Hanya saja mulai detik ini saya tidak ingin jauh jauh dari Chery. Saya tidak ingin sedetikpun mengalihkan pandangan saya dari Chery" kata Melati dengan suara gemetar menahan tangis.
"Oke, oke, tapi tolong jangan menangis ya?!" ucap Moses dengan sangat lembut.
"Mel, apa yang kamu lihat di rumahnya Awan atau kamu mendengar sesuatu?" kata Ray penuh selidik.
"Sa sa saya" Melati mulai terisak dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Moses langsung berdiri dan dia secara spontan memeluk Melati. Hanya untuk menenangkan perasaannya Melati. tidak lebih.
Ray masih menunggu jawaban Melati.
Melati melepaskan diri dari pelukannya Moses mulai mengatur napas dan mengusap air matanya.
Moses kemudian duduk di atas kursi yang ada di sampingnya Melati.
Melati menghela napas panjang dan mulai berkata "saya mendengar papanya Awan berkata dengan seseorang. Papanya Awan berkata kalau orang itu inginkan proyeknya, maka mereka akan memanfaatkan Chery untuk memojokkan anda, tuan"
"Shit! benar kan dugaan saya, tuan" kata Ray langsung emosi.
"Aku memang sengaja melakukan semuanya, aku pengen tahu sejauh mana Dipo akan bertindak" kata Moses.
"Tuan, apakah anda sadar dengan ucapan anda?" tanya Melati heran.
"Iya aku sadar, tapi tenang Mel, aku nggak akan membiarkan siapa pun menyentuh Chery" jawab Moses.
__ADS_1
"Tuan, semoga anda tidak melakukan kesalahan" kata Ray.
"Hahahaha, kamu kenal aku kan Ray, aku tidak pernah melakukan kesalahan, hahaha, tenang kalian semua jangan khawatir, ayok kita makan!" kata Moses sambil kembali menatap jamuan makan malam yang sudah disiapkan sama Sri.
Mereka pun akhirnya menyantap makan malam mereka dalam diam.
Selesai makan, mereka kembali ke kamar mereka masing masing.
Melati menidurkan Chery ke dalam box kalau dia berganti baju dan mulai merebahkan diri di atas ranjangnya.
Tok tok tok
Melati bangun dan membuka pintu kamarnya.
Moses sudah memakai baju santainya dan langsung meringis di depannya Melati.
"Chery sudah bobok?" tanya Moses kemudian.
"Sudah tuan" jawab Melati.
"Emm, aku butuh kamu sebagai psikolog saat ini, kamu janji kan kemarin, akan selalu menjadi teman curhatku" kata Moses.
"Hufft baik tuan, mari kita duduk di spot favorit kita!" kata Melati.
"Hahaha, mana ada meja makan mini itu, kamu sebut sebagai spot favorit" kata Moses geli sambil melangkah menuju ke meja makan mini. Kenapa Moses menyebutnya mini karena, hanya ada satu meja kecil dan dua kursi yang saling berhadapan.
Mereka pun akhirnya duduk saling berhadapan, seperti biasanya.
"Mulailah tuan!" kata Melati.
"Nggak, emm, kali ini aku nggak pengen curhat, tapi pengen nanya nanya soal kamu" kata Moses sambil tersenyum manis menatap Melati.
"Baiklah tuan, silakan!" ucap Melati sambil tersenyum tulus.
"Kamu mencintai Awan?" Moses mulai bertanya.
"Saya sudah pernah menjawabnya tuan, saya tidak tahu apakah saya mencintai Awan atau tidak, yang pasti saya merasa nyaman sama Awan selama ini" jawab Melati.
"Oke, emm, kalau misalnya tadi, kamu ke rumahnya Awan dan aku tidak ada bersama kamu, apa yang akan kamu lakukan?" kata Moses.
"Soal apa dulu tuan? soal sikap acuh tak acuhnya papanya Awan atau soal perjodohan?" Melati bertanya balik.
"Dua duanya" kata Moses.
"Saya, akan diam saja tuan.Kalau saya melawan juga percuma karena, saya hanya gadis biasa dan tidak memiliki apapun. Lagipula melawan orang tua itu dosa, tuan" ucap Melati.
"Benar feelingku, kamu akan bersikap seperti itu. Untunglah aku menemani kamu, tadi" ucap Moses dengan sangat bangga.
"Iya tuan. Terima kasih banyak" kata Melati sembari memberikan senyum tulusnya kepada tuannya.
"Kamu bisa menyetir mobil?" tanya Moses kemudian.
"Bisa tuan, Awan yang mengajari saya" jawab Melati.
Ada rasa iri yang tiba tiba menjalar di dalam hatinya Moses. Kenapa bukan dia yang mengajari Melati menyetir mobil, kenapa harus Awan.
"Kamu bisa teknik bela diri?" tanya Moses kemudian.
"Tidak bisa tuan" jawab Melati sembari menggelengkan kepalanya.
Moses langsung tersenyum lebar. Bagus aku bisa mendahului Awan nih, hahahaha. Hatinya Moses tertawa lebar.
"Oke, mulai besok setiap pagi sehabis kamu berjemur dengan Chery, aku akan mengajari kamu bela diri" kata Moses.
"Hah? untuk apa tuan?" kata Melati heran.
"Untuk jaga diri, aku kan tidak bisa menjaga kamu selama dua puluh empat jam penuh, seorang cewek itu perlu bekal teknik bela diri" kata Moses.
"Lalu, siapa yang akan menjaga Chery?" tanya Melati.
"Sri" jawab Moses.
"Maaf, tuan. Jangan mbak Sri! entah kenapa saat ini saya tidak bisa mempercayai siapapun untuk menjaga Chery. Kecuali anda dan kak Ray" kata Melati serius.
__ADS_1
"Oke, biar Ray yang menjaga Chery, nanti" kata Moses dengan santainya.
Melati hanya bisa mengiyakan tuannya sambil tersenyum manis.