
Setelah berhasil meredakan degup jantungnya, Rini bertanya "kak Alfa nantinya akan praktek sebagai dokter apa?"
"Aku dokter kandungan, heeee"
"Kenapa ambil dokter kandungan, kenapa nggak ambil dokter gigi atau dokter anak?"
"Karena aku takut sama dokter gigi, aku takut melihat gigi, dan aku takut kalau sampai sakit gigi, entah kenapa. Lagian kata orang - orang di luar sana, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, kan, hahahaha. Kalau dokter anak, emm, aku tidak pandai menangani anak anak, banyak anak kecil yang aku dekati malah menangis, cuma Chery yang bisa tersenyum waktu melihat wajah tampanku ini, hahahaha"
Rini terkekeh geli "lalu kenapa ambil dokter kandungan?"
"Ya biar aman aja, kalau pasienku ibu - ibu hamil kan nggak mungkin mereka tergoda sama ketampananku, lagian pastinya mereka datang periksa bersama suami mereka, kan? jadi aku aman dari godaan, hahahaha"
"Huh dasar genit, cewek melulu ya, yang ada di pikirannya kak Alfa" Rini terpingkal pingkal mendengar jawabannya Alfa.
Alfa ikutan terbahak bahak "mana ada genit, justru aku menghindari masalah, hahahaha"
Rini kembali menggemakan tawanya lalu bertanya "Kakak sepertinya memang nggak suka es krim ya?" Rini masih menyisakan tawa di wajahnya.
"Emm iya, itulah kenapa tadi es krimnya tidak segera aku makan dan malah jatuh tuh" Alfa melempar pandangannya ke arah es krim yang sudah mencair dan teronggok manis di atas tanah, menjadi saksi bisu ciuman pertamanya Rini, tadi. "Aku takut makan yang manis manis karena aku takut sakit gigi dan harus periksa ke dokter gigi. Itulah kenapa aku menghindari makanan manis karena, aku pengen jaga gigi aku tetap bagus dan tidak berlubang, nih, keren kan gigi aku" Alfa meringis di depannya Rini.
Rini terkekeh geli dan menepuk pelan pundaknya Alfa "maaf Rini nggak tahu kalau kakak nggak makan makanan manis. Kakak nggak bilang juga sih"
"Ya, emm, itu karena aku nggak mau melihat gurat kekecewaan terlukis di wajah manis kamu, heeee" Alfa merona dan mengelus elus tengkuknya.
"Lain kali jangan seperti itu kak! kalaupun Rini harus kecewa tapi Rini lebih memilih kejujuran, untuk ke depannya kita harus saling jujur dan terbuka ya, kak?!"
Alfa menganggukan kepalanya, tersenyum dan mengusap lembut rambutnya Rini.
"Lalu makanan kesukaannya kakak apa?" tanya Rini.
"Aku suka cokelat almond"
"Lho bukannya itu manis, katanya menghindari makanan manis"
"Itu pengecualian. Sama seperti kamu sih manisnya jadi, aku suka, heeeee"
"Apa sih" Rini merona malu.
"Hahahaha, kamu menggemaskan kalau seperti itu"
Rini semakin menundukkan wajahnya karena, malu.
"Sweety, aku menyukaimu tapi, untuk kata cinta maaf banget ya, aku belum bisa mengatakannya sekarang, aku meminta kamu untuk menunggu lagi, tidak keberatan, kan?"
Rini menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan sangat manis menatap Alfa, kekasih hatinya.
"Aaahh so sweet banget sih my Sweety" Alfa kemudian mengecup singkat keningnya Rini dan mengajak Rini untuk berdiri.
"Yuk aku antar kamu pulang! kita mampir cari makan dulu, ya. Aku lapar nih"
Rini tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Rini terus menyunggingkan senyum bahagia di dalam perjalanan panjang menuju ke rumahnya. Alfa melirik Rini dan tersenyum senang, melihat gadisnya itu bahagia.
Sementara itu, Ray dan Moses masih rapat di ruang rapat bersama seorang klien wanita yang sangat cantik dan seksi.
Setelah menyelesaikan rapatnya dan berhasil memenangkan tender besar, Moses membuka ponselnya. Dia sangat merindukan anak dan istrinya. Secara diam diam dia mengambil fotonya Melati dan Chery, pagi tadi.
"Tuan Moses?" Ray berbisik pelan.
Moses mendongakkan kepalanya untuk melihat Ray "Ada apa? masih ada rapat lagi?"
Ray menggelengkan kepalanya dan melempar pandangannya ke klien wanita yang masih duduk manis di dalam ruang rapat tersebut sembari tersenyum dengan sangat menggoda menatap Moses Elruno.
"Oooo, kamu urus saja dia" Moses kembali menundukkan wajahnya, menatap layar ponselnya melihat Fofo istri dan anaknya.
Cewek cantik nan seksi itu kemudian berdiri dan melangkah mendekati Moses Elruno.
Moses masih terus menatap layar ponselnya, dia merasa enggan melepaskan pandangannya dari wajah cantiknya Chery dan Melati "mereka menggemaskan, ya Ray" Moses mendongakkan wajahnya tapi tidak menemukan Ray, melainkan sosok cewek cantik nan seksi yang berdiri di sampingnya kini.
"Siapa yang anda katakan menggemaskan tadi, tuan?" kata kliennya Moses dengan suara menggoda. Dia mencoba menggoda Moses Elruno yang terkenal playboy.
Ya, ampun tampan sekali ya Moses Elruno nih, kalau dilihat dari jarak sedekat ini. Batin cewek seksi tersebut
Moses langsung berdiri dan menjauhi cewek tersebut "Ray, urus dia!" Moses melangkah pergi tanpa pamit dan tidak menghiraukan klien wanitanya yang sangat mengharapkan kencan istimewa dengan seorang Moses Elruno.
"Shit!" cewek itu mendengus kesal lalu melihat ke arah Ray.
Hmm, ganteng juga cowok ini. Batin kliennya Moses yang yang tidak tahu malu itu.
Raymond Wijaya mengerutkan alisnya menatap penuh curiga cewek seksi yang sangat cantik itu.
"Mari saya antarkan keluar, nona"
Tetapi cewek tersebut terus melangkah mendekati Ray dengan senyum yang menggoda.
Ray terpaku menatap langkah cewek itu yang semakin dekat..... dan terus mendekat......menuju ke arahnya.
Tuan kenapa anda tega meninggalkan saya sendirian dengan seekor ular seperti dia, tuaaannnn, hiks hik hiks. Batin Ray menangis ketakutan.
"Kamu bersedia menemani aku makan malam, untuk merayakan kerja sama kita, mewakili tuan Moses Elruno?" cewek tersebut telah berdiri tepat di hadapannya Ray dan mengelus pelan dada bidangnya Raymond Wijaya.
Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya Ray, tubuhnya mulai bergetar dan degup jantungnya menjadi tidak beraturan.
"Kamu ganteng juga, keren" cewek itu mengedipkan salah satu matanya.
Tuan, baliklah ke sini, tolong saya! Ray mencoba mengirim sinyal ke Moses dan berharap Moses bisa menerima sinyalnya dengan baik.
Saved by the bell, Moses muncul dan berkata "Ray, ayok pulang!"
Ray langsung melangkah mundur dan kabur dengan mengambil langkah seribu meninggalkan cewek aneh itu sambil mengelus elus dadanya.
Cewek itu menghentakkan kakinya dan mendengus kesal.
__ADS_1
Ray dan Moses masuk ke dalam mobil sport hitam kesayangannya Moses.
"Aahh, tuan terimakasih banyak Tuan sudah menyelamatkan saya dari ular tadi" Ray berucap sembari mengemudikan si Blacky.
"Aku tadi mendengar kamu memanggil manggil aku minta pertolongan jadi aku datang untuk menolong kamu"
"Aah, terima kasih sekali lagi, tuan sudah peka menerima sinyal yang saya kirimkan tadi, dan datang untuk menyelamatkan saya"
"Hahahaha, kamu itu cowok normal kan, Ray?"
"Tentu saja saya normal tuan, sangat normal bahkan"
"Kenapa kamu menolak cewek tadi dan kamu juga menolak Delia, jangan jangan kamu naksir sama aku? jangan berani berpikiran seperti itu Ray, jangan naksir aku! waaahh, gila Lo, Ray"
"Siapa yang gila dan siapa yang naksir sama tuan? saya seratus persen normal, tuan" Ray mendengus kesal "Cuma, saya belum menemukan wanita yang sesuai dengan kriteria saya, tuan"
"Seperti apa kriteria kamu? aku akan bantu carikan!"
Yang lembut, baik, cantik, pintar, tidak berisik, seperti Melati, tuan. Jawab Ray di dalam hatinya.
"Ray, kok malah melamun? nabrak orang aku pecat kau! nyetir kok malah melamun"
"Saya nggak melamun, tuan. Saya masih fokus nih"
"Kalau nggak melamun, kenapa nggak jawab pertanyaanku tadi?"
"Harus dijawab ya, tuan? kalau Ray jawab dapat bonus gaji tidak?"
Moses meninju bahunya Ray "duit aja yang kamu pikirkan, pikirin cewek Ray, kamu dah dua puluh delapan tahun sekarang ini, cari cewek dan menikahlah!"
"Saya akan mengikuti langkahnya tuan, menikah di umur tiga puluh, heeee, saya masih belum menemukan cewek yang saya impikan tuan"
"Terserah kamu saja! Ray, nanti mampir di toko perhiasannya Harry, ya?"
"Baik tuan, tapi saya tidak ikutan masuk ya"
"Kenapa?"
"Harry itu menyukai saya tuan, dia pernah mengungkapkan perasaannya ke saya ,dia itu penyuka sesama jenis tuan, hiiihhh, saya takut" Ray bergidik ngeri.
Moses langsung menggelegarkan tawanya.
"Oke, aku akan masuk sendiri nanti"
Moses ingin memesan seperangkat berlian berbentuk capung untuk Melati, Moses sudah menggambar desain capung yang dia inginkan, sama seperti bentuk layang layang yang pernah dia mainkan di masa kecil dulu bersama Melati. Konglomerat muda nan tampan itu juga ingin membeli sepasang cincin pernikahan. Kemarin malam sewaktu Melati tertidur dengan sangat lelapnya, secara diam diam Moses mengukur jari manisnya Melati.
Moses merasa sangat tidak sabar ingin segera sampai di toko berliannya Harry. Harry adalah teman kuliahnya Moses. Dulu dia dan Harry sama sama playboy dan menjadi primadona kampus. Tetapi kenapa sekarang Harry berubah menjadi penyuka sesama jenis.
Moses kembali terbahak bahak membayangkan Harry menyukai Ray.
"Tuan ada apa kok tiba tiba tertawa?"
__ADS_1
"Nggak apa apa, agak cepat nyetirnya aku pengen cepat sampai di tokonya Harry!"
"Baik, tuan" Ray langsung menambah laju kecepatannya si Blacky.