
Ceklek
Pintu kamarnya Melati terbuka dan mamanya melangkah masuk mendekati putri tunggalnya yang masih memegangi botol susunya Chery. Mama cantik yang masih nampak awet muda itu pun kemudian duduk di atas sebuah bangku kayu yang ada di dalam kamar tersebut melihat ke arah Melati.
"Mel, mama merasa.sedih kalau kamu menangis terus seperti ini"
"Melati takut kehilangan kak Moses, ma" kata Melati mulai terisak kembali.
"Sebenarnya mama tidak seratus persen menyetujui pernikahan kalian ini. Dunia kalian sangatlah berbeda. Mama takut kalau kamu akan mengalami banyak kesulitan dan bahaya ke depannya"
"Melati siap.menghadapi apapun demi Chery dan kak Moses, ma" jawab Melati lirih dan masih terisak.
"Apa kamu sudah jatuh cinta sama.suami kamu saat ini?" tanya mama Melati penuh selidik.
Melati menganggukkan kepalanya dengan sangat lemah karena, dia masih sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya.
"Dia mantan playboy, apakah dia benar benar sudah bertobat dan tidak menjadi seorang playboy lagi, Mel?"
"Dia sudah benar benar bertobat, ma. Sejak dia mengetahui hasil dari tes DNA, kalau Chery putri kandungnya. Semenjak itu dia tidak pernah lagi keluar malam, mabuk mabukan dan berganti ganti cewek lagi, ma"
"Mama bersyukur mendengarnya tapi mama masih merasa khawatir, Mel. Apalagi saat ini kamu sudah jatuh cinta sama suami kamu. Mama khawatir, cinta kamu bisa membawa kamu ke dalam bahaya yang lebih besar lagi" nyonya Teja Kusuma menghela napas panjang.
Melati melepas dot susu dari bibir mungilnya Chery dengan sangat pelan dan berhati hati. Cewek cantik itu, menoleh ke mamanya "ma, Melati paham kalau kehidupannya kak Moses penuh bahaya, banyak pihak yang ingin menjatuhkan posisi dia saat ini. Tapi Melati siap menghadapi apapun asal bisa selalu bersama kak Moses, ma"
"Walaupun mama menentangnya, hasil akhirnya nanti, kalian tetap akan bersatu kembali. Sejak tindakan nekat yang dilakukan oleh papa kamu dua luluh tahun silam menyelamatkan Moses kecil, kalian berdua sepertinya memang ditakdirkan untuk bertemu kembali dan bersatu seperti sekarang ini. Papa kamu sudah memasangkan benang merah di kedua jari manis kalian dari Surga sana. Mama bisa apa, huffftt"
"Maafkan Melati, ma. Melati mengambil keputusan menikah tanpa berunding terlebih dahulu sama mama"
Mamanya Melati mendekati putri tunggal yang sangat dia sayangi itu dan langsung memeluk Melati dengan sangat erat.
Pecahlah tangis Melati di dalam pelukan mamanya.
"Semoga langkah hidup kamu dan rumah tangga kamu selalu bahagia dan penuh keberuntungan, terhindar selalu dari mara bahaya dan pencobaan" mamanya Melati mengusap usap penuh sayang punggungnya Melati.
"Amin, ma. Terima kasih untuk doa dan restunya. Melati sayang banget sama mama"
"Mama juga sangat menyayangimu, Mel"
Sementara itu Dokter Erlangga masih terjaga. Beberaa kali papa asuhnya Moses Elruno itu menautkan alisnya sambil melihat layar ponselnya.
"Kenapa Moses menelponku sebanyak lima kali? dia tahu aku berada di kota J? apa mungkin pelakunya memakai namaku untuk memancing Moses?" gumam Dokter Erlangga.
"Sial! kenapa pas Moses menelponku pas aku berada di dalam kamar operasi" Dokter Erlangga masih mendesis penuh sesal.
Tidak begitu lama, Dokter yang baik hati dan penuh kasih sayang itu pun jatuh ke dalam mimpi.
Di kota J..........
__ADS_1
Awan terus mengikuti papanya. Malam hari ini, papanya tidak menemui Cleo tapi menemui seorang wanita yang sebaya dengan papanya. Sangat cantik dan elegan. Sepertinya wanita kelas atas. Batin Awan.
Papanya mencium bibir wanita itu dengan mesra lalu melangkah masuk ke dalam sebuah hotel mewah.
Awan hampir saja melepas jantungnya ketika melihat papa yang selama ini baik di mata dia, ternyata selain kejam dan jahat, juga tukang selingkuh.
"Brengsek kamu, pa!" Awan memukul kemudi mobilnya dengan sangat kesal.
"Kasihan mama" kata Awan sedih.
Awan kemudian memutar balik mobilnya dan meluncur pulang ke rumahnya. Kehidupan macam apa yang aku miliki sebenarnya. Papaku ternyata tidak seperti yang aku bayangkan selama ini. Bukanlah seorang papa yang sayang sama keluarga. Papa hanya seorang brengsek yang egois.
"Shit! Shit!" Awan terus memukul kemudi mobilnya dengan sangat kesal.
Ingin rasanya dia menangis tetapi tidak bisa. Ingin berteriak sekencang kencangnya juga tidak bisa. Semua terasa tercekat di dalam relung jiwanya, terasa begitu menyesakkan batinnya.
Sampai pagi hari tiba, Awan tidak bisa memejamkan matanya.
Di kota S..............
Melati memandikan Chery menaruh Chery ke.dalam strollernya lalu duduk di ruang tamu menunggu kedatangannya Ray dan Dokter Erlangga. Berharap pagi ini, dia mendapatkan kabar baik.
"Mel, kamu enggak sarapan?" tanya mamanya Melati yang hari ini memutuskan untuk mengambil cuti.
"Melati nggak pengen makan apa apa, ma"
"Baik, ma. Melati sarapan dulu. Tolong jaga Chery ya, ma"
"Hmm" mamanya Melati tersenyum ke arah putri tunggalnya.
Melati hanya mampu menelan sepotong roti tawar dan menyesap segelas susu. Istri kesayangannya Moses Elruno itu pun kemudian kembali duduk di ruang tamu.
Chery sudah tertidur di dalam Strollernya.
Tidak begitu lama Ray dan Dokter Erlangga menampakkan diri di depan pintu rumahnya nyonya Teja Kusuma.
Mamanya Melati mempersilakan mereka berdua untuk masuk. Ray dan Dokter Erlangga langsung duduk di depannya Melati dan mamanya Melati.
"Bagamana kak? sudah ada kabar?" tanya Melati penuh harap.
Ray, menggelengkan kepalanya. "Nanti siang kalau belum ada kabar sama sekali, aku sama Dokter Erlangga akan lapor ke polisi" kata Ray.
Melati meletakan kepalanya di atas bahu mamanya dengan lemas.
"Sabar, Mel. Suami kamu pasti selamat. Dia kuat dan pintar" kata Dokter Erlangga mencoba menenangkan Melati.
Alfa dan Rini muncul di depan pintu rumahnya Melati dan langsung masuk.
__ADS_1
"Gimana? belum ada kabar, ya?" tanya Alfa.
Semua menggelengkan kepalanya.
"Blacky sudah ketemu di sebuah gudang tua tapi tuan Moses tidak ada di sana" kata Ray.
"Siapa Blacky?" tanya Alfa.
"Mobil sport hitamnya tuan Moses Elruno" jawab Ray.
"Waah keren dia kasih nama mobilnya, emm, aku harus pikirkan nama juga nih buat mobilku" Alfa berkata lirih.
Sementara itu di dalam sebuah kamar yang besar, mewah dan megah. Moses Elruno membuka matanya. Pandangannya kabur, matanya berkedut dan kepalanya terasa sangat berat dan pening.
Moses mencoba menggelengkan kepalanya dan langsung mengaduh. Suaminya Melati itu pun kemudian mengernyitkan keningnya. Rasa sakit yang begitu hebat langsung menderanya. "kenapa dengan kepalaku" Moses bergumam lirih.
Moses mencoba menarik tangan kanannya tapi tidak bisa. Ada suara klek klek klek saat dia mencoba menarik tangan kanannya berulangkali. Moses langsung menoleh ke kanan dan mendengus kesal. Tangan kanannya ternyata diborgol di sebuah ranjang yang terbuat dari besi tersebut.
Moses menggerakkan tangan kirinya yang masih bebas dan mengusap kasar wajahnya. "Ini di mana? kamar siapa ini? shit! sudah berapa lama aku di sini?" Moses kembali bergumam lirih.
Moses mencoba mengingat kembali kejadian terakhir yang dia alami sebelum dia jatuh pingsan. "Om Erlangga, bagaimana keadaannya sekarang? shit! aku gagal menyelamatkannya, semoga om Erlangga baik baik saja saat ini"
Moses mencoba menarik kembali tangan kanannya tapi gagal, pergelangan tangannya mulai terasa perih.
"Siapa yang berani memborgol aku? awas saja, akan aku cincang habis dia! dasar gila, brengsek!" Moses mulai mengumpat kesal mengakibatkan kepalanya kembali berdenyut nyeri.
Moses mencoba bersikap tenang dan mulai berpikir. Dia kemudian teringat akan alat pelacak yang selalu terpasang di semua kancing bajunya. Moses lalu memencet alat pelacak tersebut dengan tangan kirinya. Bos besar itu akhirnya berhasil mengaktifkan alat pelacak tersebut.
"Cepat temukan aku, Ray! biar aku bisa mencincang orang yang berani memborgol aku seperti ini dan menyelamatkan Om Erlangga"
Ray, tersenyum senang secara tiba tiba, saat melihat layar ponselnya mulai menampakan sinyal keberadaannya Moses saat ini.
"Guys, tuan Moses sudah mengaktifkan alat pelacaknya. Aku akan menjemputnya sekarang" Ray langsung bangkit berdiri dan pamit untuk pergi menyelamatkan Moses.
"Tunggu aku ikut!" Melati ikutan berdiri.
"Mel, bahaya lho ini. Kita belum tahu bagaimana situasinya" kata Ray.
"Pokoknya aku ikut!" Melati langsung melangkah lebar mendahului Ray.
Semua hanya bisa menghela napas panjang menatap Melati yang sangat keras kepala itu.
Alfa ikutan berdiri mengikuti mereka. Alfa juga pengen berpartisipasi dalam misi menyelamatkan abang sepupu yang sangat dia sayangi itu.
Akhirnya Ray hanya bisa pasrah. Melati dan Alfa ikut masuk ke dalam mobil.
Ray akhirnya menginjak gas dalam dalam untuk segera menjemput bos besarnya.
__ADS_1