My Cute Nanny

My Cute Nanny
Aku kagum padamu


__ADS_3

Moses dan Melati akhirnya sampai di depan gedung megah miliknya Moses Elruno.



Pertama kalinya bagi Melati singgah di gedung milik suaminya. Melati dibuat kagum dan tertegun lalu menengadahkan kepalanya memandang sampai ke puncak gedung mewah tersebut.


"Sayang, ayok masuk!" Moses tersenyum dan membuka tangannya di depan Melati.


Melati tersenyum dan menaruh tangan mungilnya di dalam genggaman tangan suaminya.


Mereka berjalan memasuki gedung megahnya Moses Elruno sembari bergandengan tangan.


Semua karyawannya Moses yang bertugas di front office memandang heran keduanya. Semua berkasak kusuk, menerka nerka dan berasumsi dengan benak mereka masing masing, siapa wanita yang tengah digandeng oleh bos besar mereka kali ini.


Moses tersenyum bangga ketika menyadari banyak karyawannya tengah memperhatikan dia dan Melati. Konglomerat muda itu bangga bisa menggandeng seorang gadis muda, cantik, imut, lembut, dan gadis itu sekarang adalah istrinya, istri tercintanya.


Moses terus menyunggingkan senyum lebarnya sembari melangkah masuk ke dalam lift pribadinya.


Melati merasa kikuk dan canggung ketika melangkah di sampingnya Moses, banyak mata yang memperhatikannya dengan sorot mata yang menyimpan sejuta makna.


"Sayang, Melati merasa aneh, kenapa banyak mata memandang ke Melati tadi, Melati merasa minder dan merasa kalau Melati tidak sepadan dengan kamu. Kamu keren, gagah, tampan, dan............"


"Hmmmpptttt"


Moses langsung membungkam bibirnya Melati dengan bibirnya, kemudian berkata "kamu itu cantik dan imut, itulah kenapa mereka semua memandangmu tadi. Justru aku yang merasa minder, berjalan bersama seorang gadis muda dan cantik kayak kamu, aku mungkin tampak seperti paman di mata mereka, seorang paman yang menggandeng keponakannya, hufffttt" Moses mengusap bibirnya Melati "kita bisa lakukan di lift, aku bisa hold liftnya, nggak ada CCTV juga di lift ini" Moses mengangkat satu alisnya dan memandang Melati penuh arti.


Melati mendorong tubuhnya Moses "apa, nggak mau! nanti berantakan rambutku dan kusut semua bajuku, tambah malu aku, kalau keluar dari lift nanti"


"Hahahahaha" Moses langsung menggelegarkan tawa renyahnya.


Ting


Lift terbuka dan Moses langsung melangkah masuk ke dalam ruang rapatnya. Sekretaris pribadinya langsung berdiri dan mengekor langkah bos besarnya.


Moses mempersilakan Melati untuk duduk di sebuah sofa mewah yang terletak di dekat pintu masuk ruang rapat tersebut. Kemudian mengecup singkat keningnya Melati dan berucap "tunggu sebentar ya"


Melati tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Sekretaris pribadinya Moses tersenyum menatap Melati.


Moses menoleh ke sekretarisnya "ambilkan teh untuk nyonya!"


"Aaah, nyonya? mbak ini masih sangat muda dan imut, kenapa anda memanggilnya nyonya, tuan?"


Moses mendengus kesal dan melotot ke sekretarisnya "dia istriku, jaga bicaramu!"


"Is....is....istri? waaah kapan tuan menikah? dapat daun muda nan cantik lagi, selamat ya tuan"


Melati terkekeh geli melihat tingkah konyol sekretarisnya Moses itu.


Moses mulai mengeraskan bibirnya "jangan banyak omong, bikinkan minum untuk nyonya dan segera persiapkan rapatnya, persilakan tamuku ke sini!"


"Aaaah, baik tuan" sekretarisnya Moses dan Ray yang bernama Delia itu memang super ceriwis orangnya. Itulah kenapa Ray merasa jengah setiap kali berada di dekatnya Delia.


Moses mengecup keningnya Melati sekali lagi lalu duduk di meja kebesarannya. Menunggu kedatangan tamunya.


Dia menoleh ke Delia, sekretaris pribadinya "ada masalah apa?"

__ADS_1


"Pihak klien merasa dirugikan tuan, proyek pembangunan hotel yang dipimpin oleh salah satu dari manajernya tuan, dia salah mengapresiasikannya di lapangan sehingga membutuhkan tambahan budget, itulah kenapa klien anda protes dan mau mengadu kepada anda secara langsung" ucap Delia.


"Siapa manajer proyeknya?" tanya Moses.


Melati menyesap cangkir tehnya dan terus mengawasi suaminya yang sudah mulai serius dalam bekerja. Ada rasa kagum dan bangga menyelip manis di relung hati cewek cantik istrinya Moses Elruno itu


"Roy, tuan" jawab Delia.


"Panggil Roy dan timnya ke sini!"


"Baik, tuan" Delia langsung menelepon Roy dan menyuruh Roy untuk datang ke ruang rapat dengan segera.


Tidak begitu lama seorang wanita muda yang sangat elegan dan cantik melangkah masuk ke dalam ruang rapat tersebut. Melati melihatnya dan merasakan aura yang aneh dari wanita tersebut dan Melati mulai waspada dan mulai mengerucutkan bibirnya.


Wanita itu terus menyunggingkan senyum cantiknya dan melangkah mendekati Moses untuk memeluk Moses dan berniat memberikan ciuman di pipi kanan dan kirinya Moses. Tetapi Moses memundurkan langkahnya dan berkata "silakan duduk!"


Wanita itu mengumpat kesal karena gagal melaksanakan niatnya. Kemudian duduk dengan wajah malu tetapi berusaha untuk menutupinya dengan melukiskan senyum di wajah cantiknya.


Melati yang sudah berdiri dan hendak menjambak rambut wanita itu kemudian duduk kembali. Delia menatap Melati dan melemparkan senyum juga memberikan acungan jempolnya ke Melati secara sembunyi sembunyi.


Melati kembali dibuat tertawa lirih melihat tingkah konyolnya Delia.


Beberapa saat kemudian Roy dan anak buahnya melangkah masuk ke dalam ruang rapat tersebut, kemudian duduk dengan muka tertunduk tidak berani menatap tuan besar mereka.


Delia berpindah duduk dan kini cewek super ceriwis yang naksir berat sama Ray itu duduk di sampingnya Melati. Melati masih terus mengamati suaminya yang tengah bekerja.


Moses mempersilakan kliennya untuk terlebih dahulu berbicara menyampaikan pengaduannya.


Roy langsung berkata "maaf" ketika klien tersebut menyelesaikan ucapannya.


Melati dan Delia sampai terlonjak kaget kemudian saling memandang.


Delia lalu berbisik di telinganya Melati "bos Moses itu sangat galak dan tegas, kalau sudah menyangkut prinsip maka semua akan dilahapnya tanpa ampun"


Melati menganggukkan kepalanya dan berbisik balik di telinganya Delia "tapi keren ya"


Delia berbisik lagi di telinganya Melati "kalau bagi saya yang paling keren tuh tetaplah Raymond Wijaya, hihihi"


Melati tersenyum geli merespon bisikannya Delia.


Suara Moses kembali menggelegar di ruang rapat tersebut "kamu sebagai ketua tim, bisa bisanya salah persepsi, kamu sudah bekerja di sini selama berapa tahun, hah!"


"Saya bingung dengan keputusan anda waktu itu, tuan jadi saya salah persepsi, maaf"


"Kamu sekarang ini tengah meragukan IQ ku? kamu bilang bingung dengan keputusanku tapi tidak bertanya dan melangkah terus begitu saja?" Moses kembali berteriak lantang penuh emosi. "Keluar kamu! aku skors kamu selama satu bulan tanpa gaji pokok"


Roy bediri dan menundukkan kepalanya kemudian berkata lirih "maafkan saya, tuan"


"Aku masih berbaik hati memberi kamu kesempatan bekerja di perusahaan ini, makanya aku hanya menskors kamu, sekarang Keluar!" Moses membentak Roy sekali lagi.


Melati dan Delia kembali terlonjak kaget.


Roy melangkah keluar dari ruang rapat tersebut. Sedangkan kelima anak buahnya masih duduk di ruang rapat dengan kepala tertunduk.


"Untuk apa kalian masih di sini?" tanya Moses kepada Kelima anak buahnya Roy.


Mereka langsung berdiri dengan tergesa gesa dan setengah berlari meninggalkan ruang rapat tersebut.

__ADS_1


Moses menghela napas panjang dan berkata kepada kliennya "untuk proyek pembangunan hotel anda, kita akan jalankan sesuai dengan kesepakatan awal kita, untuk kerugian yang ada akan kami tanggung, maafkan kami" Moses berdiri dan menundukkan badannya ke arah kliennya.


Wanita itu pun kemudian berdiri "saya sangat berterima kasih untuk keputusan yang sudah anda buat, tuan. Setelah ini ijinkan saya menjamu anda untuk makan di sebuah restoran favorit saya, sebagai tanda terima kasih saya, makanan di sana lezat semuanya"


Moses menegakkan kembali badannya dan tersenyum "maaf saya tidak bisa, istri saya sedang menunggu saya. Sayang, kemarilah!" Moses memanggil Melati untuk mendekat.


Melati mendekati suaminya dan Moses langsung memeluk pinggang ramping istri tercintanya "perkenalkan, ini istri tercinta saya yang sangat cantik dan imut" Moses berucap sembari mengecup pelipisnya Melati.


Melati merona malu di depan klien wanita tersebut.


"Aaaah, maafkan saya. Kalau begitu saya permisi. Sekali lagi terima kasih banyak tuan Moses Elruno" kliennya Moses langsung melangkah pergi meninggalkan ruang rapat itu sembari mengumpat kesal. Dia tidak menyangka kalau Moses Elruno sudah memiliki seorang istri, yang begitu muda dan cantik.


Delia melangkah mendekati bosnya "tuan, kalau tidak ada lagi yang perlu saya lakukan, saya permisi"


"Hmm" Moses berucap sembari mencium rambutnya Melati


Delia langsung melangkah lebar meninggalkan bos besarnya yang sedang dimabuk cinta.


Duh kapan ya, Delia mendapatkan perlakuan seperti itu dari Raymond Wijaya. Batin Delia penuh harap.


"Ayok, aku akan ajak kamu ke suatu tempat yang akan membuatmu senang dan merasa segar" ucap Moses.


Melati tersenyum lebar mengikuti langkah kaki suaminya.


Beberapa jam kemudian mereka sampai di sebuah tempat yang begitu indah. Sebuah danau dan dikelilingi lapangan penuh rumput hijau. Siapapun yang memandangnya pasti ingin merebahkan diri di atas rumput hijau tersebut. Begitu alami, asri dan hijau segar warna rumputnya.


"Sayang indah sekali"


Moses kemudian menuntun langkah Melati untuk duduk di sebuah bangku yang menghadap ke Danau yang bersih dan bening itu.


Mereka duduk dan Moses langsung menaruh kepalanya Melati di atas bahunya.


"Aku membeli tanah dan danau ini beberapa tahun yang lalu dan aku masih belum tahu akan aku bangun apa tanah ini. Hotel, perumahan, atau.............."


"Sekolah saja sayang, aahh, maaf"


"Hahahaha, untuk apa kamu meminta maaf? oke, kalau kamu pengen dibangun sekolahan di tanah ini, maka aku akan bangunkan"


"Iya, Melati pengen punya satu wadah untuk mendidik anak anak jalanan semacam Tata, Melati pengen mengajari mereka baca, tulis dan berhitung"


Moses mencium tangan istrinya "oke, aku akan wujudkan keinginan kamu"


"Melati juga pengen nanti setelah lulus Melati bisa bekerja sebagai psikolog sekaligus guru bagi anak anak jalanan, boleh?" Melati mendongakkan kepalanya untuk melihat ekspresi wajah suaminya.


"Hmm, tentu saja boleh! asal kamu jangan terlalu capek, tetap jaga kesehatan dan tetap menomorsatukan suami dan anak" Moses mencium keningnya Melati.


"Iya, Melati rencananya nanti kalau sudah lulus dan bekerja, maunya mulai buka praktek tuh sore hari setelah kamu pulang kerja jadi kamu bisa menemani aku dalam bekerja, tapi kamu capek nggak, pulang kerja terus menemani aku bekerja?"


"Hahahaha, nggak dong! kalau gitu aku akan bangun ruang istirahat, sebuah kamar tidur yang nyaman, juga di sini, jadi kalau aku membutuhkan kamu, kita bisa melakukannya langsung di sini tanpa harus pulang terlebih dahulu" Moses kemudian menempelkan wajahnya di leher indahnya Melati


Melati mencubit pinggang suaminya "dasar genit, itu aja ya, yang ada di pikiran kamu"


"Hahahaha, iya iya lah, aku kan pria normal, hahahahaha" Moses tertawa terbahak bahak, kemudian mencium lembut bibirnya Melati, penuh perasaan, kemudian semakin liar dan panas.



Danau biru menjadi saksi, perpaduan manis dari satu ciuman panas dan indahnya cinta milik Moses dan Melati.

__ADS_1


__ADS_2