
Elmo dan Lili berjalan keluar dari dalam kamar mereka dengan bergandengan tangan dan saling memandang seiring dengan cinta yang muncul di senyum yang terlukis indah di wajah mereka berdua.
Sesampainya di meja makan, Emo dan Lili duduk dengan menautkan alis mereka di saat mereka hanya mendapati Chery dan si kembar di ruang makan.
"Yang lainnya mana, Kak?" tanya Elmo sambil mengambilkan nasi untuk Lili.
"Mama, Om Ray, dan Kak Raja, pergi keluar katanya ada urusan mendadak" sahut Chery.
"Om Gideon dan Tante Celyn keluar juga katanya ada obrolan penting di antara mereka berdua" sahut Bryna.
"Tante Bintang dan Om Bagas juga sama.. Obrolan orang dewasa ternyata rumit ya, harus dibicarakan di luar rumah, hmm" sahut Barnes.
Semua terkekeh geli mendengar ucapan polos yang keluar dari jiwanya Barnes yang masih murni
Gideon mengajak Celyn ke sebuah kafe. Celyn yang hobi banget minum kopi dan selalu mencoba semua kedai atau kafe yang berbau kopi, langsung memesan kopi yang paling direkomendasikan di kafe tersebut karena, sejak menginjakkan kakinya di Tiongkok, baru di hari itu ia sempat keluar bersantai untuk ngopi.
Setelah semua pesanan mereka tersaji di meja bundar berkaki empat, yang terbuat dari kayu tanpa taplak itu, Gideon segera menarik tangannya Celyn yang terkulai manis di atas meja itu lalu, Gideon menatap wajah kekasihnya itu dengan sorot mata syahdu penuh arti.
"Oke katakan saja ada apa! Aku paling takut kalau kamu menatapku seperti itu" Celyn tersenyum penuh tanya.
Gideon terkekeh lirih lalu berkata, "Aku datang ke sini sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu empat mata tapi, tiba-tiba ada serentetan kejadian di luar dugaan dan aku harus menahannya sampai di detik ini" Gideon mengusap tangannya Celyn dan masih menatap Celyn dengan tatapan maut ala Gideon.
"Hentikan tatapan maut kamu itu! bikin aku senewen tahu nggak? lagian ya, kenapa kamu tuh kalau ngomong langsung to the point aja bisa nggak? selalu aja muter-muter dulu, bikin aku deg-degan tahu nggak?" Celyn mengerucutkan bibirnya.
Gideon tersenyum penuh cinta lalu berucap dengan nada penuh kesabaran, "Papaku menginginkan kita menikah setelah masalah keluarga kamu di Tiongkok selesai"
"Hah?! nggak mau!' Celyn langsung menarik tangannya dari genggaman tangannya Gideon, lalu bersandar ke kursi, kemudian melipat kedua tangannya di dada.
Gideon langsung menautkan kedua alisnya, "Lho kok nggak mau? kamu nggak cinta lagi sama aku?'
"Cinta itu beda sama nikah" Celyn mendengus kesal.
"Bukankah ada cinta dulu baru bisa menikah. Kita udah ada cinta kan, saling cinta kan, jadi kita bisa menikah dong" Gideon lalu mengangkat kursinya dan ia sejajarkan kursi itu dengan kursi yang diduduki oleh Celyn.
__ADS_1
"Kenapa deket-deket kayak gini?' Celyn menoleh ke Gideon.
Gideon merangkul bahunya Celyn dan berkata, "Kangen, hehehehe"
"Ya udah kangen aja nggak usah deket-deket kayak gini dan nggak usah membahas pernikahan. Aku belum mau menikah" Celyn menggeser bangkunya menjauhi Gideon tapi, dengan sigap Gideon menarik bahunya Celyn dan ia cium pelipisnya Celyn lalu berkata, "Tapi, Papa ingin kita menikah secepatnya dan........"
"Ya udah menikah sana jangan ajak-ajak aku!" Celyn menepis tangannya Gideon dari bahunya.
Dua karakter yang berbeda dari Celyn yang tegas, galak, tomboy, dan keras kepala, beradu dengan karakternya Gideon yang lembut, sabar, selalu mengalah dan dewasa itu, akhirnya menemui kebuntuannya.
Gideon lalu menghela napas panjang dan berkata masih dengan nada bicara yang penuh dengan kesabaran dan pengertian, "Tapi aku maunya menikah, cuma sama kamu. Emangnya kamu tega ya melihat aku menikah dengan cewek lain, cewek yang nggak aku cintai? kamu emangnya ikhlas aku menjadi milik cewek lain?"
"Siapa yang ikhlas? tentu saja aku nggak ikhlas" Celyn langsung memeluk erat tubuhnya Gideon.
Gideon tertawa lirih, ia usap punggungnya Celyn dan bertanya, "Terus gimana dong?"
Celyn mempererat pelukannya dan berkata di dalam pelukan hangat kekasih hatinya itu, "Aku masih ingin melanjutkan kuliah sampai lulus kalau nikah, nanti tahu-tahu aku hamil, nggak lucu kan, aku malu kuliah dengan perut buncit"
"Kalau gitu aku nggak akan nyentuh kamu sampai kamu lulus. Setahun lagi kamu lulus kan"
Celyn mengerucutkan bibirnya lalu menggoyang-nggoyangkan bibir monyong itu ke kanan dan ke kiri, sebelum ia berucap, "aku masih belum pede jadi seorang istri. Aku ini nggak bisa masak, nggak bisa melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan........"
"Yang penting kamu bisa menyenangkan hati suami kamu, itu udah cukup buatku" Gideon tersenyum lebar ke Celyn.
"Pokoknya aku masih belum mau menikah, titik"
"Lalu aku mesti ngomong apa ke Papa kalau Papa nanya?" Gideon mengerucutkan bibirnya.
"Aku akan temani kamu menemui Papa Grey dan Mama Lila. Aku akan jelaskan ke Papa Grey dan Mama Lila, aku yakin Papa Grey dan Mama Lila akan luluh setelah mendengar penjelasan ku. Papa Grey dan Mama Lila kan sayang banget sama aku, hehehehehe"
"Justru saking sayangnya sama kamu, mereka ingin kamu bisa segera menjadi putri mereka, menikah denganku. Mama dan Papa kan nggak punya anak cewek. Adikku juga lagi studi di luar negeri, rumah sepi. Kalau ada kamu, rumah kami akan rame" Gideon berkata sambil sesekali menciumi jari jemarinya Celyn.
"Aku tetap masih belum ingin menikah, titik"
__ADS_1
Gideon akhirnya mengalah dan hanya bisa menghela napas panjang lalu berucap, "Baiklah! kita bicarakan lagi nanti dengan Papa dan Mamaku setelah masalah di sini kelar" Gideon lalu merangkul bahunya Celyn, "Kau mau pesan Red Velvet lagi?" tanya Gideon saat ia melirik kue Red Velvet-nya Celyn telah habis tak bersisa.
"Kita ke tempat seafood aja, aku ingin makan udang bakar madu" Celyn segera bangkit dan melangkah mendahului Gideon.
Gideon bangkit dengan senyum lebar dan segera berlari kecil menyusul Celyn. Gideon memasangkan sabuk pengamannya Celyn, mencium keningnya Celyn cukup lama lalu ia tegakkan kembali badan jangkungnya, memasang sabuk pengamannya sendiri, dan menekan pedal gas salah satu mobil miliknya Elmo.
Gideon melirik Celyn, "Kau habis makan, camilan, kue dan minum kopi, emangnya masih muat perut kamu itu diisi makanan lagi?"
"Perut wanita itu punya dua tempat, yang satu untuk camilan yang satu untuk makanan berat, jadi aman" Celyn berkata sambil menoleh ke Gideon kemudian ia pamerkan gigi putihnya ke Gideon.
Gideon melirik Celyn lalu meminggirkan mobil yang ia kendarai pelan-pelan. Setelah mobil itu benar-benar berhenti, Gideon membuka sabuk pengamannya, memutar badannya aga bisa menghadap ke Celyn, lalu ia cubit dagunya Celyn dan ia gerakkan kepalanya Celyn secara perlahan sehingga mereka menjadi bersitatap.
"Kenapa berhenti di sini?"
"Kamu kenapa tercipta begitu cantik dan menggemaskan begini sih? boleh aku jujur?" Gideon masih mencubit dagunya Celyn.
"Jujur aja! orang mau jujur kok dilarang?" ucap Celyn dengan wajah santai dan polosnya.
"Aku sudah lama memendam rasa ingin berciuman dengan kamu tapi selama ini kamu belum mengijinkan kita berciuman. Kita cuma saling mengecup singkat bibir kita selama ini jadi, bolehkah, kita.............."
Celyn langsung menempelkan bibirnya ke bibirnya Gideon dan Celyn yang berinisiatif mencium bibirnya Gideon membuat Gideon membeliakkan kedua matanya sekejap lalu kedua mata itu terpejam secara perlahan seiring dengan gerakan bibirnya yang mengikuti irama gerakan bibirnya Celyn.
Gideon mengangkat tangannya dan ia taruh tangan itu di belakang kepalanya Celyn, ia menangkup kepalanya Celyn dan sedikit merebahkan kepala itu ke belakang berbarengan dengan gerakan tangannya yang lain melepas sabuk pengamannya Celyn, untuk memperdalam ciumannya.
Ciuman sepasang kekasih itu, berlangsung dengan santai dan sensual. Tenang, dilakukan dengan perlahan, sampai diri mereka berdua bisa saling merasa, menikmati, dan menghayati ciuman tersebut dengan baik. Gideon menggunakan tekanan yang tepat dan membuat Celyn terbuai.
Gideon mulai berinisiatif untuk menggoda pasangannya. Dia tiba-tiba melepaskan diri dari ciuman yang sedang berlangsung dan tersenyum licik, tarik bibir, dan ia.memainkan bibir Celyn dengan ibu jarinya, "Aku semakin ingin menikahimu" Gideon berkata dengan suara serak menahan gairah. Gideon menahan diri untuk tidak melibatkan lidah di saat ia berciuman dengan Celyn karena, ia takut lupa diri dan melukai perasaannya Celyn.
Celyn langsung membuka kedua kelopak matanya, mendorong tubuhnya Gideon, memakai sendiri sabuk pengamannya dan dengan duduk tegak tanpa menoleh ke Gideon, ia berkata, "Lajukan kembali mobilnya! aku lapar"
Gideon tersenyum lalu memasang kembali sabuk pengamannya dan kembali menjalankan mobil yang ia kemudikan.
Perasaannya Celyn menjadi kacau gara-gara ia nekat mencoba berciuman dengan Gideon. Tubuh Celyn bergetar karena, secara jujur ia menginginkan lebih tapi, mereka masih belum terikat pernikahan.
__ADS_1
Apa aku setujui aja permintaan Gideon untuk menikah secepatnya...................... Celyn berkata di dalam hatinya dengan penuh kegalauan.