
Awan sampai di kampusnya. Dia langsung masuk ke dalam kelasnya dan mengikuti mata kuliahnya.
Cowok ganteng berkulit sawo matang itu akhirnya keluar dari ruang kelasnya. Dia melihat layar ponselnya dan langsung mengerutkan dahinya. Lima panggilan tak terjawab dari Miracle.
Awan duduk di bangku taman di depan gedung jurusan Elektronika. Lalu menghubungi balik Miracle.
"Halo" Suara indahnya Miracle dari seberang sana, menggema dengan sangat cantik di telinganya Awan.
"Ya, ada apa? maaf tadi aku di kelas, ponsel aku silent" ucap Awan yang tanpa sadar terus melukis senyum di wajahnya.
"Maaf kalau menganggu, aku tutup ya" sahut Miracle.
"Jangan! aku sudah selesai kok kuliahnya, ini aku di luar kelas duduk di bangku taman yang ada di depan gedung jurusan elektronika" Awan merasa nggak rela kalau Miracle memutus sambungan teleponnya.
"Aku tahu" kata Miracle.
"Kok tahu? maksud kamu apa?" tanya Awan heran.
Miracle melangkah mendekati Awan dan berdiri di belakangnya Awan "aku di belakang kamu"
Awan langsung berdiri dan menoleh ke belakang, sesaat mematung menatap keindahan yang terpajang cantik di depan matanya.
Cewek yang begitu dia rindukan, dia cintai, dan sangat spesial bagi Awan itu, kini berdiri di depannya sambil tersenyum.
Awan langsung memutus sambungan teleponnya mereka dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Miracle tersenyum dengan sangat manisnya "kamu kaget ya?"
"Terus terang iya, aku kaget tapi senang bisa melihat kamu lagi" jawab Awan.
"Maaf tanpa seijin kamu, aku mencari info tentang kamu. Aku lalu main ke sini, ke kampus kamu. Bosan di hotel terus" Kata Mirale dengan polosnya.
"Nggak apa apa, justru aku senang kamu bisa meluangkan waktu kamu untuk jalan jalan ke sini dan menemuiku" Kata Awan.
"Duduk?!" kata Awan.
"Emm, aku lapar. Bagaimana kalau kamu traktir aku makan? anggap saja untuk menyambut kedatanganku balik ke sini" Kata Miracle sambil menyunggingkan senyum.
"Oke, ide bagus! aku ajak kamu keliling kota sekalian nanti, setelah makan, yuk!" kata Awan sembari menggandeng tangannya Miracle, mengajaknya melangkah menuju ke parkiran mobilnya.
Miracle tersenyum melihat tangannya yang tengah digenggam sama Awan. Rasanya masih sama seperti dulu. Hangat dan memabukkan, walaupun hanya sekadar genggaman tangan.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobilnya Awan dan meluncur menuju ke restoran yang tidak jauh letaknya dari kampusnya Awan.
Awan memesan kue strawberry kesukaannya Miracle untuk dessertnya dan jus strawberry kesukaannya Miracle.
__ADS_1
"Kamu ternyata masih ingat makanan favoritku" kata Miracle sambil tersenyum penuh arti menatap Awan.
"Aku masih mengingat semua tentang kamu" ucap Awan sembari membalas tatapannya Miracle.
"Apa kabar kamu selama ini, Wan?" tanya Miracle.
"Baik, tetapi merasa hampa setelah kau pergi" jawab Awan.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Miracle sembari menyesap jus strawberry-nya.
"Sudah" jawab Awan mencoba jujur tetapi dengan segera di dalam hatinya Awan, dia menyesalinya. Dia takut kalau dia berkata jujur sudah memiliki pacar maka Miracle akan menjauhinya.
"Ooooo" Miracle tampak kecewa dan langsung menundukkan wajahnya.
Grab
Awan langsung meraih tangannya Miracle di atas meja. Awan menggenggam kedua tangan cantiknya Mirale itu.
"Dia mirip denganmu" kata Awan sambil menatap tajam Miracle.
Miracle mendongakkan kepalanya dan berkata "ya, aku terlambat. Maaf kalau aku menemui kamu dan berharap kamu belum memiliki seorang kekasih. Aku kira kamu sama seperti aku, setia menunggu perjumpaan kita selanjutnya,setia sama cinta kita, setia sama kenangan indah kita berdua" kata Miracle dengan suara bergetar dan mata berkaca kaca.
"Aku hanya berkata dia mirip denganmu, bukan berarti dia adalah kau. Aku bersumpah aku tidak pernah............"
"Aku tidak pernah berciuman dengan pacar aku karena, aku selalu mengingat ciuman pertama kita" kata Awan lirih.
"Aku ingin menciumnya setiap kali ingat kamu. Tetapi untungnya dia juga belum mengijinkan aku untuk menciumnya. Dia gadis polos dan kolot yang berprinsip ciuman itu dibolehkan setelah resmi menikah. Jika dia mengijinkan dan aku mencium dia seolah itu kamu, rasanya tidak adil juga untuk dia........aaahhhh entahlah" kata Awan mulai galau.
Miracle duduk tegak. "Sungguh?"
Awan menganggukkan kepalanya.
"Sudah berapa lama kalian berpacaran? apa kamu mencintainya?" tanya Miracle sembari melihat tangannya yang masih berada di dalam genggaman tangannya Awan.
"Entahlah. Aku mencintainya karena dia mirip kamu, mungkin. Aku sudah berpacaran dengan dia selama tiga tahun ini. Sebenarnya banyak sekali perbedaan prinsip dan pendapat antara aku dan dia. Tetapi aku selalu mengalah karena, aku takut kehilangan lagi" jawab Awan.
Miracle menggeser kursinya mendekati Awan.
Miracle menarik kedua tangannya dari genggaman tangannya Awan.
Gadis cantik, manis dan seksi itu kemudian menangkup wajahnya Awan dengan kedua tangannya "maafkan aku, Wan. Maafkan mama dan papa aku yang memisahkan kita berdua. Aku masih sangat mencintaimu"
Sial, sial, sial. Awan tak tahan. "Kemarilah Miracle" Dia menarik Miracle lebih dekat sambil mencondongkan tubuhnya ke arah mantan kekasihnya itu dan menempelkan mulut mereka. Dengan lembut. Halus. Ciuman hebat yang berhati hati, sepenuh hati, tetapi perlahan itu, memabukkan bagi mereka berdua.
Saat Awan melepaskan diri, mata Miracle terpejam dan dia berbisik "mengapa.....mengapa kau menciumku lagi" saat itu juga Miracle melemas.
__ADS_1
Awan menempelkan wajahnya di leher Miracle dan berbisik parau "karena aku sangat merindukanmu, karena bersamamu, sekali saja tidaklah cukup"
Miracle menjauhkan dirinya dari Awan lalu berdiri dan berkata "kamu sudah memiliki kekasih, Wan"
Awan menarik tangannya Miracle dan cewek manis itu pun kembali terduduk di kursinya.
"Aku akan putus dengan dia, kalau kamu mau menjalin hubungan lagi denganku. Kali ini aku akan berjuang demi cinta kita. Kali ini aku berjanji sama kamu, nggak akan ada yang memisahkan kita. Aku akan berjuang memenangkan hati kedua orang tua kamu" kata Awan dengan sangat serius.
"Entahlah, kasih aku waktu untuk menjawabnya. Aku tidak mau menjadi pelakor" kata Miracle.
"Aku akan bicara baik baik dengan kekasihku, namanya Melati. Aku akan putus dengan dia setelah mendengar jawaban dari kamu" kata Awan.
Miracle mematung menatap Awan.
"Aku mengharapkan jawaban iya dari kamu, secepatnya" kata Awan.
Miracle hanya diam membisu sembari menatap cowok ganteng pemilik seluruh ruang di hatinya itu
Moses dan Melati telah duduk di ruang makan pribadinya konglomerat muda itu. Chery dan Ray pun ikut bergabung.
Chery tidur di dalam Strollernya dan berada di samping tempat duduknya Melati.
"Tuan, kenapa saya harus berlatih bela diri?" tanya Melati sembari mengunyah makanannya.
"Karena banyak sekali orang yang ingin berbuat jahat sama kamu, terkait dengan masalahku. Aku tidak bisa menjaga kamu selama dua puluh empat jam penuh, jadi aku rasa sangat perlu untuk membekalimu ilmu bela diri" jawab Moses.
"Maksud tuan?" Melati mulai mengerutkan keningnya.
"Karena papa kamu menolong aku, dua puluh tahun yang lalu, masalahnya terus bergulir sampai sekarang dan kamu jadi ikutan masuk ke dalam bahaya" jawab Moses.
"Kok bisa seperti itu? saya tidak ingat apa apa karena, saya masih sangat kecil waktu itu, kenapa saya bisa ikutan masuk ke dalam bahaya, tuan?" Melati masih merasa heran.
"Aku juga melupakan kejadian itu karena shock yang aku alami. Pada saat aku mulai ingat beberapa waktu yang lalu, aku langsung mulai menyelidikinya. Om Erlangga ternyata selama ini membayangi kamu dan ibu kamu dengan orang orang sewaannya yang tangguh dan terbaik. Untuk melindungi kamu dan ibu kamu. Asal kamu tahu, setelah kejadian penculikanku yang gagal dan penusukkan papa kamu, Melati kecil pun beberapa kali hampir diculik. Tetapi orang orang tangguh sewaannya Om Erlangga berhasil menggagalkannya" Moses mulai bercerita panjang lebar.
"Kamu ingat?" tanya Moses.
Melati mencoba mengingatnya. Tetapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Jangan dipaksa kalau kamu tidak ingat, Mel!" kata Raymond.
"Iya, Ray benar. Kamu cukup nurut aja sama aku dan sisanya biar aku yang selesaikan!" kata Moses.
Walaupun Melati masih bingung dengan semua ucapannya Moses dan Ray tetapi dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Mereka melanjutkan sarapan mereka dalam diam.
__ADS_1