
Abimanyu Tamawijaya, seorang pemuda tampan berkulit kuning langsat, berawakan tinggi kekar dihiasi banyak tato pada kedua tangan besarnya. Bima anak seorang petani desa korban tragedi 98, anehnya wajah Bima seperti tidak ada darah keturunan Cina.
Orang tua Bima hidup sederhana memiliki sawah, perkebunan dan peternakan kecil kecilan. Sehari-hari Bima membantu kedua orangtuanya, menyisihkan upah hariannya demi menambah tato di kedua tangannya.
Bima memiliki satu adik perempuan yang kuliah di kota dan jarang sekali pulang entah kenapa. Bima tidak kuliah karena kepalanya sudah pusing jika melihat rumus rumus matematika atau rumus lainnya. Bima memutuskan untuk bekerja membantu orangtuanya dan sesekali belajar management di perpustakaan desa.
Saat SMA dulu Bima menjadi ketua geng yang menguasai pasar. Badannya yang besar dan kekar memudahkannya bertarung melawan musuhnya yang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan di pasar.
Namun semakin bertambah usia, Bima sadar jadi dia keluar dari geng dan memilih membantu orangtuanya menjalankan bisnis pertanian.
Hingga akhirnya ia kepikiran untuk merantau ke Jakarta mencoba peruntungan di sana. Bima setiap malam selalu berfikir bagaimana caranya ijin pada orangtuanya agar di perbolehkan untuk merantau.
"Aku gak bisa berekspresi, jadi biasanya kalau ngomong datar, terus gimana caranya memohon sama bapak ibu ya?" gumam Bima bingung.
"Bim, kamu kenapa bengong?" tanya ayah Bima duduk di bangku sampingnya.
"Ehh..enggak kok pak, cuman mikirin bibit yang bagus buat sawah." jawab Bima kaget dengan kedatangan ayahnya yang tiba-tiba.
"Udah cerita aja, bapak tau kamu lagi ada unek-unek." ucap ayah Bima membujuk.
"Anu pak, Bima pingin ngerantau ke Jakarta, pingin coba peruntungan di sana. Tapi Bima yakin bapak sama ibu gak bakalan ngijinin Bima berangkat." ucap Bima terus terang.
"Ohh..kalau itu ayo kita bicarain sama ibukmu di dalem. Biar kamu plong gak bingung." ucap ayah Bima.
Keduanya masuk ke dalam rumah sederhana menemui ibu Bima yang sedang bersantai menonton TV. Ayah Bima yang bernama Aryo Penangsang membuka pembicaraan dengan ibu Bima yang bernama Soraya Belinda.
"Buk, nonton apa sih? kok seru banget." tanya Aryo duduk di sebelah Soraya.
"Sinetron kesukaan aku lah mas." jawab Soraya.
"Ini Bima tadi curhat, katanya dia pingin merantau, gimana menurut ibuk?" tanya Aryo to the point.
"Kamu yakin dek? di luar kota keras lho." tanya Soraya menyembunyikan keterkejutannya.
"Ya yakinlah buk, ya kali gak yakin!" jawab Bima tegas.
"Mau merantau kemana?" tanya Soraya.
"Jakarta buk." jawab Bima.
"Di sana keras dek, mental kamu bakalan di uji." ucap Soraya mengingat kejadian masa lalu.
"Ya itu tujuan Bima buk, selain cari kerja, Bima juga mau uji mental di sana." ucap Bima.
"Kamu pingin banget?" tanya Soraya sedih.
"Iya buk, Bima pingin banget naikin ekonomi kita yang stuck di situ situ terus." jawab Bima.
"Ya udah, kamu boleh merantau, tapi syaratnya 6 bulan sekali harus pulang ya. Dan lagi, kamu gak boleh ikut ikutan geng geng kayak dulu! ibuk gak suka kamu ikut kayak begituan!" ucap Soraya.
"Bima bakal usahain." ucap Bima bahagia.
"Kamu mau berangkat kapan?" tanya Aryo.
"Lusa! Bima mau berangkat lusa, bolehkan?" tanya Bima balik.
"Boleh, kalau gitu bapak telpon temen bapak yang masih di Jakarta biar dia bantu kamu di sana." jawab Aryo.
"Yess! makasih ya pak buk! kalian berdua selalu ngertiin Bima!" ucap Bima memeluk kedua orangtuanya.
"Udah sana kamu siapin pakaian kamu." ucap Soraya.
Bima dengan semangat pergi ke kamarnya dan mengemasi pakaiannya untuk di bawa merantau.
Hari keberangkatan
__ADS_1
Pagi hari pukul 10.00 Bima berpamitan kepada kedua orangtuanya untuk berangkat merantau. Di sana juga dihadiri oleh para warga yang juga ikut melepas kepergian Bima yang selama ini sudah menjaga kampung mereka dari gangguan para preman.
"Buk Bima berangkat ya, jaga kesehatan ibuk, jangan kecapean nanti sakit." ucap Bima memeluk Soraya yang kuasa menahan tangis.
"Kamu juga jaga kesehatan ya, jangan gegabah, di sana enggak sama kayak di sini. Jangan asal berteman, jangan asal berantem, jangan asal milih bos, kamu harus pinter pinter bergaul. Jaga sopan santun, jangan senggol kalau belum di senggol." ucap Soraya memberi wejangan.
"Nasihat ibuk bakalan Bima genggam erat." ucap Bima melepas pelukannya.
"Ayo bim, pak Jarot sudah nungguin tuh, kasihan nanti mobilnya keburu di pakai." ucap Aryo.
"Bim sehat sehat ya di sana." ucap warga.
"Jaga kesehatan bim." ucap warga.
"Semoga sukses di sana bim!" ucap warga.
Bima melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil milik pak Jarot bersama bapaknya. Mereka berangkat ke terminal mengantarkan Bima. Sesampainya di terminal, Aryo melepas kepergian Bima tanpa memberikan nasihat, hanya memberi uang 600 ribu dan memeluknya erat.
"Hati hati di sana ya bim, jangan gegabah, utamakan kesabaran dan sopan santun." ucap Jarot.
"Iya pakde, pakde jaga kesehatan ya, kalau gitu Bima berangkat ya, busnya udah nunggu tuh soalnya." ucap Bima mencium tangan Aryo dan Jarot llu pergi masuk ke Bus tujuan Jakarta.
.
.
.
.
Akhirnya Bima pun sampai di Jakarta pukul 8 pagi, Bima keluar bus dan mencari warteg untuk sarapan. Dia tengok kanan kiri kebingungan karena di terminal itu banyak sekali warteg yang menjual makanan enak.
Karena banyak warteg yang penuh, Bima keliling terminal mencari warteg yang masih lenggang. Setelah beberapa saat berkeliling, akhirnya Bima menemukan satu warteg yang masih lenggang dan langsung masuk ke dalam untuk memesan makanan.
"Mau makan apa bang?" tanya mbak mbak penjual yang cantik nan manis.
"Mau nasi ayam, pakai oseng kikil kasih kuah sarden dong mbak." jawab Bima duduk menaruh tas ransel nya.
"Minumnya?" tanya mbak penjual.
"Es jeruk manis." jawab Bima membuka ponselnya mencari kostan.
Tak lama pesanan Bima datang dan langsung Bima santap dengan lahap nya.
Bima menerima pesan dari ayahnya, ayahnya mengirimkan pesan bahwa temannya mau membantu Bima mencarikan pekerjaan dan ayahnya juga memberikan nomor temanya pada Bima.
"Mbak, di sekitar sini ada kost kosong enggak ya?" tanya Bima pada mbak penjual.
"Saya ada bang, tapi jaraknya sekitar 6km dari sini. Mau?" tanya mbak penjual balik.
"Boleh deh mbak, biar bisa cepet istirahat." jawab Bima.
"Abang perantau?" tanya mbak penjual.
"Iya mbak, dari Jawa tengah." jawab Bima.
"Ohh sama, saya juga dari jawa, baru juga saya ke Jakarta ikut budhe. Abang mau kerja atau kuliah?" tanya mbak penjual.
"Saya mau kerja, cari peruntungan di Jakarta, kalau kalau sukses kan lumayan mbak hehe..." jawab Bima.
"Hehehe..iya, oh kenalin saya Lina, ini nomor budhe saya, telpon aja bilang mau cari kost." ucap Mbak penjual bernama Lina itu.
"Ohh iya mbak makasih." ucap Bima mencatat nomor yang di berikan Lina di ponselnya.
Setelah itu Bima melanjutkan makannya, setelah selesai makan baru Bima menelepon budhe Lina untuk memesan satu kamar kost di sana.
__ADS_1
"Halo, dengan siapa?" tanya seorang wanita di sebrang.
"Halo buk, ini saya Bima, saya dapat nomor ibuk dari mbak Lina. Saya dapat info kalau di tempat ibuk ada kost, apa benar?" tanya Bima balik.
"Ohh iya, di sini ada satu kamar kost kosong, masnya mau? kamar mandi dalam, ada Wi-Fi, AC, air gratis, listrik token sendiri, satu kasur spring bed 160x200, satu lemari sedang, dapur di lantai bawah." ucap ibu kost dari telepon.
"Berapa buk?" tanya Bima.
"Sebulan 1 juta mas, bisa nego." jawab ibu kost.
"Saya kesana dulu deh buk, mau liat liat dulu." ucap Bima.
"Ohh itu lebih bagus, saya kirim share lock ya mas, saya tunggu." ucap ibu kost mematikan telepon.
Bima menerima share lock dari ibu kost, dia membayar makanannya lalu pamit pada Lina untuk pergi.
"Mbak saya pergi dulu ya, sampai jumpa." ucap Bima tersenyum pada Lina.
"Ohh iya mas, hati hati ya." ucap Lina membalas senyuman Bima.
Bima memesan ojek online ke tujuan yang tadi ibu kost kirimkan. 30 menit perjalanan akhirnya Bima sampai di lokasi tujuan. Bima membayar ojek online lalu berjalan ke sebuah rumah besar berbentuk leter L dan satu rumah sederhana di sampingnya.
Bima memencet bel di gerbang, tak lama seorang wanita paruh baya keluar dari rumah sederhana itu.
"Mas Bima ya?" tanya wanita itu.
"Iya buk." jawab Bima tersenyum.
"Ayo masuk masuk." ucap wanita yang ternyata adalah ibu kost itu membukakan gerbang.
Bima masuk dan mengikuti ibu kost yang berjalan menuju rumah besar itu. Mereka berjalan naik ke lantai dua menuju satu kamar paling luas di ujung.
"Ini mas kamarnya, silahkan di lihat lihat dulu." ucap ibu kost membuka kamar tersebut.
Bima masuk ke dalam kamar melihat isi kamar tersebut.
"Sejuta, kalau aku kost disini aku harus cepet dapat kerja! kalau aku bayar dua bulan sekaligus sisa uangku tinggal 530 ribu, ya udahlah itu cukup buat sebulan ini makan." gumam Bima berfikir keras.
"Buk gak bisa kurang ya harganya?" tanya Bima.
"Masnya di sini mau kerja atau kuliah?" tanya ibu kost.
"Saya mau kerja buk." jawab Bima.
"Masnya mau nawar berapa?" tanya ibu kost.
"900 buk klau boleh." jawab Bima.
"Ya udah, karena masnya mau ngadu nasib disini, ya udah deh boleh." ucap ibu kost.
"Saya ambil dua bulan langsung ya buk." ucap Bima.
"Iya." jawab ibu kost.
Bima membayar lunas pada ibu kost.
"Ini kuncinya mas, kalau mau sarapan ke bawah aja saya udah masakin. Jadi masnya tinggal beli makan siang sama malem aja." ucap ibu kost.
"Ohh makasih banyak buk." ucap Bima.
"Kalau gitu saya pergi dulu mas, masih punya kerjaan di rumah." ucap ibu kost berpamitan pergi.
Setelah kepergian ibu kost, Bima langsung mandi dan setelah itu dia menata pakaiannya di lemari baju. Setelah itu Bima beristirahat karena badannya yang sudah sangat pegal.
Bersambung.....
__ADS_1