
Levin menarik tangan Sesil ke dalam kamar, mengunci kamar tersebut dan menghempaskan Sesil di atas ranjang dan mengungkung tubuh gadis itu.Entah mengapa amarah di hatinya sedari tadi mencoba dia padam kan namun tak berhasil, Levin sampai tak ingin melihat wajah Sesil agar dia tak bertindak kasar pada gadis itu, namun pada akhirnya Sesil datang sendiri ke hadapan nya.
"Sudah gue bilang!! Kita akan menikah!! jadi.....jangan jadi cewek murahan!!!"
Teriak Levin, Sesil menatap sendu wajah Levin yang terlihat merah karena amarahnya sendiri, dia sering kali mendengar Levin mengatakan dirinya cewek murahan.
"Ya......aku memang murahan, bahkan demi bisa tinggal dan makan sesuap nasi saja, aku menjual diriku padamu Tuan" ucap Sesil lirih sambil berderai air matanya.
Deg.......
Hati Levin seakan terhantam sebuah batu besar mendengar apa yang di katakan Sesil, apalagi melihat airmata gadis itu yang tak berhenti mengalir, Sesil melepaskan kancing dress yang di pakainya, karena dress-nya memang mempunyai kancing di bagian depannya.
"Aku akan membayar semua kebaikan Tuan, dan setelah ini, aku akan pergi,agar Tuan tidak terbebani lagi, Tapi aku hanya bisa membayar nya dengan tubuhku"
kata Sesil sambil terus membuka kancing dress nya, air matanya menetes terus-menerus, dia tak menyangka bahwa pada akhirnya dia akan menyerahkan satu-satunya harga diri yang dia punya pada Levin.Levin yang tersadar langsung menghentikan pergerakan tangan Sesil, Sesil menatap lekat lelaki yang sedang mengungkung nya saat ini.
"Kau tau kenapa aku marah?" tanya Levin sambil membenarkan baju Sesil, Sesil hanya menggeleng karena memang dia tak tau letak kesalahannya.
"Siapa lelaki tadi?" tanya Levin masih dengan ekspresi datar nya.
"Dia.. Kak Brian, anak Om Regan,temen Papa" kata Sesil
Tiba-tiba Levin mencium bibir nya sekilas, Sesil hanya diam saja,dia tak tau harus bagaimana bersikap.
"Kau menyukainya?" tanya Levin lagi
"Kami baru bertemu, kami dulu hanya beberapa kali bertemu saja, bahkan itu sudah sangat lama, aku masih di bangku SMA kala itu" Jawab Sesil menjelaskan.
"Kalian janjian bertemu?"
"Iya, Kak Brian ingin berbincang dengan ku, Tuan....... bisakah Anda sedikit bergeser,.....berat" kata Sesil dengan hati-hati.
"Bukannya kamu mau membayar kebaikan ku dengan tubuh mu?" tanya Levin dengan seringai licik nya.
__ADS_1
"Hah??" Sesil kaget, dia melakukan itu tadi tanpa berpikir panjang karena ingin meredam amarah Levin, namun pada kenyataannya sekarang dia merasa takut dan gugup.
"Itu.... tu-tuan a-aku.....!"
"Aku mau menyicipi nya dulu! baru aku putuskan menerima bayaran mu atau tidak!" ucap Levin dengan tak ada akhlak nya.
"Hah??"
Dan di detik berikutnya, Levin sudah menyatukan bibir nya dengan Sesil, menyesap dengan lembut, Sesil hanya diam saja, dia memang tak pernah membalas setiap lumaatan yang di lakukan oleh Levin.
"Balas Sil!" bisik Levin ketika melepaskan ciumannya sebentar.
Setelah nya Levin kembali melakukan apa yang dia katakan menyicipi tadi, puas bermain lidah di bibir Sesil, Levin beralih ke leher jenjang Sesil dan berlama-lama di sana, melukiskan stempel berwarna merah keunguan, Sesil tanpa sadar mende..sah demi mendapatkan perlakuan Levin, dan dengan santainya dia beralih ke dada Sesil yang dengan mudah dia buka.Terus bergerak dengan lidahnya, hingga beberapa saat Sesil mulai menegang, dia mendapatkan pelepasan nya untuk pertama kalinya, Levin tau apa yang yang di alami Sesil, Levin berhenti dan membenahi dress Sesil,namun sebelumnya dia memandang begitu banyak stempel yang dia buat di sana.
Sesil nampak tersengal dan sedang mengatur nafasnya.
"Oke....aku bersedia di bayar! tapi setelah kita menikah nanti!, itupun kalau aku masih kuat menahannya!" bisik Levin di barengi dengan sudut bibirnya yang melengkung ke atas.Sesil hanya terdiam malu dengan apa yang di rasakan nya.
"Bersihkan dirimu, dan kita pulang...cup..." kata Levin sambil membelai rambut Sesil dan mengecup bibir nya sekilas.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Sesil.
"Apa?"
"Apa aku boleh tau apa alasan tuan menikahi ku?"
Levin hanya diam, Sesil setia menunggu beberapa saat jawaban dari lelaki yang memang beberapa kali melamarnya itu, merasa tak mendapatkan jawaban, Sesil berdiri dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
#######
"Mbak.... Bianca nya di taruh troli saja"
Kata Ela yang sedang berbelanja di sebuah supermarket bersama pengasuh Bian anaknya.
__ADS_1
"Iya Bu"
Ela memilih beberapa bahan makanan yang akan di jadikan sebagai menu makanan Bian, adanya yang berusia dua tahun lebih.sedang asyik memilih bahan-bahan tiba-tiba seseorang menjatuhkan beberapa karena terlihat terburu-buru.
"Ehhh maaf...saya tidak sengaja" kata orang tersebut
"Tidak apa-apa, biar saya bantu membereskan nya" kata Ela
"Maaf merepotkan!"
Akhirnya Ela dan orang tersebut membereskan kekacauan itu.
"Wah...ini anaknya? lucu sekali!" katanya
"Iya.... namanya Bianca" kata Ela
"Oya..ini...saya punya tempat baby spa, barangkali mau mencoba dan ini masih promo karena kami baru buka 1 bulan ini, di daerah sini juga, saya akan kasih diskon tentunya" orang tersebut menyerahkan sebuah brosur.
"Baiklah saya akan mencobanya besok-besok" kata Ela
"Oya....saya Edo"
"Saya Ela, Oya saya sudah selesai belanjaan nya, saya pergi dulu"
"Baiklah, hati-hati di jalan Ela, datang ya Bian..." Kata Edo sambil melambaikan pada si kecil Bian.
Ela sudah menjauh pergi ke arah kasir.
"Siapa?" tanya Vandi di belakang Edo.
"Dia?....dia akan menjadi pintu masuk untuk membalaskan dendam mu baby!" kata Edo dengan seringai licik nya, dan Vandi sangat senang dengan rencana Edo.
"Ayo pulang!....aku ingin di pijat malam ini!!' kata Edo sambil berjalan keluar di ikuti Vandi.
__ADS_1
bersambung