
Ayana dan Kay masih berbincang sambil membolak-balik kan daging panggang nya, Ela lebih dulu pergi karena Bian harus minum susu terlebih dahulu. Ayana dan Kay berencana untuk menjodohkan Levin dengan Sesil.
"Emang Kak Levin mau? atau emang Sesil mau?" kata Kay
"Ay, kamu tau kan, kak Levin itu tembok berjalan kalau berhubungan dengan wanita!! udah ada beberapa anak klien Papa yang di sodorkan Papa untuk kencan buta, dan hasilnya.... wanita-wanita itu memilih pulang sendiri ke rumah mereka dan tak mau lagi bertemu dengan kak Levin!!" lanjut Kay.
"Iya juga ya.....mulut Kak Levin itu pedasnya udah kayak makan cabe 10kg....pedeeees banget!!" saut Ayana dan di akhiri tawa mereka bersama.
"Emang siapa yang mulutnya pedas sayang?"
tanya Leo sambil memeluk Ayana dari belakang.
"Iihh lepas sayang!! mana Rey....?"
kata Ayana sambil berusaha melepaskan belitan tangan Leo di perutnya.
"Dasar bucin akut!!" ejek Kay.
"Biarin!!.... Rey sama mbak nya, aku mau nyobain ini dong Yang!" kata Leo sambil menunjuk pada daging yang ada di piring Ayana, Ayana baru saja memindahkan potongan daging panggang nya ke piring.
"Iya...sini aku potongin!... Kay kalau kamu capek berhenti dulu, lagian kamu gak makan juga" kata Ayana.
"Biar aku bantu aja" kata Boy yang baru saja datang, dia merasa kasian pada Kay yang hamil karena terus berdiri di depan pemanggangan.
"Kamu jangan makan ini sayang.....jangan makan daging panggang!"
kata Boy sambil membawakan beberapa daging yang dia masak matang sempurna di dapur markas.
Kay sejak hamil di minta Boy untuk tidak makan daging setengah matang seperti steak dan daging panggang.
Kay menerima satu piring daging yang barusan di bawa Boy.
"Al sama mbak nya Kak?" tanya Kay yang tak melihat Al anaknya.
"Iya...dia main di dalam sama Shasha" kat Boy.
__ADS_1
"Kakak tau kalau Kak Levin menampung Sesil di apartemennya?" tanya Kay, dia memang belum sempat membahas kembalinya Sesil dan sekarang tinggal serumah dengan Kakak nya.
"Iya... Kakak tau, Kak Levin sebenarnya kurang nyaman, tapi katanya wanita itu cukup tau diri, di jam Kak Levin pulang,dia bersembunyi setelah menyiapkan makanan untuk Kak Levin agar tak bertemu dengan Kak Levin, Karena itu Kak Levin membiarkannya tinggal di sana"
kata Boy yang memang sekarang begitu dekat dengan Levin, bahkan mereka bisa saling curhat satu sama lain sekarang.Sejak lulus kuliah dan menjalankan perusahaan nya sendiri-sendiri, empat sekawan sering bertambah satu anggota yaitu Levin jika berkumpul di cafe atau di markas, walaupun Levin tak sesering empat sekawan.
"Kalau Kak Levin sama Sesil menurut Kakak gimana?"
tanya Kay meminta pendapat Boy.
"Jangan pikir kan itu sayang! kamu tau kan bagaimana Kakak mu? kalau kamu berusaha melakukan itu,bukan kak Levin yang bakal menderita, tapi wanita itu! bisa-bisa wanita itu di usir sama Kak Levin!"
Kata Boy dan Kay hanya manggut-manggut tanda mengerti, Boy sesekali melayangkan kecupan di puncak kepala istrinya yang sedang menikmati makanan nya.
Setelah Boy memanggang semua daging dan memindahkan di wadah, mereka berjalan ke arah temannya yang lain berkumpul dan menikmati hidangan sambil berbincang kesana kemari.
#########
"Aduuhh gimana ini?" tanya Sesil pada dirinya sendiri.
Pagi ini Sesil mendapati dirinya tengah mengalami mentruasi,namun dia tak punya uang untuk membeli pem*balut.Uangnya sudah dia belikan mie instan kemarin,karena kadangkala dia merasa lapar dan kehabisan makanan.Levin seolah lupa kalau ada orang lain lagi di apartemen nya, hingga ketika belanja bulanan Levin membelinya sama jumlahnya seperti saat dulu masih sendiri.Sesil pun kadang berkerja keras untuk mengolah bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Sudah satu bulan mereka tak bertemu satu sama lain, jadi Sesil kali ini akan berbicara pada Levin untuk meminta uang.
tanya Levin ketika melihat Sesil berdiri agak jauh dari tempatnya sarapan, karena tak biasa nya dia menunggu Levin makan.
"Tu-tuan... bolehkah aku me-minta uang?"
tanya Sesil dengan gugup.
braaakkk.....
Levin meletakkan sendok nya yang selesai dia gunakan di meja dengan suara keras.
"Apa maksud ka...." belum juga suara Levin berlanjut, Sesil sudah memutus dengan penjelasannya
"Buat beli pem*balut tuan!!" jawab Sesil dengan cepat.
__ADS_1
Levin hanya menghela nafasnya pelan, dia mengambil uang dari dompetnya dan pergi begitu saja, namun sebelum dia jauh dia berhenti.
"Mulai sekarang kau yang akan membeli bahan makanan, aku berasa seperti babu mu kalau harus belanja bulanan!!" kata Levin,si mulut pedas itu.
"Baik Tuan!!" saut Sesil
"Dan ingat!!! beli di supermarket bawa apartemen saja!! beli dengan kualitas yang bagus!! aku rasa bekas orang kaya seperti mu pasti tau kan bahan yang bagus?" kata Levin lagi.
"Baik Tuan! saya tau....jadi saya boleh keluar apartemen Tuan?"
tanya Sesil dengan takutnya.
"Hemmmmm!"
saut Levin yang kemudian berlalu keluar dari apartemennya, asistennya sudah menunggu di bawah untuk berangkat ke kantor, sesampainya di bawah dan Levin langsung masuk mobilnya. Dia memerintahkan asistennya untuk mengirimkan beberapa daftar makanan kesukaan ataupun yang tak disukai Levin kepada Sesil, dan juga daftar barang yang harus dia beli setiap bulan,sang asisten mengiyakannya.
Kay dan Ayana ternyata punya cara lain untuk menjodohkan Levin dan Sesil, mereka meminta Kiara untuk datang ke apartemen Levin disaat Levin sedang masuk ke kantornya, Kiara berpura-pura datang ke sana untuk mengantarkan beberapa makanan agar Levin tak curiga tentang pengaduan Kay dan juga Ayana pada Kiara..
Tit...tit...tit
suara tombol kunci apartemen berbunyi, namun Sesil yang baru memasukkan barang-barang ke dalam kulkas setelah tadi berbelanja di supermarket bawah apartemen tak begitu mendengarkannya yakin hanya Levin dan dia yang tahu password apartemen tersebut dan saat ini Levine pasti sedang di kantor jadi dia tak begitu mampu mendengarkan kunci apartemen yang telah terbuka.
"Kau siapa?"
tanya Kiara yang memang di minta Kay dan Ayana untuk bersikap biasa saja.
"saya pembantu Tuan Levin nyonya!"
Jawab Sesil sambil berdiri di depan kulkas.kiara nampak melihat dari bawah sampai kembali ke atas tubuh Sesil. Sesil memang cantik apalagi beberapa luka di dahi nya sudah nampak menipis, berat badannya pun sudah sedikit naik selama 1 bulan tinggal bersama dengan Levin berat badannya naik hampir 1 kilo,hal itu membuat wajah tirus Sesil tak begitu terlihat kurus.
"Baiklah... simpan makanan ini,.dan layani anakku dengan baik!" kata Kiara sambil tersenyum manis padanya.
jujur saja saat melihat senyum Kiara, Sesil merasa berdebar hatinya, dia tidak mengira bahwa Kiara sedikit bersahabat daripada anaknya yaitu Levin majikannya sendiri.
"Baik nyonya"
__ADS_1
jawab Sesil dengan hormat.
bersambung...