
Di kediaman rumah pak Hadi, lelaki paru baya itu sudah mondar-mandir tak karuan, salah satu anak buahnya yang bertugas untuk mengawasi dan membuntuti Leo ke tempat di mana Sesil yang anak membawa Ayana, nyatanya tak kunjung kembali, pak Hadi dengan cemas menunggu kedatangan anak buahnya dan juga Sesil tentu nya.
tok.....tok.....tok....
"Masuk!" perintah pak Hadi
"Tuan !" sapa anak buahnya
"Bagaimana? di mana Sesil? apa yang mereka lakukan pada anakku?" berbagai macam pertanyaan di lontarkan oleh pak Hadi.
"Tuan! maafkan kami! Kakak dari perempuan yang di sandra Nona muda membawa Nona muda Tuan! kami kehilangan jejaknya!"
kata salah satu anak buahnya, yang membuat kekawathiran dan kecemasan nampak jelas di sana.
"Siapa? siapa pelakunya?"
"Tuan Levin, kakak sepupu Nona Ayana tuan!" saut nya.
Pak Hadi lemas seketika sambil memegang dadanya yang terasa nyeri, dengan sigap anak buahnya menuntut pak Hadi agar duduk di sofa dan seorang pelayan berlari membawakan sebuah obat untuk pak Hadi.Kebodohan dan obsesi sang anak membuat nya berada dalam masalah besar, ingin lapor polisi pun, ujungnya anaknya lah yang salah, karena semua yang terjadi berawal dari tindakan sang anak.
"Tuan, besok saya akan temani Anda untuk bertemu dengan tuan Levin!" kata salah satu anak buahnya mencoba menenangkan pak Hadi.
"Ya...aku harus bertemu dengan dia, anakku......aku harus bertemu dengan anak ku!" kata pak Hadi dengan tatapan kosong nya.
__ADS_1
Sementara Ray dan Tian serta Johan, nampak duduk santai di Markas, Johan menceritakan tentang bagaimana tindak tanduk sang anak, Levin yang susah untuk dia kendalikan.
"Apa dia menyekap gadis itu Jo?" tanya Tian sambil meminum kopi panas nya.
"Hemmm.....gue tidak tau di bawa kemana gadis itu! Gadis itu berani berbuat nekat pada Ayana!" kata Johan.
"Levin tau apa yang akan dilakukan nya Jo! jangan terlalu khawatir!" kata Ray
"Gue harap, Levin masih tau batasan nya!" saut Johan sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.
"Cinta anak muda jaman sekarang sedikit gila!" keluh Tian
"Ya....gue akan mengawasi tindakan Levin, gue gak mau dia terlalu berlebihan!" kata Johan
"Benar Tian!" saut Ray.
"Cekc...... seenggaknya gue gak pernah nyekap anak gadis orang!!" bantah Johan.
pertemuan tiga serangkai terus saja membicarakan tentang tindak-tanduk Levin, anak Johan. Johan hanya tak mau Levin menyakiti Sesil terlalu dalam,Karena bagaimanapun juga Levin juga mempunyai seorang adik perempuan dan seharusnya Levin mempunyai perasaan sedikit agar tak keterlaluan memperlakukan Sesil, walaupun Sesil sudah jahat terhadap Ayana begitulah pikir Johan.
Beberapa hari berlalu begitu saja, Levin meninggalkan Sesil bersama Safea yang sesekali menjaganya, namun pada akhirnya Sesil dibiarkan hidup sendiri di villa tersebut dengan pengawasan dari luar, Levin melakukan nya tanpa terlihat mencolok di dari luar,hingga nampak dari luar Vila tersebut kosong, Sesil sangat tertekan, dia berusaha berkali-kali untuk kabur dari tempat tersebut namun berkali-kali juga para pengawas yang diperintahkan Safea yang untuk mengawasi Sesil selalu menangkapnya.
Pak Hadi terus mencari keberadaan Sesil dan beberapa kali dia mencoba untuk menemui Levin di Perusahaan nya namun dengan tegas Levin menolak kedatangan Pak Hadi, bahkan Pak Hadi yang notabennya seorang pengusaha besar rela menunggu Levin di lobby kantornya hanya untuk menemui lelaki tersebut, Sesil yang dibiarkan hidup sendiri di villa tanpa ada orang yang membantunya walaupun di sana ada beberapa pengawal yang mengawasinya, hidup Sesil sudah nampak berantakan, Levin terus mengawasi Sesil dari kamera cctv yang tersebar di seluruh ruangan, Sesil seakan hidup sendiri bahkan untuk makan saja dia harus bisa mengoperasikan kompor di dalam dapur villa tersebut,si anak manja yang tidak pernah masuk dapur pun merasa frustasi karena tak ada makanan yang bisa dia makan bahkan memasak mie instan saja Sesil tidak bisa walaupun di dalam kemasan sudah tertera bagaimana cara memasak nya.
__ADS_1
"Aaaarrrgggghhhh........ keluar kan aku dari sini!!! tolong!!!"
Teriak Sesil sambil mengedor pintu rumah, para penjaga hanya diam saja dan seakan tak mendengar teriakkan dari Sesil. Mental Sesil mulai terganggu, dia berhalusinasi dan nampak ketakutan.Bahkan beberapa kali dia nampak meringkuk di kasur nya karena ketakutan. Sesil beranggapan dia tak suci lagi ketika keesokan harinya ketika kejadian naas saat pertama kali di bawa ke vila tersebut, Sesil mendapati dirinya tanpa busana di atas ranjang.
"Jangan!!....jangan lakukan ini padaku!!" gumam Sesil lirih.
"Papa....papa....tolong Sesil!!! Sesil kapok pa!! Sesil pengen pulang!!" gumamnya lagi.
"Papaaaaa.....tolong Sesil paaaaa!!" teriak Sesil dengan sisa tenaga nya sebelum akhirnya dia pingsan.
Levin yang memang sengaja datang untuk melihat si anak manja itu, nampak membawa seorang dokter kepercayaan nya. melihat Sesil pingsan, Safea hanya diam saja tanpa bergerak,dia hanya memberikan isyarat pada dokter agar memeriksa nya.
"Bagaimana?" tanya Levin sambil duduk di sofa dan menyulut rokoknya.
"Dia mengalami dehidrasi tuan!" kata kata sang dokter menjelaskan.
"Pasang infus nya! aku belum puas melihat dia menderita!" ..
Levin nampak membiarkan anak buahnya memasang infus pada Sesil dan dengan senang Levin ingin melihat pertama kali Sesil terbangun dan melihat keberadaan dirinya di sana.
Sungguh Sesil salah mencari seorang musuh.
bersambung
__ADS_1