Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Episode 8: Bertemu Orang Tua lagi


__ADS_3

Akhirnya jam 8 pagi Bima sampai di kota Jogjakarta, Bima memesan ojol ke tujuan kampungnya yang agak jauh dari terminal. Sesampainya di gapura kampung, Bima turun dan membayar ongkos ojol lalu berjalan menuju rumah orang tuanya.


"Mas bim, kok udah pulang? gak betah?" tanya seorang warga.


"Di suruh pulang bentar, ada yang ketinggalan." jawab Bima.


"Ohh syukur deh kalau betah, sukses ya mas!" ucap warga itu lega.


"Makasih buk." ucap Bima lanjut berjalan menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, Bima melihat ibu dan bapak kost yang sedang duduk santai di teras rumah di temani teh hangat.


"Wahh dateng beneran anaknya!" ucap ibu kost kaget.


"Lahh tadi di suruh pulang! gimana si!" ucap Bima bingung.


"Hahaha enggak, bercanda! kamu sensian banget sih!" ucap ibu kost tertawa geli.


"Udah sana masuk, ibuk kamu nungguin tuh." ucap bapak kost.


"Okey!" jawab Bima masuk ke dalam rumah.


Saat masuk rumah, Bima kaget melihat sanak saudaranya termasuk adiknya dan beberapa orang asing berkumpul di sana.


"Wehh anak bapak dah datang! sini duduk!" ucap Aryo senang melihat anaknya yang terlihat segar bugar.


Bima menuruti perintah ayahnya dan duduk di sampingnya walaupun masih kebingungan.


"Kakak merantau kok enggak bilang bilang?" tanya adik Bima bernama Diana Panangsang.


"Males, kamu aja di hubungi susahnya minta ampun mau ijin segala." jawab Bima.


"Iya maap hehe..." ucap Diana terkekeh.


"Ini ada apa si? gak ada yang jelasin apa?" tanya Bima bingung.


"Jadi gini, bapak sama ibuk kamu setuju buat nikahin kamu sama Lina. Kenapa? soalnya Lina belum isi, semalam kita cek ke dokter ternyata hasil tespack yang di lihat Lina belok. Dari pada mereka datang kesini dan pulang tangan kosong mending sekalian jodohin aja. Dan Lina nya sendiri juga setuju." ucap Aryo menjelaskan.


"Terus?" tanya Bima.


"Ya nikah! ngapain lagi!" jawab Aryo.


"Kapan?" tanya Bima.


"Kamu bisanya kapan? sekarang di rembuk sekalian mumpung lagi kumpul semua." jawab Aryo.


"Katanya terima jadi! gimana sih! wah plin plan!" ucap Bima kesal.


"Kita juga perlu pendapat kamu! dasar anak bodoh!" ucap Aryo gemas ingin sekali memukuli anaknya yang bodoh itu.


"Bentar, Bima telpon bos dulu, jadwal free nya kapan biar enak." ucap Bima.


Bima menelepon Albert, bertanya mengenai hari libur.


"Halo, bos aku free nya kapan ya?" tanya Bima.


"Besok sabtu minggu kamu Free, kantor libur saya juga libur." jawab Albert.


"Okey! makasih bos infonya!" ucap Bima.


"Iyaa..." jawab Albert menutup telepon.


"Sabtu minggu free, bapak tentuin tuh mau hari apa." ucap Bima.


"Besok aja langsung! resepsinya belakangan aja dana masih belum cukup." ucap Aryo.


"Gimana Lina? kamu setuju enggak?" tanya ayah Lina.


"Aku ikut mas Bima aja." jawab Lina tersebut manis.


"Gimana bim?" tanya ayah Lina.

__ADS_1


"Ya udah gas." jawab Bima santai.


"Ya udah, kalian ke toko emas sana beli cincin." ucap Aryo.


"Ya." jawab Bima beranjak pergi diikuti Lina.


Bima meminjam motor milik tetangganya lalu mengajak Lina pergi ke toko emas.


"Mbak mau yang berapa gram?" tanya Bima di tengah perjalanan.


"Terserah mas aja." jawab Lina memeluk Bima erat.


"Satu kilo?" tanya Bima.


"Ngawur! sewajarnya aja!" ucap Lina menepuk pundak Bima keras.


"Hahaha....yang 5 gram aja ya." ucap Bima.


"Iya terserah mas aja." jawab Lina.


Akhirnya mereka sampai di toko emas, Bima menyuruh Lina memilih cincin yang dia suka. Lina tipe wanita yang sekali suka langsung beli jadi tidak lama jika menemaninya belanja.


Lina menunjuk sebuah cincin emas cantik 5 gram dan terlihat cocok jika dia pakai.


"Yang ini?" tanya Bima.


Lina hanya menganggukkan kepalanya, Bima mengurus administrasi nya, setelah beres mereka pun pulang ke rumah.


"Wohh cepet amat! gak jalan jalan dulu?" tanya Aryo kaget.


"Kasihan mas Bima, baru dateng soalnya." jawab Lina.


"Iya juga, udah sana istirahat, nanti malam lamaran jangan kebo." ucap Aryo.


"Iya iya!" jawab Bima beranjak pergi ke kamarnya untuk istirahat diikuti Lina yang di suruh Soraya.


Bima melepas jaket dan celana panjangnya hingga hanya menyisakan kolor dan kaos abu-abu polosnya.


"Loh, mbak Lina mau ngapain?" tanya Bima kaget.


"Kalau mau tidur, tidur aja, aku mau mandi sebentar." ucap Bima masuk ke kamar mandi.


Sembari menunggu Bima mandi, Lina tiduran di kasur Bima yang tercium semerbak wangi maskulin.


Tak lama Bima pun selesai mandi, dia berpakaian kolor pendek dan kaos hitam polos.


"Mbak mau tidur sekasur sama saya?" tanya Bima masih canggung.


"Iya, kamu kan calon suami aku, udah sini bobok." jawab Lina tersenyum lembut.


Bima hanya menurut dan berbaring di samping Lina, Lina dengan sigap memeluk Bima erat sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bima.


"Makasih ya mas udah nerima aku apa adanya. Aku janji bakal jadi istri yang baik." ucap Lina.


"I-iya deh iya iya..." jawab Bima geli karena Lina bicara saat bibirnya menyentuh dadanya.


"Udah mas bobok yang nyenyak, nanti sorean aku bangunin." ucap Lina duduk lalu mencium pipi Bima dan pergi keluar kamar.


'Anj*ng bikin ngac*ng!' batin Bima merasakan Stephen berontak di bawah sana.


"Ah udahlah! bikin pusing aja!" gumam Bima lalu menutup mata sambil memeluk guling.


Bima tertidur nyenyak dan bangun pada sorenya jam 5, itupun karena di bangunkan Lina, kalau tidak ya bablas sampai tengah malam.


"Bangun mas, dah sore." ucap Lina mengelus pipi Bima dengan lembut.


"Hemphhh...jam berapa ni mbak?" tanya Bima memeluk Lina yang sedang duduk.


"Jam lima, makan dulu habis itu mandi, atau mandi dulu baru makan." jawab Lina dengan lembut.


"Bentar aku masih pingin cium wangi mbak hehe..." ucap Bima masih memeluk Lina sambil menghirup dalam dalam aroma wangi Lina.

__ADS_1


"Buruan mandi mas, ntar di marahin bapak." ucap Lina.


"Iya deh..." jawab Bima beranjak pergi ke kamar mandi.


Sedangkan Lina menyiapkan pakaian Bima untuk acara lamaran. Setelah itu dia pergi keluar menemui keluarga lainnya.


Selesai mandi, Bima memakai pakaian yang sudah di siapkan Lina di atas ranjang. Setelah berpakaian rapi dan wangi, Bima keluar kamar menyapa keluarga besar nya.


Barulah setelah Bima datang, acara lamarannya di mulai. Bima melamar seorang wanita yang belum genap sebulan dia kenal, dan sudah tidak perawan lagi. Namun Bima menerimanya apa adanya karena sudah ada bibit-bibit cinta di hati Bima.


Malam itu acara lamaran berjalan lancar tanpa hambatan. Keesokan hari mereka lanjut ke kantor agama terdekat untuk melakukan sumpah janji setia selamanya.


Setelah itu mereka mendapatkan buku nikah dan sah menjadi suami istri. Setelah itu mereka pun kembali ke rumah untuk makan makan sederhana sebagai perayaan hari bahagia ini.


Bima yang masih sangat lelah pun setelah makan langsung istirahat kembali dan nanti malam harus pulang ke Jakarta supaya bisa istirahat yang cukup.


"Mbak pulangnya sama aku atau ibuk kost?" tanya Bima.


"Sama budhe aja, kamu duluan aja, kasihan kamunya kalau harus nunggu kita." jawab Lina.


"Iya udah, sorean aku berangkat." ucap Bima menguap.


"Udah istirahat dulu aja." ucap Lina mengecup pipi Bima dua kali lalu pergi keluar kamar.


Bima pun tertidur pulas dari jam 11 sampai jam 3 lebih 15 menit. Dia bangun karena ponselnya yang berdering tanda telepon masuk.


"Halo, ada apa bos?" tanya Bima ketika melihat nama kontak yang meneleponnya.


"Kamu dimana?" tanya Albert.


"Di Jogja bos, nanti sore baru balik ke Jakarta." jawab Bima.


"Besok ikut ke puncak tidak? liburan satu kantor." tanya Albert.


"Enggak dulu bos, capek badan saya." jawab Bima.


"Kalau gitu kamu libur 4 hari dari besok, masuk kamis jumat, sabtu minggu libur lagi." ucap Albert.


"Iya bos." jawab Bima senang karena bisa istirahat puas.


Setelah itu Albert pun menutup teleponnya, sedangkan Bima pergi cuci muka dan bersiap untuk kembali ke Jakarta.


"Mau berangkat dek?" tanya Soraya melihat Bima berpakaian rapi.


"Iya, suruh bos cepet balik." jawab Bima.


"Lina?" tanya Soraya.


"Katanya mbak Lina mau bareng budhe tadi." jawab Bima.


"Ohh, hati hati ya, semoga selamat sampai tujuan." ucap Soraya.


"Amin." jawab Bima.


Setelah berpamitan, Bima pun memesan ojol ke stasiun, kali ini Bima memakai angkutan umum kereta api karena sudah di belikan tiket oleh Lina.


.


.


.


.


Sesampainya di stasiun Gambir, Bima menelepon Tigor karena biasanya jam 11 gini dia belum tidur dan masih nongkrong di warkop.


"Halo, kemana aja kau? dua hari ngilang!" tanya Tigor.


"Ke Jogja, sekarang jemput di stasiun Gambir, cepetan." jawab Bima.


"Otw, tunggu bentar." ucap Tigor gercep.

__ADS_1


15 menit kemudian, Tigor datang menjemput Bima yang sedang menunggu di tempat tunggu biasanya. Mereka berdua pun kembali ke kostan, sesampainya di kost Bima langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Tigor lanjut nongkrong nonton MMA di warkop Inyong.


Bersambung.....


__ADS_2