Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Lee dan Fabri nampak berpikir bagaimana cara menyampaikan berita ini pada Ray dan juga Kevin, Fabri merasa tak becus menjaga anak dan juga istrinya itu.


Tiba-tiba Boy dan Leo datang ke rumah Fabri.


"Bagaimana? ada perkembangan?" tanya Leo dengan tak sabar.


"Belum, Ela tak membawa tas nya, dan baru saja baby sitter Bian di kirim ke sini!" kata Lee


"Maksud nya?" tanya Boy yang tak paham


"Berupa mayat!" lanjut Lee


"Oh God!!" seru Leo dan Boy serempak.


Jelas ini bukan masalah sepele lagi bagi mereka, Fabri sudah nampak kacau, berulang kali Lee menepuk bahu sahabatnya itu, mencoba menguatkan hati Fabri dan selalu berpikiran positif.


"Hubungi kak Levin dulu! barangkali bisa membantu!" kata Boy memberi ide.Tanpa banyak bicara lagi, Fabri meraih ponselnya dan menghubungi Levin, dia belum sanggup memberitahu Papa nya.


"Hallo!" jawab Levin


"Kak....ini Fabri! aku butuh bantuan Kakak!" kata Fabri


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Levin


Fabri menceritakan secara singkat masalahnya, dan dia segera menutup sambungan teleponnya karena Levin berkata akan segera ke sana.


Di dalam kantor Levin, dia nampak membenahi beberapa berkas dan memanggil asisten sekaligus sekertaris nya, Ali.


"Ada apa tuan?" tanya Ali ketika sudah masuk ke dalam ruangan Levin


"Kerjakan beberapa berkas ini, dan nanti malam antar ke apartemen, aku akan memeriksa nya" kata Levin sambil menyodorkan beberapa berkas penting.


"Apa tuan tidak kembali ke kantor?" tanya Ali


"Tidak! aku ada urusan penting!" kata Levin

__ADS_1


Sesil nampak terdiam, dia masih bingung, tadi Levin meminta dia untuk menunggu dan akan pulang bersama, tapi setelah menerima panggilan telepon,Levin tiba-tiba ingin pulang.


"Ayo...aku antar pulang!" katanya pada Sesil


Sesil yang masih terbengong hanya menurut ketika tangannya di genggam oleh Levin,Levin nampak begitu mesra di mata para karyawan yang di lewati nya, lelaki kaku,datar dan bermulut pedas itu baru sekali ini membawa seorang wanita dan wanita sederhana itu nampak cantik dan terlihat malu. Levin nampak cuek dengan sikap para karyawan dan juga sikap Sesil, bahkan berulang kali Sesil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Levin.


"Kenapa?" tanya Levin setelah sampai di dalam mobil, dia kali ini mengendarai mobil nya sendiri.


"Tidak! hanya saja, apa tuan tidak malu?" tanya Sesil


"Malu kenapa?" tanya Levin.


"Ya malu! karena menggandeng tangan pembantu nya!" ucap Sesil semakin lirih.


Levin sesaat memandang wajah Sesil, dia benar-benar tak tau bahwa Sesil sekeras kepala itu, kode-kode yang di berikan oleh Levin pada Sesil benar-benar tak berguna, bahkan setiap malam Levin selalu meminta Sesil tidur di kamar nya, Dengan dalih belajar jadi seorang istri, Levin sering kali mengakali Sesil. Ciuman manis setiap pagi juga di sinyalir sebagai kode dari Levin bahwa lelaki kaku itu sudah menetapkan hatinya untuk Sesil, namun Sesil seakan tak tau semua itu, tanpa Levin sadari sebenarnya Sesil tau semuanya, dia bahagia, tapi sebagai wanita Sesil jelas-jelas ingin kejelasan status hubungan nya dengan Levin.


Levin dengan gerakan cepat menarik tengkuk belakang Sesil dan menciumnya, melumaaat sedikit kasar karena emosi nya tiba-tiba naik, cukup lama dia melakukan nya sampai sebuah tangan memukul dada nya semakin keras.


Hosh....Hosh...... Hosh.....


"Masih mau bilang kau pembantu ku?" tanya Levin, Sesil hanya diam.


"Mana ada pembantu dan majikan berciuman Sesil!! sekali lagi kamu bilang kalau kamu pembantu ku!! aku pastikan.....mobil ini akan bergoyang di parkiran karena pertempuran panas kita!" ucap Levin di akhir i dengan bisikan yang membuat Sesil nampak meremang. Sesil langsung membenarkan duduknya, dia tak mau lagi berkomentar, karena dia takut konsekuensinya berikut nya, Levin hanya tersenyum tipis melihat tingkah Sesil.


Suasana rumah Fabri


Rupanya tak perlu empat sekawan melaporkan kejadian itu pada Ray dan Kevin, nyatanya anak buah dang papa lebih dulu melaporkan pada keduanya, Dan Kevin memutuskan untuk menjemput Ray dan segera berlanjut ke rumah Fabri.Bersamaan dengan datang nya Ray dan Kevin, mobil Levin juga nampak memasuki rumah besar milik Fabri.


"Papa!" ucap Fabri dan Lee bersamaan ketika melihat Papa mereka masing-masing.


"Apa ada perkembangan?" tanya Ray


"Ada apa ini? ada yang bisa menjelaskan pada ku?" tanya Levin yang baru saja masuk.


Lee yang bisa bercerita panjang lebar, karena terus terang saja Fabri sudah tak bisa berbuat banyak, bahkan di ajak berbicara saja terkadang tidak nyambung.

__ADS_1


"Kamu harus kuat!!" kata Kevin


"Iya pa....tapi Ela pa....hiks... Bian pa.....!!" Fabri akhirnya menuntaskan segala kesedihan nya, dia memeluk Papa nya sambil terus menangis. Semuanya merasa iba akan keadaan Fabri.Levin segera bertindak, entah siapa yang dia telpon saat ini, namun tak kurang dari 30 menit, Levin nampak tersenyum tipis.


"Dapat!!" kata Levin


"Bagaimana Kak??" tanya Fabri antusias, dia sudah menyeka air matanya tat kala Levin memekik senang.


"Ank buah ku sudah menemukan mobil yang membawa Ela dan Bian dari berbagai cctv yang ada di daerah itu, sayangnya.....!!" kata Levin berhenti sejenak


"Sayangnya apa Kak??" tanya Lee


karena panik dan kacaunya Fabri membuat empat sekawan tak berpikir tentang cctv yang ada di area luar parkir, yang mereka fokus kan hanya area parkir saja.


"Sayangnya mobil itu sudah berganti ketika mereka menurunkan Ela dan Bian serta membunuh baby sitter Bian" kata Levin.


"Tapi jangan khawatir! perkiraan tempat nya sudah aku dapat kan!!"


Di sisi lain, Edo mendapatkan kabar dari informan nya bahwa keberadaan nya sudah di ketahui oleh pihak Fabri.


"Oohh God Ela sayang..... ternyata suami mu di kelilingi orang-orang jenius!! baiklah.... Time for action!!!" kata Edo


"Siapkan mobilnya!!" perintah Edo pada anak buahnya.


"Edo aku mohon!! lepaskan aku!!! lepaskan aku!!!" ucap Ela dengan deraian airmata nya, Bian sang anak bahkan sudah menangis melihat sang Mama nampak kacau.


"Tidak sayang!!! ini akan menjadi pelajaran berharga untuk siapa.....ehmmm....ah....iya... empat sekawan!! hahahahahaha!!" saut Edo


"Setidaknya lepaskan anakku!!!! lepaskan anakku saja!! kau boleh melakukan apapun padaku!!" kata Ela yang berusaha mengambil simpati Edo agar mau melepaskan.


Edo nampak melihat ke arah balita mungil itu, Edo nampak tersenyum dan Bian yang memang mengenali Edo ikut tersenyum memandang ke arah Edo.


Ella berdoa dalam hatinya, dia berharap sekali Edo mau melepaskan Bian, Ela akan melakukan apapun untuk Bianca anaknya, biarkan dia mengorbankan dirinya,asal Bian bisa selamat.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2