
Tian masih menatap tajam Beniqno yang sudah duduk manis di samping istrinya, Setelah peristiwa memalukan tadi Tian benar-benar ingin sekali memukul lelaki di hadapannya itu.
"Tarik nafas Tian...sabar!....sabar!!" ucap Tian pelan, namun entah mengapa Nay begitu menyukai wajah imut dokter yang pernah dia Kagumi itu cemberut, seperti ada kebahagiaan sendiri, mungkin saja ini adalah acara ngidam ibu hamil yang konon katanya banyak yang di luar nalar, namanya juga ngidam ibu hamil,gak pernah ada yang bisa menyalahkan nya.
"Ngapain kamu senyum-senyum sama dia Canim?" ucap Ben terlihat galak seperti biasa.
"Dokter Tian imut banget sayang....coba anak kita mirip dia nanti!" ucap Nay tak takut ketika memuji ketampanan dan keimutan Tian.hal itu tentu saja membuat Ben mendidih hatinya, hal itu terlihat jelas di depan mata Tian dan dengan seringai licik nya seakan berkata inilah saatnya membalas perlakuan Ben yang sudah menurunkan wibawanya di depan para suster dan juga Antoni asisten nya Ben.
"Benarkah Nay? kalo begitu aku akan mengijinkan kamu memandang wajahku setiap saat bagaimana?" ucap Tian
"Beneran dok?" tanya Nay antusias.
"Bagaimana kalo setiap pagi aku mampir ke rumah kami Nay?" kata Tian semakin menjadi.
"Berani kau masukkan kakimu di pekarangan rumahku! maka samurai ku siap menebas kakimu Tian!!" ucap Ben dengan menekankan setiap katanya.
"Hahahaha hahahah...dasar Casanova bucin!!" ucap Tian sambil berlalu dari ruang rawat Nayla.
"Ooh ya Tuan Ben yang terhormat... sebaiknya kurangi acara mantaf-mantaf mu dengan Nay, karena itu bahaya bagi bayinya saat ini!" kata Tian sebelum keluar dari ruangan, Tian memang bukan dokter kandungan,namun tentu saja dia tau semuanya karena ada dokter kandungan yang membantu dia di UGD tadi.
"Dan kau Nay,....jika suami mu tak tahan dan mencari j@lang! potong saja terong miliknya! ha ha ha ha ha!"
"Brengseeek!!! keluar sana dasar dokter gila!!!" teriak Ben
"Ben....sayang! jangan teriak-teriak!" ucap Nay dengan memukul lengan Ben,dengan masih memendam rasa cemburunya pada Tian, Ben menghembuskan nafasnya pelan,dia memandang ke arah Nayla.
__ADS_1
'Jadi begini rasanya cemburu buta?' batin Ben yang membayangkan Nayla cemburu saat dia di hampiri atau di datangi wanita ke kantor atau di manapun dia berada bersama Nayla.Ben ikut berbaring di ranjang rumah sakit tersebut, kemudian menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Nayla.
"Tidurlah! istirahat yang cukup,besok kita boleh pulang! dan ingat!! jangan lakukan apapun di rumah! kalo tidak aku akan memecat semua pelayan di rumah! kau mengerti?" ucap Ben, Nayla menelan salivanya sendiri menatap mata galak suaminya.
"Iya....iihh jangan galak-galak!! ntar anakmu ikutan galak!! aku gak mau!!" ucap Nayla sambil menengelamkan wajahnya di dada sang suami.
"Aku yang bikin Nay! wajar kalo wajah dan sifat nya sama dengan aku!! masa' kamu berharap imut seperti Tian!!! kalo lelaki dia harus gagah dan macho seperti Daddy nya!"
Nayla yang tak mau berdebat dengan Ben hanya mengangguk di dalam dekapan suaminya sambil memejamkan matanya.
##########
"Kenapa?" tanya Ray pada Maysha yang berdiri di balkon kamar mereka, pemandangan taman belakang menjadi kesenangan tersendiri bagi Maysha.Ray melingkarkan tangannya ke perut sang istri.
"Nayla hamil mas!" ucap Maysha
"Kenapa?" tanya Ray
"Kapan aku hamil ya mas?" tanya Maysha tertunduk, Nayla hamil sedangkan dirinya belum padahal mereka menikah hanya berselang beberapa hari saja.
cup....kecupan singkat di layangkan si Everest yang mulai meleleh itu dengan lembut ke bibir sang istri.
"Aku masih mau pacaran sama kamu!" ucap Ray menenangkan hati istrinya.
"Mas gak pengen?" kata Maysha menatap mata Ray penuh harap, Ray tersenyum, senyum yang jarang sekali di lihat oleh banyak orang.Ray mengiring sang istri ke dalam kamar,karena udara semakin dingin dan tak baik bagi Maysha, Ray mendudukkan Maysha di atas ranjang,mereka saling berhadapan, sebenarnya ini adalah ritual yang hampir setiap hari mereka lakukan, berbicara di atas ranjang,saling mengungkapkan keinginannya masing-masing.
__ADS_1
"Papa bercerita, dulu papa dan mama susah sekali mempunyai anak, sampai beberapa kali mama keguguran" Ray memberikan jeda pada ceritanya, dia sesekali merapikan rambut panjang Maysha dan menyelipkan ke telinga istrinya itu.
"papa dan mama sudah pasrah,asalkan mereka bisa selalu bersama tak masalah walaupun hidup berdua tanpa anak, usaha mereka sudah cukup keras untuk itu dan akhirnya mereka menyerah, bila dikasih mereka akan sangat bahagia, bila pun tidak mereka akan menikmati hidup berdua sampao tua,Namun Tuhan berkehendak lain May! mamaku akhirnya hamil" si Everest yang biasanya super duper irit suara ini bisa bercerita panjang lebar mengenai kehidupan orangtuanya.
"Akhirnya Tuhan menghadirkan kamu mas!" kata May
"Hemmm.... menghadirkan aku, membuat papa bahagia walaupun harus menukarkan nyawanya!" kata Ray ada kesedihan di mata Ray.
"Mama tak berhak menukar aku dengan nyawanya May, mama tak harus melakukan itu! dari awal mereka hanya berdua,bahagia bersama! hanya karena aku..aku memisahkan papa dari mamaku May!"
"Mas ..."
"Karena itu May, aku mohon jangan pikirkan anak, jika Tuhan percaya pada kita Dia akan memberikan nya, jika tidak maka kita tak berhak untuk memaksa!"
"Aku bahagia bersama mu May, ada tak ada nya dia aku bahagia!"
ucap Ray sambil mengelus perut rata yang istri, May langsung memeluk erat lelaki dihadapannya itu.Ray hanya tak ingin Maysha bersedih,dia merasa tak siap melihat wajah sendu istrinya, jujur sebuah pernikahan memang menginginkan hadirnya buah hati di tengah-tengah mereka termasuk Ray, namun jika memang Tuhan belum percaya Ray bisa menerima asal kan tak ada wajah sendu di wajah sang istri, papa Arya juga sudah sangat bahagia dengan adanya Lerie yang selalu menemani nya, remaja yang notabenenya adalah adik iparnya itu bahkan sudah sejak lama memanggil papa Arya dengan sebutan papa.
"Tidur ya...jangan sedih...aku mohon! jadilah Maysha ku kembali besok pagi! hari ini aku mengijinkan mu bersedih..tapi ingat hanya malam ini saja batasnya!"
"Iya mas.....pengen peluk!" kata May malu-malu.
"Gak pengen lebih?!" goda Ray,entah sejak kapan Ray pandai menggoda
"Emang boleh?" tanya May lirih.
__ADS_1
"Boleh!! malam ini aku gak mau cuma satu kali! aku mau lebih!" bisik Ray kemudian menutup tubuh mereka dengan selimut dan Ray pun memulai adegan panas-panasnya dengan sangat bersemangat!
bersambung......