
Setelah merasa jengkel karena tak di respon oleh Sesil, Levin mencoba mendekati Sesil.Levin mencoba menggoyang tubuh Sesil, namun tubuh Sesil malah tumbang ke depan.
"Sesil!!!" pekik Levin ketika menyadari bahwa Sesil pingsan.
"Oh SH*it!!!" umpat Levin spontan.
Levin segera membawa Sesil masuk ke dalam rumah, Kiara yang melihat Sesil sedang di bopong Levin langsung terkejut.
"Levin!!! Sesil kenapa? kamu apakan dia?" tanya Kiara sedikit meninggikan suaranya, sontak itu membuat Johan ikut melihat ke arah Levin.
"Ada apa sayang?" tanya Johan melihat Kiara sedikit berteriak.
"Sesil pingsan pa!" jawab Kiara sambil mengikuti langkah Levin
"Ma panggilkan dokter! aku bawa dia ke kamar dulu!"
ucap Levin, dia bingung di bawa ke kamar mana, dan Kiara akhirnya mengarahkan Levin ke kamar Levin sendiri,sesampainya di sana dia meletakkan Sesil diatas ranjang.
"Dasar gadis menyusahkan!!" ucap Levin pelan.
beberapa saat kemudian Kiara masuk ke dalam kamar Levin bersama seorang dokter, dokter tersebut segera memeriksa keadaan Sesil, Kiara nampak sangat cemas melihat keadaan Sesil sedangkan Levin hanya biasa saja, bahkan Levin berniat keluar dari kamar tersebut.Namun dengan cepat Kiara menahan tangan Levin sambil melotot sempurna ke arah sang anak. Akhirnya Levin hanya bisa pasrah.
"Bagaimana Dok?" tanya Kiara
"Sepertinya dia menahan rasa sakit, detak jantungnya sedikit memburu,perkirakan kemungkinan asam lambung nya sedang naik, bisa saja dia telat makan atau apapun,karena sebagian orang memang tak bisa melewati jam makannya agar bisa mengontrol asam lambung nya! agar lebih jelas,besok bisa di bawa ke rumah sakit Nyonya" kata sang dokter.
"Terimakasih Dok"
Kiara mengantar dokter keluar dari kamar Levin, sesampainya di depan pintu disambut oleh seorang pelayan,Kiara akhirnya meminta pelayan tersebut mengantarkan dokter sampai ke depan,Kiara masuk kembali ke kamar Levin dan meminta Levin untuk menjaga Sesil.
__ADS_1
"Levin pulang ke apartemen ma,biarkan dia tidur di sini" kata lelaki yang tak mau menemani Sesil di kamar nya.
"tidak!!kau tidak boleh keluar dari kamar ini! jaga dia sampai dia sadar dari pingsannya,kau benar-benar menyusahkan Levin"
kata Sang Mama yang terlihat sangat ketus, Kiara berpikir semua ini adalah salah Levin, Sesil pasti merasa tertekan dengan semua tindakan Levin di apartemen.
"mah aku tidak ada hubungannya dengan sakitnya dia! dia sendiri yang membuat dirinya sakit, kenapa mau menyalahkan aku" Kata Levin yang tak mau disalahkan oleh sang mama
"Mama tidak mau tahu!! pokoknya kamu harus menjaga Sesil sampai besok pagi" kata Kiara dan langsung melesat keluar dari kamar Levin.
Setelah kepergian Kiara dari kamarnya, Levin nampak sangat frustasi,dia jelas-jelas tak mau sekamar dengan Sesil, namun berurusan dengan sang Mama akan lebih panjang daripada berurusan dengan yang lain, akhirnya Levin memutuskan untuk membersihkan diri mengambil baju tidurnya dan juga berniat untuk tidur di sofa yang ada di kamar, Levin bergerak ke arah ranjangnya dan secara pelan mengambil bantal di samping Sesil agar tak membangun kannnya,namun ketika Levin mengambil bantal di samping Sesil, Sesil nampak mengerjap-ngerjapkan matanya, samar-samar dia melihat seorang laki-laki yang berada di sampingnya,Levin melihat Sesil sudah mulai terbangun dari pingsannya, namun Sesil masih belum sepenuhnya sadar, Levin tak menghiraukan nya, dia lebih memilih untuk mengambil bantal dan tidur di sofa karena malam sudah terlalu larut.
"Papa...!" Sesil mengigau sambil memegang tangan Levin,kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
"Papa.....jangan tinggalkan Sesil pa!"
"Pa....bawa Sesil pergi!.... Sesil ingin ikut Papa!" ucap Sesil yang masih bisa di dengar oleh Levin.
"Bawa Sesil pa!"
Pelukan tangan Sesil tampak mengendur di pinggang Levin, ternyata hanya mengigau saja karena setelah itu Sesil melepaskan tangannya dari pinggang Levin, dia kembali melemparkan tubuhnya sendiri di atas kasur memegang selimut dengan erat sambil mengigau tidak karuan, hal pertama yang didengar oleh Levin hanya panggilan kepada Papanya saja, Sesekali terdengar Sesil meminta agar Papa nya membawa dia,Levin bahkan sempat berpikir apakah Sesil hanya berpura-pura tegar dan tersenyum bila berada di dekatnya, Levin merasa sedikit iba dengan keadaan Sesil.
"Hei bangun!...jangan mengigau terus!"
kata Levin menoel-noel lengan Sesil, Namun tak ada respon, Sesil malah menggigil kedinginan.
"Papa...... dingin pa..... Papa peluk Sesil pa!"
Sesil berhalusinasi, Levin yang berdiri sedikit bungkuk di depan nya di kira sang Papa, dengan gemetaran Sesil meraih tangan Levin dan memeluk tubuhnya, Levin yang kaget kehilangan keseimbangan,hingga dia berlutut di depan Sesil
__ADS_1
"Oh SH*it!!!" gumam Levin pelan karena merasa lututnya menghantam lantai tiba-tiba.
Sesil memeluk erat tubuh Levin, Levin yang merasa tak nyaman akhirnya naik ke atas ranjang.
"Malam ini kau boleh melakukan apapun!! tapi aku jamin besok pagi,kamu sendiri yang akan menyesali nya!!"
gumam Levin melihat dirinya di peluk erat oleh Sesil, badan wanita itu terasa sedikit hangat, dan suara giginya yang beradu menandakan dia sedang menggigil.
Benar saja, pagi menjelang, Sesil nampak mengeliat pelan, dia semakin mengeratkan pelukannya, Sesil belum sadar bahwa sesuatu yang dia peluk bukan lah guling yang biasa dia pakai, Levin terbangun ketika ada seseorang yang memeluk nya erat, semalam Levin tidur terlentang dengan kedua tangan sebagai tumpuan di kelapa nya,dan posisi itu terjaga sampai saat ini.
"Kenapa guling nya nyaman sekali?" gumam Sesil
"Tentu saja nyaman! ini guling hidup!! memangnya apa yang lebih nyaman dari tubuh seksi ku!!"
Ucap Levin ketika mendengar gumaman dari Sesil.Sesil nampak mencoba mengumpulkan nyawanya dan membuka pelan matanya, di lihat nya yang dia peluk adalah tubuh manusia, perlahan dia mendongak melihat siapa kah lelaki yang dia peluk, karena jelas dari posturnya ini adalah tubuh lelaki.
Betapa kagetnya Sesil melihat orang yang di memeluk adalah sang majikan, belum juga dia melepaskan pelukannya,Sesil sudah di kaget kan lagi dengan pintu pintu kamar yang terbuka, di sana nampak Kiara yang berdiri dengan Kay, mereka heran dengan posisi tidur kedua insan yang seperti air dan minyak itu.
"Kak Levin!!"
"Levin!!"
Teriak mereka bersama, Levin tau betul ekspresi senang mereka memergoki Levin dan Sesil,namun wajah senang mereka di balut dengan wajah yang pura-pura terlihat terkejut dan tak suka.
"Ma..... nikahkan kami!! karena aku sudah tak suci lagi!! dia memperkosa ku semalam!!"
ucap Levin datar, dingin dan tanpa dosa, dia tak tau bahwa jantung Sesil seakan ingin berhenti karena ketakutan.
bersambung....
__ADS_1