Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 (Empat Sekawan)


__ADS_3

Fabri duduk sendiri di sofa markas mereka, dengan sepiring pisang goreng dan segelas kopi panas, satu bulan sudah sejak hari pernikahan Kay dan Boy,Fabri memendam rasa rindu dan sesak karena tak bisa menemukan Ela, Fabri yakin Ela pasti di bantu oleh seseorang agar tak bisa Fabri temukan, Fabri sama seperti sang Papa yang harusnya dengan mudahnya dia menemukan keberadaan Ela. Fabri memutuskan untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor, namun hal itu justru membuat Fabri jarang pulang ke rumah,dia selalu melihat bayangan Ela di dapur, di kamar nya, dan di tempat-tempat di mana Ela sering berdiri atau mengerjakan sesuatu di rumah besarnya.


Sama seperti dua hari yang lalu, karena dua hari yang lalu Fabri menyempatkan diri pulang dan mengambil beberapa baju, dia lebih sering tidur di kamar markas,


"Sayang ....kamu baru pulang?" tanya Desi,sang mama melihat Fabri masuk ke rumah.


"Ya Ma.....Fabri ke kamar dulu ya Ma" jawab Fabri


"Bri..tunggu..... Mama mau ngomong sesuatu sama kamu! kamu ada waktu?" tanya Mama nya.


Fabri sudah menduga, pasti Mama nya akan membicarakan tentang gadis-gadis anak teman-teman arisannya yang selalu meminta di kenalkan dengan Fabri, apalagi beberapa hari ini Rina sangat sering menyapanya di kampus,karena sebelumnya Rina tak pernah berani.Sekarang Rina terlihat cukup berani melakukan PDKT pada Fabri, hal itu membuat Fabri risih.


"Maaf ma, tapi aku ingin istirahat, bentar lagi aku berangkat lagi"


Kata Fabri sambil mendekati Desi, kemudian mendaratkan kecupan di kening sang Mama, berharap Mama nya gak akan salah paham akan penolakan nya. Fabri akhirnya meninggalkan Mamanya dan naik ke kamarnya, sang Mama hanya diam saja menatap kepergian Fabri.


"Padahal ini penting sekali lho" gumam Desi yang meminta waktu anaknya namun tak di berikan oleh Fabri.


"Ada apa?" tanya Kevin tiba-tiba.


"Eh Papa! bikin kaget saja!" seru Desi dengan nada sedikit meninggi karena terlalu kaget.


"Tuh anak kamu pulang! Mama kan ingin bicara sedikit dengannya" lanjut Desi sambil duduk di samping suaminya yang masih asyik membuka laptop milik nya.


"Biarkan saja, dia hanya tinggal di markas rumah tuan Ray" kata Kevin, Kevin merasa tenang karena Fabri memilih tidur di markas rumah lelaki yang sudah lama di jadikan Kevin tempat mengabdikan diri.


"Tetap saja pa! aku khawatir!" kata Desi.


"Tidurlah! cup......" ucap Kevin menyuruh sang istri istirahat,dan di akhiri kecupan kecil di keningnya yang berarti Kevin tak mau di bantah, begitulah bahasa tubuh Kevin yang dulu tak pernah di mengerti Desi.Namun setelah bertahun-tahun bersama tentu saja Desi hafal dengan karakter suaminya.

__ADS_1


Kembali ke Fabri yang sibuk di Markas dengan laptop di depannya.


"Udah selesai?" tanya Lee yang tiba-tiba masuk.


"hemmm... sedikit lagi!" jawab Fabri tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Kenapa ke sini? apa Vita sudah tidur?" tanya Fabri setelah menekan tombol simpan, tanda dia mengakhiri pekerjaan nya.


"Sudah! sekarang dia sedikit manja! biasa hormon kehamilan" kata Lee.


"Masih belum ketemu?" lanjut Lee


"mungkin bener kata loe Lee, dia pasti di bantu seseorang supaya bisa jauh dari gue!" kata Fabri sambil menghela nafas panjang.


"Lupakan dia!" kata Lee


"Apa gue bisa Lee?, entah mengapa wajahnya tak mau pindah dari pikiran dan mata gue" kata Fabri sambil menerawang membayangkan senyuman polos Ela.


Lee dan Fabri kaget dengan suara Boy yang baru saja masuk dan tiba-tiba teriak tidak jelas. Boy balik badan, namun sebelum pergi dia di cegah Lee dengan pertanyaan nya.


"Ada masalah Boy?" tanya Lee berdiri dan di ikuti oleh Fabri


"Kay tadi ikut Papa nya ke kantor,dan sekarang dia di bawa ke rumah sakit, dia pingsan!" kata boy terlihat panik.


"Aku yang setir! mana kuncinya?" kata Fabri dan sedetik kemudian Boy melempar kunci mobil pada Fabri dan mereka bertiga bergegas keluar markas dan masuk ke dalam mobil mereka, entah kebetulan seperti apa, Leo baru saja keluar dari mobilnya dan melihat ketiga sahabatnya terlihat panik.


"Ada apa? kenapa terburu-buru?" kata Leo mendekat dan dengan wajah cemas


"Leo! masuk ke kursi kemudi!" teriak Fabri yang sudah pindah ke kursi belakang, dia meminta Leo menyetir, Leo dengan sigap berlari ke arah mobil Boy.

__ADS_1


"Rumah sakit keluarga!" perintah Boy.


Leo mengemudi kan kendaraan nya seperti biasa, santai dan tenang, karena Leo tak tau apa yang sedang terjadi,hingga teriakan Boy membuat Leo terkaget.


"Apa kemampuan balap loe sudah hilang Leo!!!! brengseekk!!! tidak bisa ya loe lebih kencang lagi!!" teriak Boy


"Damn!!!! Gue mana tau loe buru-buru bangsaaat!!!" umpat Leo keras.


Fabri hanya tertawa kecil, hal seperti inilah yang membuat dia terhibur beberapa waktu ini, sahabat-sahabat gilanya itulah yang mampu mengobati rasa sakit hati dan rindunya pada Ela.Lee hanya geleng-geleng kepala saja, dia hanya menikmati perdebatan antara Leo dan Boy yang pada akhirnya berbuntut pada cerita pingsan nya Kay dan di bawa ke rumah sakit. Dengan laju yang cukup kencang membuat Leo yang lama tidak menentang bapak aparat penegak hukum yang terhormat,merasa ingin sedikit berurusan dengan mereka, rasanya dia ingin menambah pusing kepala Boy saat ini.


"Siaaallan!!! kalau sampai kita di gelandang ke kantor polisi!! gue habisin loe!!" bentak Boy,


sungguh saat ini bukan saatnya dia jadi bad boy, saat ini yang dia cemaskan hanyalah Kay, ingin segera sampai di rumah sakit tanpa berurusan dengan polisi karena acara kebut-kebutan Leo.


"Rileks brother!!" ucap Leo tenang.


"Leo.. bukannya menambah kecepatan saat melewati pos polisi di depan sungguh bisa menaikkan adrenalin kita??" kata Fabri yang mulai menjadi biang kerok bagi teman-teman nya.


"Ide bagus Fabri!!! gue temeni loe gila gara-gara cewek sandwich itu!! Kita gila bersama Fabri" kata Leo sambil menginjak pedal gasnya.


Boy dan Lee hanya bisa saling pandang dan pada akhirnya mereka pasrah saja. Boy sudah tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi kedua temannya itu, Fabri butuh pelampiasan kemarahan nya, dan di antara mereka Leo lah yang selalu menjadi yang tergila jika teman-teman nya membutuhkan sesuatu untuk mengatasi masalah mereka.


Dan benar saja,Leo yang sedang menggila akhirnya menuruti kemauan Fabri, hingga sebuah bunyi yang sangat mereka kenal membuat Leo semakin tertantang


Wiuuuu......wiuuuu...wiuuuu.....


"Oh Damn!!" umpat Boy ketika mendengar suara sirene kendaraan polisi yang mengejar mereka.


"Ayo Leo!!! sekali-kali jadi anak nakal itu menyenangkan!!!" kata Fabri dengan santai.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2