
Hari berlalu begitu cepat Ella sudah beberapa kali melakukan Spa baby di tempat spa milik Edo dan beberapa kali pula Fabri mengantarnya namun Fabri tak pernah bertemu dengan pemiliknya langsung karena setiap kali mengantar Ella pemiliknya selalu tak ada di tempat, Ela semakin dekat dengan Edo karena Edo bercerita dan meminta pertimbangan tentang pacarnya kepada Ela walaupun tak pernah sekalipun dipertemukan dengan pacarnya itu, namun Ela begitu antusias memberikan pendapatnya kepada Edo tentang bagaimana menyikapi hubungan asmara antara Edo dengan kekasihnya tersebut.
Vandi dan Edo benar-benar merencanakan dengan matang semua rencana pembalas dendam Vandi dan Edo kepada Empat Sekawan, kali ini Vandi tidak ingin bermain-main dengan mereka saja, Vandi benar-benar ingin membunuh satu persatu orang-orang yang disayangi oleh Empat Sekawan, sehingga mereka bisa merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang disayangi,sama seperti Edo dan Vandi,masyarakat sudah mengecap dia sebagai seseorang dengan perilaku yang cukup buruk hingga teman-teman Vandi pun meninggalkannya,begitu pula dengan Edo yang harus terbuang dari lingkungan rumahnya.
Edo memang punya sikap menyimpang di dalam hidupnya namun banyak dari teman-temannya yang tak mempedulikan tentang perilaku Edo namun ketika dia ditangkap karena beberapa kasus bahkan pembunuhan terhadap gadis-gadis muda membuat mereka semua merasa ngeri bila berdekatan dengan Edo,akhirnya Edo pun kehilangan banyak teman dan tersingkir dari masyarakat, Edo yang tahu tentang hukuman yang dijatuhkan kepada Vandi merasa tertantang untuk mendapatkan Vandi karena dari awal memang Edo sangat mengidam-idamkan Vandi,dengan cara membantu Vandi lah Edo berharap dia bisa memiliki Vandi sebagai kekasihnya dan sekarang benar-benar terjadi Vandi berada di tangan Edo,Vandi dulu yang menjadi Bos besar mereka akhirnya bisa menjadi kekasih Edo sekaligus partner untuk membalas dendam kepada Empat Sekawan.
di sisi lain Sesil sekarang bisa lebih bebas keluar masuk apartemen tentu saja atas izin dari Levin, walaupun Levin tak pernah menyatakan perasaannya kepada Sesil namun segala perilaku Levin membuat Sesil yakin bahwa Levin benar-benar serius untuk menjadikannya sebagai istri,akhirnya Sesil meminta bertemu Johan dan mengatakan bahwa dia mau mengakhiri sepakatan nya dengan Johan dan Sesil bilang sepertinya akan sangat sulit untuk mendengar perasaan Levin pada nya, Sesil merasa Tak apa-apa bila Levin menikahinya hanya karena ingin Sesil membalas budi kepada Levin, namun Johan tetap bersikeras karena dia tahu betul bahwa anaknya mencintai wanita yang ada di depannya saat ini.
"kamu seharusnya menolaknya dulu Sesil" kata Johan
"aku sudah berusaha Om tapi tetap saja Tuan Levin tidak pernah berkeinginan untuk mengatakan nya, bahkan aku sudah pernah bertanya langsung pada nya" jelas Sesil dan akhirnya menundukkan kepalanya.
"kalau begitu Om punya cara lain untuk bisa membuat Levin mengakui perasaannya padamu sebelum pernikahan kalian benar-benar dilaksanakan" kata Johan meyakinkan Sesil.
"bagaimana caranya Om?" tanya Sesil dengan wajah herannya
"Om akan meneleponmu sebentar lagi,sebaiknya kau pulang dulu,Om takut kalau Levin mencurigai kepergianmu dari apartemen" kata Johan
__ADS_1
"baiklah kalau begitu saya pergi dulu Om" pamit Sesil,dia juga tak mau mendengar kemarahan Levin, karena beberapa hari lalu di berjanji bertemu dengan Brian dan pulang melebihi jam yang sudah di tentukan Levin, dan Levin marah besar kala itu.
"biarkan sopir yang mengantar mu" tawar Johan
"tidak usah Om,aku sudah memesan taksi online untuk pulang, terima kasih untuk makan siangnya Om" kata Sesil, dia merasa lega bahwa Johan dan Kiara menyetujui hubungan nya dengan Levin, bagi Sesil itu sudah cukup, Sesil tak mau berharap banyak akan pernyataan cinta Levin, namun rupanya itu tidak cukup bagi Johan.
Sesil pun berlalu dari Cafe tempat pertemuannya dengan Johan, Johan nampak menelpon seseorang entah apa yang dibicarakannya begitu lama, Johan masih tetap membicarakan sesuatu di ponselnya bersama orang yang dihubungi,lengkungan tipis di bibirnya menandakan bahwa Johan sangat senang dengan informasi yang dia dapat,entah mengapa Johann rasanya tidak rela jika gadis yang sangat baik itu akan menjadi mainan Levin sepanjang waktu,Levin harus bisa dan harus mau menyatakan perasaannya kepada Sesil, itulah pemikiran yang ada di kepala Johan saat ini.Levin memang keras kepala seperti nya dulu, kalau Kiara tidak menghindarinya dan tidak membuatnya cemburu mungkin Johan sampai saat ini tidak akan pernah memiliki Kiara, dia akan tetap memendam perasaannya karena merasa Kiara sebagai seseorang yang dianggap sebagai adiknya.
tak beda jauh dengan Levin, Levin sepertinya belum benar-benar menerima kehadiran Sesil di hatinya, Sesil yang masuk ke dalam kehidupannya sebagai seorang pengganggu yang membuat Ayana sampai harus berurusan dengan dokter psikologi di pertemuan pertama mereka dulu,hal itu tentu saja menorehkan penilaian yang buruk terhadap Sesil sedangkan pertemuan kedua setelah 5 tahun berlalu, Sesil merendahkan dirinya agar bisa tinggal dan makan secara gratis di rumah Levin, Sesil menawarkan dirinya menjadi pelayan setia Levin bahkan dengan kontrak kerja hampir seumur hidup. Dan Johan yakin, Levin pun masih mempunyai keraguan akan perasaannya pada Sesil.
Taksi Sesil berhenti di depan gedung apartemen Levin, dia berniat untuk membeli beberapa bahan yang habis di kulkasnya, Sesil sedikit berbincang dengan satpam yang selalu membantu nya dulu, Sesil juga mengenal beberapa satpam lain serta orang- orang yang bekerja di gedung apartemen tersebut. Sedang enaknya memilih bahan-bahan makanan, Sesil di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang terlihat sangat mendadak.
"Haaaa!!" teriak Sesil sampai menjatuhkan sayuran yang dia pegang.
"Hahahahahaha kaget ya?" tanya Brian, ya Laki-laki tersebut adalah Brian.
"Kak Brian? kok bisa di sini?" tanya Sesil karena heran dengan keberadaan Brian di daerah gedung apartemen Levin
__ADS_1
"Kakak tinggal di sini sekarang, kita akan sering bertemu nantinya" kata Brian sambil mengacak rambut Sesil, Sesil tersenyum bahagia, dengan Brian Sesil memang merasa seperti bertemu keluarga dekat, rasa canggung nya hilang seketika melihat akrab nya Brian padanya.
"sudah makan?" tanya Brian
"Sudah, ya udah kak lanjut belajar yuk" ajak Sesil, Brian juga mengaku dia sedang ingin mengisi kulkas nya karena baru saja beberapa hari ini pindah, dia bercerita bahwa rumah yang dia tinggali terlalu besar jika harus hidup sendiri, jadi Brian memutuskan untuk membeli unit apartemen saja, mereka berjalan keluar minimarket gedung apartemen tersebut, senyuman tak hilang dari bibir Sesil karena lontaran kata-kata candaan dari Brian.
"Ini tak bisa di biarkan!!! kenapa dia harus tertawa seperti Ali?"
"Kau harus mencari tau apa yang di bicarakan mereka Ali!!!"
"Ini sangat menyebalkan!!! berani-beraninya dia menghianatiku!!"
"Aku harus memberikan pelajaran padanya nanti!!"
Ucapan dari mulut Levin benar-benar membuat sang asisten geram sendiri, namun tentu saja dia hanya bisa diam dan menjawab dengan satu kata 'iya' agar singa yang kebakaran jenggot ini tak bertambah marah.
Ya....saat ini Levin dan Ali tengah berada di depan gedung apartemen Levin dan berada di dalam mobil, Levin yang mendapat informasi dari anak buahnya yang di beri tugas mengawasi Sesil, melaporkan bahwa Sesil sedang makan siang bersama dengan Johan, Papanya. dan akhirnya memutuskan untuk pulang,namun belum juga dia turun dari mobil, Levin sudah di suguhkan dengan pemandangan yang membuat nya marah-marah sendiri.
__ADS_1
bersambung