
Fabri dengan langkah mantap masuk ke dalam ruangan tersebut, nampak Vandi sudah memakai boxer miliknya walaupun terlihat sedikit lemas sedangkan Edo sudah menundukkan kepalanya dengan kemarahan yang sangat besar, bahkan sekarang ini sudah bisa di pastikan kemarahan nya sampai ke ubun-ubun. Anak buah Fabri sudah mulai membiarkan Vandi duduk kembali di kursi nya tanpa mengikat tubuh lelaki tersebut.
"Waooow.....apa aku melewatkan sesuatu? kenapa penampilan mu sekarang nampak seksy Vandi?" kata Fabri pura-pura tidak tau apa-apa yang mana hal itu semakin membuat kemarahan Edo meningkat.
"Lepaskan aku bangsat!!! ayo kita bertarung satu lawan satu!! jangan jadi pengecut!!" teriak Edo dengan bara api kemarahan nya.
"Hahahahahhaha pengecut? lalu apa namanya kalau loe menyerang seorang wanita yang tak bersalah bangsaaat!!!"
teriak Fabri sambil menendang Vandi di hadapan Edo.
melihat Vandi terjungkal, Edo nampak memberontak lagi, sungguh dia tak sabar ingin menghajar Fabri habis-habisan bahkan dia ingin menguliti tubuh Fabri. Fabri di bantu anak buah nya mengangkat Vandi dan setelah berdiri Vandi di pegangi dua anak buah Fabri.Fabri nampak mengeluarkan pisau lipat dari balik sakunya, memainkan sedemikian rupa.
"Bagaimana kalau kita menguliti kekasih mu terlebih dahulu? hemmm? ini pasti akan sangat menyenangkan!!"
kata Fabri yang sungguh terlihat menyeramkan.Leo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keganasan Fabri, sedangkan Lee dan Boy nampak biasa saja, apalagi Levin yang tak mau menyaksikan aksi mereka ber empat, dia lebih memilih duduk santai di ruang tamu dan menikmati rokoknya.
__ADS_1
"Jangan sentuh dia!.....jangan sampai loe berani!!"
bentak Edo sudah tak tahan melihat Vandi lemas tak berdaya.
Lee nampak mengeluarkan pistol milik nya, kemudian memasang peredam pada ujung pistol miliknya, dia ingin mendengar rintihan dan kesakitan dari mulut mereka berdua, Vandi lah yang paling di incar oleh Lee, dia masih ingat betul bagaimana Vandi memberikan obat hasil eksperimen milik nya sendiri, dan akhirnya Vita harus kehilangan kehormatan nya kala itu.Lee memberikan isyarat pada anak buahnya untuk membawa Vandi berdiri agak jauh dari nya.
Dor.....
Satu peluru melesat tepat pada sasaran nya, betis sebelah kanan kaki Vandi.
"Woooww Lee,tembakan loe tepat sasaran" ucap Boy nampak senang.
Sedangkan Leo hanya bisa geleng-geleng kepala, dia bahkan sudah memprediksi bahwa ketiga temannya itu akan menjadi setan dalam waktu singkat. melihat bagaimana ekspresi Boy, Lee dan juga Fabri yang terlihat senang mendengar jeritan kesakitan dari Vandi membuat Leo berpikir bahwa hari ini memang mereka bertiga bersikap seperti seorang psikopat profesional.
"Brengseekk!!! bajingaaan kalian!!!" umpat Edo berkali-kali lipat.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita mencincang nya? bukankah ini ide bagus?" tanya Fabri sambil memiringkan sedikit wajahnya di depan teman-temannya.
"Oh ya Bri..... Apa tidak sebaiknya loe melatih tangan loe dalam menggunakan samurai? gue rasa loe cukup lamban berapa bulan ini"
ucap Boy sambil melempar samurai yang di pegang anak buahnya sesaat sebelum nya.Dengan gerakan Cepat pula Fabri menangkap lemparan samurai yang dilakukan oleh Boy dan Fabri mulai mengayunkan samurainya ke kanan dan ke kiri sebelum pada akhirnya mengeluarkan samurai tersebut dari sarungnya,kilatan kemarahan nampak begitu jelas di wajah Fabri karena tiba-tiba saja Fabri ingat dengan sang istri yang menjadi korban kebiadaban dua lelaki yang ada dihadapannya saat ini,yang seharusnya hidup bahagia bersama dengannya dan juga anaknya Bian, Karena di masa mudanya Ela terlalu banyak menderita,pikir Fabri.
"Mari kita bermain!"
Fabri memberikan satu samurai lagi yang dia bawa pada Vandi.
"Mari kita coba! sejauh mana kemampuan loe dalam bermain samurai ini" lanjut nya.
Vandi tak punya pilihan lagi, dia seperti nya tau bahwasanya hari ini adalah hari terakhir nya di Dunia ini, jadi apa salahnya jika dia mencoba melawan dengan sisa tenaga nya. akhirnya Vandi dan juga Fabri bertarung di ruangan tersebut disaksikan Edo dan beberapa anak buahnya. Edo nampak was-was melihat kondisi dari tubuh Vandi yang masih terlihat lemas.
Dengan senyum liciknya, Fabri mulai bersiap untuk menyerang Vandi yang ada di hadapannya, begitu pula dengan Vandi.
__ADS_1
bersambung