
Akhirnya pagi itu Ray mengantar sang papa untuk kontrol di temani oleh suster May, Tian yang menyambut kedatangan mereka.
"Dokter Albert salah satu dokter disini ada panggilan darurat tadi, Jadi dokter Andi yang menggantikan beliau ke kamar operasi, nunggu dulu Ray sekalian biar papa terapi dulu" kata Tian.
"Sus tolong antar papa ke ruang terapi disana nanti akan ada yang membantu suster!"
"Baik dokter Tian!"
Akhirnya suster May mendorong kursi roda papa Arya ke ruang terapi dan sialnya di sana dia ketemu dengan temannya yaitu suster Nayla. suster yang tergila-gila dengan dokter Tian, dokter dengan wajah China nya yang lebih dominan, karena papanya asli Indonesia sedangkan sang mama orang Taiwan.
"Maaayyyy....kamu tadi sama siapa? kok ganteng bangeeettt!!"
"Hush.....dia anak majikan aku!!"
kata Maysha sambil melirik ke arah papa Arya, akhirnya suster Nayla tau maksud dari Maysha.
Akhirnya Nayla menemani Maysha untuk melakukan terapi papa Arya. Beberapa langkah sudah bisa di lakukan oleh papa Arya dan benar saja kesembuhan papa Arya tergolong sangat cepat.
Di cafe rumah sakit......
"Minum apa loe?" tanya Tian.
"Cappucino aja!" jawab Ray.
Setelah beberapa saat Tian datang dengan dua kelas kopi di tangan nya.
Tian diam saja, dia beda banget dari Tian yang biasanya, membuat Ray heran dengan perubahan Tian.
"Kenapa?"
"Pusing gue!! gue ikut pulang ya? mau nginep di markas aja gue!"
"terserah!! kerjaan loe?"
"Udah off gue, cuma nunggu papa kontrol aja tadi!"
"Cerita!" paksa Ray.
"Di markas aja!"
Akhirnya mereka hanya saling diam saja! sampai Ray menangkap bayangan seseorang yang di kenal!. Ray minta ijin Tian untuk pergi terlebih dahulu, Tian hanya mengiyakan dan dia menuju ke ruang terapi papa Arya.
Ray yang melihat sosok orang yang dikenal berada di lorong dekat dengan ruang ICU.
"Bagaimana dok?"
"Maaf Mil,kami sudah sangat berusaha, kondisi papa kamu memang sudah tidak bisa lagi bertahan! saya aku ikhlas kam saja Mil, kasihan dia! dia hanya bernafas dengan bantuan alat-alat itu kalo alat-alat tersebut di cabut dia tidak bisa bertahan lagi!"
tutur dokter Andreas, dokter yang menangani penyakit papanya Camilla, ya gadis itu adalah Camilla.
__ADS_1
"Terimakasih dok! aku akan pikirkan lagi!"
Dokter Andreas yang menghubungi Camilla karena memang kondisi sang papa drop lagi, 6 bulan lebih bukan waktu yang singkat bagi papanya untuk bertahan hidup dan di harapkan Mila bisa bangun kembali, nyatanya kondisinya semakin sulit, segala obat-obatan mahal di berikan atas permintaan Camilla yang bekerja keras demi kesembuhan sang papa.
Camilla menatap kaca ruang ICU dimana sang papa di rawat. Dia memikirkan apa yang di ucap oleh dokter Andreas, seketika dia menangis sesenggukan sambil memandang papanya dari kejauhan.
Ray hanya memandang gadis itu, melihat bagaimana kondisi kaki Camilla yang sudah tanpa alas kaki, rambutnya terurai tak karuan, seperti dia habis berlarian ke sini.
Benar saja, Camilla yang mendapatkan telepon dari dokter Andreas segera berlari dari rumah tuan Adrian menuju jalan keluar komplek perumahan mewah itu untuk mencari taksi,kalo naik ojek online Camilla takut menunggu terlalu lama, saking paniknya dia melupakan tas nya, karena tak membawa uang dia urungkan niatnya untuk naik taksi, kembali ke dalam komplek pun akan membuang banyak waktu, dia sudah tak bisa berpikir apa-apa lagi.Camilla berlari dari sana menuju ke rumah sakit, untung saja jarangnya tidak sampai 2 kilo namun di tengah jalan alas Kaki yang dia pakai terputus, terpaksa dia membuangnya dan berlari tanpa alas kaki.
Ray mendekati Camilla, dia merangkul bahu Camilla memberikan kekuatan pada gadis itu.
"Sabarlah!...."
"Hiks....hiks..... terimakasih.... terimakasih....." ucap Camilla karena merasa Ray memberikan bahunya untuk bersandar, terus terang Camilla tak punya siapa-siapa lagi yang mau di ajak berkeluh kesah, dia hanya punya sang papa yang kini sedang berjuang demi hidupnya.
Keputusan Camilla final, dia membiarkan dokter mencabut alat-alat medis yang ada di tubuh sang papa, tak ada reaksi apapun dari sang papa.... hingga 2 jam berlalu papanya menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali.
Ray menelpon Tian sebelumnya untuk mengurus papa Arya, dan tak lupa dia mengabari kalo dia sedang menemani Camilla di rumah sakit.
Setelah berita kematian papa Camilla, Ray menelpon Bams orang yang paling dekat dengan Camilla untuk menyiapkan pemakaman jenasah papa Camilla yang akan di semayamkan di rumah Bams karena Camilla tidak punya rumah.
Dan sekarang Camilla berada di atas makam sang papa...
"Ayoo kita pulang Mil!" ajak Bams.
"Enggak bang,Mila mau nemenin papa! kasihan papa sendirian!"
Tak banyak yang datang karena memang tak ada lagi kerabat atau teman Camilla.
"Mil....besok kita kesini lagi! okey!"
"Gak bang Mila mau di sini!! Mila mau di sini!!!" Mila teriak-teriak bahkan tak ingat kalo dia berada di sebuah makam.
"Sudah hampir malam Mil! Abang mohon pulang ya?" bujuk Bams dengan suara di lembut kan sedikit agar Mila mau pulang.
"Gak bang! abang pulang aja!! Mila mau nemenin papa!! Mila gak mau papa sendiri bang hiks....hiks....hiks....!"
Ray yang memang dari tadi belum pergi, terlihat iba dengan keadaan Camilla, orang yang di cintai nya pergi untuk selamanya. Ray menghampiri Camilla dan
bugh......
"Tuan Ray!!" pekik Bams.
"Hanya ini satu-satunya cara Bams!" ucap Ray sambil membopong Camilla yang telah dia pukul tengkuknya agar dia tak sadarkan diri.
"Buka mobilnya!" perintah Ray.
Dan Bams membuka pintu mobilnya,namun sebelumnya dia masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Bawa dia pulang ke rumahmu dulu Bams"
"Baik tuan Ray! terimakasih!"
Ray pulang dengan mobilnya sendiri, sesampainya di rumah dia mandi dan langsung ke markasnya karena dia ingat Tian ada di sana.
Sesampainya di sana Tian sudah meneguk 3 botol minuman entah dia bawa dari mana.
"Kenapa?" tanya Ray sambil mengambil gelas yang masih berisi minuman dari tangan Tian dan meletakkan nya di meja.
"Hancur hati gue Ray!! ciihh bahkan gue masih gak percaya!!"
"Maksud loe apa?"
"Gue perjuangkan dia di hadapan keluarga gue Ray, gue bahkan berani jamin kalo dia yang terbaik buat gue!! tapi nyatanya semuanya bullshits Ray!!"
ucap Tian sambil meminum kembali minuman yang ada di meja, dan kali ini Ray membiarkan nya.
"Clara?" tanya Ray karena hanya Clara maksud dari Tian memperjuangkan.
"Jangan sebut nama wanita kotor itu Ray!!" teriaknya.
"Ada apa dengan nya?"
Tanya Johan yang tiba-tiba datang. Ray menghela nafasnya pelan, dia tau kalo Johan sampai tau bahwa salah satu temannya tersakiti maka tindakannya akan lebih kejam dari yang Ray lakukan.
"Hai bro.....sodaraku sayang,peluklah sodaramu ini!!" ucap Tian yang sudah mulai ngelantur karena memang dia jarang menegak minuman semacam itu, beda dengan Johan yang lebih tahan banting.
"Ada apa?" tanyanya pada Tian yang sudah bergelayut manja di tangan Johan.
"Kau tau Clara?" ucap Tian, Johan memandang ke arah Ray dan Ray menaikkan bahunya tanda tak tahu.
"Ada apa dengan Clara? dia menyakitimu?"
"Kau tau Jo!!! Dia itu wanita jAlaaaang!! kau tau Jo...dia sudah tidur dengan Kakak iparku!! hanya agar cafe nya tidak bangkrut!!! dasar wanita jAlaaaang!!! wanita si*alaaann!!! wanita mata duitan!!! bangsaaat!!!"
umpat Tian akhirnya terkapar tak berdaya.
"Shit!!!! kenapa sih loe sama Tian sama saja!!!"
"Maksud loe?" tanya Ray binggung.
"Sama-sama payah dalam hal perempuan!!!"
hehh..... Ray diam sambil menghela nafasnya, karena apa yang di katakan Johan memang 100% benar.
"Tunggu pembalasan ku perempuan bangsaaat!!"
Johan terlihat nampak geram.
__ADS_1
bersambung......
#Duuuuhh padahal Clara baik lho.......kok jadi matre gitu gegana cafe nya hampir bangkrut!! apa karena efek corina ya??.... soalnya warung othor juga bangkrut gegana efek corina, malah 3 sekaligus!! jadi othor banting setir jadi penulis novel...ups.....kok jadi curhat๐๐๐