Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Hari berganti hari, Minggu pun sudah berganti dengan beratnya di lalui oleh Fabri, keadaan Ela sedikit membaik, walaupun luka bakarnya hampir mencapai 70%, namun hanya bagian tertentu saja yang mengalami luka cukup fatal, dokter bahkan bisa menjamin bahwa wajah bagian yang terluka bisa di pulihkan dengan beberapa kali operasi plastik. Ela sudah melewati masa kritis nya,namun beberapa waktu ini Ela masih berada di ruang ICU, Fabri tak pernah sedikitpun jauh dari Ela, dia bahkan sudah ijin untuk kuliah online, untungnya kuliahnya sudah berada di akhir semester, tinggal beberapa langkah lagi sidang skripsi dan kelulusan.


Fabri setia berada di samping Ela, akhirnya dua hari yang lalu Ela sudah di pindahkan ke ruang rawat membuat hati Fabri semakin lega, Walaupun ada beberapa bagian tubuhnya yang masih di balut karena lukanya, Ela masih bisa duduk saat makan, walaupun Fabri masih harus menyuapinya,karena tangan kanan dan kirinya terkena luka bakar, apalagi di bagian kiri atas yang sedikit agak parah.


"A-aku...ka-ngen sha-sha...." kata Ela terbata-bata.


"Iya....aku juga, aku sudah lama tidak ketemu di gembul, kau tau dia pasti sekarang sudah bisa mengoceh!"


kata Fabri di hiasi dengan senyum lebarnya ketika berbicara dengan Ela soal Shasha.


Bayi gembul itu pun lebih dekat dengan Fabri di banding dengan Boy dan Leo, bahkan Papi nya sendiri yaitu Lee.


"Aku akan meminta Lee mengirimkan video anak itu" kata Fabri dengan antusias.


Ela juga nampak berbinar mendengar apa yang di kata oleh Fabri, dan setelah beberapa saat menghubungi Lee, Lee nampak mengirimkan video seorang bayi gembul yang sedang mulai makan pendamping ASI.


Di rumah keluarga Johan


"Bagaimana keadaan Ela,Boy?" tanya Kiara sang mertua.


"Boy dengar dari Fabri, dia sudah dipindahkan ke ruang rawat ma walaupun keadaannya belum benar-benar pulih tapi bisa dilihat kalau Ela sudah banyak mengalami perubahan ma" kata Boy menjelaskan.


Kiara dan juga Johan memang ikut menjenguk Ela kala itu, namun mereka menjenguknya ketika Ela masih ada di ruang ICU,karena keadaannya pun masih sangat menghawatirkan, dan selama beberapa hari ini Kiara tidak lagi ke sana,Kiara hanya tanya tentang keadaan Ella kepada Boy karena hampir setiap hari Boy juga datang ke rumah sakit hanya untuk menguatkan Fabri atau membawakan sesuatu untuk Fabri.


"Sayang.. kamu sudah ada tanda-tanda mau melahirkan gak?" tanya Kiara pada putrinya.


"Belum Ma, harus nya kan memang minggu-minggu ini Ma, tapi kok belum ya, padahal Shasha sudah berumur 6bulan Ma, harus nya kan jaraknya cuma 5 bulan lebih sedikit"


kata Kay mengingat jarak antara anak Lee dan Boy tidak sampai 6 bulan lebih.


"Kadang kala hitungan dokter itu salah sayang, pokoknya kita waspada saja, barangkali sewaktu-waktu kamu mengalami kontraksi, kita segera ke rumah sakit!" kata Kiara menjelaskan pada anaknya.

__ADS_1


"Levin, Bagaimana masalah kamu? apa sudah kamu selesaikan?" tanya Johan, dia tau anaknya sangat keras kepala, segala urusannya tak bisa di campuri oleh Johan.


"Papa tenang saja, semuanya baik-baik saja!" kata Levin dengan tenang.


"Sudah! kembalikan saja anak itu pada Papa nya Levin, bukankah....." kata-kata Kiara terpotong oleh ucapan sang anak.


"Ma.....cup.... Mama cantik, jangan memikirkan banyak hal, biarkan saja wajah cantik Mama ini mengalahkan ketampanan si tuan tua itu!" kata Levin mengalihkan pembicaraan dan bahkan menyindir sang Papa dengan di tuan tua.


"Hei.....kau pikir wajahmu itu warisan dari siapa hah??!! berani memgatak Papa mu sendiri tua!!!" ucap Johan ketus.


"Memang seperti itu kan pa? sudahlah.. Levin pergi dulu, hati ini aku akan ke apartemen.......ahhh ranjang empuk ku pasti sudah kangen ma"


ucap Levin sambil memeluk dan mencium sang mama, beralih ke Papa dan adik kesayangannya.Levin merasa malas membahas kekejaman nya di dalam rumah orangtuanya, dia merasa pekerjaan hanya ada di kantor dan ruang kerjanya,bukan di bicarakan di ruang keluarga mereka.


"Oh Tuhan pa, niru siapa sih anak itu!" kata Kiara


"Ya akulah sayang, kan aku Papa nya" ucap Johan dengan entengnya.


"Kamu mengejek Papa Boy??" ucap Johan dengan ketus.


"Eh...apa pa?? ma-mana ada yang seperti itu pa!" ucap Boy gugup


"Ihh kebiasaan deh kalian!! kalau lagi berkumpul ada aja yang di perdebatkan!" ucap Kiara seketika membuat Johan yang akan membalas perkataan mantunya diam seketika.


"Ehmmmm ma, pa... Boy sama Kay masuk dulu ya....ini Kay sudah harus istirahat" kata Boy yang mencari alasan untuk kabur dari hadapan sang mertua.


"Eh...aku... istirahat? tapi aku ....."


"Kamu capek sayang.....ayo istirahat!" Boy memotong ucapan dari Kay, dan bergegas membantu sang istri dengan perut buncitnya itu masuk ke kamarnya yang sekarang berada di lantai bawah.


"Dasar menantu sialan!! beraninya dia menertawakan aku!!" gumam Johan.

__ADS_1


"Mana ada yang seperti itu Papa!!" pekik Kiara


"Lihat saja tadi!! dia itu menahan tawanya sayang!!" kata Johan yang tak mau kalah.


"Oh Tuhan!! malas aku berdebat denganmu!! aku mau tidur saja!!"


"Sayaaang...tunggu aku!" rengek Johan seperti anak kecil.


Johan yang sedang berlarian kecil mengejar sang istri, sedangkan Boy sudah memulai aksinya, malam panas yang sudah seminggu ini dia lewatkan karena sibuk memperhatikan Fabri dan juga Ela. Berbagai rayuan maut Boy lancarkan demi kesejahteraan si pencetak masa depannya itu. pisang raja jumbo miliknya bahkan sudah membesar di balik boxer hijau miliknya.


"Sayang....coba aku kunjungi anak kita ya? Biar aku tanya sama baby kita kenapa kok gak lahir-lahir? bisa jadi dia sedang menunggu Daddy nya untuk menjenguk sayang..."


Ucap Boy yang sedang entengnya membuka baju tidur milik Kay yang berupa daster batik pembelian Kiara sang mama, daster dengan kancing depan itu bertujuan untuk mempermudah baby Kay dan Boy nanti menyusu pada Kay, namun nyatanya bukan anak mereka yang mencoba mempraktekkan terlebih dahulu, namun sang Daddy dari bayi itu yang lebih dulu mencoba.


Boy bahkan mulai membuka kancing depan daster milik Kay,dia sudah menempelkan seperti bayi besar, bayi besar itu Bahkan sudah menyusu dengan seenaknya hingga lenguhan serta ******* keluar dari mulut Kay begitu saja,mendengar suara dari sang istri, Boy semakin gencar karena gairah nya naik secara tiba-tiba.


"Ahh...sakit..kak!! sakit!!" pekik Kay, ketika sang suami menusukkan senjata nya dari belakang dengan posisi Kay berada di depan Boy.


"Sayang...ini bukan pertama kali buat kamu...hemmmm, masa' masih sak...kit!!" ucap Boy di barengi beberapa kali ******* nya.


"Tapi sakit....kak!!! perut aku yang..... awooww....


sakit kak!!" kata Kay.


"Kay...sayang!!" pekik Boy, dia sudah tak mood lagi melanjutkan kegiatan nya padahal sudah dalam keadaan tegang-tegangnya.


"Aaaarrggghhh.....sakit!!!"


jerit Kay sambil menarik rambut sang suami...


"Awooww lepas dulu sayang!!! kita ..kita masih polos!!"

__ADS_1


bersambung


__ADS_2