Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Leo sengaja tak mau menyetir kali ini, dia sedang menelpon seseorang untuk membicarakan tentang beberapa hal mengenai perusahaan nya, dan akhirnya Boy lah yang harus menyetir. Keadaan jalanan yang terbilang cukup padat karena mendekati jam makan siang membuat Boy tak bisa leluasa menjalankan laju kendaraannya, bahkan di beberapa titik terdapat kemacetan yang menghalangi mereka untuk segera sampai ke rumah Boy. Levi nampak gelisah duduk di bangku belakang, beberapa kali dia menelpon ponsel Sesil namun tak ada jawaban, Boy bahkan sudah memperingatkan Levin untuk diam dan jangan menelepon Sesil, karena percuma saja Sesil pasti meletakkan ponselnya karena disaat para wanita sedang berkumpul mereka lebih menyukai bergosip daripada ada ponsel mereka.


"bisa nyetir enggak si Boy?dari tadi perasaan kita berhenti di tempat?" tanya Levin dengan sedikit bernada ketus.


"Kakak nggak lihat,di depan sedang macet Kak, mana mungkin aku menerobos aja!" saut Boy melihat Kakak ipar nya itu tak sabaran.


"itu karena kamu kurang pintar mengambil jalan!coba tadi Leo saja yang menyetir,kita pasti sudah sampai dari tadi! kau membuatku kesal Boy!!" omel Levin dengan tak tau dirinya.


untung saja Boy sudah hafal dengan sifat dan sikap sang kakak ipar.


"tapi memang kenyataannya sedang macet Kak!Kenapa Kakak jadi tidak sabar!" kata Boy yang tak mau kalah.


Leo yang mendengarkan perdebatan mereka seketika terkekeh geli,tentu saja Leo tahu apa yang menyebabkan Levin tiba-tiba menjadi Lelaki cerewet sejak keluar dari perusahaan tadi, Levin sudah banyak berbicara, Bahkan dia sudah meminta Leo untuk menyetir namun Leo beralasan akan menelpon seseorang untuk membicarakan tentang pekerjaan, Levin benar-benar tak tahu bahwa mereka berdua sedang mengerjai nya, Boy sengaja diminta Leo untuk menyetir dan tentu saja di jam-jam macet seperti ini akan memakan waktu yang lama untuk sampai ke rumah Boy.


"Kamu memang benar-benar menyebalkan Boy!" kata Levin sebelum memilih untuk bersandar dan memejamkan mata nya.Seulas senyum nampak tertib di bibir Boy dan Leo.

__ADS_1


"Gimana rasanya bucin Kak?" tanya Leo mencoba menggoda Levin.


"Diam! atau gue patahkan leher loe dari belakang!!" saut Levin ketus namun masih dengan mata terpejam.


Sampai pada akhirnya mereka memasuki pekarangan rumah Boy.Di dalam rumah Boy, nampak Ayana sedang membersihkan dan menata hasil masakan Sesil di meja makan, dia sudah mendapatkan kabar dari sang suami bahwa mereka akan makan siang di rumah Boy, tapi baik Kay ataupun Ayana tak ada yang memberitahu Sesil bahwa Levin juga ikut dalam acara makan siang mereka, mereka hanya mengatakan kalau Kay sedang ingin makan masakan Sesil, makanya Kay meminta sang sopir untuk menjemput Sesil dari rumah mamanya,apalagi Kiara sedang bertemu dengan kakaknya yaitu Krisna.


Sebenarnya ini semua ide Boy, Boy yang merasa kasihan melihat Levin sering uring-uringan selama tidak berada di sisi Sesil, Boy tahu betul bagaimana rasanya dipisahkan dari orang yang dia cintai, akhirnya Boy mencoba untuk membantu Levin untuk bertemu dengan Sesil, sebenarnya penderitaan Levin tak sebanding dengan apa yang dialami oleh Boy sebelum menikahi Kay, Boy bahkan dipisahkan lama sampai beberapa minggu oleh Johan,sedangkan Levin hanya dipisahkan oleh Kiara selama 1 minggu,3 hari saja tidak bertemu dengan Sesil,Ali sang sekretaris sering menjadi bulan-bulanan dari Levin, segala yang dilakukan oleh Ali salah semuanya di mata Levin.


"Kak kita sampai!" kata Boy membangunkan Levin yang sedang berada di kursi belakang.


"Beraninya dia tertawa lepas! sedangkan aku sangat tersiksa!!" gumam Levine yang melihat Sesil tertawa begitu lepas bersama Kay dan juga Ayana.


tanpa banyak bicara Levin mendekati mereka bertiga, kemudian menarik tangan Sesil pelan untuk diajak berjalan mengikutinya menuju kamar tamu yang biasa digunakan untuk menginap di rumah Boy dulu, lebih tepatnya beberapa saat setelah Boy menempati rumahnya.


"Kakak...mau di bawa kemana Sesil??" tanya Kay sambil sedikit berteriak

__ADS_1


"Kak....makan siang sudah siap!" kata Ayana juga


namun semuanya sia-sia Levin akan tuli mendengar perkataan kedua adiknya tersebut, Levin membawa Sesil masuk kedalam kamar tamu yang biasa dia pakai lalu menutupnya dan tak lupa menguncinya, Sesil yang sedikit heran dengan perlakuan Levin hanya diam saja hingga beberapa saat kemudian tanpa disadari oleh Sesil, dia sudah berada di atas ranjang dan Levin sudah berada di atas tubuh nya.


"Vin!!" pekik Sesil


Levine tak menjawab perkataan sosial namun bisa si lihat dari wajah Levine kelihatan sekali dia menampakan senyum seringai nya.


"Vin.....jangan macam-macam!!" teriak Sesil


"Hanya satu macam sayang......" saut Levin


Hal tak terduga sebelumnya oleh Sesil, nyatanya mampu di lakukan oleh Levin,hingga jeritan kecil menggema di kamar kedap suara tersebut.


"Leviiinnn!!!" jerit Sesil.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2