
Kayra duduk di atas kloset, dia membungkam mulutnya yang terisak agar tak terdengar oleh Boy dan Levin kakaknya.Kay merasa sudah sangat merepotkan keluarga nya juga Boy, berulang kali dia menatap pisau buah yang ada ditangannya. banyangan kekejaman mereka berputar kembali di kepalanya, dengan sekuat tenaga Kay menghilangkan trauma nya akan benda tajam di tangannya, melihat pisau kecil itu mengingatkan dia pada kejam nya Dani yang menyayat pergelangan tangannya kala itu, Kay bahkan sudah mengigit bibirnya kuat agar tangisannya tak bersuara, tangannya gemetaran memegang benda tersebut.
"Maafkan Kay ma.....pa....kak Levin!!! maafkan Kay!!" ucap Kay lirih, hingga pada akhirnya dia mengarahkan pisau tersebut di pergelangan tangan kirinya.
Karena merasa haus Boy terbangun dari tidurnya, dia melihat sekeliling nya, seketika mata ngantuk nya hilang ketika melihat ranjang Kay kosong! Otaknya sudah berpikir buruk, karena beberapa hari di rawat di sana, Kay bahkan tak berani turun dari ranjang rumah sakit, dia hanya akan ke kamar mandi jika buang air kecil, bahkan suster yang membantu Kay menyeka tubuhnya, itupun harus dengan pegangan tangan Boy, jadi kerap kali Boy menutupi matanya dengan sebuah kain saat Kay harus di ganti baju dan di seka, karena Kay benar-benar tak mau pisah dari Boy.
"Kay??" gumam Boy, tujuan awalnya adalah kamar mandi, karena Boy dan Levin sengaja mengunci pintu agar bila mereka berdua tertidur, Kay tak berusaha kabur dan berbuah nekat. Tanpa aba-aba, Boy menerobos masuk ke kamar mandi, Untungnya kamar mandi tak di kunci oleh Kay, hingga dengan mudah Boy bisa membukanya.
"Kay!!!!'' bentak Boy ketika melihat Kay sudah menempel kan pisau di pergelangan tangannya.
"Aaaarrggghhh....hiks...hiks.....bahkan aku tidak bisa bunuh diri kak!! aku bahkan takut dengan pisau ini hiks....hiks.....?!" ucap Kay sambil menatap sendu pada Boy. Levin terbangun mendengar suara tangisan Kayra.
"Boy ada apa?" tanyanya dan matanya langsung beralih ke tangan Kay yang masih memegang pisau dengan gemetaran.Levin lemas seketika, dia sudah merosot duduk di lantai di depan kamar mandi melihat keterpurukan adiknya, Boy segera mengangkat Kay dan kembali ke ranjang, darah yang keluar dari bekas infus nya bahkan sudah mengering.
"Tidurlah....kakak disini....!" ucap Boy lirih sambil berbaring di samping Kay, dengan pelan Kay memeluk pinggang Boy, menjadikan lengan Boy sebagai bantalan kepalanya.
"Maaf kak..... maafkan aku......hiks... Kay janji...besok Kay mau sembuh hiks...hiks.... Kay gak mau bikin kakak susah lagi!" ucap Kay lirih, namun Boy hanya diam saja tanpa berniat membalas perkataan Kay.
##########
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, kini Kay sudah di perbolehkan pulang, Kay sudah tak lagi seperti dulu,dia tak lagi mencari Boy setiap saat, cukup sang mama yang di panggil nya ketika dia merasa takut, Kay bilang tak ingin menyusahkan Boy lagi. Johan akhirnya memutuskan homeschooling untuk Kay dengan guru khusus wanita yang akan mengajari Kay.
Di Markas Empat Sekawan, Boy hanya diam saja ketika Fabri, Lee dan Leo sedang bercanda ria dan berbincang.
"Jadi Lee loe pegang perusahaan?" tanya Leo
"Jadi, Ntar gue di bantu Fabri!" kata Lee sambil memainkan ponselnya.
"Loe jadi kawin kapan?" tanya Fabri
__ADS_1
"Kawin! kawin!! nikah!!" kata Lee
"Heleh ! loe kan udah pernah kawin!!" ledek Fabri.
"Sekarang udah gak bisa lagi!! jangankan kawin,nyium aja gak bisa!" kata Lee keceplosan.
"Hahahaahahahahha!!! makan tuh apes!!" ucap Leo dan Fabri serempak.
Bagaimana tidak, Vita yang sekarang di suruh tinggal di rumah Ray diawasi ketat oleh May sang Mama, jangankan menciumnya, sekedar dekat saja sang mama sudah menatap tajam Lee. Tawa mereka terhenti ketika Boy hanya diam saja sambil memutar kaleng softdrink di tangannya dan sesekali meminumnya, tangan mereka aling senggolan melihat sikap Boy.
"Kenapa?" tanya Lee pada Boy
"Gue kepikiran Kay! apa dia baik-baik saja!" kata Boy menyandarkan punggungnya di sofa tempat duduknya.
"Kangen?" tanya Leo
"Gak tau! kepikiran aja! dia biasanya yang gangguin gue!! yang slalu butuh sama gue!! sekarang Tante Ara bilang Kay gak mau bertemu sama gue!" kata Boy sambil memejamkan mataku.
Pertanyaan Fabri sukses membuat Boy terbuka matanya dan menenggakkan tubuh nya, Lee dan Leo seakan menunggu jawaban dari Boy.
"Gue gak tau!! emang jatuh cinta itu gimana?" tanya Boy dengan polosnya.
"Ckc.....bapak loe aja mantan Casanova!! anaknya bego' banget perkara cinta!!" ucap Leo
"Darimana loe tau Daddy mantan Casanova?"
tanya Boy, dia tau dari sang Daddy saat sedang menasehati Boy, menceritakan bagaimana dia dulu pada sang anak agar tak mengikuti jejaknya,dan benar saja Boy lebih cenderung seperti Ray dan Nayla, kadang Ben sampai bercanda dengan Nay, apa mungkin Nay berselingkuh dengan Ray hingga sifat anaknya lebih mirip Ray, walaupun tak sedingin gunung Everest itu., bercanda Ben selalu di akhir i ketukan centong nasi di kepala Ben oleh Nayla.
"Dari papi gue!!" saut Leo entengnya.
__ADS_1
"Gimana rasanya jatuh cinta Lee?" tanya Boy tanpa peduli dengan Leo lagi.
"Loe ngerasa pengen ketemu dia terus, menatap nya saja sudah membuat hati loe tenang! kadangkala loe gak bisa tidur kalau sedang mikirin dia! pokoknya apapun itu selalu membuat loe ingin selalu disampingnya dan.......!"
"Eh mau kemana loe?" tanya Lee yang belum menyelesaikan perkataannya namun Boy sudah meraih kunci motor dan jaket kulit nya.
"Gue mau ke rumah Kay!!!!" kata Boy sambil berlari ke arah pintu apartemen yang menjadi markas mereka.
"Gue juga pergi dulu!" kata Lee
"kemana loe?" tanya Leo
"Ke apartemen sebelah!!" ucap Lee dengan di akhir i senyum liciknya.
"Bangsaaat loe!!!!" teriak Leo yang merasa jomblo abadi, pasal nya sekarang Fabri pun tengah menelpon kekasih nya yang sedang berada di luar negeri.
Lee tak peduli dia keluar dari apartemen dan memasuki apartemen sebelah nya di mana Vita dulu tinggal, dan atas perintah Lee hari ini Vita meminta ijin May untuk keluar bertemu teman.
Grepp
"Lee......!" pekik Vita saat tiba-tiba Lee memeluknya dari belakang saat sedang membuat teh jahe.
"Kangen banget sama kamu?!" ucap Lee sambil menghirup aroma tubuh sang kekasih.
"Lee lepas!! atau aku ngadu sama Mama!!" ancam Vita
Namun mana takut Lee, yang paling penting saat ini baginya adalah melepaskan kerinduan pada Vita, dia sudah membalikkan tubuh Vita menghadap ke arahnya.
"Aku tak akan melewati batas ku sayang!" ucap Lee sambil melumaaat bibir Vita yang sudah di rindukan nya beberapa hari ini.
__ADS_1
bersambung.....