
"Iya...dia kelinci kecilku nyonya!" kata Beniqno sambil menarik pinggang Nayla dan mencium kening Nayla..
Nayla dan sang mama kaget dan.....
"Naylaaaaaaa........" teriak mamanya melihat pemandangan di depannya.Dengan posesif nya Beniqno memeluk erat pinggang Nayla bahkan sudah beberapa kali mencium kening Nayla tanpa sadar.
"Berani-beraninya kamu ciumi anak gadis orang ya!! pinggir kamu... pinggir!!'" ucap nyonya menir alias mama Nayla sambil memukuli Beniqno dengan tongkat sapunya, Beniqno yang kaget berlari- lari kecil tapi dengan mengandeng tangan Nayla.
"Lepas gak!! lepas gak!" teriak si nyonya menir melihat Beniqno mengandeng tangan anaknya,Andai saja Bu Rosita mama Nayla tau siapa Beniqno bisa di pastikan jangankan memukuli Beniqno menatap matanya saja pasti tak akan berani, namun di mata bu Rosita saat ini Beniqno hanya seorang lelaki bule yang berani pegang-pegang dan mencium anak gadisnya. Antoni yang melihat kaget dan langsung keluar serta berlari untuk melindungi sang majikan. ' Bisa di kulit i nyonya ini kalo tuan sampai marah!' batin antoni melihat sang majikan hampir kewalahan menghadapi si nyonya menir.
"Stop nyonya!! stop!!" teriak Antoni,karena mendengar teriakkan lantang Antoni beberapa anak buah Beniqno berlarian dari sebrang jalan karena memang mereka pengawal Beniqno dari kejauhan.Melihat ada beberapa orang berseragam hitam berlarian ke arah nya, mama Sita panggilan nya berhenti dan kebinggungan.
"Perasaan cicilan mobil dah selesai deh! kok masih ada depkolektor!" gumam mama Sita.
"Maaf nyonya jangan memukuli majikan saya lagi!" kata Antoni sopan.
"Eh sini kamu!! " perintah mama Sita tanpa mempedulikan Antoni pada anaknya.
Saat Nayla mau mendekati ibunya, Beniqno memegang erat tangannya dan menatap tajam pada Nayla.
"Lepaskan tuan! dia mama saya! dia gak jahat kok!" Nayla memberi penjelasan.
"ehem.. ehmmm.... maaf nyonya, aku hanya tak bisa membiarkan kelinci kecilku ini terluka sekalipun itu perbuatan mamanya sendiri!"
ucap Beniqno tegas dan dingin penuh penekanan, yang mana membuat anak dan mama itu menelan saliva nya karena takut, mama Sita yang tadinya berani sekarang hanya diam saja karena kini dia sudah bisa menggambarkan situasi apa yang ada di depannya, yang dia bayangkan saat ini adalah Beniqno seorang mafia dengan beberapa anak buahnya yang berjajar rapi di belakang Antoni, otaknya hanya berisikan tentang mafia-mafia dalam beberapa film Hollywood yang dia tonton.
"aku pergi dulu kelinci kecil ku! sampai jumpa besok!" ucap Beniqno sambil mengacak rambut Nayla, dan dengan mama Sita Beniqno hanya mengangguk saja bahkan tersenyum pun tidak. Nayla dan mama Sita hanya bisa memandangi kepergian mereka begitu saja.
"Nay ..kamu pacaran sama mafia?" tanya sang mama ketika sudah duduk di teras rumah.
"Sembarang aja mama bilang!ma maksud nya tuh bule apa ya? kok kelinci kecil? aku? masa' sih?"
"emang kamu kenal dia?" tanya sang mama
"gak! baru tadi ketemu di Mall trus dia kayaknya berseteru sama tuan Ray majikannya May, aku kira mereka memperebutkan Maysha ma! kan tuan Ray suka sama Maysha....!" jelasnya pada sang mama.
"Hah??!!!! astaga maaaa!! gimana keadaan Maysha ya ma... aduuhhh tadi tuan Ray terlihat marah ma!! aduuhh maaaa!"
__ADS_1
"Telpon gih...cepetan!"
Sedangkan di kamar Maysha, dia tertidur sambil memeluk pinggang Ray, Ray menyadari setelah tangan May tiba-tiba merosot ke bawah.Dengan sigap Ray membopong Maysha naik ke atas ranjang dan menyelimuti Maysha.
"Aku mohon jangan meragukan aku May!" ucap Ray lirih sambil membelai rambut Maysha, mengecup bibir nya sekilas lalu berniat meninggalkan kamar Maysha. Tiba-tiba bunyi ponsel di tas Maysha menghentikan nya.
Ray langsung mengangkat Ketika nama Nayla tertera di layar ponselnya.
"Hallo May! kamu baik-baik saja kan? apa tuanmu itu menyakiti mu? apa dia berbuat tidak baik padamu? hallo May....hallo!! May jawab dong kamu kenapa?? May aku pengen cerita soal si bule tadi!... May..? kamu dengar aku May??" tanya Nayla yang sudah menyambar seperti petir.
"May sedang tidur nanti saja kau telpon lagi!" jawab Ray
"Hah??! ehh i-iya!"
tut... sambungan terputus.
"Ada hubungan apa kamu sama tuan Beniqno May?" gumamnya lalu meninggalkan kamar Maysha menuju ke markas.Sebelum sampai ke markas, Ray melihat pak Edi keluar dari dapur dengan membawa kopi.
"Pak Edi!"
" Ya tuan!" pak Edi datang menghampiri tuannya setelah meletakkan kopinya kembali.
"Baik tuan, lalu suster Maysha tuan?" tanya pak Edi yang tak tau Maysha sudah pulang.
"Dia tadi sudah pulang!"
"Baik tuan!".
Ray berlalu ke markas,karena dia tau di sana ada Tian yang menghabiskan weekend nya di rumahnya.
"Kila bikinkan kakak kopi!" perintah Ray yang tiba-tiba masuk markas.
"Eh kak Nara, udah tarungnya?" tanya Kila
Ray mengerutkan keningnya sambil memandang ke arah Tian, Tian hanya bilang...
" Adik loe setres!!"
__ADS_1
"Udah sana bikin kopi loe!" lanjut Tian.
Ray tak begitu mengenal sifat Kila walaupun anak itu lebih sering menghubungi daripada sepupunya yang lain, dia terlihat lebih ceria bila di bandingkan sepupu-sepupu Ray yang lainnya. Kila sedang ke dapur rumah karena di pantry markas kopi habis.
"Kenapa?" tanya Ray melihat Tian terlihat kusut
"Setres gue ngadepin adik loe!!"
"Emang kenapa?"
"Pikirannya kejauhan dari pada umurnya! masa' tadi dia mikir loe lagi kuda-kudaan sama suster May! kuda-kudaan Ray!! gila gak sepupu loe itu!"
Ray melotot mendengar cerita dari Tian.
"Dan loe tau gak, dia tanya apa gue punya pacar! gue jawab iya... loe tau gak?! dia ngajakin gue nikung pacar gue!! ampunn Ray!! adik loe setres!!"
Lanjut Tian karena emang pusing ngadepin Kila, belum dari tadi berceloteh ria gak karuan selama di markas berdua.
Ray hanya tersenyum saja, Tian yang notabenenya sering nge gombalin cewek, bisa pusing sendiri gara-gara di gombali sama Kila yang notabenenya masih kecil di mata mereka.
"Loe sendiri kenapa?" tanya Tian
"Beniqno!"
"Si Gila itu kenapa?"
"Kayaknya dia mengincar Maysha!"
"Apa?? wahh parah tuh play boy kardus!! jagain May Ray! dia tipe orang yang gak bisa berhenti kalo udah ada maunya!"
"Iya gue tau!! gila!! gue gak bakalan lepasin dia Tian!!May milik gue!!" kata Ray terlihat menahan amarahnya.
"Ciihh... jadi si Everest sudah mencair nih??? hati-hati!! walaupun gue dokter handal dan terkenal! tetep aja gue gak punya obat nya! Bucin akut gak ada obatnya bro!!" goda Tian
"Kak Cris sayang.....yuhuuu..! ini kopi untuk kakak Nara tampan! dan ini jus jeruk manis buat dokter cinta ku!"
kata Kila tiba-tiba saja masuk dengan nampan di tangannya, Ray hanya tersenyum melihat Tian terlihat pasrah dengan ucapan Kila.
__ADS_1
"Oh Ray! seperti nya aku harus ke dokter jiwa!" bisiknya pada Ray dan di balas dengan senyuman kecil dari Ray.
bersambung