
Saat sedang asik tidur, Bima di bangunkan oleh ponselnya yang terus berdering.
"Hemphh...halo." jawab Bima mengangkat telepon.
"Bos, ikut pesta tidak?! ini banyak makanan! banyak miras juga!" tanya Draco yang menelepon Bima sore itu.
"Enggak, lain kali aja!" jawab Bima.
"Okey bos! selamat istirahat!" ucap Draco menutup telepon.
Setelah itu Bima kembali tidur sampai dia kembali di bangunkan oleh Lina yang tak segan lagi datang ke kamar Bima.
"Ayah! bangun!" ucap Lina menggoyangkan tubuh Bima.
"Apa??" tanya Bima menutup wajahnya dengan guling.
"Ayah di carii budhe!" jawab Lina.
"Bentar, lima menit!" ucap Bima.
"Ah bohong! cepetan! nanti keburu budhe marah!" ucap Lina.
"Iya iya!" ucap Bima duduk mengumpulkan nyawa menetap wajah cantik Lina yang manis dan berkacamata, menambah damage kecantikannya.
"Muachh...ayah ganteng kalau bangun tidur gini!" ucap Lina mencium pipi Bima mesra.
"Udah ah!" ucap Bima beranjak pergi masuk kamar mandi.
Lina menyiapkan baju untuk Bima, setelah itu dia pergi keluar untuk menemui ibu kost di gazebo. Setelah mandi dan berpakaian, Bima turun ke bawah, saat ingin pergi ke dapur, Bima di panggil ibu kost dari gazebo.
"Bima! sini!" panggil ibu kost.
Bima menghampirinya dengan wajah bingung, di gazebo itu ternyata sudah terdapat semua anak kost dengan wajah kaget bercampur senang.
"Ada apa buk?" tanya Bima bingung.
"Gini, mereka sudah tau hubungan kalian berdua karena ibuk yang kasih tahu. Jadi kalian berdua sudah boleh tidur sekamar mulai sekarang." jawab ibu kost.
"Terus?" tanya Bima.
"Kau traktir kitalah!" jawab Tigor njeplak.
"Bang Tigor mah makan mulu pikirannya!" ucap Siska.
"Mau makan apa? besok kita jalan." tanya Bima menawarkan.
"Wahaha! bang Tigor pembawa rejeki!" ucap Rizal yang memang saat itu sedang tipis.
"BBQ an aja mas bim! biar seru!" ucap Anjani, anak kost yang paling dekat dengan Lina.
"Aku setuju! bbq an aja!" ucap Siska.
"Ya udah, besok biar mbak Lina yang belanja." ucap Bima menurut.
"Lhoo! aku kerja! budhe aja! kamu kasih uang ke budhe biar di urus semua sama dia." ucap Lina protes.
"Ohh, ya udah besok Bima kasih uangnya buk." ucap Bima.
"Ya udah, besok budhe urus semuanya, kalian boleh kembali ke kamar masing-masing." ucap ibu kost setuju.
Mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing, sedangkan Bima pergi ke dapur membuat kopi lalu duduk santai di gazebo di temani Tigor dan Rizal seperti biasanya.
"Yah! jangan malem malem ya!" ucap Lina membawa kopernya ke kamar Bima.
"Yoo..." jawab Bima santai.
Mereka bertiga nongkrong sampai jam 2 malam, karena sudah mengantuk, Bima pun pergi ke kamarnya untuk tidur. Saat sampai di kamar, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang melihat posisi tidur Lina yang mengangkang tanpa pakai CD.
"Huftt...tahan!" batin Bima merebahkan tubuhnya di samping Lina lalu menutup kakinya yang mengangkang itu.
Setelah tenang, Bima pun tidur dengan nyenyak. Keesokan harinya, Bima bangun jam 11 siang dan sudah tidak melihat Lina di kamarnya.
Bima bangun lalu pergi mandi, setelah mandi dia pergi ke dapur kost untuk membuat kopi dan di bawa ke gazebo sebagai teman bengongnya.
Sore hari nya semua anak kos berkumpul di halaman parkiran untuk bbq an merayakan pernikahan Lina dan Bima. Mereka bersenang-senang hari itu tanpa memikirkan masalah yang sedang dihadapi.
Satu bulan kemudian
Selama satu bulan ini hidup Bima dan Lina baik baik saja tanpa hambatan, bekerja tanpa ada ikatan suami istri dan profesional. Walaupun tidak ada ancaman, Bima tidak mengendorkan pengawalan pada Lia dan Aurora.
__ADS_1
Geng Blood Moon juga berkembang sangat pesat, cabang mereka kini sudah merata di Eropa dan Asia, bisnis sudah di mana mana, menguasai dunia bawah dan ekonomi di beberapa negara.
Anggota mereka sudah mencapai 400 ribu orang yang tersebar di semua negara Asia dan Eropa. Di rekening Bima sudah terisi ratusan triliun hasil bisnis geng, itu hanya setengah, setengahnya lagi dia taruh di rekening geng untuk perkembangan geng serta renovasi markas.
Namun semua kenyamanan itu akan segera terganggu, karena pada pukul 13.00 saat sedang enak enak bersantai di depan kamar kost tiba tiba segerombolan polisi menggerebek dan menangkap Bima.
Hal ini tentu saja membuat semua penghuni kost dan warga heboh karena Bima terkenal dengan pribadi yang baik dan sopan.
"Ada apa ini? kok menantu saya di tangkap?" tanya ibu kost yang bernama Ayu.
"Saudara Bima kami amankan karena terlibat kasusu penganiayaan terhadap seorang pemuda putra pejabat pajak setempat! kasus ini sudah kami selidiki sebulan kebelakang dan kami menemukan bukti bahwa saudara lah tersangkanya!" jawab polisi menjelaskan.
"Hah?!! tidak mungkin! kalian pasti salah lihat!" ucap Ayu kaget.
"Buk, udah ya, santai aja." ucap Bima menenangkan Ayu walaupun tangannya sudah di borgol dan di pakaikan masker hitam.
"Gimana mau santai! Lina gimana bim!" teriak Ayu histeris.
"Biar Bima selesaikan hari ini juga, ibuk duduk santai di rumah saja, kalau Lina datang nanti ceritakan saja semuanya." ucap Bima terus menenangkan Ayu.
"Maaf, waktu kami tidak banyak! kami harus segera membawa saudara Bima ke kantor." ucap polisi menyeret Bima paksa.
Hal ini sontak membuat Ayu semakin histeris dan jatuh pingsan seketika. Tigor langsung membopong tubuh Ayu ke rumahnya yang sudah di tunggu oleh bapak kost yang bernama Suradi.
"Bawa masuk gor!" ucap Suradi panik.
Tigor membawa Ayu ke kamarnya lalu Siska dan Anjani menangani Ayu yang syok berat itu.
Sedangkan Bima, dia di gelandang ke kantor polisi dengan posisi terus di pukuli di dalam mobil dengan tongkat T ataupun senjata kosong. Saat sampai di kantor polisi, Bima langsung di sambut gembira semua oknum polisi korup yang membawa tongkat besi dan kayu balok.
"Kau yang selama ini kami cari! sesuai perintah! ayo bikin cacat!" ucap kepala polisi korup bernama Arga.
"Cuihh!" Bima meludah ke samping dengan tatapan sinis.
Bima di pukuli tanpa henti di ruangan kedap udara, walaupun begitu dia tetap strong dan menahan rasa sakitnya. Pukul 8 malam Dendi dan keluarganya datang menemui Bima dengan wajah meremehkan.
"Hahaha...bagaimana rasanya? enakan? hahaha dasar sampah! rakyat rendahan! kalian ini cuman di manfaatkan ayahku! membayar pajak sama dengan memperkaya ayahku! hahahahaha...." ucap Dendi yang saat itu kakinya masih di gips karena patah terkena tendangan Bima.
Bima hanya menyeringai misterius ketika melihat Dendi dan keluarganya datang. Dendi yang masih kesal mengambil sebuah balok lalu di pukul kan ke kepala dan punggu Bima yang tak berdaya karena di kedua tangan dan kakinya terdapat borgol.
Saat sedang asik memukuli Bima, seorang polisi jujur masuk ke dalam membawa senjata api dan menodongkan ke arah Dendi.
Dendi seketika berhenti dan mengangkat kedua tangannya.
"Biarkan kami yang urus! kalian duduk diam di luar! sekarang keluar!!!" teriak Bayu sudah tidak bisa menahan kesabarannya.
Dendi dan keluarganya keluar ruangan dengan buru buru karena ketakutan melihat wajah sangat Bayu di tambah postur tubuhnya yang tinggi besar.
Bayu melepaskan borgol di tangan dan kaki Bima, dia memberikan makanan ringan pengganjal perut serta minuman energi pada Bima.
"Ini ponselmu, panggil pengacara kepercayaanmu, kami akan menerima semua pembelaan yang kamu berikan jika ada buktinya." ucap Bayu tidak tega melihat Bima yang penuh luka lebam dan darah yang bercucuran kemana mana dari kepalanya.
"Terimakasih, kau akan aku jadikan partner ku." ucap Bima tersenyum kecil.
"Ya." jawab Bayu singkat.
Bima menelepon Tiger, Draco dan Dion untuk segera merapat ke kantor polisi serta membawa beberapa pengacara kepercayaan mereka.
"Halo! bos! kenapa kau susah di hubungi!" teriak Tiger khawatir.
"Cepat ke kantor polisi dekat kost! bawa pengacara kita sekalian! aku kena kasus!" ucap Bima lemas.
"Bajingan!!!! OTW!!!!" teriak Tiger marah besar lalu menutup telepon.
Bima lanjut menelepon Albert.
"Halo! Bima! kamu kemana saja! tadi kita janjian jam 2 kenapa gak datang?!" teriak Albert marah.
"Bos! aku kena kasus! kasus mbak Lia waktu itu!" ucap Bima menghela nafas.
"Posisi dimana?!" tanya Albert dengan nada tinggi.
"Kantor polisi dekat kost! bos tidak perlu bawa pengacara, anak buahku sudah bawa 5 pengacara sekaligus."jawab Bima.
"Aku segera kesana! aku juga ajak Lia buat bukti!" ucap Albert menutup telepon.
Bima menghela nafas panjang sambil menunduk lemas. Saat sedang melamun di temani Bayu di sana, ponselnya kembali berdering memunculkan nama Lina.
"Halo mbak." sapa Bima.
__ADS_1
"Ayah di kanto polisi mana?" tanya Lina histeris.
"Gak usah kesini, ngerepotin." jawab Bima.
"Kamu suami aku! gak ada yang namanya ngerepotin! dimana?!!" teriak Lina.
"Kantor polisi dekat kost, depan indomaret." ucap Bima.
"Aku kesana sama budhe." ucap Lina langsung menutup telepon.
"Huffttt...nyusahin aja dah!" gumam Bima.
"Mau aku ambilkan obat?" tanya Bayu inisiatif.
"Obat merah sama perban aja." jawab Bima.
Bayu pun pergi mengambil kotak p3k, sedangkan Bima melepas bajunya dan mengelap darah yang terus mengalir dari kepalanya.
Bayu datang dengan kotak p3knya, Bima langsung mengobati lukanya sendiri sambil melihat cermin yang di ambilkan Bayu tadi. 30 menit kemudian Tiger, Draco, dan Dion datang.
Tiger langsung mendobrak ruangan yang di tempati Bima dengan wajah sangat marah.
"Hey! lancang!" teriak Bayu menodongkan senjatanya.
"Tak apa, dia temanku." ucap Bima menenangkan Bayu.
"Bos! bajingan mana yang berani berbuat seperti ini!!!" teriak Tiger marah.
"Sstttt....aku pusing, tolong jangan berisik dulu." ucap Bima menunjuk kepalanya yang terdapat perban di sana.
"Ayo keluar bos! tunjukan padaku orang itu!" ucap Tiger.
Bima di papah Draco keluar dari ruangan itu, saat keluar, tiba tiba Lina berlari memeluk Bima sambil menangis histeris.
"Ayahhhh...." teriak Lina histeris.
"Udah udahh..." ucap Bima menenangkan Lina.
Mereka duduk di bangku sambil memperhatikan Tiger yang marah marah di sana.
"Ibuk mana?" tanya Bima.
"Di luar!" jawab Lina buang muka karena tidak tega melihat Bima.
"Kalian ini siapa! kenapa beraninya melepaskan tahanan ku!!!!" teriak Arga marah menodongkan senjatanya.
"Kau tikus busuk! jangan berani mengarahkan senjata padaku!" ucap Tiger penuh penekanan yang membuat Arga gentar.
"Mana Dendi bajingan itu! hah!!!" teriak Tiger.
Dendi yang sedang duduk santai bersama keluarganya seketika menjadi panik dan ketakutan.
"Itu loh bodoh!" ucap Draco menunjuk Dendi yang duduk santai bersama keluarganya.
Tiger menoleh dan langsung berlari mendaratkan tendangan keras pada dada Dendi hingga menimbulkan suara retakan.
"Arghhhhh....sakit! ayahhhh! ibuuuu!" teriak Dendi mengerang kesakitan.
Tak berselang lama, Albert bersama Lia datang, mereka langsung menujukan bukti rekaman CCTV ketika Lia dan Dendi bertengkar hingga kedatangan Bima untuk melerai.
Rekaman ini menjadi satu-satunya bukti bahwa Bima tak bersalah dan Dendi yang bersalah. Bayu langsung memproses semuanya hingga akhirnya Bima bisa bebas dan kembali ke kostnya.
"Balaskan rasa sakitku pada polisi polisi korup itu! bajingan!" bisik Bima pada Tiger.
"Akan aku potong kaki mereka satu satu!" bisik Tiger penuh amarah.
"Aku serahkan semuanya padamu." ucap Bima pergi dengan di papah Lina.
"Kalian satu kost?" tanya Albert heran.
"Iya bos, hehehe...kebetulan cuma dia yang bisa bantu." jawab Bima bohong.
"Ohh, kalau gitu besok kamu libur dulu sampai baikan, hati hati dijalan ya." ucap Albert pergi menaiki mobilnya.
Bima bersama Lina pun pulang ke kost dengan mobil Bima yang sudah selesai modif, di dalam mobil sudah ada Ayu dan Suradi sebagai pengemudi.
Mereka melaju cepat ke kost supaya Bima bisa cepat di tangani dan bisa cepat istirahat.
Bersambung....
__ADS_1