
"Aaaarrggghhh........maaaasss!!!!"
teriak Vita ketika beberapa waktu ini mengalami kontraksi, bahkan beberapa menit yang lalu dia berulang kali mengalami kontraksi palsu namun dia masih bisa menahan nya,Vita terus berjalan jalan pelan didampingi oleh seorang pelayan,karena Lee sedang membahas pekerjaan dengan Fabri di markasnya, karena Lee membawa semua pekerjaannya ke markas setelah melihat kandungan sang istri semakin membesar dan tanda-tanda kelahiran sudah semakin nampak jelas,Lee tak mau meninggalkan istrinya begitu saja.
Vita mencengkram lengan sang pelayan cukup keras bahkan ada dua kuku yang sudah menancap di kulit sang pelayan namun pelayan tersebut hanya diam saja sambil memapah Vita untuk duduk di sebuah kursi,mendengar teriakan sang istri Lee berlari masuk kedalam rumahnya dia mencari keberadaan Vita dengan wajah panik nya.
"Maaaaassss!" teriak Vita melihat Lee berlari mencari nya.
"Vita! ada apa? mana yang sakit? mana?"
Tanya Lee dengan paniknya, dia tentu saja tak tau harus berbuat apa, otak jenius nya bahkan tak bisa bekerja sama sekali di saat menghadapi sang istri yang mengalami kontraksi.
"Perut nya lah mas!! sttttttttt...... aargghhhh....." bentak Vita karena kesal melihat kebodohan suaminya, sang Mama sedang ada acara di sekolah Abhi, adik Lee.
"Bri....gue musti gimana??" Lee malah membentak Fabri yang tadi mengikuti Lee masuk ke dalam rumah.
"Mana gue tau!!! loe yang punya istri!!! bukan gue!" bentak Fabri balik.
Entah karena panik atau apa, bukannya menolong sang istri, Lee dan Fabri malah berdebat sendiri, sampai pelayan yang menemani Vita geleng-geleng kepala dan beberapa kali mencoba menyela perdebatan antara Lee dan Fabri.
"Tuan muda......" kata pelayan tersebut
"Tuan muda......" kata pelayan tersebut lagi, namun Lee dan Fabri tidak mendengar nya.
"Lee coba telpon dokter pribadi Om Ray! minta pendapat dia!" kata Fabri yang masih terlihat panik, begitu juga dengan Lee.
"Kau benar!! ponsel....ponsel mana!!!" kata Lee dengan panik, dia sudah lupa istri nya sedang kesakitan.
"Tuan muda!!! siapkan mobil!! kita ke rumah sakit!!" bentak pelayan tersebut dengan lantang.
"Eh copot.... copot!!" Fabri merasa kaget dengan suara yang terdengar lantang tersebut.
"Berani kamu membentakku Ima!!!" bentak Lee balik ketika pelayan khusus Vita itu malah membentak nya.
"Berani kau membentak Ima!! aku pastikan akan memecat mu jadi suami!!" ucap Vita dengan penuh penekanan dan menahan rasa sakit nya.
"Si....siap kan mobil maaaaassss!!" pekik Vita karena sudah tak tahan dengan rasa sakit dan kebodohan suaminya tersebut.
__ADS_1
"Eh i iya sayang!" kata Lee
"Biar gue! loe bawa istri loe!" kata Fabri sambil berlari keluar rumah menyiapkan mobil untuk membawa Vita ke rumah sakit.
Ima, pelayan Vita langsung berlari ke kamar tamu, tempat di mana Vita mengemasi barang-barang untuk keperluan melahirkan nya.
Setelah mendapat tas nya, Ima berlari ke mobil dan membuka pintu mobil tersebut, Lee menuntut pelan sang istri yang tengah menahan sakit di perutnya.
"Sabar sayang..." ucap Lee melihat wajah pucat sang istri, sesekali dia menghapus keringat di kening sang istri. Vita sesekali mengambil nafas dan membuangnya, Fabri yang ikutan panik,sampai ikut melakukan apa yang Vita lakukan.
"Ngapain loe ngikutin istri gue?" tanya Lee heran melihat Fabri.
"Spontan Lee!! spontan!" saut Fabri
"Apa nanti Ela juga kayak gini ya Lee?" tanya Fabri.
"Nikah dulu woy!! malah mikir melahirkan!!"
ucap Lee ketus, entah mengapa mereka mulai berdebat lagi. Hingga suara lengkingan dari Vita membuat Lee dan Fabri diam seketika.
"Sayang ... sabar dulu ya.... Bri!!! cepetan dong!! lelet banget!!" sentak Lee dan Fabri hanya bisa memaklumi kondisi Lee yang panik dan berulang kali membentak nya.
"Maaaasss masih lama ya?" tanya Vita yang bahkan sudah menangis
"Sudah sampai!!" saut Fabri yang memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
Ima berinisiatif keluar dan lari ke dalam rumah sakit,. setelah beberapa saat dia kembali dengan seorang suster dan membawa Vita masuk ke dalam ruang bersalin.
drt.....drt....drt......
"Halo ma!"
"Dimana kamu Lee? pelayan bilang Vita mau melahirkan, benar Lee?" tanya May tak sabar.
"Di rumah sakit Om Tian ma!" jawab Lee
"Okey...okey.... Mama ke sana!"
__ADS_1
Tut....... panggilan terputus.
Seseorang sedikit berlari ke arah Lee dan Fabri yang mondar-mandir di depan ruang bersalin.
"Lee...sedang apa?" tanya Tian, sahabat sang papa
"Om Tian! Vita om.... Vita kesakitan!!" kata Lee panik
"Tenang Lee! tenang! dia mau melahirkan?" tanya Tian
"Iya Om!''
"temani dia Lee, masuklah!" kata Tian.
Tian yang baru selesai melakukan kunjungan pada pasien nya, pada akhirnya ikut menunggu kelahiran cucu sahabat nya tersebut, Tian bahkan sudah menelpon Ray untuk memberikan kabar gembira tersebut. sesaat kemudian May datang tergopoh-gopoh bersama dengan Abhi adik Lee, May bersyukur Tian menghubungi Ray, Karena dia tidak sempat menghubungi Ray saking paniknya dengan keadaan Vita, setelah hampir 1 jam mereka menunggu di depan ruang bersalin hingga akhirnya Vita melahirkan satu keturunan dari keluarga Barata.
"Oh Tuhan!! ini sangat menegangkan!!!"
ucap Lee ketika keluar dari ruang bersalin, dia harus keluar karena suster membersihkan Vita dan bayinya sebelum di pindah ke ruang rawat.
"Bagaimana rasanya?" tanya Fabri penasaran.
"Aku tidak merasakan sakit apa-apa!" kata Lee dengan bodoh nya.
pletaakk...... pukulan mendarat manis di kepala Lee dan pelakunya adalah Fabri.
"Di mana otak jenius loe!! tentu saja loe gak merasa kesakitan!! yang melahirkan kan bukan loe!!" kata Fabri
"Gue nanya gimana rasanya jadi bapak?? gimana rasanya melihat anak loe lahir dengan selamat!!" lanjut Fabri.
"Rasanya??" tanya Lee balik.
"Ya rasanya! gimana?" kata Fabri antusias
"Luar biasa!!!"
bersambung..
__ADS_1