Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Episode 2: Baru sampai sudah ada masalah


__ADS_3

Sorenya Bima terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya kering. Setelah minum Bima mencuci mukanya dan keluar kamar untuk cari makan.


"Masnya anak baru?" tanya seorang wanita muda cantik dan sexy yang mau masuk ke kamarnya yang ada di samping kamar Bima.


"Iya mbak, salam kenal saya Bima." jawab Bima memperkenalkan diri.


"Saya Siska, salam kenal ya." ucapnya memperkenalkan diri.


"Mbak di sini warteg dimana ya?" tanya Bima.


"Mas Bima keluar gerbang terus belok kanan, dua rumah selanjutnya ada warteg, kalau warung kanan kost ada warung madura, kalau warkop depan kost." jawab Siska.


"Ohh makasih mbak informasi nya, kalau gitu saya lanjut jalan dulu ya." ucap Bima beranjak pergi.


"Iya iya.." jawab Siska masuk ke kamarnya.


Bima mengikuti apa yang tadi Siska bilang, benar saja Bima menemukan warteg dan langsung masuk ke dalam untuk memesan makanan.


Bima makan sambil mencari lowongan kerja di ponselnya. Karena tidak menemukan pekerjaan yang cocok Bima pun mematikan ponselnya dan melanjutkan makannya.


Setelah makan dan membayarnya Bima pergi ke warung Madura untuk membeli rokok dan kopi sasetan.


"Pak surya 16 dua bungkus ya sekalian koreknya, sama kopi kapal api mix satu renteng." ucap Bima.


"Yang ada gula apa enggak mas?" tanya penjual yang bernama Karib.


"Sama apa lagi mas?" tanya Karib.


"Itu dulu pak." jawab Bima.


"Jangan panggil pak, cak aja, cak Karib." ucap cak Karib.


"Iya cak hehe..." jawab Bima terkekeh.


"Anak baru ya?" tanya cak Karib.


"Iya cak, baru tadi pagi sampai." jawab Bima.


"Ohh hati hati ya kalau malam, banyak preman berkeliaran di sini, pada bawa sajam." ucap cak Karib.


"Ahh orang kayak gitu mah cuman mental sajam cak, coba ajak duel tangan kosong pasti kabur hahaha... mental patungan mereka itu jadi gak usah takut, panggil saya aja kalau ada preman." ucap Bima merasa adrenalin nya terpacu.


"Wahh ahahaha kamu jagoan ternyata! aku suka! aku kamu aja kalau sama aku, atau panggil aku kau aja biar akrab!" ucap cak Karib senang.


"Nanti nongkrong depan cak, gabut di di kamar terus." ajak Bima.


"Ayoklah, kebetulan nanti ronda juga." ucap cak Karib.


"Nanti aku tunggu ya cak, kalau gitu aku balik dulu mau nyantai bentar sambil telpon orang tua." ucap Bima.


"Iya iya..." ucap cak Karib melambaikan tangan.


Bima kembali ke kamarnya sembari menyapa para penghuni kost lain yang baru pulang dari kuliah atau kerja. Saat membuka pintu kamarnya, tiba tiba seseorang memanggil namanya untuk di mintai bantuan.


"Mas Bima, boleh minta bantuan enggak?" tanya seorang pria tinggi besar kekar bertato bernama Tigor.


"Ya? bisa bisa, mau di bantuin apa bang Tigor?" tanya Bima balik.


"Mindah lemari, kalau aku sendiri gak akan kuat hahaha...." ucap Tigor tertawa menggaruk tengkuknya.


"Ohh oke, bentar naruh belanjaan dulu." ucap Bima masuk ke dalam kamar menaruh belanjaannya lalu sedikit berlari menghampiri Tigor.


(Kamar di kost ada 10, 1-5 di bawah, 6-10 di lantai dua. Kamar Bima nomor 10 paling pojok lantai dua dekat rumah ibu kost, kamar Tigor nomor 8, kamar Siska nomor 9. jadi bangunannya leter u kalau di gabung rumah ibu kost)


"Nanti malam ke depan ya, nongkrong kita, sekalian ikut ronda malam. Mumpung besok libur soalnya minggu." ajak Tigor dengan nada tinggi khas orang medan.


"Siap siap bang, nanti panggil aja kalau mau ke depan." ucap Bima.


"Makasih ya." ucap Tigor.


Setelah membantu Tigor, Bima kembali ke kamarnya untuk bersantai sambil merokok. Saat sedang bersantai, ponselnya berdering memunculkan nama Bapaku paling ganteng.


"Halo pak, gimana?" tanya Bima.


"Kamu nyaman gak di sana?" tanya Aryo balik.


"Nyaman pak, tetangga kost juga baik baik kok, jadi bikin nyaman." jawab Bima.


"Kamu satu minggu ini istirahat dulu, adaptasi, habis itu baru cepet cepet cari kerja biar gak mati kelaparan." ucap Aryo memberi tips.


"Siap komandan!" jawab Bima.

__ADS_1


Telepon tiba-tiba di ambil alih oleh Soraya, mereka berdua berbincang-bincang sampai jam 7 malam non stop. Saat sedang asik telponan Tigor memanggil Bima mengajak nongkrong di warkop depan kost.


"Bim, ayok nongkrong, yang lain udah di sana ku lihat." ajak Tigor menimbulkan kepalanya mengintip dari pintu yang tidak di kunci.


"Ya udah buk, aku nongkrong dulu ya, cari temen." ucap Bima pada Soraya.


"Iya iya, cari temen yang banyak ya dek." ucap Soraya mematikan telepon.


"Udah, ayok bang." ucap Bima mengambil rokoknya lalu berjalan mengikuti Tigor.


"Kau umur berapa sih bim?" tanya Tigor sembari berjalan menuruni tangga.


"Aku sih masih 25 bang, kalau abang?" tanya Bima balik.


"Aku? aku udah 30 bim tapi masih bujang aja, malang kali hidupku ini bah!" jawab Tigor di barengi tawa Bima.


Mereka memesan kopi susu dan duduk di dekat TV untuk menonton bola.


"Mana ini bapak bapak kok belum datang?" tanya Tigor heran.


"Katanya tadi ada preman minta jatah ke warga warga, jadi pada takut keluar soalnya takut di ancam atau bahkan di tusuk." ucap penjaga warkop bernama Inyong.


"Yang benar kau nyong!" ucap Tigor dengan nada marah.


"Kapan sih aku bohong bang? gak percayaan banget!" ucap Inyong kesal.


"Kita tunggu sini dulu bang, kalau berani ke sini gas baku hantam kita." ucap Bima.


"Bagus juga ide kau bim! aku setuju! nyong kau diam saja di situ biar kami berdua yang urus! tapi malam ini gratis ya kopinya hahaha..." ucap Tigor.


"Iya dah iya! khusus malam ini gratis!" ucap Inyong tertawa kecil.


Tak lama cak Karib datang dengan membawa sarung khas orang ronda.


"Nyong kopi item pait satu ya." ucap cak Karib.


"Siap cak!" jawab Inyong langsung membuat kan pesanan cak Karib.


"Loh cak berani keluar? katanya ada preman yang nagih jatah tadi?" tanya Tigor.


"Berani aja, ngapain takut, orang cuman mental recehan gitu hahaha...." jawab cak Karib.


"Betul tuh! aku setuju!" ucap Tigor.


"Uang! 500 ribu! cepat!" teriak salah satu preman menggebrak meja.


"Kau siapa? orang tuaku bukan, kakakku bukan, saudaraku bukan, buat apa aku memberimu uang? dasar pengemis!" ucap Bima berdiri menatap tajam preman itu.


"Mati!" teriak preman itu menyabetkan pedang namun Bima dengan mudah menghindar.


Buaghh...


Bima memukul kepala preman itu dengan satu pukulan telak yang membuat preman itu pingsan seketika.


"Arghh...aku sudah lama tidak bertarung..." ucap Bima meregangkan otot.


"Bah, kau jago juga bim!" ucap Tigor.


"Habisin mas!" ucap cak Karib.


Buaghh..


Bughhh..


Buaghh..


Bruakkk....


Bruakkk...


Bima mengajar para preman itu tanpa mengeluarkan tenaga lebih, para preman di jedotkan ke pagar kayu yang membuat sebuah kebisingan. Kebisingan itu memancing warga untuk keluar mengecek.


"Bang kumpulkan sajam mereka." ucap Bima mengelap keringatnya.


"Siap! ayo cak!" ajak Tigor pada cak Karib.


"Hahhh...mau ku patahkan tangan kau? atau bagaimana?" tanya Bima menjambak rambut ketua preman.


"Tidak...jangan...aku masih punya anak istri, kalau tangan kakiku abang patahkan gimana aku cari nafkah?!" ucap preman itu memohon.


Buaghhh...

__ADS_1


"Kau masih bisa bilang begitu? hah!" teriak Bima keras, memukul wajah ketua preman itu dengan keras.


"A-ampun bang..." ucap ketua preman ketakutan.


Buaghhh..


"Aku dulu juga preman, tapi enggak kayak kau, preman culun berani kalau pegang sajam! pungli ke warga sekitar yang juga punya anak istri yang harus di nafkahi, begitu caramu mencari nafkah hah?! bajingan!" teriak Bima kembali memukul wajah ketua preman itu.


"Iya ampun bang ampun...kami gak akan ngulangin lagi...ampun..." ucapnya memohon.


"Gak akan jera kalian kalau cuman di ginikan." ucap Bima.


Krak..


Krak...


Krak...


"Arghhhhh......" teriakan mereka bersahut-sahutan.


Bima mematahkan lengan semua preman itu satu persatu, warga yang berbondong-bondong datang langsung memisahkan Bima untuk di tenangkan sebelum kejadian yang tak diinginkan tidak terjadi.


"Sabar mas, sabar, kita laporkan polisi saja biar di proses." ucap pak RT.


"Urus lah pak, daripada saya bertindak yang enggak enggak." ucap Bima.


"Telpon polisi, cepet." ucap pak RT.


Tak berselang lama, ibu kost bersama Linda dan anak anak kost lain keluar untuk mengecek keadaan.


"Kenapa te?" tanya ibu kost pada pak RT.


"Preman kemarin di hajar sama mas itu." jawab pak RT menunjuk Bima yang sedang merokok santai tidak menyadari luka sabetan di lengannya.


Ibu kost dan Lina langsung menghampiri Bima yang sedang ngobrol asik dengan Tigor.


"Nyong ada obat merah tidak?" tanya ibu kost pada Inyong.


"Ada budhe, sebentar aku ambilin." jawab Inyong.


"Sekalian perban ya." ucap Ibu kost.


"Siap budhe!" jawab Inyong berlari ke kamarnya yang berletak di atas warkop.


"Itu lengan abang enggak sakit? luka panjang loh itu." tanya Lina.


"Ehh mbak Lina, hah? luka? mana? saya gak kerasa lho." ucap Bima.


"Itu di lengan abang." ucap Lina.


"Ohhh ini, hahaha...biasa aja, gak kerasa kok hehe..." ucap Bima baru sadar.


Tak lama Inyong datang membawa kotak p3k dan di serahkan pada ibu kost.


"Kami baru dateng udah dapat masalah aja sih bim, gimana kalau ibumu tau ck ck ck...." ucap ibu kost membersihkan luka Bima dengan kapas yang sudah di beri alkohol.


"Ya tinggal gak usah di kasih tau buk hehehe...." jawab Bima terkekeh.


"Gak sakit kau bim?" tanya Tigor ngilu sendiri.


"Udah biasa bang hahaha..." jawab Bima tertawa.


Selang beberapa menit polisi pun tiba dan langsung mengamankan para preman itu dengan hati hati karena lengan mereka sudah patah semua takut bertambah parah nantinya.


"Permisi, boleh saya meminta keterangan saudara Bima?" tanya polisi.


"Silahkan pak." jawab ibu kost.


Polisi menanyai beberapa pertanyaan guna mengurus lebih jauh masalah ini. Setelah mendapat keterangan lengkap dari beberapa saksi akan kejahatan preman itu, polisi pun pergi membawa para preman ke kantor polisi.


"Mau lanjut nongkrong atau ke kamar kau bim?" tanya Tigor.


"Nongkrong lah, gabut di kamar bang." jawab Bima.


"Ya udah, remi aja yok." ajak Tigor.


"Ayoklah!" jawab Bima semangat.


"Udah bubar bubar, yang ronda lanjut ronda, yang tidak berkepentingan silahkan istirahat atau mau nongkrong dulu terserah kalian." ucap pak RT.


Beberapa warga pun pulang ke rumah, sedangkan yang ronda tetap di sana untuk menunggu waktu keliling. Beberapa anak kost juga di sana untuk nongkrong sebentar.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2