Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Ada sesuatu di hatimu!!


__ADS_3

"Bisa buatkan aku kopi?" tanya Ray memecahkan keheningan malam itu.


prang......suara piring jatuh dari tangan suster May


"Awwwoww..... aduuhh sakit!!" pekik suster May


Dia kaget ketika ada suara seseorang yang terdengar di malam yang sunyi itu, padahal dia tak mendengar ada langkah kaki mendekati dapur.


"Ada apa?" tanya Ray ikut kaget.


"Sakit tau!! makanya jangan ngagetin!!"


ucap suster May tanpa sadar dan tentunya sukses membuat alis kanan Ray terangkat. Menyadari kesalahannya suster May memukul ringan pelipisnya sambil bergumam lirih, namun sayangnya kepekaan telinga Ray tak bisa di kalahkan dia masih bisa mendengar apa yang di katakan oleh suster May.


"Maaf tuan Ray saya akan buatkan kopi tapi setelah saya menyapu sisa pecahan piring nya ya!"


"Iya"


Suster May mengambil alat untuk membersihkan pecahan piring tersebut, kemudian menyalakan kompor untuk memasak air, dia meracik kopi di gelas dengan telaten, semuanya tak luput dari pengamatan Ray dan beberapa saat kemudian kopi yang diinginkan Ray sudah siap.


"Silahkan tuan Ray!"


"Bagaimana perkembangan papa?" tanya Ray mencari informasi dari kesehatan sang papa.


"Ada perkembangan tuan, tuan Arya hari ini sudah mulai berbicara walaupun masih pelan dan terbata-bata tapi itu bagus tuan Ray!"


"Dia juga sudah mulai belajar berjalan, itu sangat bagus jadi aku rasa kita perlu menunggu beberapa saat lagi agar tuan Arya sembuh total dari stroke nya karena ini juga masih tergolong stroke ringan!"


suster May menjelaskan dengan berbinar sekali, dia merasa usahanya merawat papa Arya berhasil, dia lupa bahwa yang dia ajak bicara adalah si dingin Ray yang hanya menanggapi semua ucapan suster May dengan diam dan sesekali mengangguk.


"Tuan Arya juga jangan di biarkan sendiri tuan, dia akan melamun dan akhirnya pikirannya bisa kemana-mana, dia merindukan istrinya tuan!" lanjut suster May.


"Darimana kamu tau?" tanya Ray


"Kami sudah berteman hihihihi..."


jawab suster May, malam ini dia benar-benar lupa siapa yang di ajak bicara, dia bisa dengan lepas bercerita pada Ray yang duduk sambil meminum kopinya.


"Kami memutuskan untuk berteman tuan, biar tuan Arya juga bisa melepaskan segala curhatan nya, tuan aku punya saran agar tuan Arya tidak kesepian dan dia tidak akan melamun lagi?" lanjut Suster May.

__ADS_1


"Apa?" tanya Ray singkat


"Menikahlah ehmmm...tuan Ray!"


Ray hanya diam, menatap ke arah suster May, saran yang di berikan suster May sama dengan saran Tian dan Johan dua sahabat dekatnya.


'Buka lah hati anda tuan' begitu lah Raka beberapa saat yang lalu mengingatkan dirinya.


Namun wanita-wanita yang di dekatnya tak bisa membuat hatinya terbuka, bahkan hanya sekedar ingin berbincang saja dia tak ada rasa.


Camilla cinta masa remajanya pun tak bisa mengembalikan hatinya yang telah tertutup.


Valeria si sepupu nyonya besar yang baik pun tak mampu membuatnya terpikat.


"Tu-tuan? A-apa...apa.. aku salah bicara?"


tanya suster May takut-takut, dia mengigit ujung bibirnya sendiri sambil menatap Ray takut!. Tatapan mata Ray sangat tajam, benar kata tuan Arya Ray tidak bisa meluluhkan hati seorang wanita, kalo hanya berbekal wajah tampannya saja maka banyak wanita yang akan terpikat di awal saja, begitu mendekati gunung es ini semuanya akan menghilang satu persatu.


Ray berdiri dari kursinya, membuat suster May reflek berdiri juga, tangannya gemetar tak karuan, dia yakin kalo sarannya sudah membuat si tuan muda rumah ini marah, dia sudah bergantian mengigit-gigit bibir nya sendiri dari ujung kanan pindah ujung kiri dan seterusnya seperti itu.


Ray memegang dagu suster May dan mengusap bibir wanita itu dengan ibu jarinya...


ucap Ray melepaskan tangannya, meraih kopi yang tinggal sedikit, meminumnya dan segera berlalu dari sana. Suster May hanya bisa diam, jantung nya sudah ber disco ria disana, sampai dia memengang i dadanya berharap detak jantung nya kembali normal.


"Tidak May!! jangan baper...ingat May jangan baper!!!!"


gumam suster May.


Dia berjalan menuju kamarnya, sambil terus bergumam...


"Kerja May kerja!! ingat May jangan bapeer!!!"


Suster May seakan memperingati dirinya sendiri, di tengah tangga Ray berhenti dan melihat apa yang dilakukan suster May, entah mengapa di tersenyum kecil dengan tingkah si suster.


Pagi di meja makan....


"Pagi pa..." sapa Ray


"Gak ker--ja?" tanya papa Arya.

__ADS_1


"Tidak pa... Hari ini Ray akan mengantar papa kontrol, lagian tuan Adrian di rumah menemani istrinya!"


papa Arya hanya manggut-manggut saja.


"Suster May apa sudah disiapkan keperluan papa?"


"Sudah tuan Ray, jadwal dokter Andi nanti pukul 11 siang tuan!"


"Dan saya juga sudah menghubungi asisten dokternya untuk membuat janji ulang tuan!" lanjut suster May.


"Terimakasih sus!"


"Sudah tugas saya tuan!"


Selesai sarapan suster May membawa papa Arya ke belakang rumah...tanaman yang asri dengan udara yang segar...di sana sudah a di sulap Ray menjadi taman yang bisa di gunakan sang papa untuk terapi berjalan.


Dengan telaten suster May membantu papa Arya belajar berjalan sesekali mereka tertawa bersama.


"Aku punya seorang adik laki-laki tuan, dia baru mau lulus SD, tapi dia di asuh oleh bu dhe.... sodara bapak!"


celoteh suster May walaupun tak di tanya oleh papa Arya, karena suster May tau papa Arya susah untuk berbicara lancar, dia berceloteh agar papa Arya tidak melamun dan memikirkan sesuatu, bisa-bisa darah tinggi nya naik lagi kalo terlalu banyak pikiran.


"Dia sebentar lagi masuk SMP tuan, jadi aku harus lebih kerja keras membantu bu dhe, mereka tidak punya anak jadi adikku yang mereka rawat!" lanjutnya.


"Kalo tuan sudah sembuh kapan-kapan aku ajak main ke sana tuan, gado-gado bikinin bu dhe enak banget! bu dhe jualan gado-gado di depan rumah yang udah di sulap jadi warung kecil-kecilan!"


Begitulah suster May, pada dasarnya memang suster May orang yang ceria dan selalu terbuka dengan siapa saja yang sudah membuat dia nyaman.Ray datang menghampiri mereka karena di rasa sang papa sudah cukup melakukan sesi terapi jalan pagi ini.


"Bersiaplah dulu sus, biar papa sama aku saja!"


"Baik tuan Ray..!" ucap suster kembali ke mode sopannya. Kemudian suster May kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.


"Ayo pa kita masuk..." Ray membantu sang papa naik ke kursi roda dan masuk ke dalam.


"Di-a..ga- dia baik!" ucap papa Arya.


"Hemmm...!" ucap Ray dan tersenyum pada papanya.


Akhirnya setelah menunggu Suster May mereka berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2