Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

"Ela...sayang..."


Ucap Fabri lirih dengan deraian airmata ketika berhenti di sebuah ranjang yang berisi seseorang dengan luka bakar hampir 70%, namun wajah Ela masih bisa di kenali Fabri, walaupun tak utuh sepenuhnya.


"Sayang...... Ela.......Oh Tuhan!! apa yang terjadi padanya....oh Tuhan....." Fabri terus saja bergumam lirih, namun kedua temannya masih bisa mendengar apa yang di katakan oleh Fabri.Leo memegang bahu Fabri sambil sesekali menepuk nya.


"Kalian siapa nya korban?" tanya seorang dokter yang menghampiri Fabri dan kawan-kawannya.


"Kami keluarga nya dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Boy.


"Untuk ketenangan pasien, bagaimana kalau Anda semua ikut saya, saya akan menjelaskan bagaimana keadaan pasien!" kt sang dokter.


"Baik lah dokter" kata Boy.


Boy menarik tangan Fabri agar mau mengikuti langkah kaki nya, menurut Boy,Fabri harus tau keadaan Ela selanjutnya.Awalnya Fabri menolak, tapi baik Leo maupun Fabri membujuk Fabri untuk mengikuti sang dokter dan mendengar penjelasan dari dokter tersebut.


"Luka bakarnya cukup parah! hampir 70%, bahkan wajah bagian pipi kanannya ikut terbakar dan menimbulkan luka bekas yang cukup dalam." kata dokter menjelaskan.


"Lalu apa lukanya bisa berakibat fatal dok?" tanya Leo


"Ini sedikit sulit, pasien dengan luka bakar hampir 70% rata-rata sulit bertahan,jika pasien bisa melewati masa kritis nya terlebih dahulu, Maka itu menjadi sebuah keajaiban Tuhan" kata dokter menjelaskan.


"Apa kau mau bilang bahwa Ela tak mungkin bisa bertahan dokter!!" hardik Fabri dengan keras sambil berdiri dan mencengkram krah baju dokter tersebut.


Entahlah... penjelasan dokter menjadi hantaman keras bagi Fabri, dia merasa tak terima ketika dokter mengatakan kebenaran akan kondisi Ela, Baginya Ela harus bisa bertahan!.


"Fabri!! Lepaskan!!!" ucap Leo sambil menarik Fabri untuk duduk kembali.


"Maafkan dia dokter" kata Boy


"Tidak Masalah Tuan, kami sudah sering berhubungan dengan keluarga pasien seperti ini, dan kami memaklumi kekawathiran mereka" kata si dokter.


Dokter kembali menjelaskan tentang keadaan Ela, mereka bisa mengirim Ela ke rumah sakit yang lebih bagus di luar negeri, namun tentu saja semuanya berjalan secara bertahap, jika Ela bertahan di sini dan bisa melewati masa kritisnya maka dokter akan merekomendasikan rumah sakit yang bagus untuk Ela.

__ADS_1


Fabri keluar dari ruangan dokter dengan lesu, dia benar-benar merasa belum siap dengan semua yang terjadi pada Ela, rasa tak tega dan cemas terus menerus ada di hatinya.


"Bagaimana keadaan Lala Bri?" tanya Desi ketika melihat sang anak keluar dari ruangan dokter.


"Mama.." panggil Fabri lirih, kemudian tangisan yang dia tahan sedari tadi pecah seketika.


"Dia harus bisa bertahan Ma...... Hiks....dia gak boleh ninggalin Fabri Ma.....Aku gak rela....gak rela Ma.... hiks!!"


Lelaki kekar yang selalu terlihat gagah itu menangis pilu di pelukan sang Mama, Fabri tak tau lagi harus berbuat apa, yang dia harapkan saat ini adalah keajaiban dan campur tangan Tuhan untuk kesembuhan Ela.Desi mengajak Fabri untuk melihat di ruang UGD, namun karena tak diijinkan masuk mereka hanya bisa melihat Ela dari balik kaca saja.


Belum juga mereka sampai di depan ruang UGD, seorang dokter dan suster kembali berlarian karena seorang pasien mengalami kejang-kejang.


"Ela....!!! Ma... Ela..... Ela!!" teriak-teriak Fabri ketika dia melihat wajah panik para suster.


Namun saat hendak masuk, seorang suster menghalangi nya, Fabri langsung berlari ke arah jendela kaca dan di sana dia bisa melihat bahwa pasien dalam penanganan itu adalah Ela, sebelum akhirnya seorang suster menutup korden jendela tersebut.Fabri berteriak sambil menggedor-gedor jendela kaca tersebut, Boy dan Leo langsung berlarian untuk menghentikan Fabri, Fabri bisa saja menghancurkan kaca tersebut jika mereka tak segera menghentikan tindakan Fabri.


"Diam bangsaaat!!!" teriak Boy yang merasa kesal dengan tingkah Fabri.


"Loe yang diam!!! loe gak tau rasanya jadi gue!!!" bentak Fabri balik pada Boy.


Bugh.....


Bugh.....


Bugh.....


Teriak Boy di barengi dengan melayang kan bogem mentah nya pada Fabri.Sedangkan Leo yang tau itu hanya cara Boy untuk membuat Fabri tenang dan tak panik lagi hanya melihat mereka tanpa melerainya, Desi semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami sambil menangis sesenggukan.


"Kalau loe seperti ini bagaimana dengan Ela!!!hah???!! dia butuh loe yang kuat!! bukan jadi bangsaaat seperti ini!!" hardik Boy sambil mencengkram krah baju Fabri.


"Pakai otak loe!!! di mana Fabri yang selalu jadi penguat buat sahabat-sahabatnya!!! hah???!! kalau loe sendiri cemen seperti ini , bagaimana dengan Ela!!!hah???" lanjut Boy.


Seketika Fabri lemas, dia terduduk di lantai dengan ruang UGD, dia hanya diam saja sambil memegang kepalanya, pusing sekali rasanya kepala Fabri saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Ela?" tanya Lee yang berlarian ke arah mereka.


"Om...Tante..." sapa Lee, Kevin dan Desi nampak menanggapi sapaan Lee.


"Bagaimana?" tanya Lee lagi pada Leo.


"Masih di tangani dokter!" saut Leo


"Mereka?'" tanya Lee lagi saat melihat Boy berdiri tegak dan masih mengatur nafasnya yang tersengal akibat terlalu emosi pada Fabri, sedangkan Fabri duduk bersimpuh di lantai di depan Boy.


"Fabri berulah!" kata Leo


Lee menghela nafasnya pelan, kemudian dia mendekati Boy dan menepuk bahunya, Boy mengerti dengan isyarat Lee,kemudian dia menjauhi Fabri dan duduk di samping Leo.


"Bri....." panggil Lee


"Dia kritis Lee....hiks....aku harus bagaimana?" tanya Fabri tanpa melihat Lee, tatapan mata nya kosong.


"Loe tau Ela gadis yang kuat!! sekeras apapun hidup nya, dia akan bertahan!! kita tau bagaimana Ela sebelum bertemu kita!! dia pasti kuat!! dia akan kuat Bri!! loe harus percaya pada Ela!"


Nasehat Lee menyadarkan Fabri, kepanikan nya bisa merusak segalanya, dia harus tenang,pikir Fabri. Frela, gadis mencuri sandwich yang dia temui saat pertama kali bertemu, penampilan yang terkesan compang-camping,hidup yang penuh dengan penderitaan dan perjuangan, Frela yang berjuang untuk sesuap nasi dengan hinaan dan makian dari beberapa orang yang kurang suka padanya. Sakit fisik bukan hanya sekali dua kali Ela alami, namun sering kali dia alami dulu saat belum mengenal Fabri dan seluruh keluarganya.


Lee menyakinkan Fabri,bahwa Ela akan baik-baik saja, dia akan bisa bertahan.


"Keluarga pasien Frela?" panggil seorang dokter.


"Saya Dok! sama Mamanya!"


saut Desi cepat karena memang dia yang paling dekat dengan pintu ruang UGD tersebut.


"Kami akan memindahkan pasien di ruang ICU, karena dengan ijin Tuhan, keadaan pasien berangsur meningkat, dia bisa melewati masa kritis selama lebih dari satu jam ini, semoga kedepannya Pasien semakin baik keadaannya!"


Penjelasan dari dokter sungguh membuat lega banyak orang, walaupun dokter tak menjanjikan kesembuhan Ela, setidaknya Ela bisa keluar dari masa kritis nya, namun Dokter tetap memperingatkan tentang kemungkinan keadaan Ela kembali memburuk, jadi berdoa adalah solusi terbaik yang dokter sarankan saat ini.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2