
Jenazah Ela akhirnya di pulangkan ke rumah orang tua Fabri, Desi yang meminta jenazah Ela di semayamkan di rumahnya.Fabri nampak terlihat sedikit lebih tegar, bahkan dia terus mendekap Bian, Fabri tak sanggup harus jauh-jauh dari Bian, gadis yang tak tau apa-apa itu nampak ceria di gendongan sang Papa.Nampak sahabat-sahabatnya setia menemani Fabri, Shasha anak Lee yang begitu menyayangi Fabri dan Ela nampak setia menempel pada Fabri.
''Daddy mau minum? biar Shasha ambilkan" tawar Shasha pada Fabri
"Boleh sayang.... terimakasih" saut Fabri
"Dedek Bian juga mau?" tawar Shasha pada Bian,
Dan gadis kecil itu mengangguk. Beberapa menit kemudian Shasha membawa dua minuman di tangannya, yang satu dia berikan pada Fabri dan satunya lagi pada Bian, Shasha meminta Fabri menurunkan Bian dari gendongan dan akhirnya mereka duduk bertiga, Shasha beberapa kali mengajak Bian bercanda bersama Shasha. Banyak dari kolega bisnis dan teman-teman sang Papa datang untuk memberikan bela sungkawa pada Fabri, lelaki muda yang tiba-tiba saja menjadi duda, ya Fabri menduda di usia yang sangat muda yaitu 24 tahun, banyak yang merasa iba dengan Bian dan Fabri, bahkan seluruh karyawan Ela di restoran datang memberikan penghormatan terakhir mereka.
"Kami ikut berduka Tuan Fabri,atas apa yang menimpa Nona Ela" kata kepala chef mewakili teman-teman nya.
"Terima kasih chef Aldo, terima kasih semuanya" jawab Fabri yang terus mencoba untuk tegar. Akhirnya setelah beberapa prosesi pemakaman di lakukan dengan baik. Bian sudah di bawah Kevin dan Desi untuk pulang terlebih dahulu. Sedangkan Fabri masih setia duduk di dekat batu nisan sang istri.
"Kenapa kamu tega meninggalkan kami sayang...." gumam Fabri, luluh sudah pertahanan nya, airmata nya tak sanggup dia bendung lagi.Fabri menangis sesenggukan dia atas batu nisan Ela, Boy nampak setia berada di samping Fabri, Leo sedang menunggu di dalam mobil yang masih terparkir di halaman taman pemakaman, sedang kan Lee sudah meminta ijin Fabri untuk pulang mengantar Vita terlebih dahulu. Setelah kejadian penyerangan pada Vita, menjaganya yang di lakukan Lee semakin ketat, bahkan sekarang Vita dan Shasha sudah berada di kediaman Ray sang papa.
Sejak mengantarkan Sesil pulang saat kejadian penculikan Ela, Levin belum pulang sama sekali ke apartemen nya,Sesil sedang mondar-mandir tak karuan, setelah mendapat berita dari Kay, Sesil nampak mencemaskan Levin, sudah hampir tengah malam Levin tak kunjung pulang. Entah mengapa hal yang menimpa istri Fabri itu membuat Sesil cemas sendiri, apalagi panggilan telepon nya juga tak pernah di angkat oleh Levin.
"Kenapa dia tidak pulang? ini sudah dua hari" gumam Sesil
"Apa dia memang sedang ada masalah? apa dia baik-baik saja?" lanjutnya sambil mengigit ujung kuku jarinya.
Namun tak lama suara kunci apartemen nambah berbunyi, beberapa saat kemudian menampilkan seseorang yang sejak kemarin di tunggu nya. Levin nampak terkejut melihat Sesil berdiri di bawah lampu remang-remang di ruang tamu, dia tak sadar dia hari ini meninggalkan Sesil seorang diri tanpa kabar. Levin sedang membantu Lee untuk menangkap dalang di balik kematian Ela, dan rencananya besok Lee dan Levin akan memberitahu Fabri, mereka sengaja menundanya sampai acara pemakaman selesai.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?" tanya Levin
"Kau baik-baik? apa ada yang terluka? apa kau sudah makan? apa...hhmmmmppp.."
Belum juga Sesil menyelesaikan perkataannya Levin sudah melahap bibir ranum Sesil, wanita yang dia lupakan selama dua hari ini karena kesibukan, Dan dengan cekatan Levin menggendong Sesil masuk ke dalam kamarnya tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Sesil yang mulai mempercayai Levin,membalas setiap lum@tan Levin yang semakin lama semakin menuntut.Levin dengan perlahan meletakkan Sesil di atas ranjang yang sudah beberapa malam ini dia tempati bersama Sesil.
"Aahh...." suara indah Sesil terdengar di telinga Levin ketika dengan mudahnya tangan Levin sudah berada di dua squisy kembar yang ada di dada Sesil, meremasnya dengan berirama, jangan lupakan bibir Levin yang sudah bertengger di leher Sesil dan mengukir banyak kissmark di sana.
"Vin....ahh......" ucap Sesil sambil menangkup kedua pipi Levin dengan kedua telapak tangan nya.
"Apa? aku kangen banget Sil" ucap Levin dengan menatap lekat ke arah bola mata gadis yang saat ini di bawah Kungkungan nya.
"Jangan melakukan lebih.." ucap Sesil lirih dengan rasa sedikit ketakutan, takut kalau Levin marah akan penolakan nya. Melihat mata Sesil yang terlihat ketakutan, membuat Levin sadar apa yang baru dia lakukan pada gadisnya. Levin tertawa kecil, sungguh Sesil terpesona dengan tawa kecil Levin, ini pertama kali dan ini sangat langka, pikir Sesil. Tanpa sadar Sesil mengelus pelan bibir Levin yang baru saja tertawa.
"Jangan menggodaku kalau kamu tak ingin aku berbuat lebih Sil" ucap Levin ketika tangan Sesil berpindah ke pipinya.
"Kita akan menikah secara sederhana dulu, setelah lewat sebulan setelah kepergian Ela, kita akan mengadakan pesta pernikahan kita" kata Levin sambil mengeratkan pelukannya.
"Kenapa tidak sekalian saja?" tanya Sesil yang melonggarkan pelukan Levin
"Karena aku sudah tak tahan ingin menerkammu!" bisik Levin, Sesil nampak menegang tubuh nya dan Levin hanya tersenyum tipis merasakan tubuh Sesil yang terasa takut.
Tiga hari setelah kematian Ela
__ADS_1
"Maksud Kakak?" tanya Fabri yang sedang berhadapan dengan Levin di rumah nya.
"Kita sudah menangkap mereka! jadi tinggal eksekusi saja" jawab Levin dengan santainya sambil menyalakan satu batang rokok di tangannya.
"Kenapa gak sekarang saja Kak!!" kata Fabri sambil berdiri dengan tak sabar.
"Tunggu sahabat-sahabatmu Bri, mereka juga ingin sedikit bermain-main" kata Levin santai.
Fabri kembali terduduk, namun bisa di pastikan bahwa kakinya tak berhenti bergerak karena tak sabar.
"Aku rasa kau harus belajar mengendalikan dirimu Bri, aku dengar kau yang paling sabar di antara mereka! melihat mu yang seperti ini, aku sulit percaya!" kata Levin.
"Setelah membantai mereka, aku akan belajar mengendalikan diri Kak!" saut Fabri.
Dari luar nampak Leo masih di dalam mobil, sedang Boy dan Lee sudah masuk ke dalam rumah Fabri.
"Siap mencincang daging manusia Bri??" tanya Boy sambil melempar samurai kesayangan pada Fabri, dengan cepat Fabri berdiri dan menangkap nya.
"Tentu saja!! aku sudah tak sabar!" kata Fabri dengan sorot mata tajam sambil menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Kemudian dia berjalan terlebih dahulu ke mobil Leo di ikuti Boy, Lee dan Levin.
"Apa dagingnya bisa di buat bakso saja?" tanya Levin berusaha bercanda.Dan seketika dia mendapatkan tatapan mata tajam dari Fabri.
"Ooh Ok....aku hanya bertanya....aku kan belum tau aturan mainnya!"
__ADS_1
kata Levin dengan datar dan tanpa dosa, dia memang tak pernah tau keganasan empat sekawan bila sedang di usik, karena saat penculikan Kay dan Vita dulu, Levin sedang berada di luar negri.
bersambung